Review Starting Over Karya Titi Sanaria



 Judul: Starting Over

Penulis: Titi Sanaria

Tahun Terbit: 2019

Penerbit: Elex Media

Tebal: 394 halaman


Starting Over adalah novel ketiga Titi Sanaria yang saya baca. Dua novel sebelumnya yaitu Dirt on My Boots dan Midnight Prince telah berhasil membuat saya penasaran dengan karya Titi Sanaria yang lain. Bagaimana dengan Starting Over? Oke, saya akan mulai dengan blurb novel ini.

***

Hubungan mereka hanya berlandaskan physical attraction, awalnya Prita mengira begitu, Hanya ketertarikan fisik semata. Tidak lebih. Dia mengagumi Erlan yang tampan dengan setela kantor yang membuatnya terlihat sempurna. Namun, waktu telah membantu dia menyadari bahwa perasaannya kepada laki-laki itu mulai berkembang.

Hanya ketertarikan fisik, Erlan mendengar pengakuan itu berulang kali dari mulut Prita. Sementara dia sendiri gamang atas perasaannya, Dia nyaman berada di sisi putri tunggal bosnya itu. Akan tetapi, logika terus mengingkari rasa bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Prita.

Ya, tidak ada jatuh cinta dalam kamus Erlan, awalnya begitu. Namun, apa yang kira-kira tidak bisa dilakukan oleh kekuatan cinta?

***

Sekarang saya mulai review. Eh, kok serius banget gini bawaannya? Wkwk. 

Starting Over dibuka dengan bab-bab yang cukup menjanjikan dan membuat saya tertarik mengetahui lebih lanjut kisah Erlan dan Prita. Namun, jauh berbeda dengan DOMB dan Midnight Prince, Starting Over justru membuat saya nyaris berhenti membaca karena bosan.

Di sini saya tidak mendapati banyak deskripsi-deskripsi liar nan mengocok perut layaknya DOMB. Tetapi tidak juga terhanyut perasaan atau mendayu-dayu layaknya Midnight Prince. Semua serbatanggung. Masa lalu Erlan yang begitu kelam, dieksekusi dengan, yaa begitu saja.

Perasaan Prita yang begitu natural, yaa tidak terlalu gimana-gimana. Bahkan cerita tentang Orlin dan Bastian yang disorot di awal, nyatanya tak dilanjutkan. Tentu ini membuat saya gemas!

Ada beberapa bagian yang tampak seperti hanya untuk memperpanjang cerita tanpa ada kemajuan. Tokoh si cowo figuran, saya bahkan sudah lupa namanya, itu ya juga cuma gitu aja, ga ada peran yang lebih menarik dari tokoh itu.

Dan, yang paling bikin gemes, adalah plot hole. Di entah bab berapa, diceritakan si cowo itu main ke kantor Prita, kemudian dia ke kamar mandi, lalu Erlan datang. Abis itu ga diceritain lagi ke mana si cowo itu. Apakah ia hilang lenyap di kamar mandi? Atau ketiduran di sana? Wkwk.

Udah kelihatan jelas kan kekecewaan saya dengan novel ini? Yap, padahal ini lebih tebal dari dua novel lain yang saya baca. Mungkin ekspektasi saya juga yang terlalu gimana. Huff.

Saya sih masih penasaran dengan novel-novel lainnya Titi Sanaria, tapi ngga maraton lagi dulu deh. Rehat sejenak, baru kita starting over. Hehe. 




Comments

Popular posts from this blog

Resensi Novel "Represi"

Pengalaman Kuret Setelah Melahirkan

Resensi Teruslah Bodoh Jangan Pintar (Tere Liye)