Showing posts with label ibu rumah tangga. Show all posts
Showing posts with label ibu rumah tangga. Show all posts

17 March 2026

Teruntuk Diriku yang IRT Tulen


Disclaimer dulu, ini adalah opini pribadi saja, bisa jadi berbeda, dan itu tidak apa. 

“Tidak ada wanita hebat yang IRT di mata dunia.”

Demikian sebuah kalimat yang saya temukan secara tak sengaja di kolom komentar media sosial–kalau tidak salah ingat. Sekilas membaca kalimat itu, tebersit dua perasaan yang bertentangan. Pertama, tidak setuju. Banyak IRT yang hebat di dunia ini menurut saya. Menjadi IRT itu sendiri adalah tanggung jawab besar, pekerjaan berat. 


Namun, di sisi lain, kalimat itu bisa jadi adalah fakta yang masih berlaku sampai saat ini. Kok bisa? Coba baca lagi baik-baik kalimat di atas, kemudian kita ingat-ingat, pada momen terkait perempuan, misal Hari Kartini, siapa yang biasa diundang untuk tampil di acara TV? Atau kalau zaman sekarang di acara podcast, siapa sosok perempuan yang diundang? Yap, most likely sosok perempuan pekerja, wanita karier, pemimpin perusahaan, dll. Contoh Najwa Shihab, mantan Menkeu Sri Mulyani, mantan Menlu Retno Marsudi, dan lain-lain. Wanita karier.


Pernahkah seorang IRT diundang tampil dalam rangka Hari Kartini? Atau hari-hari lain yang terkait pemberdayaan perempuan? Ah, iya, mungkin ada IRT yang diundang tampil, hanya jika dia punya anak banyak dan semuanya sukses. Sukses dalam kacamata masyarakat pada umumnya tentu saja–-semua jadi sarjana, dokter, pengusaha misalnya. 


Atau jika ia menempuh pendidikan setinggi-tingginya, S3 atau Ph.D. Barulah ia akan diundang tampil agar menjadi inspirasi bagi perempuan lain. Seolah, perempuan yang hebat, ya, yang seperti itu.


“Tidak ada wanita hebat yang IRT di mata dunia.”


Dengan miris harus saya katakan, ini benar. Kalaupun ada, sangat langka. Aduhai, makanya tidak heran jika ada IRT-IRT yang merasa insecure, merasa tak cukup baik, tak cukup berdaya. Kemudian ia pontang-panting mencari sorot kamera agar perannya diakui dan mendapat validasi. Ah, bisa jadi aku adalah salah satunya.


Karena itu, tulisan ini adalah nasihat untuk diriku sendiri yang sering khilaf, lupa. Wahai diriku yang IRT tulen ini, jangan sering-sering buka media sosial dan membandingkan diri dengan orang lain. Jangan mencari validasi dari ingar-bingar dunia. Jangan. Akan tetapi, carilah validasi itu dalam kajian-kajian ilmu di masjid. Maka akan kita temukan, Allah yang memvalidasi pekerjaan sebagai IRT ini.


“... Maka perempuan yang salih adalah mereka yang taat (kepada Allah), dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada. Karena Allah telah menjaga mereka…” (QS An Nisa: 34)


Allah memberikan apresiasi besar pada IRT, pada perempuan yang tinggal di rumah, yang menjaga diri dari sorot kamera. Dan itu cukup. Validasi langsung dari Sang Maha Pencipta itu seharusnya sudah cukup. Ikhlaskanlah niat, kuatkan tekad. Insyaallah, yang muncul adalah nikmat. 


Sungguh tulisan ini adalah pengingat untuk diri sendiri yang sering sekali khilaf dan kufur akan nikmat-Nya. Semoga kita selalu diberikan kemudahan dalam menjalani peran ini. Amin. 



Share:

04 February 2020

Setelah Menonton Kim Ji Young Born 1982 …

Apakah Anda ibu rumah tangga?
Apakah Anda pernah bekerja di luar rumah?
Apakah Anda sudah menonton film Kim Ji Young Born 1982?
Apa pun jawaban Anda, silakan baca tulisan ini sampai selesai. Hehe.

Film Kim Ji Young bercerita tentang seorang wanita yang bekerja di sebuah kantor periklanan (ya?), kemudian menikah, dan setelah memiliki seorang anak, dia berhenti bekerja kemudian menjadi ibu rumah tangga. Sampai sini, apakah ada kemiripan antara Kim Ji Young dengan kehidupan Anda? Ya? Oke, semoga cerita selanjutnya tidak sama, ya.

Hari berganti, waktu bergulir, Kim Ji Young rupanya mengalami gangguan kejiwaan yang membuatnya kadang menjadi seperti orang lain. Oke, sinopsis film sampai sini saja, saya tidak akan bahas tentang filmnya itu sendiri, tapi saya akan menuliskan beberapa hal yang terbesit setelah menonton film ini.

Ih, gue banget!
Mungkin ini ujaran sebagian emak-emak IRT yang menonton ini. “Gue banget nih, tadinya kerja, terus jadi IRT, terus bergulat dengan urusan domestik setiap hari dengan backsound tangisan si bocil.” Kurang lebih demikian, dan ini bukan hanya pikiran saya. Teman saya pun merasakan yang sama. Jadi, you’re not alone.

She’s a good mom
Kim Ji Young adalah ibu yang rajin, kuat, penyayang, sangat sabar—dia ga pernah marahin anaknya lho, mak! Ya, dengan semua yang digambarkan di film, dia adalah ibu yang baik.

I can feel her, somehow 
Dibesarkan dengan semangat bekerja, kemudian harus menjadi seorang ibu rumah tangga, bukanlah hal yang mudah. Bahkan ketika dia melakukan perannya sebagai istri dan ibu dengan sangat baik, dia masih merasa ada yang kurang. I can feel that, I can understand that.

But…
Nah, satu hal yang saya agaknya kurang sreg adalah dengan ending cerita. Digambarkan Kim Ji Young bahagia karena akhirnya bisa kembali bekerja kantoran. Sementara suaminya—secara tersirat—digambarkan resign dan menjadi bapak rumah tangga (iya ngga sih?). Seolah semua masalah selesai. Padahal, di dunia nyata, seorang ibu yang bekerja di luar juga memiliki beban dan dilemanya sendiri. Tidak semua orang bisa berdamai dengan itu.

Salah satu yang terpatri dalam hati saya setelah bergabung dengan komunitas Ibu Profesional adalah get your priorities right. Ada banyak hal yang ingin saya lakukan, bahkan setelah menikah dan memiliki anak, masih ada sederet mimpi yang saya dambakan. Tapi saya selalu memikirkannya lagi, bertanya pada diri sendiri, apakah itu prioritas saya saat ini?

Jadi, setelah menonton film ini, saya semakin menyadari pentingnya menetapkan prioritas dengan tepat. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Mainkan peran dengan bahagia dan tanpa penyesalan di kemudian hari.

Nyambung ngga ya antara film dan kesimpulan yang saya buat? Ngga, ya? Baiklah, tidak apa-apa, ya. Toh, ini hanya pendapat pribadi. Kalau Anda sendiri, bagaimana?




Share: