Di sore hari yang cerah, sekitar tahun 2002, dua orang anak perempuan–salah satunya aku–sedang beradu cepat mengayuh sepeda di jalanan komplek. Aku memacu sepeda dengan penuh semangat. Namun, tiba-tiba, aku mengayuh sangat cepat. Bukan karena temanku sudah jauh di depan, tapi karena seekor anjing mengejarku!
Itu anjing milik salah satu penghuni komplek yang dibiarkan bebas. Aku kaget karena anjing itu menggonggong dengan lantam dan berlari kencang persis di belakang sepedaku. Mendadak rasa takut menyergap. Aku melaju terlalu cepat dan kehilangan kendali. Brakk! Sepeda menabrak parit, aku terjerembap ke semak-semak.
Untungnya, anjing itu berhenti mengejar dan berbalik arah, meninggalkanku yang sudah memar-memar karena jatuh. Rasa takut karena ancaman digigit anjing pun hilang. Namun, ketakutan lain muncul. Aku takut dimarahi ibu.
Ah, membahas tentang perasaan, rasa takut sepertinya jadi salah satu yang sering dibahas. Seolah, hidup memang hanya tentang berpindah dari rasa takut yang satu ke rasa takut yang lain. Banyak sekali ketakutan yang membayangi. Apalagi bagi seorang perempuan.
Ketika perempuan bicara rasa, perasaan satu ini tidak terelakkan. Takut. Semasa kecil sampai remaja, takut dengan maraknya catcalling. Ketika menikah, takut tidak bisa menjadi istri yang baik. Saat hamil, takut dengan proses kehamilan dan persalinan yang menyakitkan. Ketika punya anak, makin banyak saja yang bisa membuat perasaan takut itu muncul.
Salah satunya rasa takut yang kerap kurasakan akhir-akhir ini menjelang tahun ajaran baru. Anak keduaku akan masuk sekolah playgroup. Ada rasa takut dan cemas yang tidak kurasakan sebelumnya ketika anak pertama mulai sekolah. Pasalnya, anak keduaku ini memang beda, dia … spesial.
Dia memiliki gangguan komunikasi dan interaksi sosial atau yang dikenal dengan autisme. Sisi spesialnya ini membuatku takut akan kehidupan sosialnya di sekolah. Aku takut ia tidak happy, takut dia dianggap aneh, takut ia tidak diterima. Selain itu, aku juga takut dinilai sebagai ibu yang gagal. Jangan-jangan, aku memang ibu yang gagal?
Perasaan-perasaan itu bercampur aduk dan terus menumpuk. Seolah semua yang kutakutkan itu pasti menjadi nyata. Aku mulai meragukan langkah yang sudah kuambil untuk menyekolahkan anak spesialku ini. Berbagai tanya berkelindan tanpa jawaban, hingga aku mendengar sebuah penjelasan dari seorang dokter spesialis kejiwaan.
Dalam salah satu video di channel Youtube-nya, Dokter Jiemi Ardian, Sp.KJ menjelaskan bahwa perasaan kita bukanlah realita. “Kita merasa Bumi itu datar, tidak membuat Bumi jadi datar,” tegasnya. Perasaan bukanlah realita, tetapi perasaan yang terus menerus muncul dan diyakini sebagai kebenaran, bisa memengaruhi realita kita. Demikian penjelasan beliau dalam video berjudul “Belief & Knowledge”.
Ini adalah berita baik bagiku yang sedang galau dan takut. Perasaan bahwa aku adalah ibu yang gagal, tidak berarti benar begitu. Semua itu hanyalah perasaan, bukan kebenaran yang pasti terjadi.
Di sisi lain, ini juga sebuah pengingat kalau aku harus mulai mengubah perasaan-perasaan ini. Jika tidak, perasaan takut ini akan bercokol dan menjadi keyakinan yang berefek buruk di realita kehidupanku. Akan tetapi, bagaimana mengubahnya? Salah satu caranya, menurut Dokter Jiemi, dengan bicara kepada teman, atau konsultasi dengan ahli, seperti psikolog dan psikiater.
Bagiku pribadi, menulis di blog ini adalah salah satu solusinya. Di blog ini, aku bisa menuangkan dengan leluasa segala perasaan yang berkecamuk, sekaligus memisahkan antara perasaan dan kenyataan. Selain itu, menulis juga menjadi caraku berbagi, siapa tahu ada perempuan lain yang merasakan hal serupa, dan tulisan ini bisa membantunya. So, it’s a win win solution.
Selain itu, aku juga meyakini kalau ini semua adalah takdir Allah, dan Allah akan memberikan solusi terbaik. Menjalaninya dengan penuh doa dan harapan sepertinya adalah cara meredam segala ketakutan.
Bagaimana denganmu? Apa yang sedang kamu rasakan? Bagaimana mengatasinya? Yuk, sharing di kolom komentar. Oh, by the way, sampai sekarang aku masih takut dengan anjing. 🙂
#Journeyto6thIpedia
#SuaraKitaCeritaKita
#IpediaBeritaBaik

0 comments:
Post a Comment