Skip to main content

Semoga Kita Tidak Menjadi Orang Semacam Ini di Dunia Maya

Sebutan "dunia maya" sepertinya sangat melenakan bagi sebagian orang. Seolah apa yang terjadi di dunia maya itu yaa tidak nyata, hanya semacam mimpi yang tidak perlu dipertanggungjawabkan, tidak ada konsekuensi. Padahal, dunia maya itu sekarang nggak maya-maya amat.


Orang yang tidak menepati janji


Di dunia maya maupun dunia nyata, keberadaan orang-orang yang tidak menepati janji itu sangat mengganggu. Contohnya ketika berjanji, “sebelum jam 8 akan aku WA”. Tiba-tiba sudah jam 9 masih saja belum nge-WA. Lalu keesokan harinya tinggal mengirim pesan, “maaf”. Mudah sekali mengucapkan maaf melalui pesan singkat, apalagi jika dalam sebuah grup. Padahal janji tetaplah janji. Di dunia maya dan nyata, sekecil apa pun, berusahalah menepati janji. Janji adalah utang, dan akan ada yang menagih utang tersebut. Jangan meremehkan janji hanya karena merasa "ini dunia maya".


Orang yang tidak amanah


Dengan banyaknya kegiatan di dunia maya, grup WA, Zoom, dsb, tak sedikit orang yang memegang amanah sebagai admin atau ketua grup WA. Mungkin, sebagian orang melihat ini hanya sebagai amanah yang remeh dan sepele. Namun, amanah tetaplah amanah, di mana pun itu. Jalankanlah dengan komitmen dan lakukan sebaik mungkin. Bagaimana jika ternyata tidak sanggup? Ya, katakan terus terang bahwa tidak sanggup menjalankan amanah karena ada udzur, delegasikan amanah itu pada orang lain sehingga tak ada yang terzalimi. Ya ampun, berat amat ya sampe menzalimi. Tapi sungguh, amanah, walaupun di dunia maya, tetaplah amanah, ada konsekuensi di dalamnya. Maka, jangan asal mengambil amanah. Ini pengingat bagi saya sendiri juga. Semoga bisa selalu menjaga amanah dengan baik.


Tidak menyimak


Begini ya, ketika kita mengikuti sebuah grup WA, tentu ada konsekuensi, salah satunya konsekuensi untuk berkomunikasi dengan orang lain di grup tersebut. Nah, ketika kita bergabung dengan grup, yaa ikutilah aturan grup, simaklah perbincangan di dalamnya terutama jika itu memang di bawah otoritas kita. Jangan hanya men-skip chat yang sudah ratusan padahal di dalamnya ada info penting. Kemudian ujung-ujungnya hanya bertanya, “ada info apa ya?”. Alamaak.. Tinggal baca lhoo…


Merasa paling ….


Kadang ini terjadi tanpa disadari. Lagi-lagi, ketika kita mengikuti sebuah grup WA, apalagi sebuah grup yang dibentuk untuk belajar, maka ada konsekuensi untuk menyimak dan ya belajar. Tapi, tak jarang kita bergabung ke sebuah grup belajar, kemudian ternyata kita tak sempat untuk menyimak, lalu ujug-ujug hadir hanya untuk bilang, “duh, aku sibuk banget, nih”. Merasa paling sibuk se-grup WA. Wkwk...


Begini ya, setiap orang juga punya kesibukan, bedanya, sebagian orang bisa mengaturnya, sebagian lain yaa … entahlah. Terlebih jika karena kita lalu kegiatan grup jadi terhambat, sungguh itu fatal sekali.


Ada cara sederhana untuk mengatasi itu semua, yaitu dengan komunikasi. Jika sibuk, maka komunikasikan baik-baik sebelumnya, dan usahakan mencari orang untuk meng-handle tugas tersebut. Sehingga kesibukan kita pribadi tidak menghambat gerakan orang lain yang sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan mereka.


Sadari kapasitas diri. Jika kita hanya mampu mengikuti sekian grup, atau mengikuti sekian kelas online, ya, patuhlah pada kapasitas itu. Jangan karena penasaran atau semata “ingin” dan mengikuti semuanya padahal tidak bisa di-handle dengan baik.


Astaghfirullah.. Ini semua pengingat untuk saya pribadi juga yang masih suka laper mata dengan banyaknya kelas-kelas di dunia maya. Padahal saat ini, dunia maya itu tidak maya-maya banget, dunia maya itu sekarang sudah menjadi kenyataan.



Comments

  1. Kok...
    Aku jadi mau nangiiisss...kejadian banget di Aku.

    Syukron kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho, kok nangiiss lendy chingu?? hikss..

      sama-sama, Kakak.. :)

      Delete
  2. Ahh benar ya seperti ini..
    Banyak banyak gigit lidah lah skrg ya, biar nggak banyak melukai orang lain .
    Makasih remindernya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mba.. reminder pribadi juga ini..huhuuu..

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool