11 May 2026

Review Novel Teka-Teki Gambar Aneh


Judul: Teka-Teki Gambar Aneh

Penulis: Uketsu

Tahun terbit: 2026

Jumlah halaman: 312 


Bayangkan, kamu ingin pergi dari Jakarta ke Bandung naik bus. Namun, alih-alih menempuh jalur tercepat lewat tol, pak sopir justru mengambil jalur jauh memutar. Lewat Bogor dulu, Sukabumi dulu, Cianjur, Subang, Sumedang, baru ke Bandung. Bahkan di tengah jalan sampai membuatmu bertanya-tanya, ini sebenarnya tujuannya ke mana? Kok lewat sini? Kok ke situ? Hahaha.  


Kurang lebih begitulah kesan yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Tidak sepenuhnya jelek, hanya saja seperti terlalu memutar dan berbelit. Kalau novel pada umumnya memiliki alur setup-confrontation-resolution, maka novel ini setup-resolusi-confrontation-setup-setup-confrontation-setup-resolusi. Semacam itulah, seperti puzzle yang random tapi membentuk gambar utuh. Persis seperti judulnya, teka-teki.


Emosi pembaca benar-benar dimainkan, karena tadinya sudah merasa emosi yang cukup intense, eh, tiba-tiba turun lagi. Hhh.. Lelah. Saya sempat berhenti membaca di bab tengah, tapi karena kadung penasaran di mana benang merah semua ini, akhirnya lanjutkan walaupun slow motion. Untungnya, di seperempat bagian terakhir sudah kembali menarik dan seru untuk dibaca. Jadi, yaa lumayan lah.


Ok, jadi novel Asian Lit asal Jepang ini bercerita tentang teka-teki pembunuhan beberapa orang di beberapa periode berbeda yang ternyata saling berkaitan. Beberapa kasus meninggalkan petunjuk berupa gambar terakhir dari para korban yang justru terpecahkan oleh orang-orang yang tak terduga, bukan polisi atau detektif. Secara alurnya sendiri jelas maju mundur, setting waktunya juga cukup panjang, dari awal cerita bermula di tahun 60 atau 70-an, dan berakhir di 2015.


Menarik dan unik memang, dan dibandingkan buku pertama dari penulis yang sama, Teka-Teki Gambar Aneh ini yaa lebih “normal”. If you know what I mean. Hehe. Ada kesan “maksa” juga sih di novel ini. Semacam “emang bisa ya orang melakukan itu dengan alasan begitu?”. Wkwk. Bagusnya, semua pertanyaan dari cerita awal akhirnya terjawab di akhir, jadi tidak ada yang menggantung. Pembaca hanya perlu merangkai ulang kepingan puzzle yang tercecer. 


Well, kalau penulis ini merilis novel lagi, sepertinya aku tertarik membacanya juga. Karena penyampaiannya yang unik. Di buku pertama, novelnya seperti skrip sebuah film, dialog disajikan tanpa narasi yang utuh. Sedangkan di buku kedua ini, sudah normal, tapi urutan kejadiannya diacak. Kalau ada buku ketiga, mungkin akan menarik juga.



 


Share:

0 comments:

Post a Comment