Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2020

Lima Hal yang Membuat Bartimaeus Trilogy Menarik

(Tiga Cover buku Bartimaeus Trilogy) “Don’t worry though, Nat. You’re not totally alone. You’ve always got me.”   Oke, to the point saja ya. I love this book . I love the trilogy, especially the last one: Ptolemy’s Gate . Trilogi Bartimaeus bukanlah buku baru. Seri pertamanya yang berjudul Amulet Samarkand terbit tahun 2003, buku kedua Golem’s Eye tahun 2004, dan Ptolemy’s Gate tahun 2005.   Bercerita tentang apa sih buku ini?   Trilogi Bartimaeus karya Jonathan Stroud bercerita tentang seorang anak bernama Nathaniel dan jin “kesayangannya” Bartimaeus. Keduanya melalui berbagai hal mengejutkan, menegangkan, demi mencapai impian Nathaniel yaitu memiliki kekuasaan di parlemen Inggris.  Mengapa saya suka dengan trilogi ini?   Pertama, komposisi dialog dan narasi yang pas . Saya bukan pecinta deskripsi yang panjang lebar tentang sebuah latar. Itulah sebabnya saya menyerah membaca novel Perfume . Tapi Jonathan Stroud menciptakan komposisi yang pas dalam narasi dan

Waroeng Steak yang Tak Seperti Dulu

Judul ini tampaknya terang-terangan sekali. Langsung menggambarkan apa yang akan saya tuliskan. Ya, saya akan menulis tentang Waroeng Steak and Shake atau sering saya sebut WS. Sebelumnya, ini bukan iklan atau paid promote , ya. Hahaha. (Ya iyalah, siapa juga yang mau paid promote di sini, yak!) Ceritanya tadi siang saya iseng-iseng makan siang di WS bersama bapake dan bocil. Terakhir makan di WS sekitar enam bulan lalu, tapi waktu itu bersama teman dan di WS Ciputat. Sedangkan hari ini kami makan di WS Kebayoran. Dan walaupun namanya sama-sama WS, rupanya ada hal berbeda. Setibanya kami di tempat, saya agak ragu, benarkah ini WS yang selama ini kukenal? Kenapa WS yang terkenal dengan kesan sederhana dan merakyat tiba-tiba jadi seperti cafe-cafe kekinian? Apakah ini hanya perasaanku saja? Atau WS memang telah berubah dalam beberapa bulan? Tanpa menunggu pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, saya langsung masuk dan duduk. Sempat celingak-celinguk sebentar, kemudian saya simpulkan

The Power of Togetherness

Alhamdulillah, tantangan menulis 30 Days Writing Challenge Jilid 21 yang saya ikuti akhirnya mencapai garis akhir. Eh, entah sih, apakah ini beneran akhir atau bukan. Tapi hari ini adalah hari ke-30 sejak tantangan menulis pertama di tanggal 11 Desember 2019. Berbagai tema telah ditulis, baik fiksi maupun non-fiksi, demi mewujudkan harapan setoran 30 tulisan dalam dalam 30 hari. Tak asal tulis, setiap tulisan minimal 200 kata, lho. Selain itu ada sesi feedback juga dari peserta lain, jadi tulisan kita bisa mendapat saran dan diperbaiki terus. Apa yang paling berkesan? Bagi saya, bisa bertahan di grup 30 DWC tanpa tereliminasi saja sudah sangat berkesan. Pasalnya, saya belum pernah konsisten menulis selama sebulan penuh. Paling maksimal pernah hanya sampai 20 hari, itu pun tidak semua tulisan mencapai 200 kata. Jadi, 30 DWC ini berkesan sekali. Apa yang membuat saya bisa bertahan menulis 30 hari? Alhamdulillah, atas izin Allah, saya masuk di Squad 4 dengan ketua kelompok ( guardia

Menjaga Asa

Jam menunjukkan hampir tengah malam. Si bocil yang sudah tidur sejak habis isya tiba-tiba terbangun. “Mamaa..! Siniii…!” panggilnya cukup lantang untuk ukuran orang mengigau. Dengan malas-malasan, saya masuk ke kamar. Ya bagaimana tidak malas, ini kan waktunya me time setelah seharian nemenin bocil main. Biasanya kalau mengigau begini, si bocil cuma minta minum kemudian tidur lagi. Tapi rupanya kali ini berbeda. “Mama, bacain buku.” “Hah?” saya tidak jelas mendengarnya. “Bacain buku,” ulang si bocil. “Bacain buku? Buku apa?” “Iya, buku Tayo.” Alamak! Apa lah ini, tengah malam terbangun, kok, minta bacain buku? Emak antara senang dan sedih kalau begini. Haha. Baiklah, saya pun langsung mengambil salah satu buku cerita Tayo favoritnya dan membacakannya. Si bocil tiba-tiba melek segar, lho. Dia menyimak dengan semangat. Setelah saya selesai bacakan buku Tayo, dia tidur lagi tanpa protes. Hhh. Ada-ada saja. Hal-hal seperti ini yang kadang membuat emosi meninggi. Ketika lelah seharian, i

Ibu dan Air Mata

Diawali dengan resensi buku Istri Kutu Kupret , rasanya di penghujung 30 Days Writing Challenge ini saya akan terus menulis tentang ibu. Sebenarnya saya agak menghindari topik ini karena takut jadi melow sendiri. #aihh… Beberapa hari yang lalu saya baru saja menonton Kim Ji Young 1982 . Film yang mengangkat tema perempuan—khususnya ibu rumah tangga—ini katanya menjadi kontroversi di Korea Selatan. Pasalnya, film ini dikhawatirkan mendorong gerakan feminisme. Well , resensi film ini tidak akan saya tulis sekarang, mungkin besok-besok. Jujur, film Kim Ji Young ini cukup menyentuh bagi saya, bahkan di satu bagian saya hampir menitikkan air mata. Hampir. Saya terpukau dengan kekuatan Kim Ji Young sebagai ibu rumah tangga. Dalam film tersebut tidak ditampilkan Ji Young memarahi anaknya, saya iri sekali. Dan dalam film itu, Ji Young juga tidak terkesan lemah, tak ada adegan Ji Young menangis tersedu-sedu atau lebay gitu. Padahal, bagi saya, menjadi ibu itu sangat menguras air mata. Saat

Ternyata, Begini Rasanya...

Beberapa tahun lalu saya pernah bertakziah atau melayat ke rumah teman yang ayahnya meninggal. Saat itu teman saya bilang, "emang beda banget ya, antara mendengar, melihat, dan mengalami sendiri". Tentu konteks yang dimaksud teman saya waktu itu adalah tentang ditinggal ayah atau orang tua. Tapi apa yang dikatakannya tepat untuk berbagai hal. Memang beda sekali rasanya antara mendengar kabar ada kawan yang menikah, dengan melihat langsung prosesi akad nikah. Apalagi menjalani sendiri prosesi tersebut, tentu rasanya jauh berbeda. Perbedaan itu juga yang saya rasakan setelah menikah dan menjadi ibu. Sejak kecil saya terbiasa melihat ibu saya bekerja di rumah dan di luar. Pukul 04.00 ibu saya sudah bangun, lalu memasak, mencuci, menyapu dan mengepel rumah. Pukul 08.00 ibu saya berangkat kerja, dan pulang sekitar pukul 16.00. Sebelum tidur beliau membereskan dapur, dan esok pagi memulai rutinitas itu lagi. Saya melihat hal tersebut sebagai hal yang biasa. Sekarang baru say

Istri Kutu Kupret yang Mengagumkan

Penulis: Nurul Fithrati Tahun Terbit: 2014 Ukuran: 15 x 23 cm Tebal: xii + 298 hlm Penerbit: VisiMedia Pustaka ISBN: 979-065-209-7 Alkisah seorang wanita yang telah menyelesaikan pendidikan S2 di Australia menikah dengan seorang pria tampan yang pintar. Selain tampan, pria ini ternyata punya panggilan sayang yang sungguh istimewa bagi istrinya, yaitu “istri kutu kupret”. Hari demi hari dilalui sang istri melayani suami sepenuh hati. Walaupun sang suami kerap menghinanya, atau memintanya melakukan ini itu, tapi sang istri dengan ke-kutu-kupretan-nya terus bersabar. Akhirnya terbuktilah, kesabaran si istri kutu kupret pun berujung indah. Secara singkat begitulah yang dikisahkan dalam buku ini. Sherlin, anak tunggal yang biasa dimanja, tiba-tiba harus mendampingi si tampan Vano, teman masa kecil yang kini jadi suaminya. Masalahnya, ketampanan Vano yang selangit berbanding terbalik dengan sikapnya pada Sherlin. Vano sangat perfeksionis, sedangkan Sherlin cuek. Vano tidak t

Mengatur Napas

Tarik napas dalam, keluarkan pelan-pelan. Tarik napas dalam lagi, keluarkan pelan-pelan lagi. Berapa kali kita menarik-lepaskan napas dalam sehari? Tentu kita tidak menghitungnya. Kegiatan ini adalah gerakan otomatis yang seolah terjadi begitu saja. Seolah tanpa arti. Tapi, pasti kita menyadari betapa pentingnya hal ini. Tidak menarik napas sebentar saja rasanya langsung sesak. Ketika proses tarik-lepas napas terganggu barulah kita teringat betapa penting dan berharganya kegiatan ini. Selain itu, mengatur napas juga bisa menjadi solusi banyak rasa sakit. Contohnya ketika sakit karena kontraksi jelang melahirkan, apa yang bisa meringankannya? Ya, mengatur napas. Anda akan diminta menarik napas dalam, kemudian keluarkan perlahan. Dan memang benar sih, rasa sakit itu berkurang. Contoh lain ketika panik menyerang, atau rasa kalut lainnya menghampiri, maka mengatur napas juga menjadi solusi awal agar diri lebih tenang. Mengatur napas bisa meredakan degup jantung yang terlalu kencang. Membu

Banjir

Wah, sudah sampai hari ke-24 di tantangan 30 DWC! Tak terasa. Seminggu lagi tersisa. Mau menulis apa lagi ya? Hm… harus menulis yang bagus nih, kan sudah di akhir. Eh, tapi, memangnya kalau 30 DWC selesai, lantas berhenti menulis gitu? Semoga tidak, ya. Semoga. Sejak 1 Januari 2020 Jakarta dikepung banjir. Banjir cukup dahsyat terjadi di berbagai tempat. Alhamdulillah di rumah orang tua saya tidak kena banjir, memang sejak dulu bukan kawasan rawan banjir. Tapi bukan berarti baik-baik saja. Rumah orang tua juga terkena dampak banjir, yaitu pemadaman listrik. Listrik padam seharian penuh. Ngomong-ngomong soal banjir, saya punya beberapa pengalaman sendiri. Tepatnya ketika SD, sekitar tahun 2005 kalau tidak salah. Saat itu Jakarta juga diterjang banjir, termasuk di dekat rumah saya. Kebetulan ada kawan yang rumahnya kebanjiran, dan tahu kan, kalau anak-anak itu malah seneng ketika banjir datang. Seolah-olah jalanan menjadi kolam renang terbuka. Termasuk saya saat itu jadi excited juga. H

Momen Luar Biasa

Dag.dig.dug. Seorang kawan sedang menanti saat kelahiran anak pertamanya. Kok, saya jadi ikut deg-degan ya? Haha. Padahal kawan saya itu di Jakarta, saya di Batam, tapi deg-degannya terasa juga. Memang kadang jarak tak berarti. Kadang. Tapi mau tak mau kabar dari kawan ini mengingatkan saya akan proses kelahiran anak pertama saya beberapa tahun lalu. Karena anak saya baru satu, jadi memang cuma proses kelahiran itu yang bisa saya ingat-ingat. Hehe. Alhamdulillah, dengan izin Allah, kala itu anak saya bisa lahir dengan selamat dengan proses per vaginam. Setelah saya mengejan selama satu jam, dibantu vakum dua kali, dan dokter yang tak kenal lelah, si bocil lahir. Posisi lahirnya si bocil ini dia menghadap ke atas, padahal umumnya hadap bawah. Entah kenapa. Dokter yang menangani proses tersebut agak heran karena kelahiran yang memakan waktu lama. Padahal diprediksi bisa cepat karena posisi sudah sangat turun. Saya pun tidak tahu kenapa. Mungkin karena saya tidak betul mengejannya.

Benarkah Anak Anda Kurus?

Saya melanjutkan tulisan sebelumnya yang bertema kesehatan balita, ya. Kali ini saya bahas tentang penilaian status gizi balita. Tak jarang kita mendengar komentar seseorang yang mengatakan, “anaknya kurus ya” atau “anaknya gemuk ya”. Pertanyaannya, benarkah penilaian orang tersebut yang hanya berdasarkan kasat mata? Sebelum terlalu pusing karena anak Anda dibilang kurus, atau terlalu happy karena anak disebut gemuk, kita cari tahu dulu kebenarannya. Status gizi balita bisa dilihat dengan beberapa indikator, di antaranya berat badan menurut usia (BB/U), tinggi badan menurut usia (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Ketiga indikator ini punya peran masing-masing. BB/U adalah cerminan status gizi saat ini, TB/U indikator status gizi jangka panjang (kronis) di masa lampau, sedangkan BB/TB menggambarkan efek status gizi akut atau jangka pendek. Kembali ke pertanyaan di atas, benarkah anak Anda kurus? Mari kita lihat grafik di bawah ini. Grafik Pertumbuhan Anak L