Skip to main content

Setelah Menonton Kim Ji Young Born 1982 …

Apakah Anda ibu rumah tangga?
Apakah Anda pernah bekerja di luar rumah?
Apakah Anda sudah menonton film Kim Ji Young Born 1982?
Apa pun jawaban Anda, silakan baca tulisan ini sampai selesai. Hehe.

Film Kim Ji Young bercerita tentang seorang wanita yang bekerja di sebuah kantor periklanan (ya?), kemudian menikah, dan setelah memiliki seorang anak, dia berhenti bekerja kemudian menjadi ibu rumah tangga. Sampai sini, apakah ada kemiripan antara Kim Ji Young dengan kehidupan Anda? Ya? Oke, semoga cerita selanjutnya tidak sama, ya.

Hari berganti, waktu bergulir, Kim Ji Young rupanya mengalami gangguan kejiwaan yang membuatnya kadang menjadi seperti orang lain. Oke, sinopsis film sampai sini saja, saya tidak akan bahas tentang filmnya itu sendiri, tapi saya akan menuliskan beberapa hal yang terbesit setelah menonton film ini.

Ih, gue banget!
Mungkin ini ujaran sebagian emak-emak IRT yang menonton ini. “Gue banget nih, tadinya kerja, terus jadi IRT, terus bergulat dengan urusan domestik setiap hari dengan backsound tangisan si bocil.” Kurang lebih demikian, dan ini bukan hanya pikiran saya. Teman saya pun merasakan yang sama. Jadi, you’re not alone.

She’s a good mom
Kim Ji Young adalah ibu yang rajin, kuat, penyayang, sangat sabar—dia ga pernah marahin anaknya lho, mak! Ya, dengan semua yang digambarkan di film, dia adalah ibu yang baik.

I can feel her, somehow 
Dibesarkan dengan semangat bekerja, kemudian harus menjadi seorang ibu rumah tangga, bukanlah hal yang mudah. Bahkan ketika dia melakukan perannya sebagai istri dan ibu dengan sangat baik, dia masih merasa ada yang kurang. I can feel that, I can understand that.

But…
Nah, satu hal yang saya agaknya kurang sreg adalah dengan ending cerita. Digambarkan Kim Ji Young bahagia karena akhirnya bisa kembali bekerja kantoran. Sementara suaminya—secara tersirat—digambarkan resign dan menjadi bapak rumah tangga (iya ngga sih?). Seolah semua masalah selesai. Padahal, di dunia nyata, seorang ibu yang bekerja di luar juga memiliki beban dan dilemanya sendiri. Tidak semua orang bisa berdamai dengan itu.

Salah satu yang terpatri dalam hati saya setelah bergabung dengan komunitas Ibu Profesional adalah get your priorities right. Ada banyak hal yang ingin saya lakukan, bahkan setelah menikah dan memiliki anak, masih ada sederet mimpi yang saya dambakan. Tapi saya selalu memikirkannya lagi, bertanya pada diri sendiri, apakah itu prioritas saya saat ini?

Jadi, setelah menonton film ini, saya semakin menyadari pentingnya menetapkan prioritas dengan tepat. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Mainkan peran dengan bahagia dan tanpa penyesalan di kemudian hari.

Nyambung ngga ya antara film dan kesimpulan yang saya buat? Ngga, ya? Baiklah, tidak apa-apa, ya. Toh, ini hanya pendapat pribadi. Kalau Anda sendiri, bagaimana?




Comments

  1. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Nah.. Ini nih yg sulit. Belum nemu ilmu nya.. Kadang masih suka bablas..🙈😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku pun masih begitu.. kuncinya mungkin berpikir masak-masak. tapi jangan samapi gosong yak..wkwk

      Delete
  2. Diriku belum nonton.

    Tp pemikiran mbk vidi betul juga. Seperti itulah film. Kaya kisah hidup kita dipotong sebagian. Bisa happy ending, bisa pula sad ending, tergantung dimana motongnya. Karena hidup gak melulu bahagia, dan sebaliknya

    *eh maaf komen saya lebih gak nyambung lagi hehehe

    ReplyDelete
  3. Kayanya bisa nih minta referensi tontonan dari mbak vidi hihii

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku ngikutin yg happening ajaa..sbnrnya kurang suka nonton juga..

      Delete
  4. Bisa nih masuk daftar film berikut yg mau ditonton, arigatouu mam

    ReplyDelete
  5. Satu scene yang sangat berkesan ketika saya menonton film ini adalah bagian ketika Kim Ji Young dan anaknya mampir ke sebuah coffeeshop. Tanpa sengaja, si anak menjatuhkan gelas kopi hingga isinya berserakan di lantai.

    Ketika Kim Ji Young berusaha membersihkan, pada saat itu ramai orang-orang berbisik di sekelilingnya bahkan ada yang terang-terangan ngejudge.

    Sikap Kim Ji Young yg tetap tenang dan menghadapi dengan pertanyaan balik, "Bagaimana bisa kalian menilai seseorang hanya karena satu kejadian saja? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Apakah kita pernah mengobrol? Apakah kau tahu bagaimana saya 24 jam? Jika semuanya adalah tidak, maka tak pantaslah kau menilai seseorang seperti itu.

    Bagian itu sungguh sangat berkesan bagi saya. Mengajarkan untuk tidak terburu-buru 'menghakimi' seseorang yang tidak kita kenal dengan baik.

    Maaf ya mak, klo komennya kepanjangan. Hahhaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sikap tenang di berbagai kondisi. sesuatu yg sangat perlu dipelajari. klo aku jd ji young mah, mungkin udah aku siramin tuh minuman ke remaja2 labil itu.. #ampuunn

      Delete
  6. Mau nulis tentang film ini , tentang pentingnya jadi ibu yg bahagia. Tapi kok kata2 ku belepotan kyk mulut anak abis makan coklat. Jadi blm nulis ini.

    Mbk vidi keren tulisannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha ini aku udah niat dari kapan, baru ditulis sekarang. pendek pula.. hahaha

      Delete
  7. Agak aneh filmnya mbaa..kayak menjejalkan macam2 isu yang berkaitan dengan perempuan. tapi intinya siy menurutku tetep tentang ibu rumah tangga vs ibu bekerja..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool