A Writer (Short Story)

Sangat jarang saya memamerkan sebuah cerpen di blog ini. Kalaupun ada biasanya tidak sepenuhnya fiksi, masih berhubungan dengan kenyataan atau masa lalu. Tapi cerpen satu ini, ini benar-benar hanya karangan. Semoga bisa dinikmati.

****************************

“Aku ingin jadi penulis!” katanya lagi. 

Aku sempat mengangkat alis dan agak terkejut saat pertama ia mengucapkan itu. Jadi dia mengulanginya lagi untuk meyakinkanku, dan mungkin meyakinkan dirinya sendiri. Dia kelihatan sangat sungguh-sungguh saat itu. Saat itu tepatnya sepuluh tahun yang lalu. Saat aku dan dia masih duduk di bangku SMP. 

Sepertinya itu juga pertama kalinya aku terinspirasi untuk menulis. Bukan bermaksud untuk meniru atau mencontek cita-citanya, tapi sejujurnya, itu kali pertama aku melihatnya begitu serius. Aku telah berteman dengannya sejak TK, dan aku tidak pernah melihatnya seserius itu mengungkapkan cita-citanya. 

Jadi sejak itu juga, aku mulai membuat beberapa coretan di buku. Sering kali aku menulis tentangnya, kadang tentangku. Cerpen, puisi, prosa, apapun itu. Ya, aku juga telah menulis novel. Belum, aku belum berhasil membuat penerbit bersedia mencetak dan menjualnya. Jadi sejauh ini, novelku hanya konsumsi pribadi.

Berbeda jauh dengan dia. Alex. Alex telah membuktikan kesungguhannya. Sudah sepuluh tahun berlalu, dan dia telah berhasil mewujudkan mimpinya. Menjadi penulis. Ia telah memiliki tiga buah novel hasil karyanya sendiri. Oh, dan tidak hanya itu, dia juga telah menjadi artis! Ia main di beberapa film sebagai pemeran utama. Keren, ‘kan?

Sekarang aku akan bertemu dengannya lagi. Terakhir kami bertemu sekitar tiga tahun lalu, saat reuni sekolah, dan sejak itu aku tak pernah kontak dengannya. Hari ini aku sudah membuat janji untuk mewawancarainya. Ya, aku seorang jurnalis, dan dia akan menjadi salah satu narasumberku. Dan karena aku mengenalnya, aku hanya akan ngobrol santai dengannya, tidak perlu terlalu serius formal seperti wawancara lainnya.

Segelas cappuccino frappe yang kupesan sudah habis setengahnya. Alex masih belum datang. Aku kembali pada buku yang sedang kubaca. Salah satu novel karangan Alex. 

Terdengar suara deceit pintu kafe terbuka. Aku refleks menengok. Itu dia. Alex datang dengan kaos biru dongker polos lengan panjang, celana jeans, dan sepatu kets. Ia juga memakai topi dan kacamata hitam. Wow, menyamar? Tapi tentu saja aku tetap bisa langsung mengenalinya. Aku melambaikan tangan agar dia bisa melihatku yang duduk di pojok ruangan.

Begitu menangkap kode dariku, ia dengan lincah menghampiri. Aku langsung berdiri dan menyambutnya dengan pelukan lama-tak-jumpa-aku-sangat-kangen-padamu.

Oh my, akhirnya kita ketemu lagi, Anna!” katanya penuh semangat. Ia membuka kacamata dan aku bisa melihat matanya yang berseri-seri. Itu membuatku sedikit grogi. Mungkinkah bukan cuma aku yang menantikan pertemuan ini?

“Aku sudah menantikan hari ini, saat aku bisa mewawancaraimu!”

“Anna, kita ini berteman. Kita bisa bertemu tanpa harus wawancara, kan?” protesnya.

“Iya, tapi aku tahu kamu sangat sibuk.”

Alex duduk di hadapanku.

Sorry terlambat. Tadi manajerku mendadak membicarakan sesuatu.”

It’s ok, Alex.” Aku tersenyum.

“Oh, bagaimana kabarmu? Jadi, sekarang kamu seorang jurnalis?” 

Aku tertawa malu-malu. “Ya, begitulah.”

Cool!”

No, Alex, kamulah yang keren. Lihat dirimu. Wajahmu ada di TV, majalah, semuanya. Kamu artis dan penulis! Seperti yang kamu pernah bilang padaku dulu.” Aku sampai mengepalkan tangan saat mengatakan ini. Sangat excited.

“Ah, ya,” tukasnya. Hanya itu respon Alex, ditambah senyuman tipis.

“Kau mau pesan minum?” tanyaku.

Ia berpikir sejenak. “Tidak usah, nanti saja.”

“Ok, sekarang aku akan mulai menanyakan beberapa hal.” Aku mengeluarkan ponsel dan menyalakan aplikasi perekam suara, kemudian meletakkannya di tengah meja. Walaupun obrolan santai, tapi aku tetap harus menulis beberapa berita dari pertemuan ini, jadi aku tetap merekamnya. 

Alex mengangguk.

“Buku terbarumu, bercerita tentang apa?”

“Buku terbaruku yang baru dirilis minggu lalu, tentang seorang remaja yang di-bully, dan dikucilkan. Ia berusaha mencari jalan keluar tapi justru bertemu orang yang salah,” papar Alex. Ia tidak berubah, matanya berbinar, suaranya penuh semangat.

“Wow, kurasa itu bukan berdasarkan pengalaman pribadimu, kan? Aku tak ingat kau pernah di-bully waktu kecil,” ujarku.

“Ya, aku tidak pernah di-bully, kecuali olehmu,” sahut Alex. 

Kami tertawa mengingat masa kecil ketika aku gemar meledeknya. Aku harus pastikan bagian ini tak ada dalam berita nanti. 

“Lalu, apa rencanamu setelah ini, Alex?”

“Mm.. akan ada meet and greet dan book signing di beberapa kota, tapi belum ada jadwalnya. Ah, rasanya aneh mengatakan ini pada orang yang tahu masa kecilku.” Ia terkekeh.

“Wow, that’s great. Aku pernah melihat booksigning-mu di TV dan itu sangat ramai, mungkin ratusan atau bahkan ribuan orang yang hadir.”

“Ya, ya, sangat melelahkan, but it’s fun!” Alisnya terangkat, senyumnya tak memudar sejak tadi.

“Oh, mengenai film terbarumu, peran apa yang kamu mainkan?” 

Sekarang, dalam kecepatan yang lambat, senyum itu mulai surut.

“Film itu, mm ... aku berperan sebagai Tony, seorang pengusaha muda yang tengah bersaing dengan sahabatnya sendiri.”

Aku terus mencecarnya dengan pertanyaan. Aku tahu ia tak punya banyak waktu. “Ok, bagaimana dengan serial TV, apa ada seri baru dalam waktu dekat?”

“Ya, akan ada serial baru, ada beberapa kejutan yang mungkin tidak pernah dibayangkan para penonton,” ia berhenti sebentar, “tapi aku yakin penonton akan menyukainya.”

“Nah, Alex, setelah semua capaianmu, di usia yang masih muda ini, apa keinginan atau cita-citamu yang belum terwujud?” ini adalah pertanyaan pamungkas yang biasa kulontarkan.

Alex tersenyum dan menatap lurus padaku. Kedua tangannya terpaut di atas meja.

“Anna, kau adalah temanku sejak kecil,” ucapnya perlahan, “dan kita cukup dekat. Kau mungkin bosan mendengarnya, tapi … aku ingin menjadi penulis.” 

Aku bisa menangkap seberapa besar keinginannya itu. Kesungguhannya, masih sama seperti dulu. Walaupun sekarang ia mengucapkannya dengan datar. Tapi jawaban itu membuatku mengernyit.

Aku tertawa kecil. “Tapi, Alex, you are a writer. Maksudku keinginanmu yang lain yang ingin kamu raih setelah ini,” tegasku. Well, mungkin saja tadi ia tidak menangkap pertanyaanku?

Sekarang giliran Alex yang tertawa kecil. “Kamu juga masih sama seperti dulu, ya, tidak percaya saat aku pertama kali mengatakannya. Apa aku perlu mengulanginya dengan lantang seperti dulu agar kamu percaya kalau aku ingin jadi penulis?”

“Tidak, Alex, aku percaya, sepenuhnya. Aku bahkan terinspirasi untuk menjadi penulis juga sejak kamu mengatakan itu saat SMP dulu. Tapi sekarang kamu telah mencapainya, kamu telah menjadi penulis.”

“Siapa bilang?” Alex bertanya balik.

Aku bingung. Aku tidak mengerti dengan temanku ini. 

“Anna, aku telah menulis tiga buku, tiga bukuku telah terbit dalam tiga tahun ini. Tapi kamu juga pasti tahu kalau kebanyakan orang-orang itu menyukaiku karena aku artis. Mereka menyukai aktingku, mereka menyukai tokoh yang kuperankan!” balasnya. 

Aku masih terdiam, tidak menyangka akan mendengar ini darinya. Dari Alex, temanku sejak kecil.

“Aku bahkan tidak tahu apa mereka benar-benar sudah membaca bukuku atau hanya membelinya dan meminta tanda tangan,” Alex menambahkan.

Aku agak tersindir. Jujur saja, aku juga baru mulai membaca bukunya, salah satu bukunya.

“Alex,” kataku “tenanglah, mungkin ada yang begitu, tapi banyak juga yang benar-benar membaca bukumu dan menyukainya.” Aku beranikan diri menggapai tangannya.

“Yah, mungkin benar. Tapi ini sudah telanjur,” tutur Alex. “Kau tahu, bukuku baru saja rilis, dan filmku bahkan belum keluar, serial TV-ku juga. Tapi apa kau tahu, setiap aku diwawancara, mereka lebih banyak bertanya tentang film atau serial TV-ku.” Ia menghela napas berat. “They love me, as an artist.”

Yes I do

Aku tak bisa memungkirinya. “Mm ... that’s not bad though.”

That’s even worse.” Alex melipat tangannya. Ia bergeming selama beberapa saat.

Udara di sekeliling seakan ikut berhenti. Hanya terdengar suara orang-orang sedang bicara dengan volume pelan, suara sendok yang menyentuh cangkir, dan suara kopi yang dituang ke dalam gelas. Tapi di antara aku dan Alex, seperti hampa udara. Senyap.

Aku sendiri tidak tahu harus berkata apa. Tidak menyangka suasananya akan jadi seperti ini. Sejujurnya, aku belum pernah dalam situasi seperti ini di sebuah wawancara.

“Ah sudahlah,” cetusnya. “Maafkan aku, aku tidak seharusnya mengatakan ini.”

Aku hanya tersenyum dan meneguk minumanku. 

“Jadi, apa masih ada pertanyaan lagi? Aku ada janji lain,” ujarnya sambil menengok jam tangan.

“Oh, untuk sepertinya cukup,” kataku akhirnya setelah mengumpulkan suara yang sempat hilang di awang-awang.

Alex berdiri, menggeser kursi,  dan hendak pergi. 

“Tunggu!” kataku. “Well, Alex, kalau kamu benar-benar ingin jadi penulis, all you have to do is just try harder. Dan aku harap kau bisa menjadi penulis seperti yang kau inginkan.” 

Alex tersenyum. “You too. And I’m sure, it will be easier for you.” 

Ia pergi, masih dengan senyuman. Entah apa arti senyuman itu. Yang jelas senyum itu tidak mampu membuatku ikut tersenyum. Aku justru … prihatin.


0 Comments