Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

04 July 2020

Review Film Exit (2019)


Begitulah keluarga, dibenci, dibenci, tapi ujung-ujungnya tetap dicintai.


Film Exit adalah salah satu dari sedikit film Korea yang saya tonton. Setelah melihat trailernya, saya langsung tertarik menonton film ini. Tentu, saya mencari cara agar bisa menonton secara gratisan tapi tetap legal. Bagaimana caranya? Hanya tiga huruf: V.I.U. Hahaha.


Exit bercerita tentang Yong Nam, seorang pria yang tak muda-muda amat, tapi belum kunjung dapat pekerjaan. Ia ditolak sana-sini dan terpaksa menjadi penganggur. Hobinya memanjat tebing dan badannya yang kuat justru membuatnya jadi olok-olokan orang sekitar, termasuk keluarganya (terutama kakaknya).


Nah, di tengah pesta ulang tahun ibunya yang ke-70, Yong Nam bertemu Ui Joo, mantan gebetannya ketika kuliah. Setelah selesai pesta, tiba-tiba terjadi bencana! Ada asap beracun yang mengepung kota! Semua orang harus berlindung ke tempat yang lebih tinggi. Saat inilah keahlian Yong Nam untuk memanjat sangat diperlukan.


Ini bukan film romantis, bukan juga thriller, dan tak sepenuhnya komedi. Tapi saya bolak-balik tertawa, dan tersentuh, dan terharu saat menontonnya. Beberapa pesan moral diselipkan dengan indah. Pertama, pesan untuk berkorban demi orang lain. Beberapa kali Yong Nam dan Ui Joo kehilangan kesempatan untuk ditolong tim SAR karena mendahulukan orang lain. Bahkan Yong Nam beberapa kali berkorban demi Ui Joo.


Kedua, pesan untuk tetap berusaha semaksimal mungkin dalam kondisi apa pun. Duh, kalau orang awam seperti saya, sih, pasti melihat kondisi Yong Nam seolah tak ada jalan keluar. Sejauh mata memandang sudah dipenuhi asap, kecuali kalau bisa terbang. Tapi karena si Yong Nam dan Ui Joo ini pandai panjat memanjat, bukan manjat grup WA ya, jadilah mereka bisa menemukan jalan keluar.


Ketiga, dibenci-dibenci-tetap dicintai, itulah keluarga. Walaupun di awal cerita digambarkan Yong Nam yang dimarahi kakak-kakaknya, ia juga terlihat tidak senang dengan sikap kakak dan orang tuanya, bahkan keponakannya juga menjauhinya, tapi akhirnya mereka tetap saling menyayangi. Yong Nam bahkan bertaruh nyawa demi menyelamatkan kakaknya. Adegan ketika Yong Nam disambut keluarganya di bagian akhir itu sangat menyentuh. Apalagi dibandingkan dengan Ui Joo yang tak ada penjemput. Hiks.


Keempat, semua orang pandai berenang di kolam yang tepat. Eh, maksudnya apa ya? Ini ungkapan bikinan saya aja. Hahaha. Intinya, setiap orang punya kelebihan dan keahlian masing-masing yang mungkin tak kasat mata atau seolah tak berguna, tapi bukan berarti tak ada. Di sikon yang tepat, tiap-tiap orang bisa menjadi istimewa.


Kelima, cinta akan datang pada waktunya. Wkwk. Iya, diselipkan bumbu-bumbu romance dalam film ini sebagai pemanis, dan memang jadi manis. 


Di luar itu, film ini lagi-lagi membuat saya kagum dengan Korea Selatan. Negara yang terkenal dengan dunia entertainment-nya itu terlihat bak seseorang yang menyadari segala kelebihan dan kekurangan, kemudian meraciknya menjadi hidangan yang lezat. Contohnya, mereka unggul dalam teknologi dan media sosial, maka teknologi dan media sosial itu menjadi pelengkap dalam film. Kemudian ditunjukkan juga bagaimana Korsel punya sistem mitigasi bencana yang apik, dan kerja tim SAR yang cepat.


Secara keseluruhan, film Exit cocok sekali sebagai hiburan keluarga di akhir pekan. :)


Share:

04 February 2020

Setelah Menonton Kim Ji Young Born 1982 …

Apakah Anda ibu rumah tangga?
Apakah Anda pernah bekerja di luar rumah?
Apakah Anda sudah menonton film Kim Ji Young Born 1982?
Apa pun jawaban Anda, silakan baca tulisan ini sampai selesai. Hehe.

Film Kim Ji Young bercerita tentang seorang wanita yang bekerja di sebuah kantor periklanan (ya?), kemudian menikah, dan setelah memiliki seorang anak, dia berhenti bekerja kemudian menjadi ibu rumah tangga. Sampai sini, apakah ada kemiripan antara Kim Ji Young dengan kehidupan Anda? Ya? Oke, semoga cerita selanjutnya tidak sama, ya.

Hari berganti, waktu bergulir, Kim Ji Young rupanya mengalami gangguan kejiwaan yang membuatnya kadang menjadi seperti orang lain. Oke, sinopsis film sampai sini saja, saya tidak akan bahas tentang filmnya itu sendiri, tapi saya akan menuliskan beberapa hal yang terbesit setelah menonton film ini.

Ih, gue banget!
Mungkin ini ujaran sebagian emak-emak IRT yang menonton ini. “Gue banget nih, tadinya kerja, terus jadi IRT, terus bergulat dengan urusan domestik setiap hari dengan backsound tangisan si bocil.” Kurang lebih demikian, dan ini bukan hanya pikiran saya. Teman saya pun merasakan yang sama. Jadi, you’re not alone.

She’s a good mom
Kim Ji Young adalah ibu yang rajin, kuat, penyayang, sangat sabar—dia ga pernah marahin anaknya lho, mak! Ya, dengan semua yang digambarkan di film, dia adalah ibu yang baik.

I can feel her, somehow 
Dibesarkan dengan semangat bekerja, kemudian harus menjadi seorang ibu rumah tangga, bukanlah hal yang mudah. Bahkan ketika dia melakukan perannya sebagai istri dan ibu dengan sangat baik, dia masih merasa ada yang kurang. I can feel that, I can understand that.

But…
Nah, satu hal yang saya agaknya kurang sreg adalah dengan ending cerita. Digambarkan Kim Ji Young bahagia karena akhirnya bisa kembali bekerja kantoran. Sementara suaminya—secara tersirat—digambarkan resign dan menjadi bapak rumah tangga (iya ngga sih?). Seolah semua masalah selesai. Padahal, di dunia nyata, seorang ibu yang bekerja di luar juga memiliki beban dan dilemanya sendiri. Tidak semua orang bisa berdamai dengan itu.

Salah satu yang terpatri dalam hati saya setelah bergabung dengan komunitas Ibu Profesional adalah get your priorities right. Ada banyak hal yang ingin saya lakukan, bahkan setelah menikah dan memiliki anak, masih ada sederet mimpi yang saya dambakan. Tapi saya selalu memikirkannya lagi, bertanya pada diri sendiri, apakah itu prioritas saya saat ini?

Jadi, setelah menonton film ini, saya semakin menyadari pentingnya menetapkan prioritas dengan tepat. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Mainkan peran dengan bahagia dan tanpa penyesalan di kemudian hari.

Nyambung ngga ya antara film dan kesimpulan yang saya buat? Ngga, ya? Baiklah, tidak apa-apa, ya. Toh, ini hanya pendapat pribadi. Kalau Anda sendiri, bagaimana?




Share: