Showing posts with label RulisKompakan. Show all posts
Showing posts with label RulisKompakan. Show all posts

03 August 2020

Foto Masa Depan

Apakah Anda punya foto Anda di masa depan? Atau foto anak-anak Anda di masa depan? Tentu saja tidak. Saya pun tidak punya foto dari masa depan. Ya, semua foto yang kita miliki sekarang adalah foto masa lalu. Bisa foto sejam lalu, sehari lalu, atau bertahun-tahun lalu.

Foto-foto masa lalu itu biasanya membangkitkan kenangan. Dulu, ketika kita masih kecil. Setelah menatap foto, kita menyadari, “Wah, sekarang aku sudah tua dewasa.” Atau foto anak-anak kita, lantas kita bergumam, “Sekarang anak ini sudah besar.”

Beberapa detik selanjutnya kita masih membayangkan kejadian-kejadian, waktu-waktu yang berlalu antara foto tersebut dengan sekarang. Mungkin ada beberapa penyesalan, kesedihan, atau kebahagiaan saat melamunkannya. Ya, begitulah kalau kita melihat foto-foto masa lalu.

Tapi, bagaimana jika kita melihat foto-foto masa depan? Apa kira-kira yang ada dalam pikiran kita? Hmm… sebentar, saya bayangkan. Mungkin begini jadinya…

“Ternyata, sekarang aku masih muda, masih bertenaga, punya banyak peluang, dan kesempatan.”

“Wah, ternyata anakku sekarang masih kecil, ya. Badannya saja yang gede. Pantas saja dia masih suka manja dan susah dinasihati.” (hehehe..)

Mungkinkah demikian?

Jika ada foto masa depan, mungkin kita akan lebih bisa menikmati, mensyukuri, dan berbahagia di masa sekarang. Atau malah tak sabar ingin segera menikmati masa depan. Tapi foto masa depan itu tidak ada. Masa depan masih tetap dengan ciri khasnya, misterius.

Dan kita pun kembali ke foto-foto masa lalu, kembali mengenang memori-memori. Tapi kini kita bisa bergumam, “Insyaallah, aku masih punya masa depan untuk dirajut mulai sekarang” dan lebih berbahagia menikmati masa-masa ini. :)

***

Tulisan aneh bin ajaib apa ini, ya? Haha..

Sejatinya ada kata-kata yang berjubel di dalam benak tapi sungguh tak mudah diungkap. Kata-kata itu, dan tulisan ini, terinspirasi oleh sebuah unggahan yang sangat menyentuh hati dari mentor menulis saya. Berikut unggahannya:

View this post on Instagram

Melihat Fesbuk menyodorkan foto-foto memori, seringkali saya merasa perih tiba-tiba. Bukan tentang seting tempatnya. Tapi tentang bocah perempuan itu. . Saya seolah baru menyadari, bahwa dia pernah sekecil itu. Pada waktu itu, di mata saya dia tampak sudah gede. Tentu karena saya membandingkannya dengan ingatan saya dari waktu-waktu sebelumnya, saat dia lebih kecil lagi, dan tidak bisa membayangkan rupa dan bentuknya di masa sesudahnya. . Maka, kadang saya pun memperlakukannya sebagai anak gede. Di sela relasi sayang-sayangan dengan anak, sering saya mengomelinya, bahkan pernah juga dengan keras memarahinya. Sampai dia menangis, mungkin sampai menyisakan luka diam-diam di dasar perasaannya. . Sekarang saya jadi menyesal. Ternyata waktu saya memarahinya dulu, dia masih sekecil itu. Dan saya menyadari bahwa dulu dia sekecil itu ya karena hari ini saya melihat dia sudah jauh lebih besar. . Sepuluh tahun lagi dia akan jauh lebih besar lagi, dan mungkin di hari itu lagi-lagi saya menyesal mengingat bahwa saya memarahinya di hari ini.

A post shared by Iqbal Aji Daryono (@iqbalkita) on




Share:

24 July 2020

One of the Awkward Moment

Saya sadar dan tahu pasti bahwa ada banyak sekali awkward moment yang pernah saya alami. Tapi ketika diminta menuliskan salah satunya, saya tetap harus berpikir lama untuk mengingat-ingat dan memilih yang mana yang akan diceritakan.


Dan pilihan saya jatuh pada kasus berikut ini.


Ini kejadian ketika saya bekerja di salah satu situs berita online, kira-kira enam tahun lalu. Saat itu kerjaan sehari-hari saya ya di depan komputer. Ada beberapa teman yang satu ruangan dengan saya, dua di antaranya laki-laki, single, alias jomblo. Pertemanan kami biasa saja, suka cerita-cerita dan bercanda rame-rame.


Sampai pada suatu hari, ketika libur lebaran, dan kami WFH--iya, WFH, karena kerjaan kami sebenarnya bisa dikerjakan dari rumah. Nah, salah seorang teman saya yang laki-laki itu mulai menunjukkan gelagat aneh. Wkwk. Maksudnya, jadi hobi nge-WA saya untuk hal-hal sepele, ga penting gitu.


Awalnya saya ladenin, tapi ketika mulai risih ya saya ga bales, dong. Dia tetep WA, saya tetap ga bales. Ketika kami mulai ngantor lagi, saya pun jadi canggung sendiri ketemu dia. Akhirnya saya cuekin lah dia, jawab seperlunya aja. Tapi ga lama kemudian, temennya dia malah bilang ke saya supaya jangan bersikap begitu. Lha, saya malah makin keki dan makin cuek, dan keadaan di kantor makin awkward bagi saya. 


Untunglah tak lama kemudian dia dipindahtugaskan ke lapangan, jadi kami ga ketemu lagi di kantor. Dan dia jarang-jarang aja ke kantornya. Hehehe.


Eh, maapkan ya, saya emang ga pandai mengatasi sikon semacam itu. Wkwk. 


Apakah ini sudah cukup awkward moment?


Share: