08 July 2022

Review Buku: Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar

Judul: Si Kembar dan Tantangan Profesor Haydar

Penulis: Reytia

Tahun terbit: 2022

Penerbit: Forsen Books

Jika Anda sedang mencari bacaan ringan nan sarat makna, bisa dinikmati oleh anak sekaligus orang tua, buku inilah jawabannya. Ah, sampai speechless saya membahas novel satu ini, saking terpesonanya. Hihii.

Begini lho, saya kurang suka buku anak, atau buku remaja, karena merasa tidak relate gitu. Wong sudah emak-emak, kok, baca buku anak/remaja? Eh, tapi ternyataaa, buku ini sangat nikmat dibaca (apakah artinya saya masih berjiwa remaja? wkwk).


Sekilas tentang isi buku:

Novel ini bercerita tentang Khalid dan Aya, anak kembar yang mendadak rebel dan tidak ingin puasa Ramadan karena termakan pendapat ngawur di internet. Padahal tahun sebelumnya, kedua anak ini sudah bisa puasa Ramadan full. Toh, mereka memang sudah 11 tahun, sudah sepatutnya sanggup puasa.


Menghadapi perubahan sikap yang mendadak ini, orang tua Aya dan Khalid pun bingung. Untunglah mereka punya kakek yang bijak yaitu Profesor Haydar. Iya, mereka juga beruntung karena kakeknya itu seorang profesor. Sang kakek lantas turun tangan untuk meluruskan lagi pemikiran cucunya yang agak-agak oleng. Wkwk. 


Pertanyaannya, berhasilkah sang kakek profesor mengembalikan cucunya ke jalan yang benar? Apa sebenarnya hal besar yang membuat si kembar membelot? Apa saja cara yang ditempuh kakek? Bisakah kita sebagai orang tua menirunya? Atau setelah menjadi kakek-nenek baru kita bisa seperti itu? Hyahahaha. Tentu saja saya tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu karena akan spoiler besar-besaran.


Review:

Walaupun sebenarnya buku ini adalah buku anak/remaja, tetapi di dalamnya sarat nilai-nilai pengasuhan. Misalnya ketika Profesor Haydar berusaha membimbing cucu-cucunya untuk kembali ke jalan yang lurus. Bukan dengan cara tarik urat dan debat, tetapi dengan cara yang cerdas. Juga bagaimana sikap orang tua si kembar yang mungkin mirip dengan orang tua zaman sekarang ini. 


Nilai yang juga menjadi sorotan dalam novel ini adalah ilmu agama. Ya, nilai-nilai agama dalam cerita si kembar ini bukan hanya tempelan, melainkan memang mendominasi. Melalui tokoh kakek yang berilmu, pembaca disajikan secuplik kisah shahabiyah, syariat puasa, dan pentingnya ilmu agama. Di sinilah pembaca yang fakir ilmu seperti saya merasa tergetuk. Wah, salut deh sama penulisnya karena bisa menyajikan pelajaran agama dengan bahasan yang ringan dan batasan yang “aman” bagi semua usia.


Selesai membaca novel ini membuat saya sebagai orang tua merenung. Bagaimana jika suatu hari nanti anak-anak menanyakan sesuatu atau membantah sesuatu yang berkaitan dengan agama, dan saya tidak bisa memahamkan mereka? Ditambah lagi kami tidak punya keluarga bergelar profesor. Wkwk. Maka jawabannya hanya satu, orang tua harus serius menuntut ilmu agama dengan benar. Harus.


Anyway, saya juga suka dengan layout buku ini. It’s nice

Sekian review novel ini. Kalau kalian tertarik membeli bukunya silakan follow ig penulisnya @reytia dan tanya langsung, yaa. 


26 February 2022

Resensi Novel: Home Sweet Loan

Home Sweet Loan

Judul: Home Sweet Loan

Penulis: Almira Bastari

Tahun Terbit: 2022

Jumlah halaman: 312


Untuk kesekian kalinya, saya teracuni oleh seorang kawan untuk membaca sebuah novel. Sudah lama rasanya saya tidak sesemangat ini untuk membeli, lalu membuka bungkus novel. Padahal akhir-akhir ini semangat baca lagi anjlok. Tapi untuk novel satu ini entahlah, semangat aja, mungkin karena dari baca blurbnya berasa relate banget. Wkwk.

Cerita:

So, what is this novel about? Berjudul Home Sweet Loan, karya ke xxx dari Almira Bastari ini mengangkat tema RUMAH, baik secara fisik maupun maknawi. Bercerita tentang empat orang sahabat yang sedang mencari rumah, dengan alasan berbeda-beda. Kriteria rumah yang dicari pun berbeda-beda, tentu bujetnya juga beda. Jauh.

Tokoh utama bernama Kaluna, seorang wanita karir, lajang, usia 31 tahun, yang dengan tabungan hasil kerjanya masih sulit mencari rumah di Jakarta. Setelah survey ke beberapa rumah/apartemen, ada yang sesuai bujet, tapi ga sesuai keinginan, atau sebaliknya. Padahal Kaluna tidak sabar ingin pindah ke rumah sendiri karena penat tinggal di rumah orang tuanya.

Bukan apa, di rumah orang tuanya penuh sesak dengan keluarga dua kakaknya yang sudah menikah dan punya anak. Kebayang, sih, penatnya kayak gimana, plus segala konflik keluarga di dalamnya. Belum lagi, Kaluna sendiri sudah ditanya terus sama ortunya, “kapan nikah?”. 

Yang saya suka:

Ada beberapa hal yang membuat saya bisa segera selesai membaca novel ini, tetapi yang paling utama adalah karena konflik yang diangkat sangat dekat dengan kenyataan. Kenyataannya, di usia saya 31 tahun ini, saya memang heboh mencari rumah. Dengan adanya novel yang mengangkat realita ini, saya rasa banyak orang seumuran yang memiliki masalah yang sama: mencari rumah.

Beberapa celotehan Kaluna ketika survey-survey rumah juga pernah tebersit dalam pikiran saya. Misalnya, “orang-orang yang bisa beli rumah di sini kerjanya apaan yak?”, ketika melihat rumah mewah super mahal.

Novel ini juga menambah wawasan kita tentang serba-serbi pencarian rumah/apartemen. Ternyata apartemen tuh begitu, daerah sana tuh begini, dst. Apalagi latar tempat yang dipakai di Jakarta Selatan dan sekitarnya yang familiar dengan saya.

Karena itu saya jadi penasaran bagaimana nasib Kaluna. Apakah berhasil menemukan rumah yang sesuai bujet? Kalau iya, mungkin saya bisa dapat bocoran daerah mana. Hahaha. 

Konflik Kaluna dengan kakak-kakak dan iparnya juga sangat real. Walaupun tidak pernah benar-benar berada di kondisi seperti itu, tapi narasi dan dialog dalam novel ini membuat kita bisa membayangkan betapa dongkolnya Kaluna tiap pulang ke rumah. 

Secara latar waktu, novel ini dikisahkan kekinian banget, mengambil latar pandemi. Jadi terasa lebih segar, dan makin relate ya kan dengan keadaan sekarang. 

Yang kurang sreg:

Selain hal-hal di atas, ada juga yang saya kurang sreg dari novel ini. Seperti banyaknya informasi tentang perumahan, ada bagian yang terasa too much gitu. Tapi yaa gimana, kan emang temanya itu yak. Wkwk…

Kemudian, latar pandemi yang lama-lama memudar. Di awal disebut bahwa Kaluna tipe yang ketat terhadap prokes, tapi makin lama kayaknya biasa aja. Memang, itu tidak memengaruhi jalan cerita sih.

Dan satu lagi, si tokoh utama justru agak kurang menonjol karakternya dibanding teman-temannya. Maksudnya, teman-temannya seperti punya ciri khas sendiri, yang centil, pinter, yang bijak, dst. Hal itu membuat Kaluna jadi tampak biasa saja.

Kesimpulannya:

Novel ini recommended buat yang generasi seumuran saya yang bisa relate. Menghibur, menambah wawasan, menambah sudut pandang terhadap masalah-masalah di sekitar. Tidak ada, atau minim, romance di sini, cocok bagi yang sedang tidak ingin drama percintaan. Karena drama pencarian rumah aja udah bikin mumet. Wkwk. .