Skip to main content

Book Review: Let’s Go to Europe

For the second week of Read and Review challenge, I choose a book from iPusnas.
Actually, I’m not sure that it is “a book”, because it’s just one short story from a book 30 Paspor di Kelas Sang Profesor. But, since it’s available at iPusnas, and it’s somewhat called “e-lite”, so, I just go with it. Hehe..

This book is about a student of Prof. Rhenald Kasali in International Marketing class. Prof. Rhenald always require his student to go abroad, see new things, take adventure, within 1.5 months. Of course, the most asked question is, “how could they get the money to go abroad?” Now, that’s the challenge. 

The story I read is about a student who choose to go to Europe. He saved money from his internship and other job, and he also received some money from his parent. Then he went to some countries in Europe.

Well, after reading this story I kind of curious to read another stories. But, on the other hand, I feel this story is just a usual travel story if not less. I thought I would find some exciting parts, or challenging event, or any unusual event. But, there's nothing really interesting. So, that’s why I want to know the other stories.

Here’s the link of the book if you want to read the book: http://webadmin.ipusnas.id/ipusnas/publications/books/122804/

But first you have to install the iPusnas application.

Comments

  1. tau gak sih? pertama aku baca tulisan ini aku merasa membaca bahasa Indonesia. Terus paragraf kedua bingung "kok tumben mbk vidi nulis campur-campur sama bahasa inggris"

    Trs naik lagi aku baca keatas. Ternyata emang dari awal nulisnya bahasa inggris ternyata 😅

    Kl ngomongin buku tentang perjalanan ke Eropa itu aku teringat novel "Belok kanan Barcelona"

    ReplyDelete
  2. Ihiiiyy, saking akrabnya dengan bahasa Inggris ya kan, jadi berasanya baca bahasa Indonesia..
    Iseng aja ini nulis pake bahasa Inggris..hehe..

    Klo ngmongin travel2 gitu malah aku ingetnya mba ainun..XD

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool