Skip to main content

Kawanku Luar Biasa

Dalam tulisan kali ini, izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman beberapa tahun silam yang sangat berharga. Pengalaman langka bagi saya. Semoga kita bisa sama-sama mengambil pelajaran dari pengalaman sederhana ini. Oh, ya, cerita kali ini adalah kisah nyata yang saya rangkum dalam bentuk faksi alias fakta yang difiksikan. Hehe.
***
Pagi menjelang siang, kala itu matahari tersenyum. Sinarnya cerah memancar ke bumi. Walaupun belum tengah hari, tapi panas mulai terasa. Ingin rasanya segera leyeh-leyeh saja. "Sebentar lagi selesai", batinku.

Hari ini aku mengumpulkan data untuk skripsi. Beberapa siswa SD yang menjadi subjek penelitian kuukur TB dan timbang BB mereka, kuminta berlari di lapangan, kemudian aku mencatat waktu dan denyut nadi mereka. Kurang lebih begitu. Terdengar sederhana, bukan? Nah, tantangan sebenarnya dari pengumpulan data ini adalah mengajak para siswa melakukan sesuai instruksi. Ini cukup memakan waktu, tenaga, dan kesabaran. Pasalnya, subjek penelitianku ini bukan anak-anak biasa, mereka luar biasa. Mereka adalah siswa dengan mental retardation tingkat ringan sampai sedang. Jadi, berkomunikasi dengan mereka agak sulit, apalagi bagi orang awam sepertiku.

Tugasku hampir selesai, tinggal dua siswa lagi yang perlu menjalani pengukuran dan tes lari, sebut saja Ardi dan Ridho. Ardi adalah siswa kelas IV dengan berat badan melebihi standar. Di usianya yang baru sekitar 12 tahun, beratnya mencapai 90 kilogram. Dengan kondisi ini tentu Ardi kurang leluasa bergerak. Sementara Ridho, siswa kelas IV yang sudah berusia 16 tahun. Ya, 16 tahun. Di sekolah luar biasa ini memang usia siswa tidak menjadi patokan kelas mereka. Mungkin pengelompokkan kelas lebih pada kemampuan akademik masing-masing anak. Ridho berperawakan tinggi, dengan berat badan ideal, namun ia sangat pendiam. Beda dengan Ardi yang agak lebih aktif bicara.

Aku memberi instruksi pada Ardi dan Ridho untuk membuka sepatu kemudian naik ke atas timbangan. Keduanya bisa memahami dan mengikuti instruksi walaupun perlahan. Saat itu siswa lain sedang bebas bermain karena waktunya istirahat. Ardi dan Ridho bergantian naik ke timbangan. Ardi sambil cengengesan, sementara Ridho dengan wajah yang sangat datar.
Setelah selesai, kuminta mereka memakai sepatu lagi. Ridho langsung melakukannya. Tapi Ardi ternyata kesulitan. Sambil duduk, Ardi coba menggapai ujung kakinya untuk memakai sepatu, tapi tidak bisa karena fisiknya yang terlalu gemuk. Saat itulah, tanpa diminta, Ridho langsung membantu Ardi memakai sepatu. Layaknya seorang ibu yang sabar, Ridho mengangkat kaki Ardi dan memasukkannya ke dalam sepatu, satu per satu.
Saya tertegun. Terdiam. Terharu. Ah, campur aduk rasanya. Kejadian itu begitu singkat, begitu simpel sampai mungkin tak ada yang memperhatikan. Tapi kenapa saya begitu terenyuh? Seorang pemuda dengan tulus memakaikan sepatu kawannya, tanpa ada balasan apapun, bahkan tanpa ucapan terima kasih. Tapi keduanya bahagia. Rasanya, di tempat lain, aku belum pernah melihat adegan seindah ini. Duh, mungkinkah ini hanya ke-lebay-anku saja?
Tidak, aku yakin ini bukan hanya perasaanku saja. Mereka memang luar biasa.

***
Demikian pengalaman saya. Sungguh keindahan hal yang saya lihat waktu itu tak bisa saya gambarkan dengan baik. Tapi semoga bisa menginspirasi kita untuk berbuat baik kapan saja, di mana saja, kepada siapa saja.


#30DWC
#30DWCJilid21
#Day12
#ImWritingInLove




Comments

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool