19 January 2020

Lima Hal yang Membuat Bartimaeus Trilogy Menarik


(Tiga Cover buku Bartimaeus Trilogy)

“Don’t worry though, Nat. You’re not totally alone. You’ve always got me.”

 
Oke, to the point saja ya. I love this book. I love the trilogy, especially the last one: Ptolemy’s Gate. Trilogi Bartimaeus bukanlah buku baru. Seri pertamanya yang berjudul Amulet Samarkand terbit tahun 2003, buku kedua Golem’s Eye tahun 2004, dan Ptolemy’s Gate tahun 2005.
 
Bercerita tentang apa sih buku ini?
 
Trilogi Bartimaeus karya Jonathan Stroud bercerita tentang seorang anak bernama Nathaniel dan jin “kesayangannya” Bartimaeus. Keduanya melalui berbagai hal mengejutkan, menegangkan, demi mencapai impian Nathaniel yaitu memiliki kekuasaan di parlemen Inggris. 

Mengapa saya suka dengan trilogi ini?
 
Pertama, komposisi dialog dan narasi yang pas. Saya bukan pecinta deskripsi yang panjang lebar tentang sebuah latar. Itulah sebabnya saya menyerah membaca novel Perfume. Tapi Jonathan Stroud menciptakan komposisi yang pas dalam narasi dan dialog sehingga tidak membosankan. Apalagi Barty digambarkan memiliki selera humor yang tinggi. Pembaca dengan senang hati membaca catatan kaki yang bisa mencapai setengah halaman.

Kedua, menghubungkan dengan sejarah. Ada banyak kisah sejarah yang diungkit dalam novel ini. Menunjukkan bahwa penulisnya, Jonathan Stroud, memiliki wawasan luas dan riset mendalam tentang sejarah yang sesuai sebagai latar novel ini. Contohnya narasi dalam catatan kaki berikut ini:

“Atlas: marid dengan kekuatan luar biasa dan tubuh kekar, dipekerjakan penyihir Yunani Phidias untuk membangun Parthenon, sekitar tahun 440 SM. Atlas melalaikan tugas dan merusak pondasinya. Saat terlihat retakan, Phidias mengurung Atlas di bawah tanah, memerintahkannya menahan bangunan itu agar tidak roboh dalam jangka waktu tidak terbatas.”

Narasi ini dihubungkan dengan fakta bahwa bangunan Parthenon masih bertahan hingga sekarang.

Ketiga, humor dengan dosis sesuai. Ada novel yang terlalu mencoba lucu namun justru garing. Tapi tidak demikian dengan trilogi ini. Bartimaeus adalah jin yang humoris, terlebih saat berhadapan dengan Nathaniel yang sangat kaku dan serius. Bahkan ketika melawan musuh-musuh, Barty masih bisa melucu. Seperti yang satu ini:

Ia menarik napas kembali dan menunggu… Selusin pertanyaan lagi terbentuk di benakku--juga 22 solusi dari setiap pertanyaan, enam belas hipotesa akhir dan teori bantahan, delapan spekulasi abstrak, persamaan empat sisi, dua aksioma, dan sebuah pantun jenaka. Kira-kira seperti itulah kepandaianku.

Huahahaha. Itu adalah salah satu monolog narsis ala Bartimaeus.

Keempat, alur cerita yang begitu memukau. Sebagai pembaca buku pertama, kedua, ketiga, saya merasa terbawa dengan emosi yang ada dalam kisah Bartimaeus dan Nathaniel. Sejak awal perkenalan dan “kerja sama” mereka, sampai ending yang manis. Quote pertama yang saya tulis di awal adalah salah satu yang menggambarkan “persahabatan” antara keduanya di akhir buku ketiga.

Kelima, terjemahan sangat nyaman dibaca. Trilogi Bartimaeus aslinya berbahasa Inggris, tapi yang saya baca adalah versi bahasa Indonesia. Artinya, penerjemah memiliki peran penting. Sebuah karya yang bagus dalam bahasa Inggris bisa jadi tak disukai apabila terjemahannya kurang baik. Menurut saya Trilogi Bartimaeus ini memiliki terjemahan yang nyaman dibaca. Ada beberapa kata yang tetap dipertahankan dalam bahasa Inggris, dan memang itu yang terbaik, selama pembaca memahami maksudnya.

Itulah lima alasan saya menyukai kisah fiksi ini. Walaupun saya telah selesai membacanya sejak duduk di bangku kuliah, tapi ceritanya masih berkesan. Padahal sebenarnya saya kurang suka dengan sci-fi, lho. Saya tidak pernah membaca buku Harry Potter atau semacamnya. Tapi Bartimaeus ini memang menarik.

#TrilogyofBartimaeus

15 January 2020

Waroeng Steak yang Tak Seperti Dulu



Judul ini tampaknya terang-terangan sekali. Langsung menggambarkan apa yang akan saya tuliskan. Ya, saya akan menulis tentang Waroeng Steak and Shake atau sering saya sebut WS. Sebelumnya, ini bukan iklan atau paid promote, ya. Hahaha. (Ya iyalah, siapa juga yang mau paid promote di sini, yak!)

Ceritanya tadi siang saya iseng-iseng makan siang di WS bersama bapake dan bocil. Terakhir makan di WS sekitar enam bulan lalu, tapi waktu itu bersama teman dan di WS Ciputat. Sedangkan hari ini kami makan di WS Kebayoran. Dan walaupun namanya sama-sama WS, rupanya ada hal berbeda.

Setibanya kami di tempat, saya agak ragu, benarkah ini WS yang selama ini kukenal? Kenapa WS yang terkenal dengan kesan sederhana dan merakyat tiba-tiba jadi seperti cafe-cafe kekinian? Apakah ini hanya perasaanku saja? Atau WS memang telah berubah dalam beberapa bulan?

Tanpa menunggu pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, saya langsung masuk dan duduk. Sempat celingak-celinguk sebentar, kemudian saya simpulkan bahwa saya harus ambil sendiri lembar daftar menu dan lembar pesanan. Biasanya, waiter akan menghampiri kami, mengambil lembar pesanan dan memprosesnya. Bayarnya setelah selesai makan. 
Tapi tadi siang, kami yang harus jalan ke kasir, menyerahkan lembar pesanan, dan langsung bayar di muka. Sampai di situ saja sudah sangat berbeda dengan WS dulunya, ya. Tapi ada satu hal lagi yang menunjukkan WS kini memang telah berubah yaitu harganya. Hahaha. Harga-harga makanan di WS kini jauh lebih mahal dibanding pertama kali saya mencicipinya. Dulu, kira-kira 12 tahun lalu, harga chicken steak hanya Rp8500, sedangkan sekarang Rp20000. Demikian juga dengan menu-menu lainnya.

Ahh… Time flies..

Tapi di balik semua perubahan itu, ada satu yang masih tetap sama, yaitu rasanya. Rasa makanan yang saya pesan siang ini masih sama seperti dulu. Masih enak dan sesuai selera saya. Hehe. Dan satu hal ini saja sudah cukup membuat WS menjadi tempat yang nostalgic. So I still love it!

09 January 2020

The Power of Togetherness


Alhamdulillah, tantangan menulis 30 Days Writing Challenge Jilid 21 yang saya ikuti akhirnya mencapai garis akhir. Eh, entah sih, apakah ini beneran akhir atau bukan. Tapi hari ini adalah hari ke-30 sejak tantangan menulis pertama di tanggal 11 Desember 2019.

Berbagai tema telah ditulis, baik fiksi maupun non-fiksi, demi mewujudkan harapan setoran 30 tulisan dalam dalam 30 hari. Tak asal tulis, setiap tulisan minimal 200 kata, lho. Selain itu ada sesi feedback juga dari peserta lain, jadi tulisan kita bisa mendapat saran dan diperbaiki terus.

Apa yang paling berkesan? Bagi saya, bisa bertahan di grup 30 DWC tanpa tereliminasi saja sudah sangat berkesan. Pasalnya, saya belum pernah konsisten menulis selama sebulan penuh. Paling maksimal pernah hanya sampai 20 hari, itu pun tidak semua tulisan mencapai 200 kata. Jadi, 30 DWC ini berkesan sekali.

Apa yang membuat saya bisa bertahan menulis 30 hari? Alhamdulillah, atas izin Allah, saya masuk di Squad 4 dengan ketua kelompok (guardian) yang penuh kepedulian. Kak Fithrah selaku guardian pernah menjapri saya ketika saya telat menyetor tulisan. Terima kasih, ya, Kak! Karena Kak Fithrah ini juga seorang ibu, jadi alasan saya “ketiduran” atau “nunggu anak tidur” dapat diterimanya. Haha.

Selain itu, dukungan dari teman-teman seperjuangan saya di Squad 4, Albi, Efrian Rayendra, Ilmi Anna, Melia Handayani, Ria Septiyana, dan Syafril Agung. Selamat kepada teman-teman yang berhasil menyelesaikan 30 DWC Jilid 21 dengan baik! Ada yang tak pernah telat setoran, lho. Sungguh luar biasa.

Tentunya terima kasih banyak kepada para mentor @rezky_passionwriter dan Kak @rizkamamalia. Beserta superteam kak @sarikusumaway dan @spriscadewii. Semoga semangat dan ilmu yang disampaikan bisa terus bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Amin.
 
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Hal itu yang saya rasakan, termasuk saat menulis. Ketika bersama-sama menulis untuk mencapai satu tujuan, satu target, maka semangat akan lebih besar.

Ada semangat yang menular, ada asa yang digenggam bersama.
Semoga semangat dan cinta menulis ini akan terus membara.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day30
#Squad4
#ImWritingInLove

Menjaga Asa

Jam menunjukkan hampir tengah malam. Si bocil yang sudah tidur sejak habis isya tiba-tiba terbangun. “Mamaa..! Siniii…!” panggilnya cukup lantang untuk ukuran orang mengigau.

Dengan malas-malasan, saya masuk ke kamar. Ya bagaimana tidak malas, ini kan waktunya me time setelah seharian nemenin bocil main. Biasanya kalau mengigau begini, si bocil cuma minta minum kemudian tidur lagi. Tapi rupanya kali ini berbeda.

“Mama, bacain buku.”
“Hah?” saya tidak jelas mendengarnya.
“Bacain buku,” ulang si bocil.
“Bacain buku? Buku apa?”
“Iya, buku Tayo.”

Alamak!
Apa lah ini, tengah malam terbangun, kok, minta bacain buku? Emak antara senang dan sedih kalau begini. Haha. Baiklah, saya pun langsung mengambil salah satu buku cerita Tayo favoritnya dan membacakannya. Si bocil tiba-tiba melek segar, lho. Dia menyimak dengan semangat. Setelah saya selesai bacakan buku Tayo, dia tidur lagi tanpa protes. Hhh. Ada-ada saja.

Hal-hal seperti ini yang kadang membuat emosi meninggi. Ketika lelah seharian, ingin me time dengan asik nongkrong di depan laptop, tiba-tiba masih saja ada hal lain yang harus dikerjakan. Memang benar, ibu itu kerjanya 24 jam, tidak ada libur kecuali pergi ke luar kota tanpa membawa bocil. Saya belum pernah begitu, sih.

Tapi tidak boleh ada kata menyerah dalam menjadi ibu. Seberapa pun lelahnya, kesalnya, emosinya, tapi tak boleh menyerah. Tak boleh putus asa. Ada harapan yang harus selalu dijaga. Harapan untuk menumbuhkan anak yang sholeh. Harapan menjadi ibu yang sholehah.

Pasti harapan ini juga yang membuat ibu saya dulu bertahan membesarkan saya di tengah kerasnya hidup. Harapan yang membuatnya tak pernah menyerah. Asa itu terlihat jelas di matanya, di raut wajahnya. Ahh, jika membayangkan ibu, saya selalu malu. Rasanya dulu saya pasti jauh lebih merepotkan ibu dibanding si bocil saat ini.

Ini salah satu cara saya menjaga asa, menjaga harapan. Tidak, tidak ada kata menyerah dalam menjalani peran sebagai ibu. Karena asa itu, ada pada ibu. :)

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day29
#ImWritingInLove

08 January 2020

Ibu dan Air Mata

Diawali dengan resensi buku Istri Kutu Kupret, rasanya di penghujung 30 Days Writing Challenge ini saya akan terus menulis tentang ibu. Sebenarnya saya agak menghindari topik ini karena takut jadi melow sendiri. #aihh…

Beberapa hari yang lalu saya baru saja menonton Kim Ji Young 1982. Film yang mengangkat tema perempuan—khususnya ibu rumah tangga—ini katanya menjadi kontroversi di Korea Selatan. Pasalnya, film ini dikhawatirkan mendorong gerakan feminisme. Well, resensi film ini tidak akan saya tulis sekarang, mungkin besok-besok.

Jujur, film Kim Ji Young ini cukup menyentuh bagi saya, bahkan di satu bagian saya hampir menitikkan air mata. Hampir. Saya terpukau dengan kekuatan Kim Ji Young sebagai ibu rumah tangga. Dalam film tersebut tidak ditampilkan Ji Young memarahi anaknya, saya iri sekali. Dan dalam film itu, Ji Young juga tidak terkesan lemah, tak ada adegan Ji Young menangis tersedu-sedu atau lebay gitu. Padahal, bagi saya, menjadi ibu itu sangat menguras air mata.

Saat menulis skripsi dulu, beberapa teman saya menumpahkan air mata di tengah proses menulis skripsi. Tapi saya tidak sama sekali. Bukan berarti mudah ya, tapi saya enjoy saja saat itu. Seingat saya, saya jarang sekali lah menangis karena tugas atau pekerjaan, bahkan karena teman. Kalau kesal atau marah, siy, sering. Hehe.

Akan tetapi, baru empat tahun menjadi ibu rumah tangga, entah berapa ember air mata tercurah. Apakah ini hal yang buruk? Apakah saya tidak bahagia menjadi ibu rumah tangga? Tidak, tidak selalu demikian. Air mata bagi saya justru menampakkan kesungguhan. Karena tidak ada yang bisa membuat kita menangis kecuali hal itu memang menyentuh hati kita, menyakitkan, atau justru membahagiakan. Intinya, air mata itu ada ketika kita benar-benar menghayatinya, memikirkannya.

Maka, jika ada air mata yang jatuh ketika menjalani peran ini, mungkin itu karena aku berusaha sungguh-sungguh di dalamnya, aku berusaha menjadi lebih baik. Mungkin.

 #30DWC
#30DWCJilid21
#Squad4
#ImWritingInLove


06 January 2020

Ternyata, Begini Rasanya...

Beberapa tahun lalu saya pernah bertakziah atau melayat ke rumah teman yang ayahnya meninggal. Saat itu teman saya bilang, "emang beda banget ya, antara mendengar, melihat, dan mengalami sendiri". Tentu konteks yang dimaksud teman saya waktu itu adalah tentang ditinggal ayah atau orang tua. Tapi apa yang dikatakannya tepat untuk berbagai hal.

Memang beda sekali rasanya antara mendengar kabar ada kawan yang menikah, dengan melihat langsung prosesi akad nikah. Apalagi menjalani sendiri prosesi tersebut, tentu rasanya jauh berbeda. Perbedaan itu juga yang saya rasakan setelah menikah dan menjadi ibu.

Sejak kecil saya terbiasa melihat ibu saya bekerja di rumah dan di luar. Pukul 04.00 ibu saya sudah bangun, lalu memasak, mencuci, menyapu dan mengepel rumah. Pukul 08.00 ibu saya berangkat kerja, dan pulang sekitar pukul 16.00. Sebelum tidur beliau membereskan dapur, dan esok pagi memulai rutinitas itu lagi. Saya melihat hal tersebut sebagai hal yang biasa.

Sekarang baru saya benar-benar menyadari bahwa rutinitas itu adalah hal luar biasa. Saya tak hentinya terkagum sekaligus heran, bagaimana ibu saya kuat melakukan semua itu, setiap hari. Beliau seolah tak pernah lelah, atau bosan. Beliau tampak happy dan santai saja mengerjakan itu semua.

Padahal, saya sendiri yang tidak bekerja di luar, dengan baru satu anak yang masih kecil, sudah kerap merasa lelah. Duh, malu sekali saya rasanya kalau mengeluh pada ibu.

Walaupun sejak kecil melihat aktivitasnya, ternyata saya sama sekali belum bisa seperti itu, seperti ibu. Ternyata beda sekali rasanya, antara melihat dan menjalani sendiri peran sebagai ibu rumah tangga. Saya seringkali ragu, bisakah saya menjadi seperti ibu? Seperti ibu yang saya kagumi kekuatan fisik dan mentalnya dalam menjalani perannya?

Mungkin sebenarnya saya tidak harus sekuat itu. Saya tidak harus sama seperti ibu. Bahkan kalau diingat-ingat, ibu sering bilang pada kami, anak-anaknya, "jangan jadi seperti ibu". Kenapa ibu menasihati kami seperti itu? Padahal saat ini, saya ingin sekali jadi seperti ibu.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day27

Istri Kutu Kupret yang Mengagumkan

Penulis: Nurul Fithrati
Tahun Terbit: 2014
Ukuran: 15 x 23 cm
Tebal: xii + 298 hlm
Penerbit: VisiMedia Pustaka
ISBN: 979-065-209-7

Alkisah seorang wanita yang telah menyelesaikan pendidikan S2 di Australia menikah dengan seorang pria tampan yang pintar. Selain tampan, pria ini ternyata punya panggilan sayang yang sungguh istimewa bagi istrinya, yaitu “istri kutu kupret”.

Hari demi hari dilalui sang istri melayani suami sepenuh hati. Walaupun sang suami kerap menghinanya, atau memintanya melakukan ini itu, tapi sang istri dengan ke-kutu-kupretan-nya terus bersabar. Akhirnya terbuktilah, kesabaran si istri kutu kupret pun berujung indah.

Secara singkat begitulah yang dikisahkan dalam buku ini. Sherlin, anak tunggal yang biasa dimanja, tiba-tiba harus mendampingi si tampan Vano, teman masa kecil yang kini jadi suaminya. Masalahnya, ketampanan Vano yang selangit berbanding terbalik dengan sikapnya pada Sherlin. Vano sangat perfeksionis, sedangkan Sherlin cuek. Vano tidak terima apabila penataan garpu dan sendok di meja tertukar. Vano tidak mau makan makanan yang kelihatannya kurang bersih. Vano kesal jika porsi rujak yang biasa dibeli berkurang. Masih banyak lagi akibat dari sifat perfeksionis Vano yang membuat Sherlin dongkol.

Apa yang dilakukan Sherlin untuk menghadapi Vano? Istri kutu kupret ini melakukan apa saja yang bisa ia lakukan, terus menaati Vano, dan melihat sisi positif Vano. Ia tetap bertahan di samping Vano ketika Vano tak lagi mapan, ketika mereka benar-benar melarat. Satu hal yang paling hebat dari sang istri kutu kupret adalah ia nyaris tak pernah marah-marah pada Vano.

Kisah hidup Sherlin dan Vano diceritakan dengan apik dan penuh humor. Membuat pembaca yang juga ibu rumah tangga—seperti saya—merasa terhibur dan bersyukur karena suami saya tidak seperti Vano. Haha.

Buku ini bisa dibilang jadul, terbit pertama kali di tahun 2014. Jadi jangan heran jika ada beberapa kata yang viral pada masanya, tapi sekarang tidak lagi. Contohnya kata “kamseupay”. Ada yang tidak tahu arti “kamseupay”?

Tulisan karya Nurul Fithrati ini dicetak full color, sungguh memanjakan pembaca dengan warna-warni layout. Sayangnya, masih cukup banyak typo di sana-sini yang agak  mengganggu. Overall, buku ini menarik untuk dibaca di waktu luang. Apalagi saya membeli buku ini ketika diskon besar-besaran di Gramedia dan harganya hanya Rp20.000. Hehe.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day26
#ImWritingInLove

04 January 2020

Mengatur Napas

Tarik napas dalam, keluarkan pelan-pelan. Tarik napas dalam lagi, keluarkan pelan-pelan lagi. Berapa kali kita menarik-lepaskan napas dalam sehari? Tentu kita tidak menghitungnya. Kegiatan ini adalah gerakan otomatis yang seolah terjadi begitu saja. Seolah tanpa arti.

Tapi, pasti kita menyadari betapa pentingnya hal ini. Tidak menarik napas sebentar saja rasanya langsung sesak. Ketika proses tarik-lepas napas terganggu barulah kita teringat betapa penting dan berharganya kegiatan ini.

Selain itu, mengatur napas juga bisa menjadi solusi banyak rasa sakit. Contohnya ketika sakit karena kontraksi jelang melahirkan, apa yang bisa meringankannya? Ya, mengatur napas. Anda akan diminta menarik napas dalam, kemudian keluarkan perlahan. Dan memang benar sih, rasa sakit itu berkurang.

Contoh lain ketika panik menyerang, atau rasa kalut lainnya menghampiri, maka mengatur napas juga menjadi solusi awal agar diri lebih tenang. Mengatur napas bisa meredakan degup jantung yang terlalu kencang. Membuat emosi lebih mudah dikendalikan. Sungguh besar manfaat dari kegiatan yang biasa ini.

Termasuk juga dalam menulis. Kadang, kita perlu mengatur jeda dalam menulis, agar setiap tulisan memiliki napasnya masing-masing. Tentu saja ini bukan berarti berhenti. Ini hanya istirahat. Ya, kita harus paham kapan harus beristirahat, mengambil napas dalam, melepaskannya perlahan. Menikmati udara yang masuk dan keluar, tanpa memikirkannya terlalu dalam.
Inhale… Exhale…

Huff…
Eh, dari tadi sebenarnya saya ngomongin apa ya? Haha. Maaf ya, tulisan kali ini agaknya random dan nirmanfaat. Mungkin karena mood swing seharian. #alesan. Semoga tulisan selanjutnya bisa lebih memiliki makna. 


#30DWC
#30DWCJilid21
#Day25
#ImWritingInLove

03 January 2020

Banjir

Wah, sudah sampai hari ke-24 di tantangan 30 DWC! Tak terasa. Seminggu lagi tersisa. Mau menulis apa lagi ya? Hm… harus menulis yang bagus nih, kan sudah di akhir. Eh, tapi, memangnya kalau 30 DWC selesai, lantas berhenti menulis gitu? Semoga tidak, ya. Semoga.

Sejak 1 Januari 2020 Jakarta dikepung banjir. Banjir cukup dahsyat terjadi di berbagai tempat. Alhamdulillah di rumah orang tua saya tidak kena banjir, memang sejak dulu bukan kawasan rawan banjir. Tapi bukan berarti baik-baik saja. Rumah orang tua juga terkena dampak banjir, yaitu pemadaman listrik. Listrik padam seharian penuh.

Ngomong-ngomong soal banjir, saya punya beberapa pengalaman sendiri. Tepatnya ketika SD, sekitar tahun 2005 kalau tidak salah. Saat itu Jakarta juga diterjang banjir, termasuk di dekat rumah saya. Kebetulan ada kawan yang rumahnya kebanjiran, dan tahu kan, kalau anak-anak itu malah seneng ketika banjir datang. Seolah-olah jalanan menjadi kolam renang terbuka. Termasuk saya saat itu jadi excited juga. Hehe.

Saya dan beberapa teman mengunjungi rumah kawan kami yang kebanjiran. Ketika kami datang, air sudah setinggi betis. Sedangkan di rumah kawan yang lain, banjir sudah surut, tapi ikan-ikan yang ada di empangnya jadi kabur ke mana-mana. Hehe. Anak-anak itu ya begitu, ya, memaknai banyak hal secara positif. Beda dengan orang dewasa.

Sekarang, mendengar dan melihat banjir tentu membuat saya khawatir. Pernah suatu kali saya sekeluarga terjebak banjir di jalanan. Mobil yang kami tumpangi terpaksa berhenti, tak bisa maju ataupun mundur. Di depan banjir cukup tinggi, sedangkan tidak mungkin memutar balik karena jalanan satu arah dan sudah macet mobil-mobil lain. Akhirnya kami diam saja menunggu. Entah apa yang ditunggu. Mungkin menunggu keberanian untuk melintasi banjir.

Setelah kurang lebih setengah jam, barulah mobil kami bisa jalan dengan mengekor mobil lain yang berani melintas. Tinggi air pun sepertinya sudah menurun. Alhamdulillah.

Semoga banjir yang sekarang terjadi di Jakarta bisa segera surut, dan semuanya bisa kembali normal. Aamin.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day24
#ImWritingInLove

02 January 2020

Momen Luar Biasa

Dag.dig.dug. Seorang kawan sedang menanti saat kelahiran anak pertamanya. Kok, saya jadi ikut deg-degan ya? Haha. Padahal kawan saya itu di Jakarta, saya di Batam, tapi deg-degannya terasa juga. Memang kadang jarak tak berarti. Kadang.

Tapi mau tak mau kabar dari kawan ini mengingatkan saya akan proses kelahiran anak pertama saya beberapa tahun lalu. Karena anak saya baru satu, jadi memang cuma proses kelahiran itu yang bisa saya ingat-ingat. Hehe.

Alhamdulillah, dengan izin Allah, kala itu anak saya bisa lahir dengan selamat dengan proses per vaginam. Setelah saya mengejan selama satu jam, dibantu vakum dua kali, dan dokter yang tak kenal lelah, si bocil lahir. Posisi lahirnya si bocil ini dia menghadap ke atas, padahal umumnya hadap bawah. Entah kenapa.

Dokter yang menangani proses tersebut agak heran karena kelahiran yang memakan waktu lama. Padahal diprediksi bisa cepat karena posisi sudah sangat turun. Saya pun tidak tahu kenapa. Mungkin karena saya tidak betul mengejannya. Yah, mau bagaimana lagi, saat pembukaan lengkap dan disuruh mengejan, saya sejujurnya tidak merasa mules. Tidak ada dorongan ingin mengejan seperti kalau nongkrong di WC. Jadi, yaa sulit.

Hhh… Itu memang momen luar biasa. Luar biasa heboh, luar biasa melelahkan, luar biasa bikin lapar. Kapan ya momen luar biasa itu terulang kembali? Kalau terulang kembali, semoga lebih mudah dan lancar. Aamiin. 

"Teruntuk kawan saya dan semua ibu yang sedang menanti persalinan, semoga Allah beri kemudahan, kelancaran, dan keselamatan. Aamiin."


#30DWC
#30DWCJilid21
#Day23
#ImWritingInLove

01 January 2020

Benarkah Anak Anda Kurus?

Saya melanjutkan tulisan sebelumnya yang bertema kesehatan balita, ya. Kali ini saya bahas tentang penilaian status gizi balita. Tak jarang kita mendengar komentar seseorang yang mengatakan, “anaknya kurus ya” atau “anaknya gemuk ya”. Pertanyaannya, benarkah penilaian orang tersebut yang hanya berdasarkan kasat mata? Sebelum terlalu pusing karena anak Anda dibilang kurus, atau terlalu happy karena anak disebut gemuk, kita cari tahu dulu kebenarannya.

Status gizi balita bisa dilihat dengan beberapa indikator, di antaranya berat badan menurut usia (BB/U), tinggi badan menurut usia (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Ketiga indikator ini punya peran masing-masing. BB/U adalah cerminan status gizi saat ini, TB/U indikator status gizi jangka panjang (kronis) di masa lampau, sedangkan BB/TB menggambarkan efek status gizi akut atau jangka pendek.

Kembali ke pertanyaan di atas, benarkah anak Anda kurus? Mari kita lihat grafik di bawah ini.

Grafik Pertumbuhan Anak Laki-laki Usia 0-2 Tahun
Grafik tersebut adalah grafik pertumbuhan anak laki-laki usia 0-2 tahun menurut World Health Organization (WHO). Seorang anak disebut kurus jika berada di area antara garis kuning sampai merah yang di bawah (15-3 persentil). Apabila masih berada di area antara garis kuning bawah (15 persentil) sampai garis kuning atas (85 persentil), maka masuk kategori normal. Contoh, jika seorang anak laki-laki berusia 13 bulan, memiliki berat badan 10 kg, maka masuk ke dalam kategori normal karena titiknya berada di dekat garis hijau.
Dengan grafik ini, orang tua bisa mengecek sendiri status gizi anaknya dan tak perlu merisaukan komentar orang lain. Hehe. Grafik pertumbuhan untuk anak laki-laki dan perempuan sedikit berbeda.

Untuk grafik pertumbuhan anak laki-laki selengkapnya bisa dilihat pada situs WHO ini atau unduh grafik pertumbuhan anak perempuan di situs ini. Atau sebagai bahan bacaan seputar status gizi anak bisa dilihat pada situs Kementrian Kesehatan dan e-book berikut ini.

Fiuhh.. Demikian sekilas tentang status gizi anak. Semoga bermanfaat.
#30DWC
#30DWCJilid21
#Day22
#ImWritingInLove