(Tentang Teman) Si Ciyus yang Nyeleneh

Namanya Ciyus. Ya, itu nama alias, bukan nama asli. Kami, teman-teman dekatnya, memanggilnya “Ciyus”, atau “Ciy”. Bagaimana asal muasal panggilan ini aku sendiri tak ingat. Tapi, dia bukan satu-satunya yang dipanggil “Ciyus”. Aku pun kerap dipanggil “Ciyus”, entah kenapa.

Hari ini aku akan membahas seorang teman, seorang sahabat, yang menurutku sangat berkesan. Berkesan karena aku merasa kami itu seolah ditakdirkan bertemu. Tidak, aku merasa, Tuhan menghadirkan dia di sana untukku.

Di tahun 2012 akhir adalah pertama kalinya aku bekerja setelah lulus kuliah. Saat itu aku bekerja di sebuah boarding school di Sukabumi, tepatnya Cicurug. Aku yang belum pernah merasakan boarding school atau pesantren tentu merasa asing dengan suasananya. Apalagi di pedesaan Cicurug tidak ada apa-apa, hanya ada Indomaret. Sehari-hari dihabiskan hanya di dalam area sekolah yang memang luas.

Saat itu rata-rata teman-temanku lulusan Ponpes Gontor yang kalau ngobrol pake bahasa Arab. Bayangkan betapa merasa terasingnya aku di sana. Wkwk.

Seminggu setelah aku masuk, dia hadir. Si Ciyus, yang juga lulusan Gontor, mulai bekerja di sana, di divisi yang sama denganku. Aku lupa detilnya, tapi tak butuh waktu lama kami pun berteman akrab. Aku merasa klop dengannya. Kami sering menghabiskan waktu bersama untuk diskusi, main, melakukan hal-hal receh bin ga penting.

Mungkin salah satu sebab kami cepat akrab adalah usia yang hanya beda setahun, sedangkan teman-teman lain beberapa tahun lebih tua dariku. Kedua, si Ciyus ini anak gaul gitu, lho gaes, jadi ngobrolin apa aja sama dia tuh asik. Dia juga yang pertama kalinya mengenalkanku dengan drakor. Kala itu dia memaksaku menonton City Hunter, yang Lee Min Hoo itu. Dan dia kalau merekomen sesuatu itu ga setengah-setengah, gaes. Dia sendiri yang beli DVD bajakannya di pasar dan menyetelnya di TV kamarku.

Dia itu sering setuju dengan ide-ide nyelenehku seperti memasang Indovision. Kami patungan untuk pasang Indovision supaya bisa nonton macem-macem. Setelah saya keluar dari sana, itu Indovision ga bertahan lama. Wkwk.

Hal lain yang membuat aku senang berteman dengannya adalah dia itu berani. Berani naik motor dari Cicurug ke Sukabumi Kota. Kami pernah sekali boncengan ke Sukabumi Kota hanya untuk jalan-jalan ke toko buku, dan beli Pisang Cakra yang legendaris. Pernah juga iseng dari Cicurug naik kereta ke daerah Glodok hanya untuk beli sesuatu. Kami juga pernah hampir short escape ke Bandung, tapi kami ketinggalan travel jadinya batal. Wkwk.

Sampai saat ini rasanya dia adalah satu-satunya temanku yang cinta sejarah, khususnya sejarah Islam dan timur tengah. Dia bahkan bilang, “Ayo Ciy, kapan ente siap dengerin cerita tentang sejarah Al Hambra (kalau tidak salah ingat) bilang ane aja, nanti ane ceritain sejarahnya.” Well, aku tak pernah siap. Hahaha.

Kami sering sarapan berdua di luar area sekolah, keliling-keliling kampung sekitar, dan jajan ke Indomaret berdua. Kalau beberapa hari ngga ke Indomaret, dia bakal bilang, “Ciy, kita belom absen nih di Indomaret”. Hyahaha.
Pernah juga kami menginap di rumah sakit karena menemani murid yang rawat inap. Terlalu seringnya kami kemana-mana berdua, sampai-sampai kalau aku terlihat jalan sendirian di area sekolah pasti ditanya, “Kok sendirian? Mana Ciyus satu lagi?”.

Sayangnya, kebersamaan kami hanya bertahan kurang lebih satu setengah tahun. Pertengahan 2014 aku memutuskan keluar dari sana dan kembali ke Jakarta. Perpisahan dengan Ciyus adalah salah satu hal terberat saat itu. Hiks.

Tapi sekarang dia sudah berkeluarga di Jakarta, aku justru berdomisili di Batam. Dia sudah beralih profesi jadi kontraktor. Ya, kontraktor bangunan-bangunan gitu. Emang dia serbabisa, sih. Terakhir kami bertemu saat lebaran tahun lalu. Dia masih tak banyak berubah. Masih suka nyeleneh. Haha.

Karena lebaran tahun ini aku tidak mudik ke Jakarta, kami tidak bisa bersua. Tapi semoga ada waktu yang lebih baik untuk bertemu muka, bertukar cerita. :)

#30DWCJilid23
#30DaysWritingChallenge
#Squad7
#Day15
#TentangTeman

0 Comments