24 September 2020

Penulis Tidak Percaya Diri?

Anda ingin menjadi penulis? Anda tidak--atau kurang--percaya diri? Anda tidak sendiri! Wkwk… Sebelum kita bahas lebih lanjut, saya luruskan dulu definisi “penulis tidak percaya diri” dalam tulisan ini. Yang saya maksud adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi penulis, dan produktif menulis (fiksi ataupun nonfiksi), tetapi tidak percaya diri memajang tulisan itu di media apa pun. Jadi sebatas konsumsi pribadi. Nah, kalau ada yang mengaku ingin menjadi tapi tidak rajin menulis karena mengaku tidak percaya diri, itu tidak masuk dalam bahasan ini. YA ampun, sampe ada definisinya segala, macem bikin skripsi. Hahaha. Oke, lanjut. Saya yakin ada banyak penulis tidak percaya diri di luaran sana, termasuk saya! Iya, sampai saat ini pun saya masih tidak percaya diri memamerkan tulisan fiksi. Kenapa? Setelah dipikir-pikir, sebab utamanya itu satu, takut dicap jelek! Hahaha.

Jadi benarlah seseorang yang bilang bahwa penulis yang ga pede itu salah satunya karena ingin karyanya langsung bagus--atau dinilai bagus. Padahal semua ada prosesnya. Nah, tapi, seperti yang saya bilang di awal, saya tidak sendiri! Ada buanyaak sekali yang seperti saya, malu-malu meong. Khawatir karyanya dibilang jelek.

Tau dari mana? Ada sebuah bukti tak terbantahkan. Gini, dulu, jaman KasKus masih jaya, saya gemar sekali main Kaskus. Tiap hari buka Kaskus, baca, posting, komen, dll. Sampai ada beberapa teman kenal dari Kaskus.

Salah satu room yang saya ikuti di Kaskus adalah B-Log, ini plesetan dari blog gitu lah. Di sana tempatnya cerita-cerita fiksi, puisi, ada juga memoar, dll. Di forum B-Log itu, setiap pengguna bisa membuat thread, dan menerima komen dari pengguna lain. Biasanya pengguna akan membuat satu thread dan menyebutnya “rumah”. Lalu orang-orang yang komen di thread itu pun seolah “tamu”.

Dari ribuan thread yang ada, ada satu thread yang seriiing sekali dikunjungi orang. Banyaak sekali yang komen di thread itu setiap harinya. Termasuk saya, kadang-kadang. Thread itu berisi puisi-puisi dari si pembuat thread (biasa disebut TS), dan kolom komentarnya pun dibanjiri puisi dari pengguna lain. Tema puisinya macam-macam, campur aduk. Ada yang pendek, ada yang panjang. Ada yang bahasa Indonesia, ada yang bahasa Inggris. Ada yang gahar, ada yang so swiiit. Macem-macem lah pokoknya. Dan menurut saya banyak yang puisinya itu bagus-bagus.

Akan tetapi, terlepas dari bagus tidaknya puisi di thread itu, saya rasa para pembuat puisi itu termasuk penulis yang tidak percaya diri--iya, lagi-lagi termasuk saya! Kenapa? Karena judul threadnya mengatakan demikian. Judulnya: “House of Bad Poets”.

Naaahhh.. Ketika sebuah rumah dilabeli House of Bad Poets, maka siapa saja yang berkunjung dan menuliskan puisi di sana akan merasa aman dari hujatan atau komentar negatif. Kan, namanya juga house of bad poets. Jadi, wajar dong kalo jelek. Ya, kan?

Sampai sekarang saya mengagumi pemilihan judul thread itu sih. Ada permainan psikologis di sana. Si TS pun memang terkenal bijak seantero forum B-Log.

Intinya, saya tidak sendiri. Eh.

20 September 2020

Review Starting Over Karya Titi Sanaria



 Judul: Starting Over

Penulis: Titi Sanaria

Tahun Terbit: 2019

Penerbit: Elex Media

Tebal: 394 halaman


Starting Over adalah novel ketiga Titi Sanaria yang saya baca. Dua novel sebelumnya yaitu Dirt on My Boots dan Midnight Prince telah berhasil membuat saya penasaran dengan karya Titi Sanaria yang lain. Bagaimana dengan Starting Over? Oke, saya akan mulai dengan blurb novel ini.

***

Hubungan mereka hanya berlandaskan physical attraction, awalnya Prita mengira begitu, Hanya ketertarikan fisik semata. Tidak lebih. Dia mengagumi Erlan yang tampan dengan setela kantor yang membuatnya terlihat sempurna. Namun, waktu telah membantu dia menyadari bahwa perasaannya kepada laki-laki itu mulai berkembang.

Hanya ketertarikan fisik, Erlan mendengar pengakuan itu berulang kali dari mulut Prita. Sementara dia sendiri gamang atas perasaannya, Dia nyaman berada di sisi putri tunggal bosnya itu. Akan tetapi, logika terus mengingkari rasa bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Prita.

Ya, tidak ada jatuh cinta dalam kamus Erlan, awalnya begitu. Namun, apa yang kira-kira tidak bisa dilakukan oleh kekuatan cinta?

***

Sekarang saya mulai review. Eh, kok serius banget gini bawaannya? Wkwk. 

Starting Over dibuka dengan bab-bab yang cukup menjanjikan dan membuat saya tertarik mengetahui lebih lanjut kisah Erlan dan Prita. Namun, jauh berbeda dengan DOMB dan Midnight Prince, Starting Over justru membuat saya nyaris berhenti membaca karena bosan.

Di sini saya tidak mendapati banyak deskripsi-deskripsi liar nan mengocok perut layaknya DOMB. Tetapi tidak juga terhanyut perasaan atau mendayu-dayu layaknya Midnight Prince. Semua serbatanggung. Masa lalu Erlan yang begitu kelam, dieksekusi dengan, yaa begitu saja.

Perasaan Prita yang begitu natural, yaa tidak terlalu gimana-gimana. Bahkan cerita tentang Orlin dan Bastian yang disorot di awal, nyatanya tak dilanjutkan. Tentu ini membuat saya gemas!

Ada beberapa bagian yang tampak seperti hanya untuk memperpanjang cerita tanpa ada kemajuan. Tokoh si cowo figuran, saya bahkan sudah lupa namanya, itu ya juga cuma gitu aja, ga ada peran yang lebih menarik dari tokoh itu.

Dan, yang paling bikin gemes, adalah plot hole. Di entah bab berapa, diceritakan si cowo itu main ke kantor Prita, kemudian dia ke kamar mandi, lalu Erlan datang. Abis itu ga diceritain lagi ke mana si cowo itu. Apakah ia hilang lenyap di kamar mandi? Atau ketiduran di sana? Wkwk.

Udah kelihatan jelas kan kekecewaan saya dengan novel ini? Yap, padahal ini lebih tebal dari dua novel lain yang saya baca. Mungkin ekspektasi saya juga yang terlalu gimana. Huff.

Saya sih masih penasaran dengan novel-novel lainnya Titi Sanaria, tapi ngga maraton lagi dulu deh. Rehat sejenak, baru kita starting over. Hehe. 




Quick Review Novel Resign






Judul: Resign
Penulis: Almira Bastari
Jumlah halaman: 288
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2018

Resign karya Almira Bastari bercerita tentang beberapa karyawan swasta yang bertekad resign karena bos yang bikin ga betah. Namun, as you can guess, bos ini masih muda, tampan, kaya raya, dan sebenarnya baik. Dan, as you can also guess, si bos jatuh cinta dengan salah satu karyawannya.

Premis cerita ini mirip sekali dengan Dirt On My Boots-nya Titi Sanaria, dan dua-duanya sama-sama bermula di Wattpad.

Sebenarnya saya tahu novel Resign ini sejak beberapa bulan lalu kalau ngga salah ingat. Tapi baru baca beberapa hari lalu atas rekomendasi seorang kawan. Akhirnya, saya baca lah tuh.

Kesannya?

Bagi saya biasa aja, mungkin karena sudah baca novel DOMB yang serupa dan lebih liar, jadi novel Resign ini terasa yaa biasa. Sisi yang menarik di novel ini ya efek lucu dari percakapan antarkarakter.
Dan, apa ini hanya perasaan atau gimana, beberapa novel yang berawal di Wattpad kok rasanya banyak sekali dialog-dialognya, ya?

Yang saya suka dari novel ini adalah tidak bertele-tele dan alurnya yang cepat, sehingga saya tidak keburu bosan. Walaupun, ya, itu tadi, dari sisi cerita, biasa aja. 


11 September 2020

Resensi Novel Midnight Prince


Penulis: Titi Sanaria

Tebal: 276 halaman 

Penerbit: Elex Media

Tahun terbit: April 2018

Ah, how should I say it? Ok, I hope this three words would be enough: I love it.

Ini adalah novel kedua Titi Sanaria yang saya baca, dan sama sekali tidak mengira akan seperti ini jalan ceritanya. *Spoiler ahead*

Midnight Prince bercerita tentang Dokter Mika, dokter muda yang bekerja di sebuah rumah sakit. Mika kemudian bertemu dengan Rajata dan saling jatuh cinta. Rajata adalah anak pemilik rumah sakit tersebut. 

Walaupun sebenarnya cinta, Mika menolak ketika Rajata terus mendekatinya. Bukan semata karena Rajata anak pemilik RS dan Mika merasa rendah diri, tetapi karena masa lalu yang menjeratnya.

Pasalnya, adik Rajata yang bernama Robby dulunya adalah pacar adiknya Mika yang bernama Dhesa. Nah, sampai suatu hari Dhesa ternyata hamil, namun ibunya Robby--yang berarti juga ibunya Rajata--malah menyuruh Dhesa menjauhi anaknya, dan memberi Dhesa uang. Ia juga meminta dilakukan tes DNA kelak jika bayi itu lahir, dan akan mengambilnya jika benar itu cucunya.

Dhesa tidak terima dan kabur, pergi ke tempat tinggal kakaknya yang saat itu sedang PTT. Sayangnya Dhesa mengalami post partum depresion (atau apa gt) parah, kemudian bunuh diri sambil membawa bayinya. Keduanya tewas di depan mata Mika.

Dengan sejarah tersebut, Mika merasa tidak mungkin mencintai Rajata. 

Tapi Rajata tidak tahu apa-apa tentang itu dan terus mengejar Mika. Dia bingung kenapa Mika terus menolaknya, dan tidak percaya dengan alasan yang diungkapkan gadis itu. 

Huff… Entah karena efek hormon, atau bagaimana, tapi saya merasa konflik ini tuh berat dan menyentuh banget. Bagian paling sedih ya ketika Mika akhirnya bilang ke ibunya Rajata kalo dia adalah kakaknya Dhesa. Robby juga akhirnya tahu, dan ternyata si Robby ini beneran mencintai Dhesa, and still do.

Tentu saja setelah puncaknya itu, Rajata juga jadi tahu. Barulah ia mengerti alasan di balik sikap Mika selama ini. Dan dengan lembutnya dia berusaha memahami Mika.

Saya pribadi kalo di posisi Mika kayaknya ga mungkin lah nerima Rajata walau bagaimana pun. Karena ibu dan adiknya itu pasti mengingatkan dengan trauma yang mendalam. Itulah yang membuat konflik dalam novel ini terasa sangat dalam, karena memang begitu. Belum lagi konflik antara Mika dan ibunya yang juga depresi.

Novel ini jadi begitu berkesan bagi saya, mungkin juga karena sebelum ini saya baca Dirt on My Boots, yang aura ceritanya beda banget. Jadi semacam shock, tapi shock yang menyenangkan. 

Tapi saya sendiri bener-bener suka dengan gaya penulisan Titi Sanaria, karena tidak kebanyakan deskripsi tentang sekitar atau baju, atau apa lah. Fokus pada perasaan tokoh, dan mengeksplorasinya dengan cara yang unik juga lucu. 

Walaupun dark, di Midnight Prince ini juga ada beberapa bagian lucu. Misal ketika Mika membandingkan fisiknya dengan sahabatnya, Kinan, berikut ini:

“Kulitnya (Kinan) putih bersih dan sehalus porselen dari zaman Dinasti Ming. Tubuhnya ideal, hidung mancung, bibir yang penuh, dan tentu saja mata besar yang bersinar jail. Dia makhluk paling supel yang pernah kukenal.

Secara fisik, aku sangat bertolak belakang dengan Kinan. Kulitku jauh lebih gelap. Seperti tembikar zaman Dinasti Ming yang lupa diangkat ketika dibakar dan baru ditemukan beberapa hari kemudian.”

Saya suka banget dengan persahabatan antara Mika dan Kinan, mengingatkan saya dengan sahabat saya sejak TK yang juga supeeerrr baiik. Kinan bene-bener representasi sahabat yang super tapi juga natural.

Selain itu saya suka dengan akhir cerita yang tidak menyisakan tanda tanya bagi pembaca. Semua konflik terjawab dan saya puas. 

Tapi, ada satu hal yang bikin gemes. Si Rajata itu lho kok ya perfect banget! Hahahaha. Abis baca ini, saya langsung protes ke suami dan bilang, “Masa’ cowonya cakep, pinter, kaya, dan baiik banget. Ga mungkin kan ada cowo kayak gitu? GA MUNGKIN KAN???” Huahahaha.

Sekian tentang novel ini dan terima kasih telah membaca. Wkwk. 


02 September 2020

Resensi Novel "Represi"

 

(gambar: Goodreads)

Judul: Represi

Penulis: Fakhrisina Amalia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2018

Tebal: 264 halaman

Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook

Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee

Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu-nya Tere Liye versi cetak.

Back to this novel. And, sedikit spoiler!

Represi, bercerita tentang Anna, seorang remajaatau mungkin dewasa mudayang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih bisa diselamatkan. Setelahnya, ibunya membawanya ke psikolog, dan di sanalah kisah kelamnya terkuak.

Anna memiliki geng yang terbentuk sejak SMA, dan berlanjut sampai kuliah karena mereka kuliah di kampus yang sama. Berasal dari keluarga yang cukup berada, hidup Anne sekilas tampak baik-baik saja. Tapiya, selalu ada tapi dong biar seruternyata Anne tak mendapat cukup perhatian dari orang tua, terutama ayahnya. Sedangkan ibunya terlalu mengekangnya.

Ditambah dengan sebuah trauma besar di masa kecil, Anne rupanya terjerumus dalam hubungan yang beracun dengan seorang pemuda. Pemuda itu memberikan perhatian yang memabukkan, dan membuat Anne rela mengorbankan apa saja, termasuk sahabat-sahabatnya.

Seperti dugaan pembacadalam hal ini saya, ternyata pemuda itu kurang asem alias kurang ajar. Anna kecewa, sangat. 

Dengan bantuan sang psikolog, Anna berusaha bangkit dari lubang hitam dalam dirinya yang selalu membuatnya bermimpi buruk. Bocoran: novel ini happy ending.

***

Puas, adalah kata yang paling pas menggambarkan perasaan saya setelah membaca novel karya Fakhrisina Amalia ini. Puas karena masalah si tokoh utama akhirnya terpecahkan satu per satu tanpa ada yang tertinggal. Walaupun konfliknya bertumpuk-tumpuk, tapi penulis berhasil menjabarkannya dengan halus.

Sejujurnya ada salah satu solusi dalam novel ini yang saya kurang setuju, tapi ini subjektif sekali, sih. Dan tidak mengurangi keasikan cerita.

Tidak lebay. Baik dari segi teknis maupun cerita itu sendiri. Diksi dan kalimatnya tidak berlarat-larat, sederhana. Saya kagum bagaimana penulis tidak memberikan adegan-adegan  romantisbaik narasi maupun dialogyang lebay ala-ala anak muda zaman sekarang. Semua digambarkan secara pas, cukup, interaksi antartokoh yang natural. Enak untuk diikuti.

Novel bertema psikologi semacam ini sejak awal telah memiliki kelebihan karena bisa mengangkat isu yang jarang dibicarakan orang. Mungkin karena dianggap tabu, atau aib, atau apalah. Padahal kisah semacam ini saya yakin ada, bahkan banyak sekali terjadi di luar sana. Melalui cerita, isu-isu itu tak lagi tabu, dan bisa dipahami dengan baik.

Kelebihan lainnya Represi ialah ditulis oleh seorang psikolog tetapi tidak menceramahi. Menurut saya ini tantangan besar. Saya sendiri baru kali ini membaca karya Fakhrisina Amalia yang ternyata adalah novel kelimanya. Pantas saja novel ini berhasil membius pembaca.

Di novel ini, pembaca tak akan dihujani teori-teori psikologi. Namun, pembaca langsung disajikan sebuah kasus, dan diperlihatkan bagaimana seorang psikolog menangani kasus tersebut.

Dan yang dihadapi psikolog ini bukanlah murid atau mahasiswa, melainkan pasien. Setting yang digunakan pun di ruang konseling, antara psikolog dan klien, membuat dialog-dialog di dalamnya terasa pas, tidak dipaksakan.

Yang tak kalah penting, saya senang novel ini hanya 200-an halaman. Hahaha. Karena membaca di ebook ngga kuat kalo baca tebel-tebel. 

Overall, Represi saya rekomendasikan untuk teman-teman semua, baik remaja maupun dewasa. Ibarat makanan, Represi adalah cemilan bergizi yang enak dan ngga bikin kekenyangan. Mungkin semacam apel kalo bagi saya. Atau rujak.