Skip to main content

Menjaga Asa

Jam menunjukkan hampir tengah malam. Si bocil yang sudah tidur sejak habis isya tiba-tiba terbangun. “Mamaa..! Siniii…!” panggilnya cukup lantang untuk ukuran orang mengigau.

Dengan malas-malasan, saya masuk ke kamar. Ya bagaimana tidak malas, ini kan waktunya me time setelah seharian nemenin bocil main. Biasanya kalau mengigau begini, si bocil cuma minta minum kemudian tidur lagi. Tapi rupanya kali ini berbeda.

“Mama, bacain buku.”
“Hah?” saya tidak jelas mendengarnya.
“Bacain buku,” ulang si bocil.
“Bacain buku? Buku apa?”
“Iya, buku Tayo.”

Alamak!
Apa lah ini, tengah malam terbangun, kok, minta bacain buku? Emak antara senang dan sedih kalau begini. Haha. Baiklah, saya pun langsung mengambil salah satu buku cerita Tayo favoritnya dan membacakannya. Si bocil tiba-tiba melek segar, lho. Dia menyimak dengan semangat. Setelah saya selesai bacakan buku Tayo, dia tidur lagi tanpa protes. Hhh. Ada-ada saja.

Hal-hal seperti ini yang kadang membuat emosi meninggi. Ketika lelah seharian, ingin me time dengan asik nongkrong di depan laptop, tiba-tiba masih saja ada hal lain yang harus dikerjakan. Memang benar, ibu itu kerjanya 24 jam, tidak ada libur kecuali pergi ke luar kota tanpa membawa bocil. Saya belum pernah begitu, sih.

Tapi tidak boleh ada kata menyerah dalam menjadi ibu. Seberapa pun lelahnya, kesalnya, emosinya, tapi tak boleh menyerah. Tak boleh putus asa. Ada harapan yang harus selalu dijaga. Harapan untuk menumbuhkan anak yang sholeh. Harapan menjadi ibu yang sholehah.

Pasti harapan ini juga yang membuat ibu saya dulu bertahan membesarkan saya di tengah kerasnya hidup. Harapan yang membuatnya tak pernah menyerah. Asa itu terlihat jelas di matanya, di raut wajahnya. Ahh, jika membayangkan ibu, saya selalu malu. Rasanya dulu saya pasti jauh lebih merepotkan ibu dibanding si bocil saat ini.

Ini salah satu cara saya menjaga asa, menjaga harapan. Tidak, tidak ada kata menyerah dalam menjalani peran sebagai ibu. Karena asa itu, ada pada ibu. :)

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day29
#ImWritingInLove

Comments

  1. kalau anak saya mbak jam 3 subuh minta Roti mau makan.... padahal malam udah kenyang.Kebayang kan lagi pules tidur harus ke dapur ngambil roti dikasih susu terus dia makan dan hbs itu tidur lagi deh.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nampak sejenis anak kita mbak. Untung skrg udh enggak. Paling minta susu. Tp kadang minta susu anget. Jd kudu bikin air panas sambil ngantuk2 gt hahaha

      Delete
    2. Hyahaha.. Anaknya udh paham banget emaknya jago bikin kue-kuean itu mbaa.. hehe

      Delete
  2. Kalau yoshi dl umur 2 tahunan, hampir rutin tiap hari bangun dini hari dan minta makan 😅

    Karena jam segitu gak ada makanan, menunya selalu nasi kecap

    Jd emak emang harus semangat. Ingat ibu emang selalu jadi penyemangat. Karena yakin dl pasti hidupnya lebih keras drpd ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. anakku pernah paling pagi itu jam setengah 4 minta makan. kugorengin telor aja lah..haha..

      Delete
  3. Selalu begitu, jika direpotkan sama bocil2 perasaan jdi uring2an, tapi pas mereka tertidur rasa kangen dan pengen main ma mereka melunjak lunjak

    ReplyDelete
  4. Semangat mba vidi !

    Mending minta di bacain Tayo.
    Klo langsung ngajak main, lbh capek lg
    Hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadaw, langsung pura-pura tidur klo gitu mah..haha

      Delete
  5. Emak-emak dirumah perlu banget me time, biar tetep waras... Toss.

    Semoga bisa jd emak terrrrrrrbaikkkk

    ReplyDelete
  6. Semangat mak,,,aku pun pernah begini. Minta dibacaain buku,.minta makan, sampe minta olahraga. Krn masih mlm keinginan terakhir aku tolak. Ngeri aku ada demit ngintil dibelakang pas lagi jogging. Hadeuuu

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool