Skip to main content

The Power of Togetherness


Alhamdulillah, tantangan menulis 30 Days Writing Challenge Jilid 21 yang saya ikuti akhirnya mencapai garis akhir. Eh, entah sih, apakah ini beneran akhir atau bukan. Tapi hari ini adalah hari ke-30 sejak tantangan menulis pertama di tanggal 11 Desember 2019.

Berbagai tema telah ditulis, baik fiksi maupun non-fiksi, demi mewujudkan harapan setoran 30 tulisan dalam dalam 30 hari. Tak asal tulis, setiap tulisan minimal 200 kata, lho. Selain itu ada sesi feedback juga dari peserta lain, jadi tulisan kita bisa mendapat saran dan diperbaiki terus.

Apa yang paling berkesan? Bagi saya, bisa bertahan di grup 30 DWC tanpa tereliminasi saja sudah sangat berkesan. Pasalnya, saya belum pernah konsisten menulis selama sebulan penuh. Paling maksimal pernah hanya sampai 20 hari, itu pun tidak semua tulisan mencapai 200 kata. Jadi, 30 DWC ini berkesan sekali.

Apa yang membuat saya bisa bertahan menulis 30 hari? Alhamdulillah, atas izin Allah, saya masuk di Squad 4 dengan ketua kelompok (guardian) yang penuh kepedulian. Kak Fithrah selaku guardian pernah menjapri saya ketika saya telat menyetor tulisan. Terima kasih, ya, Kak! Karena Kak Fithrah ini juga seorang ibu, jadi alasan saya “ketiduran” atau “nunggu anak tidur” dapat diterimanya. Haha.

Selain itu, dukungan dari teman-teman seperjuangan saya di Squad 4, Albi, Efrian Rayendra, Ilmi Anna, Melia Handayani, Ria Septiyana, dan Syafril Agung. Selamat kepada teman-teman yang berhasil menyelesaikan 30 DWC Jilid 21 dengan baik! Ada yang tak pernah telat setoran, lho. Sungguh luar biasa.

Tentunya terima kasih banyak kepada para mentor @rezky_passionwriter dan Kak @rizkamamalia. Beserta superteam kak @sarikusumaway dan @spriscadewii. Semoga semangat dan ilmu yang disampaikan bisa terus bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Amin.
 
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Hal itu yang saya rasakan, termasuk saat menulis. Ketika bersama-sama menulis untuk mencapai satu tujuan, satu target, maka semangat akan lebih besar.

Ada semangat yang menular, ada asa yang digenggam bersama.
Semoga semangat dan cinta menulis ini akan terus membara.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day30
#Squad4
#ImWritingInLove

Comments

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool