17 February 2026

Ketika Anak Sakit


Sepanjang karirku (eaaa…) sebagai ibu rumah tangga, salah satu momen paling menguras pikiran adalah ketika anak sakit. Ketika anak tiba-tiba demam, lemas, rasanya pikiran langsung buyar. Tidak bisa memikirkan hal lain selain bagaimana agar anak lekas sehat.


Ketika anak sakit, mendadak keseharian yang biasanya terasa membosankan, langsung terasa bergejolak. Ketika itu juga aku seolah diingatkan lagi bahwa hari-hari yang terkesan mundane, antar jemput anak sekolah, ternyata sangat berharga dan mewah. Selama anak dan keluarga dalam keadaan sehat wal ‘afiat, maka keadaan baik–baik saja.


Nah, ketika anak sakit inilah salah satu momen “ujian” bagi kita orang tua. Apakah kita bisa tetap tenang dan tidak panik? Apakah kita bisa bertindak sesuai teori yang sudah dipelajari? Apakah kita bisa bersabar? 


Menurut teori, jika anak demam, maka ditunggu sampai 3x24 jam sebelum membawanya ke dokter. Selama tidak ada tanda kegawatan, ibu harusnya bisa cukup tenang di periode itu, ya. Jika anak tidak nyaman bisa diberikan paracetamol sesuai dosis.


Namun, tanpa ilmu dan support yang cukup, hal ini tidaklah mudah. Mendengar anak merintih karena sakit, seharian terbaring di tempat tidur, makan juga hanya secuil, tentu kita bisa terbawa panik dan cemas. Kepanikan justru membuat kita mengambil tindakan yang sebenarnya tidak perlu. Seperti memberikan obat tanpa resep dokter, memaksa anak makan banyak, dll.


Untuk mencegahnya, kita harus membekali diri dengan ilmu yang cukup. Salah satu sumber rujukanku adalah buku dokter Apin yang berjudul Orangtua Cermat, Anak Sehat. Selain itu juga tulisan-tulisan Dokter Apin di medsos, dan dokter lainnya. Dengan bekal ilmu yang tepat, kita bisa lebih tenang ketika anak sakit. Kita juga bisa cepat mengambil tindakan ketika diperlukan.


Saya sendiri tipe yang kalau tidak perlu-perlu amat ke RS/klinik, ya tidak usah. Misal, demam baru sehari atau dua hari, tanpa tanda kegawatan, berarti belum perlu dibawa ke IGD RS. Karena RS itu kan tempatnya orang-orang sakit, berbagai virus dan bakteri berada di sana. Belum lagi orang-orang yang sakit tapi tidak pakai masker. Duh. Jadi, kalau memang tidak diperlukan ke RS, sebisa mungkin observasi di rumah dulu. 


Alasan lain, jika hanya demam, tanpa gejala lain, dokter pun hanya akan memberi resep paracetamol. Atau mungkin tambahan obat radang. Nah, sedangkan menurut buku Dokter Apin, diagnosis radang tenggorokan tidak bisa tegak hanya dengan melihat tenggorokan yang merah. Ah, kalau bahas obat bisa jadi panjang lebar. Wkwk. 


Intinya, jadi ibu memang harus banyak belajar, ya. Tetap semangat buibuu!


Share:

0 comments:

Post a Comment