25 February 2021

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon, Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I, novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat.


Judul: The Star and I

Penulis: Ilana Tan

Penerbit: Gramedia

Tahun terbit: 2021

Tebal: 344 halaman



Spoiler alert!

Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I. Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik.


Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah.


Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool, baik hati (pada beberapa orang).  Chemistry antara Ollie dan Rex yang sudah berteman sejak balita juga digambarkan dengan pas, tidak berlebihan. Pembaca bisa menerima dan merasakan emosi itu.


Tidak klise. Ya, novel ini mengangkat premis tentang Ollie yang mencari ibunya, dan dia menemukannya dengan bantuan penyelidik. Ibu kandungnya bukanlah seorang yang selama ini dia kenal, atau orang yang punya ikatan dengan orang yang akrab dengannya. Ini logis dan tidak klise menurutku. Alur pencarian ibunya pun dibuat begitu runut, rapi. Tidak ujug-ujug, tidak juga terlalu rumit.


Sementara hubungan antara Ollie dan Rex juga begitu dewasa. Bukan dewasa yang macem-macem, ya. Di sini tidak ada adegan aneh-aneh, ga ada kissing juga. Justru, emosi antara keduanya dibangun dari tindakan saling mendukung, tanpa banyak mengumbar kata cinta. Toh, mereka teman sejak kecil, jadi sudah saling pengertian gitu.

"Adakalanya orang-orang yang menghilang adalah orang-orang yang tidak ingin ditemukan." 
-Robert Ramford 

Novel-novel Ilana Tan memang setting-nya di luar negeri, tapi tak lantas begitu saja menggambarkan budaya luar yang bebas. Semua ceritanya disesuaikan dengan budaya di Indonesia. Terlihat sangat sopan dibanding cerita aneh bin ajaib yang berkembang sekarang--di platform online terutama.


Bagi penggemar karya-karya Ilana Tan kurasa akan senang dengan novel ini. Mungkin melebihi In A Blue Moon dan seri empat musim. Sedangkan bagi penggemar cerita “fantastis” atau “heboh”, cerita dengan judul yang membocorkan keseluruhan cerita, ini tentu tidak cocok. 


======================End of review=====================


Bulan ini aku berhasil menamatkan dua novel, tapi sepertinya gagal menamatkan novel Agatha Christie. Padahal lagi ikut challenge dari @Fiksigpu. Hiks.


Ngomong-ngomong, aku sendiri mulai heran, kenapa kalau novel bisa cepet bener bacanya. Sedangkan buku parenting dan nonfiksi lainnya udah mengantre sejak kapan belum ada tanda bakal kelar. Wkwk.


Dan karena sebentar lagi bulan Ramadhan (sekitar 46 hari lagi!), sepertinya aku akan beralih membaca buku-buku nonfiksi yang menumpuk dulu. Karena beneran udah menumpuk, dan pada belum kelar. Ada yang belum dibaca sama sekali. Duh. Khususnya buku-buku agama. Jadi jangan kaget, ya, kalau tiba-tiba aku post tentang buku religi. Wkwk. Semoga benar-benar bisa baca sampai selesai dan mengamalkannya. Aamiin. 


24 February 2021

Review Novel Teluk Alaska

Hmm… Aku sejujurnya bingung memulai dari mana. Tapi karena buku ini sudah dibaca, walaupun skimming di beberapa bagian, jadi aku akan tetap menulis review.


Judul: Teluk Alaska

Penulis: Eka Aryani

Penerbit: Coconut Books

Tahun terbit: 2019

Tebal: 407 halaman


Sinopsis:

Teluk Alaska bercerita tentang Ana, siswi kelas IX, yang selalu di-bully oleh teman (?) sekelasnya. Yang hobi mem-bully adalah geng “penguasa sekolah”. Ana ini walaupun sering mengalami perundungan, dia tetap saja diam, kalem, senyum, di depan para pem-bully. Sampai akhirnya mulai terjadi perubahan yang entah bagaimana gitu. Salah satu pem-bully perlahan jatuh cintrong. And so on..


Review (spoiler alert):

Sepertinya aku perlu disclaimer dulu: ini bukan tipe cerita favoritku. Maksudnya, aku suka cerita romance, tapi bukan romance remaja SMA. Jadi aku kurang bisa menikmati novel ini.  Ada beberapa sebab, tentunya. Pertama, terlalu bucin--tidak perlu dijelasin lah, ya. Pokoknya gitu dah, bucin ala remaja yang baru mengenal suka-sukaan dan seakan dunia milik berdua.


Kedua, adegan yang repetitif sehingga menjadi (terlalu) klise. Bayangkan, ada tiga kali adegan si cewe-cowo ini hujan-hujanan berdua. Duh, ga masuk angin apa? Ketiga, terlalu banyak kata sifat, kurang deskripsi. Aku juga bukan pencinta deskripsi yang terlalu detail. Namun, ga sesingkat “ibunya cantik”, atau “awet muda”, gitu juga lah, ya. Kan bisa dijelasin lebih detail gimana cantiknya. Atau tentang latar tempat. Ngga cuma “awan mendung” aja. Ya kan? 


Keempat, plot hole. Ada banyak sisi yang aneh, menurutku. Misal, si geng penguasa sekolah ini dikesankan anak-anak orang kaya. Tapi ternyata yang kaya cuma satu orang. Terus, di bagian akhir, time skip lima tahun, itu Ana diumpetin di mana? Is that even possible


Kelima, bertele-tele, tokoh utama yang terlalu sempurna. Bagian depan terlalu lambaaat. Lalu si tokoh utama seolah tanpa kekurangan. Sooo perfect: pinter banget, cantik, baik banget. Okay, kalau diterusin kayaknya ngga kelar-kelar. Kita skip ke bagian positifnya aja ya.


Mungkin karena usiaku juga sudah kepala tiga, jadi pandanganku agak beda terhadap novel remaja yang seperti ini. Namun, sebagai orang tua, ada pesan penting yang bisa diambil: didiklah anak dengan baik! Supaya ga bucin-bucin-an, dan ga menjadi pem-bully, atau di-bully kelak. :)


Btw, aku baca novel ini karena direkomen oleh seorang kawan. Kawanku ini orangnya positif sekali, ngga kayak aku. Wkwk. Jadi mungkin dia bisa melihat lebih banyak sisi positif dari novel ini. Iya, ngga, Mba? X)