Ibu dan Air Mata

Diawali dengan resensi buku Istri Kutu Kupret, rasanya di penghujung 30 Days Writing Challenge ini saya akan terus menulis tentang ibu. Sebenarnya saya agak menghindari topik ini karena takut jadi melow sendiri. #aihh…

Beberapa hari yang lalu saya baru saja menonton Kim Ji Young 1982. Film yang mengangkat tema perempuan—khususnya ibu rumah tangga—ini katanya menjadi kontroversi di Korea Selatan. Pasalnya, film ini dikhawatirkan mendorong gerakan feminisme. Well, resensi film ini tidak akan saya tulis sekarang, mungkin besok-besok.

Jujur, film Kim Ji Young ini cukup menyentuh bagi saya, bahkan di satu bagian saya hampir menitikkan air mata. Hampir. Saya terpukau dengan kekuatan Kim Ji Young sebagai ibu rumah tangga. Dalam film tersebut tidak ditampilkan Ji Young memarahi anaknya, saya iri sekali. Dan dalam film itu, Ji Young juga tidak terkesan lemah, tak ada adegan Ji Young menangis tersedu-sedu atau lebay gitu. Padahal, bagi saya, menjadi ibu itu sangat menguras air mata.

Saat menulis skripsi dulu, beberapa teman saya menumpahkan air mata di tengah proses menulis skripsi. Tapi saya tidak sama sekali. Bukan berarti mudah ya, tapi saya enjoy saja saat itu. Seingat saya, saya jarang sekali lah menangis karena tugas atau pekerjaan, bahkan karena teman. Kalau kesal atau marah, siy, sering. Hehe.

Akan tetapi, baru empat tahun menjadi ibu rumah tangga, entah berapa ember air mata tercurah. Apakah ini hal yang buruk? Apakah saya tidak bahagia menjadi ibu rumah tangga? Tidak, tidak selalu demikian. Air mata bagi saya justru menampakkan kesungguhan. Karena tidak ada yang bisa membuat kita menangis kecuali hal itu memang menyentuh hati kita, menyakitkan, atau justru membahagiakan. Intinya, air mata itu ada ketika kita benar-benar menghayatinya, memikirkannya.

Maka, jika ada air mata yang jatuh ketika menjalani peran ini, mungkin itu karena aku berusaha sungguh-sungguh di dalamnya, aku berusaha menjadi lebih baik. Mungkin.

 #30DWC
#30DWCJilid21
#Squad4
#ImWritingInLove


Comments