Skip to main content

Mengatur Napas

Tarik napas dalam, keluarkan pelan-pelan. Tarik napas dalam lagi, keluarkan pelan-pelan lagi. Berapa kali kita menarik-lepaskan napas dalam sehari? Tentu kita tidak menghitungnya. Kegiatan ini adalah gerakan otomatis yang seolah terjadi begitu saja. Seolah tanpa arti.

Tapi, pasti kita menyadari betapa pentingnya hal ini. Tidak menarik napas sebentar saja rasanya langsung sesak. Ketika proses tarik-lepas napas terganggu barulah kita teringat betapa penting dan berharganya kegiatan ini.

Selain itu, mengatur napas juga bisa menjadi solusi banyak rasa sakit. Contohnya ketika sakit karena kontraksi jelang melahirkan, apa yang bisa meringankannya? Ya, mengatur napas. Anda akan diminta menarik napas dalam, kemudian keluarkan perlahan. Dan memang benar sih, rasa sakit itu berkurang.

Contoh lain ketika panik menyerang, atau rasa kalut lainnya menghampiri, maka mengatur napas juga menjadi solusi awal agar diri lebih tenang. Mengatur napas bisa meredakan degup jantung yang terlalu kencang. Membuat emosi lebih mudah dikendalikan. Sungguh besar manfaat dari kegiatan yang biasa ini.

Termasuk juga dalam menulis. Kadang, kita perlu mengatur jeda dalam menulis, agar setiap tulisan memiliki napasnya masing-masing. Tentu saja ini bukan berarti berhenti. Ini hanya istirahat. Ya, kita harus paham kapan harus beristirahat, mengambil napas dalam, melepaskannya perlahan. Menikmati udara yang masuk dan keluar, tanpa memikirkannya terlalu dalam.
Inhale… Exhale…

Huff…
Eh, dari tadi sebenarnya saya ngomongin apa ya? Haha. Maaf ya, tulisan kali ini agaknya random dan nirmanfaat. Mungkin karena mood swing seharian. #alesan. Semoga tulisan selanjutnya bisa lebih memiliki makna. 


#30DWC
#30DWCJilid21
#Day25
#ImWritingInLove

Comments

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool