Showing posts sorted by relevance for query Ibu. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Ibu. Sort by date Show all posts

25 October 2025

Teman, Komunitas, dan Kesehatan Mental Ibu

Dulu kala, saya dan teman pernah bermain sebuah kuis random di internet. Salah satu pertanyaan di kuis itu adalah, “Siapa orang yang kamu tidak bisa hidup tanpanya?”. Di antara pilihan jawaban yang tersedia adalah teman dan orang tua. Saya dengan polosnya memilih orang tua, sedangkan teman saya menjawab teman.


Lalu dia bilang, “Aku mungkin bisa bertahan tanpa orang tua, atau jauh dari orang tua, tapi aku tidak bisa kalau hidup tanpa teman”. Saat itu saya hanya mengangguk saja. Sepuluh tahun berlalu, sekarang saya sangat setuju dengan jawaban teman saya waktu itu. 


Keberadaan orang tua jelas penting, dan salah satu support system terbesar. Akan tetapi, siapa yang bisa bertahan hidup sendirian tanpa teman? Kalaupun ada, saya yakin tidak banyak. Bahkan Allah memilihkan orang-orang terbaik untuk menjadi teman dan sahabat bagi Rasulullah saw. Keberadaan teman sangat penting bagi setiap orang, tak terkecuali seorang ibu.


Ibu mungkin sosok yang kuat, yang bisa melindungi anak dan keluarganya, tapi seorang ibu tetap perlu teman. Teman yang mendukung dan menguatkan, teman berbagi cerita dan jalan keluar, atau sekadar teman yang bisa saling memeluk dan menenangkan.


Sejumlah penelitian membuktikan hal ini. Bahkan, sebuah penelitian yang melibatkan 1082 ibu-anak di tahun 2019 menunjukkan bahwa hubungan sosial ibu dapat berefek positif pada kecerdasan anak. Jadi, lingkar pertemanan ibu bukan hanya penting bagi mental ibu itu sendiri, tetapi juga bagi anaknya.



Namun, menemukan teman yang sefrekuensi dan bisa mendukung kesehatan mental ibu terkadang tidaklah mudah. Terlebih lagi ketika baru pindah ke tempat yang asing, dan belum terbiasa dengan budaya sekitar. Nah, salah satu solusinya adalah dengan mencari teman melalui komunitas daring yang tepat. 


Saat ini ada banyak komunitas online yang dapat diikuti oleh ibu-ibu. Dua di antaranya adalah komunitas Ibu Profesional dan Ibu Punya Mimpi. Kedua komunitas ini mempertemukan ibu-ibu yang ingin menikmati perannya sebagai ibu, sekaligus membantu ibu meningkatkan kemampuan diri sesuai minat masing-masing.


Komunitas Ibu Profesional sendiri berdiri sejak Desember 2011 sebagai komunitas offline. Adalah Ibu Septi Peni Wulandani yang membangun komunitas ini di lingkungan rumahnya yaitu di Salatiga. Ibu Profesional kemudian berkembang pesat melalui jejaring online, dan hingga kini sudah memiliki ribuan anggota yang tersebar tak hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri. 


Senada dengan Ibu Profesional, Komunitas Ibu Punya Mimpi muncul di tahun 2020 untuk memberikan dukungan bagi para ibu yang kala itu tengah berjibaku dengan badai Covid-19. Komunitas Ibu Punya Mimpi menyediakan berbagai kelas online yang bisa diikuti para ibu sesuai dengan pace masing-masing.


Kedua komunitas ini bisa menjadi tempat yang nyaman bagi para ibu untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik, menjalani peran dengan bahagia, dan menemukan teman sefrekuensi. Keberadaan komunitas akan membuat ibu merasa menjadi bagian dari sesuatu dan tidak merasa sendirian. Dengan demikian, ibu pun bisa memiliki hubungan sosial yang lebih baik, dan mendukung kesehatan mental yang optimal. 


Jadi, sudahkah Ibu menemukan teman atau komunitas yang sefrekuensi itu? 


Share:

06 January 2020

Ternyata, Begini Rasanya...

Beberapa tahun lalu saya pernah bertakziah atau melayat ke rumah teman yang ayahnya meninggal. Saat itu teman saya bilang, "emang beda banget ya, antara mendengar, melihat, dan mengalami sendiri". Tentu konteks yang dimaksud teman saya waktu itu adalah tentang ditinggal ayah atau orang tua. Tapi apa yang dikatakannya tepat untuk berbagai hal.

Memang beda sekali rasanya antara mendengar kabar ada kawan yang menikah, dengan melihat langsung prosesi akad nikah. Apalagi menjalani sendiri prosesi tersebut, tentu rasanya jauh berbeda. Perbedaan itu juga yang saya rasakan setelah menikah dan menjadi ibu.

Sejak kecil saya terbiasa melihat ibu saya bekerja di rumah dan di luar. Pukul 04.00 ibu saya sudah bangun, lalu memasak, mencuci, menyapu dan mengepel rumah. Pukul 08.00 ibu saya berangkat kerja, dan pulang sekitar pukul 16.00. Sebelum tidur beliau membereskan dapur, dan esok pagi memulai rutinitas itu lagi. Saya melihat hal tersebut sebagai hal yang biasa.

Sekarang baru saya benar-benar menyadari bahwa rutinitas itu adalah hal luar biasa. Saya tak hentinya terkagum sekaligus heran, bagaimana ibu saya kuat melakukan semua itu, setiap hari. Beliau seolah tak pernah lelah, atau bosan. Beliau tampak happy dan santai saja mengerjakan itu semua.

Padahal, saya sendiri yang tidak bekerja di luar, dengan baru satu anak yang masih kecil, sudah kerap merasa lelah. Duh, malu sekali saya rasanya kalau mengeluh pada ibu.

Walaupun sejak kecil melihat aktivitasnya, ternyata saya sama sekali belum bisa seperti itu, seperti ibu. Ternyata beda sekali rasanya, antara melihat dan menjalani sendiri peran sebagai ibu rumah tangga. Saya seringkali ragu, bisakah saya menjadi seperti ibu? Seperti ibu yang saya kagumi kekuatan fisik dan mentalnya dalam menjalani perannya?

Mungkin sebenarnya saya tidak harus sekuat itu. Saya tidak harus sama seperti ibu. Bahkan kalau diingat-ingat, ibu sering bilang pada kami, anak-anaknya, "jangan jadi seperti ibu". Kenapa ibu menasihati kami seperti itu? Padahal saat ini, saya ingin sekali jadi seperti ibu.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day27

Share:

20 September 2025

Ternyata Banyak Ibu Merasa Kesepian!

“Being a stay at home mom is the loneliest kind of lonely, in which she was always and never by herself.”
(Barbara Kingslover dalam novel Flight Behaviour)

Salah satu “aha moment” bagi saya adalah ketika menemukan quote di atas. Karena saat itu saya benar-benar menyadari salah satu hal yang saya rasakan setelah menjadi ibu adalah kesepian. Bukan sekadar bosan ataupun lelah. Dan ternyata, banyak ibu-ibu yang merasakan hal sama. Apakah Ibu salah satunya?


Menurut American Psychological Association (APA), kesepian (loneliness) berarti perasaan tidak nyaman baik secara afektif maupun kognitif karena merasa sendirian atau terisolasi. Kesepian adalah hal yang subjektif, dan siapa saja bisa merasa kesepian.

Seorang ibu rumah tangga, misalnya, bisa merasa kesepian karena hanya bergelut dengan anak dan suami. Tumpukan pekerjaan rumah seolah mengikatnya sehingga tidak ada waktu untuk bergaul dengan teman. Pada satu titik, seorang ibu bisa merasa jenuh dan kesepian.

Dalam studi yang dilakukan oleh British Red Cross terungkap bahwa 43% ibu berusia di bawah 30 tahun sering atau bahkan selalu merasa kesepian. Penyebab terbesar adalah jarang bertemu dengan teman-teman setelah memiliki anak.

Wah, fakta ini sangat relate dengan saya yang langsung merantau ikut suami setelah menikah, dan langsung punya anak. Untungnya, kesepian itu tidak sampai terlalu parah. Pasalnya, kesepian yang berkepanjangan dapat berdampak buruk pada kesehatan.

Kesepian Jenis Apa yang Ibu Rasakan?
Dikutip dari situs Psychology Today, ada tiga jenis kesepian berdasarkan sebabnya. Dapat dilihat pada infografis di bawah ini.

Kesepian jenis apa yang pernah atau sedang Ibu rasakan? Eits, jangan bersedih, juga tak perlu malu mengakuinya. Ibu tidak sendiri, kok. Lagipula, rasa kesepian ini bisa diatasi dengan beberapa cara.

Cara Mengatasi Kesepian
Menurut Mental Health Foundation, ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam menghadapi kesepian ini.
  1. Melakukan kegiatan yang disukai, sebaiknya kegiatan yang bisa membuat kita merasa senang atau merasa puas. Contohnya menulis, membaca, menjahit, berkebun, apa saja. Sebagai muslim, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, salat dan berdzikir, tentu bisa menjadi kegiatan yang sangat baik. Sebaliknya, menonton berlebihan atau binge watching tidak termasuk dalam opsi ini karena hal tersebut justru dapat memperburuk perasaan kesepian setelahnya.
  2. Berolahraga atau aktivitas fisik. Mulai dari yang ringan seperti jalan kaki atau jogging, yang nyaman untuk Ibu lakukan.
  3. Cobalah berkomunikasi atau bergaul dengan orang-orang di sekitar. Mulai dari yang sederhana seperti menyapa tetangga saat berpapasan di jalan, atau berbasa-basi dengan penjual sayur langganan. Ini bisa memberi efek positif pada suasana hati kita, lho.
  4. Bertemu dengan teman senasib. Jika kamu seorang ibu rumah tangga, bertemu dan mengobrol dengan sesama ibu rumah tangga–terutama yang usianya tidak beda jauh–akan terasa menyegarkan. Refreshing! Kita tidak lagi merasa sendirian atau merasa paling sengsara.
  5. Bijak dalam menggunakan media sosial. Ini sangat penting, karena disadari atau tidak media sosial bisa memengaruhi mood dan perasaan kita. Follow-lah akun-akun yang tepat, batasi durasi membuka media sosial, dan pikirkan baik-baik sebelum mengunggah foto atau menuliskan komentar.
Semoga cara-cara tadi bisa membantu kita mengatasi kesepian, ya!

Referensi:
  • https://www.co-operative.coop/media/news-releases/shocking-extent-of-loneliness-faced-by-young-mothers-revealed
  • https://www.mentalhealth.org.uk/explore-mental-health/loneliness/help-and-advice
  • https://dictionary.apa.org/loneliness
  • https://www.psychologytoday.com/us/blog/lifetime-connections/201907/the-3-types-loneliness-and-how-combat-them

Share:

30 August 2025

Review Under the Queen’s Umbrella: Empat Sifat yang Perlu Dimiliki Seorang Ibu Selain “Galak”

                                                                                    (sumber gambar: Asian Wiki)


Under the Queen’s Umbrella adalah drama Korea yang tayang di tahun 2022. Drama ini bercerita tentang Ratu Hwa Ryeong yang memiliki lima orang anak laki-laki, dan salah satunya adalah putra mahkota yang akan menjadi penerus raja. Namun, Ibu Suri (mertua si ratu) berusaha menggagalkan hal itu. Bersama salah satu selir raja, Ibu Suri membuat rencana untuk menjatuhkan ratu dan anak-anaknya.


Untungnya, Ratu Hwa Ryeong pun sudah siap menghadapi serangan dari para musuh yang hendak mencelakai kelima putranya. 


Setelah menonton Under The Queen’s Umbrella, aku menyadari bahwa ternyata sifat galak yang identik dengan ibu-ibu itu tidak melulu buruk, lho. Asalkan diiringi dengan empat sifat berikut ini.


Cerdas

Sejak awal, sosok ratu atau permaisuri yang diperankan oleh Kim Hye-soo digambarkan memiliki sifat galak. Paling tidak kepada anak-anaknya yang semuanya laki-laki (dan ganteng-ganteng #eh).


Namun, sifat galak ini juga dibarengi dengan kecerdasan sang ratu. Baik kecerdasan mental maupun intelektual. Contohnya, ketika para pangeran diharuskan mengikuti ujian tertulis, Ratu Hwa Ryeong lebih dulu mempelajari ratusan  buku, agar bisa membantu anak-anaknya belajar dengan lebih fokus. Kalau tidak cerdas, pasti sudah pengsan dengan metode SKS (sistem kebut semalam) di usia tidak muda lagi. Hahaha.


Ia juga berkali-kali menjawab dengan elegan nyinyiran dari Ibu Suri. Bukan dengan marah atau mencak-mencak tak karuan. Hanya orang-orang yang cerdas yang bisa tenang menghadapi ibu mertua macam itu. Iya, kan?


Berani

Posisi Hwa Ryeong sebagai ratu tentu mendukungnya untuk memiliki keberanian. Namun, jika dibalik, tidak semua yang punya posisi tinggi itu berani mengambil keputusan yang benar. Bahkan sang raja dalam drama ini memiliki sejumlah ketakutan sehingga mengambil langkah yang salah.


Di salah satu episode, sang Ratu berani bicara di depan para menteri kerajaan ketika isu Putra Mahkota sakit merebak. Ia juga berani menghadapi dan bicara mengenai “kelainan” yang dimiliki anaknya. Ini juga perlu keberanian, karena sebagai ibu tentu ada keinginian menutupi kesalahan atau kekurangan anak.


Menjadi ibu yang cerdas itu bagus, tapi selain itu, penting juga untuk menjadi ibu yang berani. Berani membela diri dan keluarga jika di posisi yang benar, dan berani menghadapi masalah. 


Lembut

Walaupun digambarkan sebagai tokoh yang galak, kuat, tegas, Ratu Hwa Ryeong juga punya sisi lembut yang tidak kalah mencolok. Misalnya, ketika menenangkan pangeran (anak dari selir raja) yang mencoba bunuh diri. Ia mengobrol dengan santai sambil makan.


Begitu juga ketika ngobrol dengan anak tertuanya, Putra Mahkota, terlihat sisi lembut dan keibuannya. Jadi, kalaupun kita sering ngomel, jangan lupa, kelembutan itu tetap ada dan perlu dikeluarkan juga, ya, Bu.


Menghormati Suami

Sepanjang menonton serial ini, saya beberapa kali kesal pada karakter raja. Beberapa kali juga saya menebak bahwa Ratu akan mengamuk atau marah kepada suaminya itu. Ternyata tidak.


Sang Ratu tetap mematuhi aturan kerajaan, dan bicara kepada raja dengan sopan. Bahkan ketika hanya berduaan dengan raja, dan emosi sudah di ubun-ubun (alias menjelang episode akhir), si ratu ini tidak marah-marah atau mengamuk ke raja.


Respon Raja pun akhirnya tidak mengecewakan amat. Jadi, yaa, menurut saya sih ini salah satu sikap seorang istri yang perlu ditiru.


Nah, kalau empat sifat di atas sudah ada, maka sifat galak pun rasanya jadi bisa dimaklumi atau bahkan tertutupi. Menurut ibu-ibu gimana, nih?


Share:

09 June 2024

Mari Mengubah Mindset Ini

Kejadian kurang menyenangkan yang dialami seorang teman turut membuka luka lama yang bercokol di hatiku.

Jadi begini, beberapa waktu lalu teman saya menghadiri sebuah acara. Anggap saja sebuah seminar atau pelatihan. Acara itu dihadiri ratusan peserta yang sebagian besar adalah pendidik.

Teman saya, dan puluhan peserta lain, adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka mendapat undangan menghadiri acara tersebut. 

Kemudian selama acara berlangsung, rupanya ada beberapa peserta yang heran dan tampak keberatan dengan kehadiran para ibu-ibu ini. Karena mereka menilai para ibu ini tidak ada hubungannya dengan sistem pendidikan. 

Ah, ini mengingatkan saya ketika beberapa tahun lalu menghadiri acara dan mendapat kesan serupa dari peserta lain.

Intinya, masih banyak orang yang beranggapan bahwa ibu rumah tangga yaa sudahlah, ngurusin rumah saja. Tidak usah ikut kegiatan yang begini begitu.

Duh, let me tell you something. 

Ibu rumah zaman sekarang dan ibu rumah tangga puluhan tahun lalu itu punya karakteristik yang berbeda. Zaman dulu, seorang menjadi IRT karena terpaksa, tidak punya pendidikan, tidak bisa bekerja. Sekarang? Tidak sedikit ibu-ibu yang memegang gelar sarjana bahkan master yang memilih meninggalkan pekerjaan di luar dan menjadi IRT.

Dengan modal tersebut, mereka menjadi IRT yang berilmu, mendidik anak dengan ilmu. Mereka juga tidak berhenti belajar. Toh, hari ini berbagai hal bisa dipelajari lewat internet. Kelas-kelas daring bertebaran. 

Jadi, kawan, sudah saatnya mengubah mindset dan stereotip bahwa IRT itu adalah wanita yang hanya mengurusi sumur, kasur, dan dapur. IRT itu juga bisa belajar, berkembang, sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. 


#30DWC

#30DWCJilid46

#Day8

Share:

04 February 2020

Setelah Menonton Kim Ji Young Born 1982 …

Apakah Anda ibu rumah tangga?
Apakah Anda pernah bekerja di luar rumah?
Apakah Anda sudah menonton film Kim Ji Young Born 1982?
Apa pun jawaban Anda, silakan baca tulisan ini sampai selesai. Hehe.

Film Kim Ji Young bercerita tentang seorang wanita yang bekerja di sebuah kantor periklanan (ya?), kemudian menikah, dan setelah memiliki seorang anak, dia berhenti bekerja kemudian menjadi ibu rumah tangga. Sampai sini, apakah ada kemiripan antara Kim Ji Young dengan kehidupan Anda? Ya? Oke, semoga cerita selanjutnya tidak sama, ya.

Hari berganti, waktu bergulir, Kim Ji Young rupanya mengalami gangguan kejiwaan yang membuatnya kadang menjadi seperti orang lain. Oke, sinopsis film sampai sini saja, saya tidak akan bahas tentang filmnya itu sendiri, tapi saya akan menuliskan beberapa hal yang terbesit setelah menonton film ini.

Ih, gue banget!
Mungkin ini ujaran sebagian emak-emak IRT yang menonton ini. “Gue banget nih, tadinya kerja, terus jadi IRT, terus bergulat dengan urusan domestik setiap hari dengan backsound tangisan si bocil.” Kurang lebih demikian, dan ini bukan hanya pikiran saya. Teman saya pun merasakan yang sama. Jadi, you’re not alone.

She’s a good mom
Kim Ji Young adalah ibu yang rajin, kuat, penyayang, sangat sabar—dia ga pernah marahin anaknya lho, mak! Ya, dengan semua yang digambarkan di film, dia adalah ibu yang baik.

I can feel her, somehow 
Dibesarkan dengan semangat bekerja, kemudian harus menjadi seorang ibu rumah tangga, bukanlah hal yang mudah. Bahkan ketika dia melakukan perannya sebagai istri dan ibu dengan sangat baik, dia masih merasa ada yang kurang. I can feel that, I can understand that.

But…
Nah, satu hal yang saya agaknya kurang sreg adalah dengan ending cerita. Digambarkan Kim Ji Young bahagia karena akhirnya bisa kembali bekerja kantoran. Sementara suaminya—secara tersirat—digambarkan resign dan menjadi bapak rumah tangga (iya ngga sih?). Seolah semua masalah selesai. Padahal, di dunia nyata, seorang ibu yang bekerja di luar juga memiliki beban dan dilemanya sendiri. Tidak semua orang bisa berdamai dengan itu.

Salah satu yang terpatri dalam hati saya setelah bergabung dengan komunitas Ibu Profesional adalah get your priorities right. Ada banyak hal yang ingin saya lakukan, bahkan setelah menikah dan memiliki anak, masih ada sederet mimpi yang saya dambakan. Tapi saya selalu memikirkannya lagi, bertanya pada diri sendiri, apakah itu prioritas saya saat ini?

Jadi, setelah menonton film ini, saya semakin menyadari pentingnya menetapkan prioritas dengan tepat. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Mainkan peran dengan bahagia dan tanpa penyesalan di kemudian hari.

Nyambung ngga ya antara film dan kesimpulan yang saya buat? Ngga, ya? Baiklah, tidak apa-apa, ya. Toh, ini hanya pendapat pribadi. Kalau Anda sendiri, bagaimana?




Share:

20 May 2020

Bijak Menghadapi ‘Kebaperan’, Resensi Buku Baper Gak Pakai Lama




Judul: Baper Gak Pakai Lama
Penulis: Ernawati Nandhifa, dkk
Penerbit: LovRinz
Tahun Terbit: 2020



Jangan baper!

Seringkah Anda mendengar nasihat itu? Jangan baper atau tidak boleh baper, biasanya ungkapan ini ditujukan pada kaum hawa dalam menyikapi berbagai hal. Saya pun ketika mendengar nasihat ini awalnya merasa, “Ya, benar, jangan baper”. Tapi, apakah mungkin?

Baper adalah sebuah perasaan yang wajar dan harus diterima, bukan dielakkan. Demikian kata-kata seorang kawan yang merupakan lulusan S2 Psikologi Klinis, Universitas Indonesia. Setelah mendengar itu, saya mengiyakan.

Sebagai seorang wanita yang tercipta dengan dominasi perasaan, tentu tidak baper adalah hal berat. Sebagaimana perasaan adalah salah satu modal penting dalam mendidik anak, baper juga tak bisa dielakkan. Tapi baper itu bisa diatasi. Itulah salah satu pesan yang ingin disampaikan dalam buku antologi berjudul Baper Gak Pakai Lama, karya teman-teman di Club Menulis Komunitas Ibu Profesional Kalimantan Barat.

Ada berbagai kisah baper dalam buku sederhana ini. Anda mungkin akan kaget membaca cerita seorang ibu yang sangat sedih dan uring-uringan hanya karena hal super remeh. Namun itu terjadi, perasaan sang ibu itu nyata. Untungnya, ia bisa mengatasinya. Saya pribadi pernah mengalami hal serupa. Ketika ada hal receh tapi sangat mengganggu benak saya.

Membaca buku ini bagi saya seperti melihat sebuah film tentang kehidupan para ibu muda di zaman sekarang. Ada yang baper karena dicuekin di grup WA, ada yang sensitif karena tak kunjung memiliki anak, dan cerita baper lainnya.

Sulit untuk tidak ikutan baper ketika membaca buku ini. Wkwk. Tapi itu menunjukkan bahwa para penulis bisa memberikan ruh dalam cerita sehingga pembaca—yang juga emak-emak—bisa terhubung dengan cerita. Dan bagusnya, ada solusi dari tiap baper yang dirasakan para penulis. Bukan hanya baper-baper berkepanjangan tanpa ujung.

Namun demikian, ada beberapa kekurangan dalam buku ini:

  • Saltik atau penulisan tak sesuai kaidah

Ada beberapa cerita yang cukup banyak mengandung typo, ada juga yang sudah sesuai kaidah. Jadi terlihat kesenjangan antara penulis yang sudah paham kaidah dan belum.

  • Konflik yang kurang dieksploitasi

Pada beberapa cerita, ada yang menurut saya bisa lebih didramatisasi penggambarannya. Atau ada yang klimaksnya terlihat jelas.

  • Plot hole

Ada satu cerita yang menurut saya mengandung plot hole cukup besar. Entah mengapa penulis memilih tidak menceritakan dengan jelas beberapa bagian yang penting, dan hal ini membuat pembaca bingung.

Beberapa kekurangan ini tentu bisa dieliminasi di karya-karya selanjutnya.

Cerita favorit saya dalam buku ini yaitu karya Mba Ernawati, yang berjudul "Curhat ke Bintang". Selain metafora-metafora dengan porsi pas, cerita ini menggunakan alur flashback yang halus, sehingga hasilnya sangat cantik. Saya pun jatuh cinta dan terinspirasi untuk mencoba hal yang sama. Hehe.

Buku ini saya rekomendasikan bagi para ibu-ibu muda, baik ibu bekerja maupun ibu rumah tangga. Karena semua orang bisa baper, dan itu wajar. Tapi, ingat, gak pakai lama, ya!

#30DWCJilid23
#30DaysWritingChallenge
#Day25
#Squad7
Share:

13 June 2021

Ruwetnya Mengurus SIM Card Baru





Disclaimer: Ini adalah curhatan saya tentang mengurus SIM Card baru karena handphone yang hilang. Penuh emosi dan bikin pegal. Well, pengalaman orang lain bisa jadi berbeda.

Backstory: hari Senin lalu, tepatnya 7 Juni 2021, handphone ibu saya raib, tak ditemukan di mana-mana walaupun ibu saya yakin handphone-nya tidak dicuri.

Dua hari setelahnya, Rabu, saya dan ibu saya menyerah mencari dan memutuskan ke gerai Indosat untuk membuat SIM Card baru dengan nomor sama. Iya, zaman sekarang kalau kehilangan handphone rasanya bukan hanya kehilangan alat komunikasi, tetapi semua foto, nomor kontak, dan aplikasi di dalamnya itu yang bisa jadi lebih berharga.

Hanya berbekal KTP, kami datang ke gerai Indosat. Rupanya, sekarang membuat SIM Card baru tak semudah dahulu kala, Kawan. Dulu hanya modal KTP asli sudah cukup, sekarang harus dilengkapi dengan fotokopi KK dan surat keterangan hilang dari kepolisian. Duh!

Sudahlah kami masih sedih dan gamang karena kehilangan handphone, masih harus ribet dengan surat ini itu juga. Tapi bagaimana lagi, tak ada pilihan lain.

Baiklah, setelah itu kami langsung ke kantor polisi terdekat untuk membuat surat keterangan kehilangan. Untunglah ada petugas polisinya, proses pembuatan pun cepat, dan kami balik lagi ke gerai Indosat. Sedangkan untuk KK, saya minta adik saya di rumah mengantarkannya ke gerai Indosat.

Persyaratan sudah lengkap, artinya bisa langsung diproses. Paling tidak, saya kira begitu. Lagi-lagi, tidak, Kawan. Hidup sekarang memang tak semudah berselancar di dunia maya. Ibu saya diminta mengisi formulir dan ditanyai macam-macam pertanyaan yang bikin saya keki. Kenapa? Ya, karena ibu saya tentu kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Contohnya:

Sebutkan tiga nomor kontak terakhir yang Anda hubungi! Alamaak, jangankan ibu saya, saya pun kalau ditanya begitu bisa jadi tidak ingat. Karena sekarang kita mengandalkan handphone untuk mengingat ini itu, termasuk nomor handphone orang. Mungkin hanya orang-orang terdekat yang kita hafal nomornya. 

Apa merk handphone Anda? Tipenya? Merknya Samsung, tipenya? Entahlah, saya tidak ingat tipe apa. Di antara segudang model handphone Samsung yang mirip-mirip itu, mau menebak-nebak pun sulit. Apalagi itu handphone dibeli empat tahun lalu.

Apa paket internet yang terakhir Anda beli? Nah, kalau ini bisa diingat jumlah kuota yang terakhir dibeli. 

Untuk apa pertanyaan-pertanyaan itu? Kata operatornya siy untuk memastikan bahwa nomor dan handphone yang hilang itu beneran handphone ibu saya. Terserahlah. Yang penting ibu saya segera dapat nomor baru.

Namun, untuk kesekian kalinya, hidup tak semudah itu. SIM Card baru bisa diambil sekitar tujuh hari kemudian. Iya, tujuh hari! Atau kalau ingin jalur yang lebih cepat, bisa dalam waktu 1-3 hari, tetapi harus berlangganan kuota abodemen sebesar Rp70.000 per bulannya. Hadeeeh.

Kami tidak memilih opsi itu dan lebih baik menunggu saja. Di samping sudah keburu emosi juga tentunya. 

Entah sejak kapan, mengurus SIM Card baru jadi ruwet seperti ini. Mungkin sejak nomor handphone dijadikan alat verifikasi ini itu, terhubung dengan aplikasi ini itu, sehingga harus lebih ketat dalam pengurusan SIM Card hilang. 

Yang jelas, jagalah handphone dan SIM Card kalian jika tidak ingin mengalami keruwetan nan menguras emosi seperti ini. Sekian dan terima kasih.





Share:

09 January 2020

Menjaga Asa

Jam menunjukkan hampir tengah malam. Si bocil yang sudah tidur sejak habis isya tiba-tiba terbangun. “Mamaa..! Siniii…!” panggilnya cukup lantang untuk ukuran orang mengigau.

Dengan malas-malasan, saya masuk ke kamar. Ya bagaimana tidak malas, ini kan waktunya me time setelah seharian nemenin bocil main. Biasanya kalau mengigau begini, si bocil cuma minta minum kemudian tidur lagi. Tapi rupanya kali ini berbeda.

“Mama, bacain buku.”
“Hah?” saya tidak jelas mendengarnya.
“Bacain buku,” ulang si bocil.
“Bacain buku? Buku apa?”
“Iya, buku Tayo.”

Alamak!
Apa lah ini, tengah malam terbangun, kok, minta bacain buku? Emak antara senang dan sedih kalau begini. Haha. Baiklah, saya pun langsung mengambil salah satu buku cerita Tayo favoritnya dan membacakannya. Si bocil tiba-tiba melek segar, lho. Dia menyimak dengan semangat. Setelah saya selesai bacakan buku Tayo, dia tidur lagi tanpa protes. Hhh. Ada-ada saja.

Hal-hal seperti ini yang kadang membuat emosi meninggi. Ketika lelah seharian, ingin me time dengan asik nongkrong di depan laptop, tiba-tiba masih saja ada hal lain yang harus dikerjakan. Memang benar, ibu itu kerjanya 24 jam, tidak ada libur kecuali pergi ke luar kota tanpa membawa bocil. Saya belum pernah begitu, sih.

Tapi tidak boleh ada kata menyerah dalam menjadi ibu. Seberapa pun lelahnya, kesalnya, emosinya, tapi tak boleh menyerah. Tak boleh putus asa. Ada harapan yang harus selalu dijaga. Harapan untuk menumbuhkan anak yang sholeh. Harapan menjadi ibu yang sholehah.

Pasti harapan ini juga yang membuat ibu saya dulu bertahan membesarkan saya di tengah kerasnya hidup. Harapan yang membuatnya tak pernah menyerah. Asa itu terlihat jelas di matanya, di raut wajahnya. Ahh, jika membayangkan ibu, saya selalu malu. Rasanya dulu saya pasti jauh lebih merepotkan ibu dibanding si bocil saat ini.

Ini salah satu cara saya menjaga asa, menjaga harapan. Tidak, tidak ada kata menyerah dalam menjalani peran sebagai ibu. Karena asa itu, ada pada ibu. :)

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day29
#ImWritingInLove
Share:

08 January 2020

Ibu dan Air Mata

Diawali dengan resensi buku Istri Kutu Kupret, rasanya di penghujung 30 Days Writing Challenge ini saya akan terus menulis tentang ibu. Sebenarnya saya agak menghindari topik ini karena takut jadi melow sendiri. #aihh…

Beberapa hari yang lalu saya baru saja menonton Kim Ji Young 1982. Film yang mengangkat tema perempuan—khususnya ibu rumah tangga—ini katanya menjadi kontroversi di Korea Selatan. Pasalnya, film ini dikhawatirkan mendorong gerakan feminisme. Well, resensi film ini tidak akan saya tulis sekarang, mungkin besok-besok.

Jujur, film Kim Ji Young ini cukup menyentuh bagi saya, bahkan di satu bagian saya hampir menitikkan air mata. Hampir. Saya terpukau dengan kekuatan Kim Ji Young sebagai ibu rumah tangga. Dalam film tersebut tidak ditampilkan Ji Young memarahi anaknya, saya iri sekali. Dan dalam film itu, Ji Young juga tidak terkesan lemah, tak ada adegan Ji Young menangis tersedu-sedu atau lebay gitu. Padahal, bagi saya, menjadi ibu itu sangat menguras air mata.

Saat menulis skripsi dulu, beberapa teman saya menumpahkan air mata di tengah proses menulis skripsi. Tapi saya tidak sama sekali. Bukan berarti mudah ya, tapi saya enjoy saja saat itu. Seingat saya, saya jarang sekali lah menangis karena tugas atau pekerjaan, bahkan karena teman. Kalau kesal atau marah, siy, sering. Hehe.

Akan tetapi, baru empat tahun menjadi ibu rumah tangga, entah berapa ember air mata tercurah. Apakah ini hal yang buruk? Apakah saya tidak bahagia menjadi ibu rumah tangga? Tidak, tidak selalu demikian. Air mata bagi saya justru menampakkan kesungguhan. Karena tidak ada yang bisa membuat kita menangis kecuali hal itu memang menyentuh hati kita, menyakitkan, atau justru membahagiakan. Intinya, air mata itu ada ketika kita benar-benar menghayatinya, memikirkannya.

Maka, jika ada air mata yang jatuh ketika menjalani peran ini, mungkin itu karena aku berusaha sungguh-sungguh di dalamnya, aku berusaha menjadi lebih baik. Mungkin.

 #30DWC
#30DWCJilid21
#Squad4
#ImWritingInLove


Share:

07 April 2026

Cerita Penuh Makna di Festival Peduli Autisme 2026


Tahukah kamu, tanggal 2 April adalah Hari Peduli Autisme Sedunia? Saya pun baru tahu belum lama ini. Kenapa? Ya, karena anak kedua saya didiagnosis ASD (Autism Spectrum Disorder) akhir tahun lalu. Sejak itu saya mencari tahu lebih banyak tentang autisme, dan bertemulah saya dengan akun IG @PeduliASD.


Nah, ternyata Peduli ASD ini mengadakan sebuah acara bertajuk Belajar Autisme Seharian:Bangga Membersamai Autistik pada 4 April kemarin di Pesona Square Mall Depok. Acara terbuka untuk umum, dan saya hadir sebagai peserta. 


Konsep acaranya seperti talkshow gitu. Narasumber di sesi pertama adalah Dokter Arifianto alias Dokter Apin, beliau adalah dokter spesialis anak konsultan neurologi anak. Nah, anak kedua saya juga beberapa kali konsul dengan beliau nih di Klinik Apin. Selain Dokter Apin, sesi satu diisi juga oleh Ibu Dante Ragmalia, beliau adalah ketua Komisi Nasional Disabilitas.


Di sesi pertama yang dipandu oleh Dr. Isti Anindiya ini, pembahasannya seputar realita yang dihadapi oleh anak ABK khususnya ASD. Miris tapi tidak mengherankan sebenarnya, bahwa individu dengan ASD di Indonesia masih banyak yang kesulitan mengakses layanan kesehatan misal untuk terapi. Kemudian, masih banyak juga stigma yang melekat, seperti anggapan bahwa autisme itu karena vaksin, atau karena dosa-dosa orang tua, atau lainnya.


Nah, dokter Apin juga meng-highlight bahwa pada ASD, lebih cepat terdeteksi dan diterapi, maka hasilnya bisa lebih baik. Orang tua harus lebih rajin membaca buku KIA dan memantau tumbuh kembang anak supaya ketika ada yang tidak sesuai dengan milestone bisa langsung dicari solusi.


Ah, baru sesi pertama saja sudah banyak ilmu yang didapat dari acara ini. Salah satu yang menarik juga, ternyata Ibu Dante sendiri adalah seorang penyandang disleksia sejak kecil. Beliau bercerita bahwa semasa sekolah, ia dipandang sebagai anak yang bodoh. Bahkan saat SMA ia dikeluarkan dari sekolah. 


Namun, ibunda beliau tidak menyerah begitu saja. Sang ibu mendorong anaknya agar ikut kejar Paket C, dan bisa mendapat ijazah setara SMA. Dengan ijazah itulah Ibu Dante bisa mendaftar ke perguruan tinggi. Perjalanan menempuh jenjang pendidikan tinggi juga tidak mudah bagi beliau. 


Di jenjang S2, beliau juga sempat berhenti dan DO. Namun, beliau tidak menyerah, dan akhirnya menemukan kampus yang mau menerima dan menyesuaikan dengan kebutuhan beliau. Pendidikan Ibu Dante berlanjut sampai jenjang S3, dan pernah mengikuti perkuliahan di University of Oslo di Norwegia. 


Salah satu pesan yang disampaikan Ibu Dante dalam acara Sabtu kemarin adalah, betapa beliau sangat bersyukur memiliki ibu yang tidak menyerah dengan kondisinya yang berkebutuhan khusus, sehingga beliau bisa berada di posisi sekarang.


Ah, sebuah kisah yang tentunya menghangatkan hati para orang tua dari anak ABK. Sekaligus menjadi pengingat bahwa kita harus berusaha lebih keras dan lebih semangat demi masa depan anak-anak yang spesial ini. 🙂


Oke, cerita sesi dua dan tiga akan saya tuliskan di postingan selanjutnya, ya. Insyaallah. 🙂



Share:

27 December 2019

Citaku pada Ayah (Cerbung Part 3 Tamat)

Dua puluh tahun berlalu sejak sore kelabu itu. Diyani kini tinggal ratusan kilometer jauhnya dari rumahnya dulu, dari makam ayahnya. Namun jarak dan waktu tak meredupkan ingatan Diyani. Setiap kali ia pejamkan mata dan melemparkan diri ke masa itu, suasana dua puluh tahun yang lalu menyeruak. Ia ingat jelas kejadian malam itu, malam ayahnya pergi perlahan dari dunia fana.

***
"Laa ilaha illallah.." ucap ibu Diyani perlahan, mencoba menuntun suaminya mengucap kalimat tauhid.

Diyani yang sebenarnya sudah terlelap pun tersadar mendengar ucapan ibunya. Walaupun demikian, Diyani tak berkata apa-apa, tubuhnya bergeming memunggungi ibu dan ayahnya di kasur sebelah. Ia bahkan tetap menutup mata. Hanya telinganya siaga menangkap suara sang ibu yang setengah tersedu. Diyani tahu apa yang terjadi. Gadis kecil itu tahu ayahnya akan segera pergi. Tapi ia terlalu bingung untuk melakukan apapun. Ia bahkan tak berani membuka mata dan berbalik badan melihat ayahnya untuk terakhir kali.

Ibu Diyani masih setia mengajak suaminya mengucap kalimat laailahaillallah. Sang suami yang sudah lama terbaring lemah karena sakit berusaha mengikuti ucapan istrinya, walau dengan susah payah.

Sementara, perlahan tapi pasti, rasa kantuk kembali melalap Diyani dan menyeretnya ke alam mimpi. Diyani menyerah pada kegamangannya. Toh, ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Ia hanya perlu menerimanya, esok pagi.

***
Diyani membuka mata, pipinya basah. Dadanya sesak dengan kepingan masa lalu. Ia menarik napas perlahan, mencoba meringankan beban di hatinya. Berusaha tersenyum, seolah mengatakan pada ayahnya, pada dirinya sendiri, bahwa ia baik-baik saja.

Ayah, aku baik-baik saja
Aku tidak akan melupakan ayah
Segala citaku, masih sama padamu
Aku menyayangimu, ayah


Diyani memutuskan untuk segera tidur. Ia memandang wajah suami dan anaknya yang sudah nyenyak kemudian tersenyum. Malam itu tidurnya lebih lelap, ia bahagia, seakan baru saja bertemu kekasih yang dirindukannya.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day17
#ImWritingInLove
Share:

15 August 2023

Resensi Novel Perkumpulan Anak Luar Nikah

Novel perkumpulan anak luar nikah

Bukan, ini bukan novel tentang anak-anak yang lahir dari hasil married by accident. Sama sekali bukan.


Iya, saya awalnya juga berpikir begitu. Hyahaha. Tapi ternyata malah jauh lebih menarik dari istilah itu sendiri. Ok, let's talk about this book.


Martha, seorang ibu rumah tangga keturunan China-Indonesia (Cindo) yang tinggal di Singapura, terancam dipenjara karena memalsukan dokumen. Dokumen itu adalah akta kelahiran, dan dia gunakan untuk mendaftar beasiswa di sebuah kampus ternama di Singapura. 


Namun, pemalsuan itu baru diketahui khalayak ramai setelah bertahun-tahun Martha lulus kuliah. Siapakah gerangan yang membocorkannya? Well, dalam perjalanan novel ini, pertanyaan itu tidak lagi penting. Pertanyaan "why" lah yang menjadi inti cerita novel ini.


Martha melakukan pemalsuan itu karena ia ingin di aktanya tertulis nama mama dan papanya, alih-alih "anak di luar nikah". Kenapa? Karena memang secara de facto ia bukan anak di luar nikah, tapi secara de jure, yes, she is


Perkara birokrasi menjadi momok tersendiri bagi seorang Martha karena ia Cindo, dan bukan orang kaya. Jika sebagai WNI saja kita sering dibuat kesal dengan aturan dan tradisi di birokrasi, maka bagi orang-orang Chindo hal itu berkali lipat lebih menyebalkan. Martha pun mengambil jalan pintas dengan mengubah sendiri akte kelahirannya. Buntutnya, Martha kini harus menghadapi pengadilan di Singapura yang terkenal strict.


Novel ini adalah paket komplit, ada cerita tentang keluarga, ada romance tanpa drama lebay, ada unsur politik, sejarah China di Indonesia, kisah tragedi Mei 98, ada tradisi dan budaya, juga tentang mengejar cita-cita. Selama membaca PALN dari awal sampai akhir, saya terus membatin, "berapa lama riset yang dilakukan penulisnya, ya?". Karena novel ini memang tipe yang perlu riset detil, mengenai kehidupan di Singapura, sistem peradilan di sana, dan kehidupan kampusnya. 


Tidak hanya Singapura, banyak juga latar tempat dan budaya di Indonesia yang membuat novel ini terasa begitu nyata. Karena membahas suku, agama, ras, dan sejarah, tentu tidak bisa asal bicara. Ada mitos-mitos seputar Cindo, ada asumsi-asumsi yang sudah mengakar di masyarakat, terklarifikasi dalam novel ini. 


Setelah membaca PALN saya harus mengingatkan diri saya bahwa ini adalah novel, cerita fiksi, bukan buku sejarah yang seluruhnya fakta. Walaupun tentu saja, ada bagian-bagian yang memang based on true story, alias nyata. Selain itu, dengan cerita dan latar yang kental dengan suku dan ras, tentunya novel ini juga menyinggung tentang nasionalisme. 


Ya, mungkin kita yang bukan Chindo tidak pernah ditanya tentang seberapa besar kecintaan kita terhadap bangsa ini. Seolah dengan lahir dan besar di sini, memiliki ciri fisik yang sama dengan kebanyakan orang, berarti kita cinta negeri ini. Dan sebaliknya. Akan tetapi, apakah benar demikian? Jika posisinya dibalik, akankah kita masih bertahan dengan negara ini? Sebagaimana Martha yang bertahan dengan status WNI bahkan ketika tinggal bertahun-tahun di luar negeri? Ah, cocok sekali dibaca di bulan Agustus, ya, kan?


Posisi Martha sebagai ibu rumah tangga juga menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Ketika banyak novel-novel bercerita tentang wanita muda berkarier di kantor elite, novel ini mengambil posisi ibu rumah tangga. Padahal Martha punya prestasi cemerlang di kampus. Juga pernah bekerja di perusahaan besar. Namun, ia memilih menjadi ibu rumah tangga berdaster yang mengurus anak-anaknya. Kok, saya terharu, ya. :')


Anyway, karya Grace Tioso ini sangat recommended. Membaca novel ini seperti sedang menikmati cemilan kesukaan yang ingin terus kita makan, tapi tidak ingin segera habis. wkwk. Bukan novel ringan, tapi juga tidak berat. Berisi, sarat informasi, bukan sekadar asumsi. Pun demikian, novel ini tetap bisa menghibur. 



Share:

27 June 2024

Hal-Hal yang (Bukan) Rahasia


“Rahasia!” kata seorang perempuan berusia paruh baya, sambil malu-malu. Ia lebih tampak seperti orang yang ingin membeberkan rahasia, tapi tidak ingin benar-benar kelihatan begitu. Paham, kan, maksudnya?

“Ih, kasih tahu, dong. Ke mana, sih, orang itu? Kok, katanya ngga pulang ke rumahnya, ya?” sahut seorang perempuan lawan bicaranya yang jelas terpancing umpan “rahasia” tadi.

“Ibunya aja nggak tahu, lho, dia ke mana.”

“Ke mana, sih, emangnya?”

Pergunjingan dua ibu-ibu itu pun berlanjut, makin seru. Keduanya tampak begitu antusias. Yang satu semangat membocorkan rahasia berupa aib orang, yang satu tak kalah gigih mengulik aib orang.

Sialnya, saya justru merasa risih sekali karena tidak sengaja mendengar obrolan tadi di warung saat sedang belanja. 

Entah mengapa, rasanya obrolan langsung mendadak seru kalau sudah ada kalimat seperti itu. Ketika dibilang rahasia, semua justru ingin mendengarnya. Sama seperti kalau dibilang “jangan”, malah tergoda untuk melakukannya. 

Padahal, kalau sudah dibilang rahasia, apalagi tidak ada hubungannya dengan kita, ya sudahlah, biarkan saja. Tidak perlu diulik-ulik. Apalagi hal seperti ini masuk dalam kategori yang memang seharusnya dirahasiakan.

Apa saja yang seharusnya dirahasiakan?

Pertama, rahasia yang masuk dalam kategori rahasia sesungguhnya, dan memang sebaiknya dirahasiakan. Rahasia orang, aib diri dan orang lain, dan kebaikan diri. Menurutku tiga hal ini memang sebaiknya tetap menjadi rahasia.

Jika ada rahasia orang lain, yang kita tidak tahu, maka sudahlah, tidak perlu dicari tahu. Toh, kita tidak tahu pun tidak masalah. Justru kalau kita tahu malah bisa jadi masalah. Misal, aib orang lain, jika kita tahu, bisa jadi kita akan gatel sekali ingin menyebarkannya–seperti kasus ibu-ibu di atas tadi. Daripada harus menahan diri menjaga rahasia, lebih baik tidak tahu sama sekali, bukan?

Begitu juga aib diri sendiri, sebaiknya tetap menjadi rahasia, jangan malah diumbar, dijadikan konten. Yaa kalau ada manfaat, atau hikmah, pelajaran yang bisa diambil, dan memang lebih besar manfaat dibanding mudarat, mungkin masih ok. Akan tetapi, jika tidak? Hanya rugi saja yang kita dapat.

Ketentuan yang sama berlaku untuk kebaikan yang kita lakukan. Kalau dibeberkan malah akan menghilangkan pahalanya, menumbuhkan ujub pula. 

Apakah ini rahasia?

Nah, ada hal-hal yang sebenarnya bukan rahasia-rahasia amat, tetapi masih dicari-cari. Yaitu pertanyaan, “kenapa aku diciptakan? Untuk apa aku diciptakan?”

Wajar, kalau bertanya seperti itu. Namun, secara umum, itu pertanyaan yang sangat luar biasa jadul. Karena malaikat pun sudah menanyakan hal yang sama bahkan sebelum manusia pertama diciptakan. Dalam surat Al Baqarah, Allah menceritakan bahwa malaikat mempertanyakan, kenapa Allah menciptakan manusia? Padahal manusia itu akan berbuat kerusakan di bumi? Sedangkan sudah ada malaikat yang selalu tunduk patuh.

Allah sudah menjawab di ayat yang sama bahwasannya Allah mengetahui apa yang tidak diketahui malaikat. Malaikat pun mengiyakan hal itu. Kemudian di ayat lain, Allah juga memberi tahu tujuan penciptaan manusia, tidak lain adalah untuk menyembah Allah. 

Hal ini sudah bukan rahasia lagi, iya kan? Cukup dengan mencari ilmu, mengamalkannya sebaik mungkin, maka apa-apa yang kita pikir rahasia itu akan terungkap juga. Toh, tidak semua harus diketahui saat ini juga. Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Kita sebagai hamba lah yang sering tidak memahaminya.

Yaa dalam perjalanannya, kita memang akan tetap mempertanyakan banyak hal. Tentu saja. Sebagai manusia yang diberikan karunia untuk bisa berpikir, kita pasti penasaran dengan banyak hal. Ingin mencari tahu ini dan itu. Bukan sesuatu yang buruk selama masih dalam jalur yang benar.

Kesimpulannya, ada hal yang memang sebaiknya tetap menjadi rahasia, demi kebaikan bersama. Tidak perlu dicari tahu, apalagi kalau tentang aib orang. Ada juga hal yang saat ini mungkin masih menjadi rahasia karena kita belum tahu, dan baru akan terungkap seiring berjalannya waktu. Bersabarlah, berdoalah.

#30DWCJilid46

#30DWC

#Day27


Share: