Kemarin aku menonton sebuah film di Netflix, judulnya The Good Nurse. Film ini bercerita tentang terungkapnya seorang perawat yang ternyata membunuh pasiennya. Eh, tapi, kok judulnya The Good Nurse? Karena yang dimaksud The Good Nurse tentunya bukan si pelaku ini, melainkan rekan sejawatnya yaitu Amy.
Amy adalah seorang perawat, single mother, dengan dua orang putri yang masih usia sekolah dasar. Hidupnya bisa dibilang pas-pasan, dan dia menderita sakit cardiomyopathy, salah satu jenis penyakit jantung. Suatu hari, ia memiliki rekan kerja baru, seorang perawat laki-laki bernama Charles Cullen yang sudah berpengalaman menjadi perawat di sembilan rumah sakit dan nursing home.
Amy dan Charles sering kerja satu shift dan mereka pun jadi akrab. Charles juga satu-satunya orang tahu kondisi kesehatan Amy. Charles sering membantu Amy, saat penyakit Amy memburuk. Charles juga akrab dengan anak-anak Amy.
Charles sendiri juga sudah berpisah dengan istrinya dan memiliki dua orang putri. Namun, kedua putrinya tinggal dengan mantan istrinya. Kemiripan ini juga yang mungkin membuat Amy nyaman berteman dekat dengan Charles.
Sayangnya, setelah Charles bergabung di rumah sakit Somerset–tempat mereka bekerja, ternyata jumlah pasien di ICU yang meninggal bertambah. Anehnya lagi, beberapa pasien yang meninggal itu sebelumnya sudah membaik kondisinya, atau stabil. Akan tetapi, kondisi mereka tiba-tiba drop dan meninggal. Hasil lab pun aneh karena adanya jumlah glukosa darah yang tidak normal.
Awalnya tentu tidak ada yang curiga bahwa perawat lah yang membunuh para pasien itu. Namun, karena adanya temuan aneh dalam hasil lab para korban, pihak RS pun sempat bertanya ke pihak berwenang yaitu dinas yang mengurus toksisitas. Kemudian salah satu keluarga korban juga ada yang menuntut, dan kasus ini pun diselidiki oleh kepolisian setempat.
Polisi menelusuri latar belakang Charles dan menemukan hal yang janggal. Pasalnya, semua rumah sakit tempat Charles pernah bekerja, tidak terbuka tentang Charles. Akhirnya polisi pun bertanya pada Amy yang akrab dengan Charles. Tadinya Amy tentu denial, tapi ternyata Amy sendiri menemukan bukti bahwa Charles memang membunuh para pasien di ICU.
Film ini berdasarkan kisah nyata, ada versi dokumenter juga. Aku sendiri tertarik menonton film ini karena pernah menulis berita serupa sekitar tahun 2015. Saat itu aku masih menjadi content writer di sebuah situs media online. Berita ini bisa dibilang viral pada masanya. Nah, kukira film ini based on kasus yang kutulis waktu itu, tapi sepertinya berbeda. Kasus di film The Good Nurse ini sudah lebih dulu terjadi dan terungkap.
Ada sebuah pernyataan yang begitu membekas bagiku di ujung film The Good Nurse ini. Yaitu ketika Charles ditanya apa alasannya melakukan semua itu, ia menjawab, “karena tidak ada yang menghentikanku”. Ya, tidak ada yang menghentikan, sampai Amy mengambil risiko besar di tengah krisis kesehatannya, dan Charles pun ditangkap.
Bukankah ini miris? Andaikan rumah sakit tempat ia bekerja sebelumnya berani mengungkap kecurigaan mereka, maka korban yang lebih banyak bisa dicegah. Namun, rumah sakit lain memilih tutup mulut karena khawatir mereka akan dituntut atas ulah pegawainya, atau menurunkan kepercayaan publik pada mereka.
Ini juga mengingatkanku dengan salah satu pesan penting dalam Islam yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Tolong menolong dalam kebaikan, dan melawan kemungkaran. Melawan kemungkaran di sini disesuaikan dengan kemampuan tiap orang.
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan lisan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan hati. Itulah iman yang paling lemah.” (HR. Muslim)
Kedengarannya mungkin mudah, tapi tidak semudah itu, tapi memang sangat penting untuk dilakukan. Jika semua orang melakukan nahi munkar ini, maka kemungkaran tidak merajalela. Wallahu a’lam. Semoga Allah mudahkan kita semua untuk menjalankan hadis di atas. Amin.
