Skip to main content

Creative Writing with Rijo Tobing


Malam ini sungguh berbeda dan membahagiakan. Pasalnya malam ini saya mengikuti kelas online melalui Zoom. bisa dibilang ini adalah pertama kalinya saya mengikuti kelas online via Zoom. Topiknya tentang creative writing, dengan narasumber Mba Rijo Tobing. Siapakah Mba Rijo Tobing? Saya pernah menulis tentang sesi Kenal Lebih Dekat di KLIP dengan Mba Rijo, tapi belum diunggah ke blog, dan hari ini langsung ada kelas online dengan beliau. Sungguh bahagia! Alhamdulillah..

Creative writing. Ternyata selama ini saya masih banyak salah kaprah tentang frasa ini. Creative writing saya kira hanya berlaku pada tulisan fiksi. Ternyata tidak, gaeess. Inti creative writing adalah bercerita, merangkum dan menyampaikan data dan fakta melalui cerita.

Nah, supaya cerita yang disampaikan ini terstruktur dan enak dibaca, maka harus disusun secara deduktif atau induktif. Ini pernah dipelajari di bangku sekolah, ya. Tapi entah kenapa, kok, lupa aja gitu. Paragraf deduktif adalah paragraf yang inti bahasannya ada di awal, sedangkan induktif ada di akhir. Yang saya senang, contoh yang diberikan Mba Rijo ini beda dengan yang di sekolah, lho. Jadi lebih paham bahwa deduktif itu bisa begitu, dan induktif begini. Eh, gitu lah ya maksudnya. Wkwk.

Kemudian ada empat elemen utama yang harus ada dalam creative writing, yaitu karakter, setting (latar tempat dan waktu), alur, dan tujuan. Fokus pada empat ini dan creative writing sudah bisa terbentuk. Bahkan sebuah iklan baris pun bisa disebut creative writing.

Selanjutnya Mba Rijo memberi tips seputar menjaga mood menulis, dan pengalaman dalam menerbitkan buku. Senang sekali menyimak paparan Mba Rijo, menyadarkan diri untuk “just do it”. Karena dari eksekusi itu akan terbentuk pengalaman dan pelajaran berharga. Ada satu pesan yang powerful disisipkan oleh Mba Rijo, “ini saatnya kita berubah dari passion menjadi mastering”. Beuh!

Semoga ini menjadi awal untuk mulai semangat menulis lagi. Everything just come in time for me to write, all over again. Terima kasih banyak Mba Rijo! Oiya, kalian bisa baca-baca tulisan Mba Rijo di www.rijotobing.wordpress.com yaa.

Semangaaattt!


#creativewriting
#writingfromhome
#KLIP

Comments

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool