Skip to main content

Dramatis! Pengalaman Pertama Mengganti Tabung Gas

Hahaha. Saya selalu geli sendiri kalau ingat pengalaman pertama mengganti tabung gas. Tepatnya tabung gas tiga kilogram yang dulu sempat diisukan banyak kejadian tabung meledak.


Jadi, pertama kalinya saya—dan suami—mengganti tabung gas yaitu ketika baru menikah. Sekitar empat tahun lalu. Sebelumnya kami sama-sama nol pengalaman dalam hal ini. Cuma pernah ngeliatin emak di rumah ganti tabung gas santai banget. Wkwk.


Nah, pas ganti tabung gas dulu itu, yang kami lakukan pertama kali adalah mencari step by step yang tepat—di Google tentu saja. Kami membuka jendela, dan pintu, seperti disebut dalam petunjuk.


Kemudian, kami juga memakai APD berupa helm dan jaket—ini tidak ada dalam petunjuk ya. Setelah semua terasa aman, kami tak lupa berdoa. Pokoknya lama banget lah ancang-ancangnya. 


Proses penggantian pun dimulai, dan alhamdulillah lancar. Langkah selanjutnya yang tak kalah dagdigdug adalah mengecek apakah kompor bisa menyala lagi. Suami siap-siap, saya social distance alias jaga jarak. Wkwk. Allhamdulillah berhasil! Menguras emosi sekali saat itu.


Benarlah kata orang, langkah pertama itu biasanya yang paling sulit. Pengalaman kedua, ketiga, dan ketiga puluh sekian sudah tidak lebay lagi, dan tidak lucu. Sudah biasa saja, tapi tetap dengan protokol keamananmembuka pintu atau jendela. Tanpa helm tentunya. Hehe. 


#ruliskompakan

#pengalamanpertama


Comments

  1. Hahhah, bisa di bayangkan gmn tegang nya saat aksi coba hidupin api kompor gas nya.. tp pasti beneran seru klo di ingat" ya mbak..

    ReplyDelete
  2. Ahahahah..aku tak ingat pengalaman pertama mengganti tabung gas, tapi ngebayangin mba vidi kayanya kocak bgt!

    ReplyDelete
    Replies
    1. sejak remaja udah bisa ya mak? hebat euy..

      Delete
  3. Alhamdulillah yak, skrg udah bisa..kalo ngga mah repot..wkwk

    ReplyDelete
  4. Mbak Vidi.. br baca 🤭
    Aku sampe baca ayat kursi ganti gas pertama kali 🤣🤣
    Sebelumnya pantengin youtube caranya gimana

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool