Skip to main content

Akhirnya, Berhasil Bikin Camilan!

Disclaimer: saya bukan orang yang senang memasak atau berkutat di dapur. Berkali-kali gagal membuat camilan dan seringnya mager. Namun, keajaiban terjadi akhir-akhir ini, dan akhirnya…

Hahaha.. Perlu disclaimer dulu di awal tulisan, biar ngga dikira mahir masak atau bebikinan. Karena kenyataannya saya memang males banget menghabiskan waktu di dapur. Sering merasa ga puas dengan hasil masakan. Tapi, kira-kira dua minggu belakangan ini suka tiba-tiba pingin bikin ini itu, terutama camilan. Si bocil yang biasanya ga pernah minta camilan juga tiba-tiba jadi hobi bilang, “bikin kue, yuk”.

Akhirnya, rasa ingin ngemil juga muncul dalam diri saya. Ditambah adanya wabah yang membuat saya membatasi diri order Go Food, saya pun mencoba membuat sesuatu. Ketika membuat camilan, tujuan saya bukanlah ‘enak’, tapi yang terpenting adalah ‘edible’. Hahaha.

Pertama yang saya buat adalah donat. Terinspirasi dari seorang kawan yang bilang, “Ini gampang, lho, bikinnya”. Baiklah, saya coba buktikan. Ternyata ngga segitu gampangnya juga bagi saya! Adonan donat ini ngga kunjung kalis. Bolak-balik saya tambah terigu masih ngga kalis juga. Udah dibanting-banting masih ga kalis juga. Emosi ikut bermain, bung! Wkwk.

Menyerah dengan harapan adonan menjadi kalis, saya langsung bentuk saja semampunya, diamkan, dan goreng. Alhamdulillah, edible! Dan lumayan enak! Apa resepnya? Resep aslinya bisa dilihat di link ini yaa.. Resep donat.

Nah, percobaan pertama saya ngga pakai mixer, jadi manual aja gitu aduk-aduk. Percobaan kedua pakai mixer, dan Alhamdulillah tidak menguras emosi. Ngadon jadi lebih cepat. Dan lebih bisa dibentuk. Fyi, adonan ini memang ngga kalis banget, jadi masih agak lengket gitu. Tapi pas udah digoreng enak, lembut.

Pakai selai coklat biar ala ala Jco.wkwk..

percobaan kedua, donat plain

Porsi yang saya bikin ngga sebanyak seperti di resep, cuma setengahnya aja. Bagi yang ngga punya timbangan, dan hanya mengira-ngira dengan sendok—seperti saya—bisa menggunakan konversi URT ya.. Satuan URT bisa dilihat di link ini.

Selanjutnya, selain donat, saya juga membuat brownies kukus. Percobaan pertama bantet, gaes. Padahal ada yang bilang brownies itu adalah berawal dari kue bantet, tapi ternyata brownies juga bisa bantet as in gagal ngembang. Saat itu saya mencoba resep dari cookpad yang judulnya “anti gagal”. Yah, tentu banyak faktor yang menjadikan hasil kue saya gagal. Tapi saya tidak menyerah. Cieee…wkwk..

Hasil percobaan kedua

Percobaan kedua saya mencari resep lain, dong. Saya temukan resep di IG, judulnya siy brownies oreo, tapi karena ngga ada oreo ya saya jadi brownies biasa. Ada bahan yang saya tambahkan sendiri juga walaupun ga ada di resep, dan saya hanya buat setengah porsi. Ini link brownies kukus oreo.

Sementara yang saya bikin, resepnya sebagai berikut:

Bahan: 2 btr telur
60 gr gula pasir (kurang lebih 5 sdm)
Garam sedikit
40 gram terigu segitiga biru (kurleb 4 sdm)
12 gram maizena (1 sdm)
10 gr coklat bubuk (saya pakai chocolatos 1 sdm)
¼ sdt baking powder
25 gr margarin
1 sdt SP atau emulsifier

Cara membuat:-Cairkan margarin. Sisihkan.
-Ayak tepung terigu, maizena, baking powder, dan coklat bubuk, gabungin aja jadi di satu wadah.
-Di wadah lain, kocok telur, gula, garam, dan SP menggunakan mixer sampai mengembang, warna putih gitu.
-Matikan mixer, campurkan tepung yang sudah di wadah pertama tadi ke dalam adonan telur, pelan-pelan, aduk manual pakai spatula.
-Terakhir masukkan margarin yang sudah cair tadi.
-Aduk sampai rata. Masukkan ke loyang ukuran kecil karena Cuma sedikit ini adonannya, kira-kira 10cm x 20cm x 3 cm mungkin. Karena ngga punya kertas roti, saya olesi Loyang pakai margarin.
-Kukus selama kurang lebih 20 menit. Tentu saja pas masukin adonan itu panic kukusannya sudah panas, yak. Selama mengukus, apinya kecil aja, bukan yang paling bawah, kecil deh pokoknya.
-Setelah 20 menit, insyaallah sudah mengembang.

Saya sampai heboh sendiri waktu lihat brownies ini mengembang. Setengah ngga percaya, saking ngga pernah berhasil. Hahaha.

Akhir kata, resep anti gagal adalah resep yang dicoba berkali-kali, so, selamat mencoba!

Comments

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool