Skip to main content

Benarkah Anak Anda Kurus?

Saya melanjutkan tulisan sebelumnya yang bertema kesehatan balita, ya. Kali ini saya bahas tentang penilaian status gizi balita. Tak jarang kita mendengar komentar seseorang yang mengatakan, “anaknya kurus ya” atau “anaknya gemuk ya”. Pertanyaannya, benarkah penilaian orang tersebut yang hanya berdasarkan kasat mata? Sebelum terlalu pusing karena anak Anda dibilang kurus, atau terlalu happy karena anak disebut gemuk, kita cari tahu dulu kebenarannya.

Status gizi balita bisa dilihat dengan beberapa indikator, di antaranya berat badan menurut usia (BB/U), tinggi badan menurut usia (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Ketiga indikator ini punya peran masing-masing. BB/U adalah cerminan status gizi saat ini, TB/U indikator status gizi jangka panjang (kronis) di masa lampau, sedangkan BB/TB menggambarkan efek status gizi akut atau jangka pendek.

Kembali ke pertanyaan di atas, benarkah anak Anda kurus? Mari kita lihat grafik di bawah ini.

Grafik Pertumbuhan Anak Laki-laki Usia 0-2 Tahun
Grafik tersebut adalah grafik pertumbuhan anak laki-laki usia 0-2 tahun menurut World Health Organization (WHO). Seorang anak disebut kurus jika berada di area antara garis kuning sampai merah yang di bawah (15-3 persentil). Apabila masih berada di area antara garis kuning bawah (15 persentil) sampai garis kuning atas (85 persentil), maka masuk kategori normal. Contoh, jika seorang anak laki-laki berusia 13 bulan, memiliki berat badan 10 kg, maka masuk ke dalam kategori normal karena titiknya berada di dekat garis hijau.
Dengan grafik ini, orang tua bisa mengecek sendiri status gizi anaknya dan tak perlu merisaukan komentar orang lain. Hehe. Grafik pertumbuhan untuk anak laki-laki dan perempuan sedikit berbeda.

Untuk grafik pertumbuhan anak laki-laki selengkapnya bisa dilihat pada situs WHO ini atau unduh grafik pertumbuhan anak perempuan di situs ini. Atau sebagai bahan bacaan seputar status gizi anak bisa dilihat pada situs Kementrian Kesehatan dan e-book berikut ini.

Fiuhh.. Demikian sekilas tentang status gizi anak. Semoga bermanfaat.
#30DWC
#30DWCJilid21
#Day22
#ImWritingInLove


Comments

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool