Skip to main content

Ketika Suami Positif Covid, What To Do?

(gambar: Pixabay)


Sekitar dua minggu lalu, suami saya positif Covid-19 dan harus dirawat di RS. Alhamdulillah setelah delapan hari dirawat, hasil swab sudah negatif dan boleh pulang. Mengingat banyaknya kasus Covid-19 di Indonesia, saya yakin banyak istri memiliki pengalaman yang kurang lebih sama, menghadapi keadaan ketika keluarga inti positif Covid-19.

Namun, saya tetap merasa perlu menuliskan pengalaman ini karena beberapa alasan. Pertama, sebagai bagian dari promosi kesehatan. Kedua, untuk belajar dari pengalaman orang lain. Ketiga, karena pandemi ini mungkin masih akan berlangsung lama (2 tahun? 3 tahun? who knows), dan masih sangat diperlukan sosialisasi.

Oke, jadi, ketika suami positif, apa yang perlu dilakukan?

Jangan Panik

Tetap tenang dan jangan panik. Ini modal penting menjaga kewarasan emak-emak ketika head to head dengan Covid. Saya pribadi ketika suami positif Covid sebenarnya tidak kaget lagi. Karena gejalanya sudah muncul sejak seminggu sebelumnya, dan sudah sangat curiga bahwa itu Covid. Jadi saya memang mendorong suami untuk swab. 

Pasalnya, gejala yang dialami suami tak kunjung reda. Daripada dia minum obat ini itu tapi ngga tepat sasaran, lebih baik langsung ketahuan sakitnya dan dirawat sesuai keluhan. Ketika suami akhirnya masuk RS, saya lega karena tahu dia berada dalam penanganan yang tepat. 

Nah, bagaimana agar tidak panik? Penting untuk membekali diri dengan pengetahuan seputar Covid. Dalam hal ini saya berterima kasih sekali pada grup WA alumni FKMUI angkatan saya yang banyak memberi info valid seputar Covid--saya siy silent reader aja hehe. Beberapa teman di grup itu juga menceritakan pengalaman ketika mereka dan keluarganya tertular Covid. Itu membuat saya tidak panik ketika akhirnya Covid ini datang.

Hindari hoaks. Ada yang jadi panik karena hoaks, ada juga yang justru kelewat santai. Intinya carilah info yang valid. Saya rekomen akun IG dokter @adamprabata untuk info-info valid seputar covid. Berhati-hati juga dengan banyaknya info tentang "obat covid", teliti baik-baik info yang didapat sebelum menerapkannya.

Selanjutnya tentu banyak berdoa, ikhlas, dan menikmati keadaan--dan menuliskannya juga kalau saya. Sedih boleh, tapi jangan berlebihan, karena Covid ini panjang urusannya. Harus siapkan mental menghadapi prosedur selanjutnya--yang menguras emosi. 

Ikuti Prosedur

Ketika keluarga ada yang positif, maka prosedurnya adalah keluarga terdekat yang satu rumah juga harus menjalani tes swab. Ini yang membuat saya agak deg-degan siy. Bukan masalah hasil tesnya, karena saat itu saya yakinnya kami positif. Lha wong kami kontak erat. Saya justru lebih deg-degan membayangkan reaksi anak saya (3 tahunan) ketika diambil sampel alias di-swab. 

Alhamdulillah, anak saya memang meraung-raung ketika di-swab, tapi sebentar aja nangisnya. Swab-nya juga cepat, hanya beberapa detik, dan setelah selesai langsung berhenti nangisnya. Tidak sedramatis yang saya bayangkan. Hehe. 

Nah, prosedur ini ikuti saja, walaupun mungkin Anda dan anak merasa tidak ada gejala.

Isolasi mandiri

Ketika hasil swab belum keluar, tetap isolasi mandiri dulu. Tidak keluar rumah, dan jangan kontak erat dengan siapa pun karena bisa jadi Anda atau anak menularkan virus. Saya sih tidak masalah dengan isolasi ini, tanpa Covid pun saya sehari-hari memang hanya di rumah saja. 

Belanja-belanja keperluan bisa dilakukan secara online, via aplikasi, atau minta tolong teman.

Cuek menghadapi stigma

Sejujurnya saya tidak mengalami stigma ini karena saya tergolong ansos. Hyahahah. Hanya satu tetangga yang saya kenal baik, dan satu tetangga ini berpikiran terbuka serta aktif memberi dukungan dan bantuan. Alhamdulillah.

Jadi saya tidak mengalami apa yang teman saya alami--dijauhi tetangga. Mungkinkah ini hikmah menjadi ansos saat pandemi? Wkwk. Jangan ditiru, ya. 

Tapi jika Anda mengalami perlakuan kurang menyenangkan dari sekitar karena Covid, saran saya, cuekin aja. Fokus dengan kebahagiaan dan kewarasan diri. Banyak yang perlu diurus alih-alih memikirkan komen tetangga.

Jangan panik (lagi)

Iya, jangan panik lagi ketika menerima hasil swab Anda dan anak. Dalam kasus saya, hasil swab saya negatif, dan anak positif. Saya cukup tenang karena alhamdulillah saya dan anak saat itu tidak ada gejala. Sebelumnya memang anak sempat demam beberapa jam, tapi itu sudah 10 hari sebelumnya. Saya pun pernah meriang seharian di minggu sebelumnya. 

Tetap tenang, tetap jalankan isolasi mandiri, dan pakai masker. Sejak suami muncul gejala batuk ringan, saya sudah pakai masker walaupun di dalam rumah.

Juga, yang penting, jangan malu. Tidak perlu menutup-nutupi bila keluarga kita terinfeksi Covid. Kalo ditanya jawab jujur, tidak perlu malu. Yang penting kita sudah mengikuti protokol kesehatan. Karena protokol kesehatan ini adalah usaha, sedangkan terinfeksi Covid adalah takdir. Jadi jangan malu kalau terinfeksi Covid, tapi malulah saat tidak menjalankan protokol kesehatan. 

Oke, sekian dulu curhatan kali ini. Semoga bermanfaat. Selebihnya di postingan lain, yak. Wkwk. 

Semoga semua pembaca, dan keluarga saya juga, sehat terus dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin. :)




Comments

  1. Semoga segera pulih semuanya n bisa kumpul sekeluarga lg ya mam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiinn.. alhamdulillah skrg sdh berkumpul lg mbaa.. hehe..

      Delete
  2. " Karena protokol kesehatan ini adalah usaha, sedangkan terinfeksi Covid adalah takdir. Jadi jangan malu kalau terinfeksi Covid, tapi malulah saat tidak menjalankan protokol kesehatan"

    Setuju bgt mba...

    Alhamdulillah terlewati juga ujian ini ya mba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa alhamdulillahh.. Makasih yaa mba Reshaa bantuannyaa.. Benar2 pas sesuatu yg kubutuhkan..😆

      Delete
  3. Manusia berusaha, Allah yg menentukan ya. Alhamdulillah semua terlewati dengan baik.

    Semoga kedepan sehat-sehat semua ❤️

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool