Showing posts with label kemerdekaan. Show all posts
Showing posts with label kemerdekaan. Show all posts

26 December 2019

Khusyuk dan Kesendirian (Cerbung Part 2)

Satu dua hari setelah ayahnya meninggal, Diyani kembali masuk sekolah. Kini dia punya status baru yaitu sebagai anak yatim. Tapi nyaris tak ada perubahan yang ia rasakan atau tunjukkan. Semua seolah sama saja baginya kecuali satu hal, teman-temannya.

Ya, entah kenapa hari ini sikap teman-temannya agak berbeda. Mereka tampak kasihan dan simpati pada Diyani, mereka bertanya ini itu dan berusaha menghiburnya. Puncaknya, mereka sepakat untuk berziarah ramai-ramai ke makam ayah Diyani ketika jam istirahat sekolah. Kebetulan TPU tempat ayah Diyani dimakamkan memang tak jauh dari sekolah. Tanpa keberatan, Diyani langsung menerima ide itu.

Ramai-ramai, masih berseragam putih merah, sambil mengobrol dan bercanda, Diyani dan teman-temannya mendatangi makam. Mungkin mereka menganggap ziarah ini seperti piknik yang penuh suka cita. Sesampainya di makam, mereka berdoa sebisanya kemudian kembali lagi ke sekolah. Diyani pun berterima kasih atas kepedulian teman-temannya. Tapi, ia masih tak mengerti. Kenapa dia seolah bahagia? Bukankah harusnya ia masih berduka?

Sore itu awan mendung mulai berkumpul. Angin berembus cukup kencang, menandakan akan turun hujan. Diyani seorang diri berjalan kaki ke makam ayahnya, lagi. Ia meniti tiap langkah penuh kebingungan. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Kenapa ia ingin mendatangi makam ayahnya lagi? Bukankah tadi siang ia sudah ke sini bersama teman-temannya? Ia sendiri penasaran dengan jawabannya. Sesaat ia berdiri di sana, terdiam. Ia khusyuk dalam kesedihan, dalam keheningan yang tiba-tiba melesak. Ya, ia sedih.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day16
#Khusyuk
#ImWritingInLove
Share:

25 December 2019

Gebyar Perayaan Kemerdekaan (Cerbung Part 1)

“Pantas aja, dia itu sering tanya, ‘17-an berapa hari lagi?’. Eh, ternyata begini.”
Diyani mendengar ibunya bercerita pada para tetangga. Ibunya bercerita tentang ayah Diyani yang baru saja meninggal semalam. 
Walaupun baru berusia delapan tahun, Diyani memahami apa yang terjadi, bahwa ayahnya baru saja pergi untuk selamanya. Namun yang Diyani belum mengerti adalah tentang perasaannya sendiri. Haruskah dia menangis tersedu-sedu? Atau haruskah ia mencoba tegar? Bagaimana harusnya ia merasa? Ia tak mengerti. Hari telah siang, matahari cerah memancarkan sinar. Pemakaman telah selesai. Diyani ikut mengantar jenazah ayahnya ke pemakaman dan melihat prosesinya. 
Hari ini Diyani merasa ada dua hal yang hilang, pertama yaitu ayahnya, dan yang kedua adalah gebyar perayaan kemerdekaan. Ya, hari ini adalah Hari Peringatan Kemerdekaan RI. Seperti biasa selalu ada lomba, panggung, dan keramaian. Tapi entah di mana keramaian itu, Diyani tak mendengarnya sama sekali. Padahal ia adalah pecinta lomba 17-an.

Sudah menjadi tradisi bagi Diyani untuk pergi ke lapangan di pagi hari 17 Agustus untuk ikut upacara. Kemudian dilanjutkan dengan ikut berbagai lomba yang bisa dia ikuti, dan di sore hari adalah waktu paling menyenangkan yaitu pembagian hadiah. Diyani sangat senang dengan rangkaian kegiatan saat 17 Agustus. Tapi kali ini tidak. Diyani merasa hari ini sangat sunyi, sepi. Tak ada gebyar dan gegap gempita itu. Kenapa? Ia bertanya dalam hati. Tapi ia sudah tahu jawabannya. Ia tahu, gebyar peringatan kemerdekaan itu bukannya tidak ada. Lomba-lomba itu pasti tetap ada, ia hanya tak mendengarnya, ia tak mendatanginya. Keramaian itu telah tertutup oleh pertanyaan besar dalam hatinya. Apa yang seharusnya kurasakan sekarang?

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day15
#ImWritingInLove

Share: