Skip to main content

Ketika Membuka Folder Lama

Secara tak sengaja, beberapa hari lalu aku membuka sebuah folder di Google Drive. Folder ini kutransfer beberapa tahun lalu dari laptop. Iseng-iseng kubuka folder itu. Agak heran juga karena pernah aku mencari folder itu tapi tidak ketemu. Eh, ternyata ketemu ketika tidak dicari. Yang menarik—dan memalukan—adalah isi folder tersebut.

Folder itu berisi tentang pengalamanku ketika mengikuti program first reader di salah satu penerbit. Kala itu aku masuk di tim first reader genre horor, padahal mah nyaris ngga pernah baca novel horor. Wkwk. Nah, tugas sebagai first reader adalah memberi penilaian pada naskah. Tentu saja kami tidak diberi tahu siapa penulis naskah itu, jadi kami leluasa untuk (sok-sokan) mengoreksi. File koreksian itulah yang kutemukan dalam folder lama. Kubaca lagi penilaianku saat itu.

Alamaak, nggaya bangetlah aku ngomentarin novel itu. Serasa ahli, padahal belum punya karya yang terbit—saat itu. Tapi memang, di program first reader itu kami dituntut super kritis pada naskah dari berbagai sisi. Bahkan kami ikut memberi pendapat tentang layout novelnya.

Beberapa waktu berselang, naskah tersebut akhirnya resmi diterbitkan. Aku melihatnya berjejer di toko buku. Rupanya, naskah yang kami kritisi itu adalah karya seorang penulis yang cukup tenar. Wadaww.. Jadi malu sendiri, lho, pas baca ulang penilaianku dulu. Ya ampun, berasa apa gitu, bilang alurnya begini, diksinya begitu, dsb. Haha.

Tapi novel itu sekarang sepertinya banyak disukai penggemar genre horor. Kemudian terlintas dalam benakku, mungkin segala kritik pahit dari editor itu ibarat lapis pertama aral yang harus dihadapi penulis. Sebelum menghadapi khalayak nantinya, masukan dari editor harus lebih dulu dilahap. Supaya kelak tak kaget jika ada yang mengkritisi karyanya. Karena sebuah karya pasti ada yang suka dan ada yang tidak. Jika ada karya yang tak memiliki penggemar atau pembenci, maka itu adalah karya yang tak pernah ditunjukkan. Seperti halnya sebagian besar tulisanku yang masih setia ngumpet di Google Drive. Haha.

Comments

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool