Disclaimer dulu, ini adalah opini pribadi saja, bisa jadi berbeda, dan itu tidak apa.
“Tidak ada wanita hebat yang IRT di mata dunia.”
Demikian sebuah kalimat yang saya temukan secara tak sengaja di kolom komentar media sosial–kalau tidak salah ingat. Sekilas membaca kalimat itu, tebersit dua perasaan yang bertentangan. Pertama, tidak setuju. Banyak IRT yang hebat di dunia ini menurut saya. Menjadi IRT itu sendiri adalah tanggung jawab besar, pekerjaan berat.
Namun, di sisi lain, kalimat itu bisa jadi adalah fakta yang masih berlaku sampai saat ini. Kok bisa? Coba baca lagi baik-baik kalimat di atas, kemudian kita ingat-ingat, pada momen terkait perempuan, misal Hari Kartini, siapa yang biasa diundang untuk tampil di acara TV? Atau kalau zaman sekarang di acara podcast, siapa sosok perempuan yang diundang? Yap, most likely sosok perempuan pekerja, wanita karier, pemimpin perusahaan, dll. Contoh Najwa Shihab, mantan Menkeu Sri Mulyani, mantan Menlu Retno Marsudi, dan lain-lain. Wanita karier.
Pernahkah seorang IRT diundang tampil dalam rangka Hari Kartini? Atau hari-hari lain yang terkait pemberdayaan perempuan? Ah, iya, mungkin ada IRT yang diundang tampil, hanya jika dia punya anak banyak dan semuanya sukses. Sukses dalam kacamata masyarakat pada umumnya tentu saja–-semua jadi sarjana, dokter, pengusaha misalnya.
Atau jika ia menempuh pendidikan setinggi-tingginya, S3 atau Ph.D. Barulah ia akan diundang tampil agar menjadi inspirasi bagi perempuan lain. Seolah, perempuan yang hebat, ya, yang seperti itu.
“Tidak ada wanita hebat yang IRT di mata dunia.”
Dengan miris harus saya katakan, ini benar. Kalaupun ada, sangat langka. Aduhai, makanya tidak heran jika ada IRT-IRT yang merasa insecure, merasa tak cukup baik, tak cukup berdaya. Kemudian ia pontang-panting mencari sorot kamera agar perannya diakui dan mendapat validasi. Ah, bisa jadi aku adalah salah satunya.
Karena itu, tulisan ini adalah nasihat untuk diriku sendiri yang sering khilaf, lupa. Wahai diriku yang IRT tulen ini, jangan sering-sering buka media sosial dan membandingkan diri dengan orang lain. Jangan mencari validasi dari ingar-bingar dunia. Jangan. Akan tetapi, carilah validasi itu dalam kajian-kajian ilmu di masjid. Maka akan kita temukan, Allah yang memvalidasi pekerjaan sebagai IRT ini.
“... Maka perempuan yang salih adalah mereka yang taat (kepada Allah), dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada. Karena Allah telah menjaga mereka…” (QS An Nisa: 34)
Allah memberikan apresiasi besar pada IRT, pada perempuan yang tinggal di rumah, yang menjaga diri dari sorot kamera. Dan itu cukup. Validasi langsung dari Sang Maha Pencipta itu seharusnya sudah cukup. Ikhlaskanlah niat, kuatkan tekad. Insyaallah, yang muncul adalah nikmat.
Sungguh tulisan ini adalah pengingat untuk diri sendiri yang sering sekali khilaf dan kufur akan nikmat-Nya. Semoga kita selalu diberikan kemudahan dalam menjalani peran ini. Amin.
0 comments:
Post a Comment