06 January 2026

Review Novel Pengantin Remaja (Ken Terate)



Di minggu pertama tahun ini, akhirnya aku selesai membaca satu novel berjudul Pengantin Remaja. Ini adalah novel kedua karya Ken Terate yang kubaca, sebelumnya aku pernah baca Minoel. Nah, Pengantin Remaja ini ada miripnya dengan Minoel, tapi tetap menarik dan greget tentunya. Novel yang bikin gemes gini adalah pilihan yang cukup pas di awal tahun, biar tetap semangat membaca. Haha.

Ok, jadi Pengantin Remaja ini bukan cerita tentang sepasang remaja yang menikah karena hamil duluan. Bukan. Si tokoh utama, Pipit (16 tahun), memang kebelet nikah dengan pacarnya yang bernama Pongky (18 tahun). Walaupun ibunya Pipit menentang, tapi ayahnya dan si Pipit sendiri sangat ngotot. Terjadilah pernikahan itu.

Ah, sebagai emak-emak, tentu ini membuatku misuh-misuh dalam hati. “Kamu itu masih kecil, miskin, bodoh, kok ya nikah. Dikiranya nikah enak apa? Dengerin itu ibumu!” begitulah kurang lebih. Tapi ya, kalau si Pipit denger nasihat ibunya tentu jadi kurang menarik dong ceritanya. 

Nikah dan kawinlah kedua remaja ngeyel ini. Dan terjadilah apa yang sudah diduga. Keduanya menjalani kehidupan pernikahan yang sulit di lembah kemiskinan, kebodohan, dan kemalasan–tepatnya si Pongky yang malas. Ditambah lagi keluarga mertua yang aduhai kurang asem. Lengkap sudah nasib buruk Pipit.

Saat itulah si Pipit ini menyadari kebodohannya. Namun, menyesali kebodohan itu saja tidak cukup membukakan matanya. Ia harus menjalani kehidupan yang lebih ruwet setelah hamil dan punya bayi, baru kemudian ia berani mengambil langkah tepat untuk mengubah nasibnya.

Ah, sebuah cerita yang menguras emosi, karena aku tahu, ini bukan sekadar cerita. Ada banyak Pipit di luar sana, di kampung-kampung, yang terperosok dalam lingkaran setan berupa kemiskinan dan kebodohan. Memang sulit keluar dari jerat itu. Dan sayangnya tidak mudah juga menempuh jalan keluar seperti yang dilakukan Pipit.

Aku suka dengan novel ini karena mengambil sudut pandang tokoh utama yaitu Pipit yang masih muda belia dan polos. Karakter Pipit yang perlahan menyadari kesalahannya, bahkan berkontemplasi tentang dirinya di masa lalu itu sangat menyentuh. Untuk ending-nya, menurutku agak terlalu mulus, tapi memang memberi efek manis, sih. Kalau didetailkan mungkin akan terlalu panjang juga.
 
Novel yang sangat bagus dibaca oleh para remaja dengan karakteristik sosial yang mirip dengan Pipit. Kisah Pipit menjadi pengingat bagi siapa saja yang ingin mengambil jalan yang sama, agar tidak ikut menderita. Selain dalam bentuk buku cetak, novel terbitan tahun 2022 ini juga bisa dibaca di Gramedia Digital.

Share:

0 comments:

Post a Comment