Resensi Novel "Represi"

 

(gambar: Goodreads)

Judul: Represi

Penulis: Fakhrisina Amalia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2018

Tebal: 264 halaman

Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook

Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee

Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu-nya Tere Liye versi cetak.

Back to this novel. And, sedikit spoiler!

Represi, bercerita tentang Anna, seorang remajaatau mungkin dewasa mudayang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih bisa diselamatkan. Setelahnya, ibunya membawanya ke psikolog, dan di sanalah kisah kelamnya terkuak.

Anna memiliki geng yang terbentuk sejak SMA, dan berlanjut sampai kuliah karena mereka kuliah di kampus yang sama. Berasal dari keluarga yang cukup berada, hidup Anne sekilas tampak baik-baik saja. Tapiya, selalu ada tapi dong biar seruternyata Anne tak mendapat cukup perhatian dari orang tua, terutama ayahnya. Sedangkan ibunya terlalu mengekangnya.

Ditambah dengan sebuah trauma besar di masa kecil, Anne rupanya terjerumus dalam hubungan yang beracun dengan seorang pemuda. Pemuda itu memberikan perhatian yang memabukkan, dan membuat Anne rela mengorbankan apa saja, termasuk sahabat-sahabatnya.

Seperti dugaan pembacadalam hal ini saya, ternyata pemuda itu kurang asem alias kurang ajar. Anna kecewa, sangat. 

Dengan bantuan sang psikolog, Anna berusaha bangkit dari lubang hitam dalam dirinya yang selalu membuatnya bermimpi buruk. Bocoran: novel ini happy ending.

***

Puas, adalah kata yang paling pas menggambarkan perasaan saya setelah membaca novel karya Fakhrisina Amalia ini. Puas karena masalah si tokoh utama akhirnya terpecahkan satu per satu tanpa ada yang tertinggal. Walaupun konfliknya bertumpuk-tumpuk, tapi penulis berhasil menjabarkannya dengan halus.

Sejujurnya ada salah satu solusi dalam novel ini yang saya kurang setuju, tapi ini subjektif sekali, sih. Dan tidak mengurangi keasikan cerita.

Tidak lebay. Baik dari segi teknis maupun cerita itu sendiri. Diksi dan kalimatnya tidak berlarat-larat, sederhana. Saya kagum bagaimana penulis tidak memberikan adegan-adegan  romantisbaik narasi maupun dialogyang lebay ala-ala anak muda zaman sekarang. Semua digambarkan secara pas, cukup, interaksi antartokoh yang natural. Enak untuk diikuti.

Novel bertema psikologi semacam ini sejak awal telah memiliki kelebihan karena bisa mengangkat isu yang jarang dibicarakan orang. Mungkin karena dianggap tabu, atau aib, atau apalah. Padahal kisah semacam ini saya yakin ada, bahkan banyak sekali terjadi di luar sana. Melalui cerita, isu-isu itu tak lagi tabu, dan bisa dipahami dengan baik.

Kelebihan lainnya Represi ialah ditulis oleh seorang psikolog tetapi tidak menceramahi. Menurut saya ini tantangan besar. Saya sendiri baru kali ini membaca karya Fakhrisina Amalia yang ternyata adalah novel kelimanya. Pantas saja novel ini berhasil membius pembaca.

Di novel ini, pembaca tak akan dihujani teori-teori psikologi. Namun, pembaca langsung disajikan sebuah kasus, dan diperlihatkan bagaimana seorang psikolog menangani kasus tersebut.

Dan yang dihadapi psikolog ini bukanlah murid atau mahasiswa, melainkan pasien. Setting yang digunakan pun di ruang konseling, antara psikolog dan klien, membuat dialog-dialog di dalamnya terasa pas, tidak dipaksakan.

Yang tak kalah penting, saya senang novel ini hanya 200-an halaman. Hahaha. Karena membaca di ebook ngga kuat kalo baca tebel-tebel. 

Overall, Represi saya rekomendasikan untuk teman-teman semua, baik remaja maupun dewasa. Ibarat makanan, Represi adalah cemilan bergizi yang enak dan ngga bikin kekenyangan. Mungkin semacam apel kalo bagi saya. Atau rujak. 



Comments