Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2020

Pengalaman Covid-19 di Keluarga

  Gambar: Pixabay Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush shalihat.. Per tanggal 12 Oktober lalu, suami saya sudah diperbolehkan keluar RS setelah dirawat selama delapan hari. Dan di tanggal 17 Oktober, isolasi mandiri anak saya juga sudah resmi selesai. Nah, di tulisan kali ini saya akan cerita ngalor-ngidul tentang mampirnya si covid di keluarga saya. Ini lumayan panjang karena mostly curhat. Hahaha. Semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa teman-teman semua ambil dari pengalaman saya ini. :) Awalnya itu tanggal 24 September 2020, suami mulai batuk kering dengan frekuensi jarang. Esoknya mulai mengeluh sakit tenggorokan. Dari sini saya sudah curiga covid dan langsung meminta suami memakai masker, saya juga.  Hari Sabtunya, kecurigaan makin besar karena suami demam, dan hari Minggu memutuskan untuk rapid test. Hasilnya non reaktif, dan diberikan obat oleh dokter. Saya sendiri sangsi dengan hasil rapid test, sudah banyak kasus rapid test ini false negative kan.  Mertua saya pu

Me Time, Kawan atau Lawan?

(Gambar: Pixabay) Me time ini bagi saya menjadi kata-kata yang agak mengerikan. Kenapa? Karena kalau mendapatkan me time, jadi senang, happy. Tapi sebaliknya, ketika tidak sempat ber-me time ria, jadi sebel sendiri. Kebanyakan me time, jadi menghanyutkan. Kurang me time bikin esmosi. Me time bisa menjadi kawan atau lawan. Sebagaimana banyak hal lainnya. Sama seperti kata “produktif”, ketika merasa kurang produktif, jadi merasa kurang berguna, kurang bermakna. Padahal, baik “me time” maupun “produktif” adalah dua kata yang bisa memiliki definisi berbeda pada tiap orang. Bukan sesuatu yang baku atau mengikat. Jadi, kalau saya sering pusing sendiri dengan dua kata ini, sebenarnya karena definisi yang saya sematkan pada dua kata tersebut.  Seperti kata Ivan Lanin, kata-kata itu netral, diri kita sendirilah yang memberi makna negatif atau positif pada kata tersebut. Sebagian orang mengatakan bahwa me time itu tidak perlu, atau tidak ada. Menurut saya, ini kembali lagi pada definisi tadi. Ji

Ketika Suami Positif Covid, What To Do?

(gambar: Pixabay) Sekitar dua minggu lalu, suami saya positif Covid-19 dan harus dirawat di RS. Alhamdulillah setelah delapan hari dirawat, hasil swab sudah negatif dan boleh pulang. Mengingat banyaknya kasus Covid-19 di Indonesia, saya yakin banyak istri memiliki pengalaman yang kurang lebih sama, menghadapi keadaan ketika keluarga inti positif Covid-19. Namun, saya tetap merasa perlu menuliskan pengalaman ini karena beberapa alasan. Pertama, sebagai bagian dari promosi kesehatan. Kedua, untuk belajar dari pengalaman orang lain. Ketiga, karena pandemi ini mungkin masih akan berlangsung lama (2 tahun? 3 tahun? who knows ), dan masih sangat diperlukan sosialisasi. Oke, jadi, ketika suami positif, apa yang perlu dilakukan? Jangan Panik Tetap tenang dan jangan panik. Ini modal penting menjaga kewarasan emak-emak ketika head to head dengan Covid. Saya pribadi ketika suami positif Covid sebenarnya tidak kaget lagi. Karena gejalanya sudah muncul sejak seminggu sebelumnya, dan sudah sangat cu