07 April 2026

Cerita Penuh Makna di Festival Peduli Autisme 2026


Tahukah kamu, tanggal 2 April adalah Hari Peduli Autisme Sedunia? Saya pun baru tahu belum lama ini. Kenapa? Ya, karena anak kedua saya didiagnosis ASD (Autism Spectrum Disorder) akhir tahun lalu. Sejak itu saya mencari tahu lebih banyak tentang autisme, dan bertemulah saya dengan akun IG @PeduliASD.


Nah, ternyata Peduli ASD ini mengadakan sebuah acara bertajuk Belajar Autisme Seharian:Bangga Membersamai Autistik pada 4 April kemarin di Pesona Square Mall Depok. Acara terbuka untuk umum, dan saya hadir sebagai peserta. 


Konsep acaranya seperti talkshow gitu. Narasumber di sesi pertama adalah Dokter Arifianto alias Dokter Apin, beliau adalah dokter spesialis anak konsultan neurologi anak. Nah, anak kedua saya juga beberapa kali konsul dengan beliau nih di Klinik Apin. Selain Dokter Apin, sesi satu diisi juga oleh Ibu Dante Ragmalia, beliau adalah ketua Komisi Nasional Disabilitas.


Di sesi pertama yang dipandu oleh Dr. Isti Anindiya ini, pembahasannya seputar realita yang dihadapi oleh anak ABK khususnya ASD. Miris tapi tidak mengherankan sebenarnya, bahwa individu dengan ASD di Indonesia masih banyak yang kesulitan mengakses layanan kesehatan misal untuk terapi. Kemudian, masih banyak juga stigma yang melekat, seperti anggapan bahwa autisme itu karena vaksin, atau karena dosa-dosa orang tua, atau lainnya.


Nah, dokter Apin juga meng-highlight bahwa pada ASD, lebih cepat terdeteksi dan diterapi, maka hasilnya bisa lebih baik. Orang tua harus lebih rajin membaca buku KIA dan memantau tumbuh kembang anak supaya ketika ada yang tidak sesuai dengan milestone bisa langsung dicari solusi.


Ah, baru sesi pertama saja sudah banyak ilmu yang didapat dari acara ini. Salah satu yang menarik juga, ternyata Ibu Dante sendiri adalah seorang penyandang disleksia sejak kecil. Beliau bercerita bahwa semasa sekolah, ia dipandang sebagai anak yang bodoh. Bahkan saat SMA ia dikeluarkan dari sekolah. 


Namun, ibunda beliau tidak menyerah begitu saja. Sang ibu mendorong anaknya agar ikut kejar Paket C, dan bisa mendapat ijazah setara SMA. Dengan ijazah itulah Ibu Dante bisa mendaftar ke perguruan tinggi. Perjalanan menempuh jenjang pendidikan tinggi juga tidak mudah bagi beliau. 


Di jenjang S2, beliau juga sempat berhenti dan DO. Namun, beliau tidak menyerah, dan akhirnya menemukan kampus yang mau menerima dan menyesuaikan dengan kebutuhan beliau. Pendidikan Ibu Dante berlanjut sampai jenjang S3, dan pernah mengikuti perkuliahan di University of Oslo di Norwegia. 


Salah satu pesan yang disampaikan Ibu Dante dalam acara Sabtu kemarin adalah, betapa beliau sangat bersyukur memiliki ibu yang tidak menyerah dengan kondisinya yang berkebutuhan khusus, sehingga beliau bisa berada di posisi sekarang.


Ah, sebuah kisah yang tentunya menghangatkan hati para orang tua dari anak ABK. Sekaligus menjadi pengingat bahwa kita harus berusaha lebih keras dan lebih semangat demi masa depan anak-anak yang spesial ini. 🙂


Oke, cerita sesi dua dan tiga akan saya tuliskan di postingan selanjutnya, ya. Insyaallah. 🙂



Share:

0 comments:

Post a Comment