Skip to main content

Belajar dari Hideaki Sorachi

Gintama

Hari ini masuk hari keenam di 30 Days Writing Challenge. Bagi saya ini adalah tantangan menemukan cinta yang pudar dan nyaris hilang. Tapi, baru juga di hari keenam, saya sudah bingung mau menulis apa. Haha.

Eits, tak ada ide bukan alasan untuk tidak menulis, ya. Kalau kata Bang Tere Liye sih, writer’s block itu hanya istilah lain dari malas. Nah, lho. Jadi, mari kita tulis tentang apa saja supaya tidak malas.

Selama beberapa hari ke depan, tema tulisan saya adalah "belajar dari ahlinya". Untuk hari ini, kita akan belajar dari Hideaki Sorachi.
****
Siapa yang tidak tahu Hideaki Sorachi? Ya, tentu banyak yang tidak tahu, bahkan penyuka anime pun belum tentu tahu. Hideaki Sorachi adalah seorang mangaka alias pengarang komik, tepatnya komik berjudul Gintama. Komik Gintama dirilis pada Desember 2003 dan tamat di Juni 2019 dengan total chapter kurang lebih 708. Komik ini juga telah diadaptasi menjadi anime. Apa yang spesial dari gaya menulis Sorachi? Mari kita bahas.

  •     Sabar dalam membangun chemistry antartokoh
Di musim-musim awal Gintama, Sorachi mengenalkan tokoh-tokohnya dengan cara senatural mungkin dan tidak tergesa-gesa. Humor-humor mengocok perut dihadirkan sambil menunjukkan karakter tiap tokoh. Misal, Gintoki yang pemalas dan terkesan masa bodoh dengan hidupnya, namun ternyata punya sisi lembut dan peduli pada teman. Shinpachi yang digambarkan lemah tapi peduli pada orang lain dan mau belajar. Semua ditunjukkan dengan perlahan. Kemudian melalui sifat-sifat tokoh yang saling melengkapi ini terjalinlah chemistry secara alami sampai-sampai pemirsa terhanyut dengan ikatan tersebut. Semua karena kesabaran Sorachi dalam membangun plot dan chemistry.

  •    Kreatif dan out of the box
Tidak diragukan lagi, Sorachi adalah salah satu penulis yang paling kreatif, menurut saya. Bagaimana tidak, dalam sebuah cerita, pemirsa bisa dibuat tertawa kemudian sedih. Ada sebuah episode Gintama yang sangat out of the box yaitu di episode 156. Hampir di sepanjang episode ini yang ditampilkan hanya satu wajah yaitu seorang penjaga kedai, sedangkan tokoh lain hanya terdengar suaranya. Cerita dibuat sedemikian rupa sehingga penonton mengira bahwa yang berdialog di episode itu adalah para tokoh utama, padahal sebenarnya tidak. Ini sesuatu yang lucu dan unik.

Di episode lain yang berjudul There's Almost A 100% Chance You'll Forget Your Umbrella And Hate Yourself For It, Sorachi membuat cerita pendek dengan dialog yang diulang-ulang tapi tidak membuat penonton bosan. Justru penonton dibuat tersentuh dengan pesan yang ada di cerita tersebut. Dan ya, Sorachi membuat judul yang panjang untuk chapter-chapter Gintama.

  •     Riset dan wawasan luas
Dari Gintama, terlihat jelas Sorachi memiliki wawasan yang luas, ditambah kreativitas yang super. Lihat saja nama tokoh-tokohnya. Contohnya nama Hijikata Toshiro, nama ini diambil dari tokoh sejarah Jepang Hijikata Toshizo. Kemudian tokoh Okita Sogo dalam Gintama merujuk pada Okita Soji. Tidak hanya nama, kisah mereka pun diadaptasi dan dikreasikan sehingga menyenangkan untuk ditonton. Sorachi juga tak jarang menyisipkan narasi-narasi filosofis, contohnya di awal Popularity Poll Arc, ada narasi seperti ini:

“Humans are creatures who love rankings. Whether it’s rankings of who’s the richest in the land, how well something is selling, or character standings in Jump, we love sticking a number on everything. For just a moment, we forget our senses and start clawing our way to the top, we become like a pack of kids in school, fighting for supremacy in gym.” 
Bagi saya, narasi tersebut memiliki pesan yang dalam. Apalagi disampaikan oleh tokoh yang tidak menang polling popularitas padahal tokoh utama. Tapi, it’s Gintama, walaupun awalnya filosofis dan dalem, semuanya berakhir dengan tawa. Haha.

Tiga hal itulah yang saya kagumi dari Sorachi khususnya pada komik dan anime Gintama. Perlu proses dan perjuangan panjang untuk bisa mahir seperti itu, namun yang terpenting, jangan menyerah! :)

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day6
#ImWritingInLove



Comments

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool