Posts

Showing posts from June, 2024

Kelas Online dengan Mba Indah

Day 20 Semalam ada kelas via Zoom, bagian dari kelas 30 DWC. Kelas tentang menulis sudah tidak asing bagiku, tapi yang satu ini cukup spesial karena pematerinya. Narasumber semalam adalah Mba Nurindah atau yang akrab disapa Mba Indah. Mba Indah adalah seorang psikolog, pendiri XBrasi, dan juga penulis buku nonfiksi. Bagiku sendiri, Mba Indah adalah seorang mentor menulis. Pertama kali dimentori oleh Mba Indah ketika program dari Rumbel Menulis IP Jakarta, namanya Solo-book Bootcamp (RBM SBC)kalau tidak salah. Itu di pertengahan tahun 2021. Aku senang sekali bisa merasakan program itu dari RBM. Walaupun lumayan deg-degan pas tahu mentor nonfiksinya adalah Mba Indah.  Alhamdulillah, Mba Indah lihai sekali dalam memberi kritik dan saran yang konstruktif. Tidak membuat kita down, apalagi aku yang masih newbie dalam menulis buku solo. Kebetulan juga tema tulisanku ada bersinggungan dengan psikologi lah gitu, jadi makin yakin kalau dimentori sama Mba Indah yang seorang psikolog. Dua tahun be

Pindah-Pindah Lagi

Pindah rumah bagiku adalah sebuah momen besar, momen spesial, sebuah keputusan yang serius. Semenjak menikah, aku dan suami telah beberapa kali pindah rumah. Ketika baru menikah dan langsung ikut ke Batam, aku sempat tinggal di kosan suami selama dua hari. Kemudian kami pindah ke rusun. Rusun ini seperti kosan yang lebih luas, kamar mandi dalam, ada meja kompor, tapi tidak ada furnitur apapun. Untuk pasangan suami istri yang baru saja menikah, menurutku ini pas-pas saja. Di dalam komplek rusun pun ada masjid, lapangan, tukang sayur, warung, dan dua warteg. Cukup lengkap dan nyaman. Hanya beberapa bulan, kami lalu pindah ke rumah dinas di daerah Tiban. Alhamdulillah, rumahnya cukup luas, di dalam komplek yang sederhana. Di sanalah kami tinggal selama empat tahun. Enaknya di rumah dinas ini karena tidak ada biaya bulanan. Namun, di awal sebelum pindah, kami harus keluar modal dulu untuk merenovasi. Karena rumah itu sudah lama kosong dan sudah ada bagian yang rusak. Setelah empat tahun, k

Ketika Ide datang Mendadak

Kemarin adalah hari yang mendebarkan dan melelahkan bagi jari-jemari saya. Bagaimana tidak, tepat di hari deadline lomba menulis, saya tiba-tiba terpikir sebuah ide tulisan feature . Kalau tidak dieksekusi, kok, rasanya sayang sekali. Alhasil, saya mencoba sajalah buat, walaupun waktunya tinggal beberapa jam lagi sampai penutupan. And I wasn’t free yesterday. Jadi harus curi-curi waktu, riset kecil-kecilan, dan menulis. Sebenarnya jika hanya menulis lima ratus kata, it will be just fine . Masalahnya, lomba ini minimal 1500 kata! ( Inhale… Exhale… ) Saya yang menulis 700 kata saja sudah ngos-ngosan tentu semakin puyeng memikirkannya. Bukan jumlah yang sedikit, secara hitungan halaman kurang lebih lima atau enam halaman A4.  Akan tetapi, sudahlah, gas pol rem blong. Sampai jam tujuh malam baru dapat lima ratus kata. Kemudian baru bisa benar-benar menulis di jam sepuluh malam lewat, setelah si bocil tidur. Artinya, seribu kata dalam dua jam. Tulisan nonfiksi. Duh, bahkan cerpen pun agakny

Gramedia Digital, I Love You But I Hate You

Ketika di tahun 2020, Gramedia merilis aplikasi Gramedia Digital untuk membaca ebook secara legal, ah, sungguh aku bahagia dan bersyukur. Karena ini artinya aku tidak perlu menambah ruang atau rak untuk buku-buku baru demi memenuhi nafsu membaca. Apalagi ketika ada teman yang mengajak sharing berlangganan GramDig, sempurna sudah harapanku terkabul. Aku bisa berlangganan premium, tahunan, dengan harga tetap terjangkau. Koleksi buku yang ditawarkan pun sangat banyak.  Aku pun mulai meminta rekomendasi buku dari teman-teman, aku bisa membaca berbagai jenis buku tanpa harus membeli versi cetaknya. Dan ini semua legal. Luar biasa. Namun, tiba-tiba, negara api menyerang. Wkwk.  Bukan, bukan negara api, entah apa yang membuat Gramedia mengotak-atik aplikasi yang sudah cukup baik ini. Di awal tahun ini, muncul sebuah update yang cukup besar. Ketika kita meng-update aplikasi GramDig ini, maka semua buku yang sudah diunduh hilang tak berbekas! Duh, teganyaaa! Tapi, baiklah, anggap saja ini sepe

Catatan Tengah Malam

Day 16 Takbir bergema. Iduladha di depan mata. Alhamdulillaah. Alhamdulillaah. Besok, semoga bisa salat iduladha dengan lancar. Semoga amal ibadah kita diterima.  Semoga, ibadah-ibadah kita, bukan sekadar amalan badam. Bukan sekadar memenuhi kewajiban. Bukan sekadar ikut-ikutan. Rindu sekali, ketika ibadah sehari-hari benar-benar merasuk di hati. Sungguh-sungguh dihayati, dipahami. Ketika ibadah menjadi penenang, pengalih perhatian dari kesibukan dunia yang tidak ada habisnya. Ketika salah fokus terus menerus, aku merindukan ibadah yang benar-benar serius. Merindukan niat yang lurus, dan tidak terbawa arus. Ah, memang benar sebuah nasihat yang pernah kudengar. Rezeki yang tidak mendekatkan kepada Allah, rezeki yang justru melalaikan dari ibadah, sejatinya bukanlah rezeki. Sebaliknya, itu adalah musibah yang tak disadari. Astaghfirullaah. Ketika hati ini terlena dengan dunia, semua terasa begitu penting, sekaligus sangat sia-sia. Terasa lelah, tanpa hasil yang indah. Bukannya pelepas da

Mendadak Thriller Gara-gara Aplikasi Penipuan

Kemarin sore menjadi hari yang menegangkan. Karena tanpa sengaja, aku memgunduh file berekstensi .apk yang dikirimkam via WA oleh seorang kawan. You know what it means? Yap! Itu adalah aplikasi penipuan. Kabar tentang modus penipuan ini sudah banyak tersebar, aku pun sudah tahu. Aku bahkan pernah mengingatkan ibuku tentang adanya modus seperti ini. Namun, ketika dihadapkan langsung, well, it's a different story. Awalnya aku memang merasa bingung, kok temanku tiba-tiba mengirim WA ke sebuah grup webinar yang sudah lama. Kemudian kubacalah pesan WA itu. Wah, undangan pernikahan. Siapa yang menikah? Batinku. Lalu, seperti refleks saja, jari jempolku dengan entengnya mengklik file yang berjudul "undangan pernikahan. Baru beberapa detik setelahnya aku menyadari bahwa file itu adalah APK. Hampir saja aku mengklik lagi file itu dengan maksud meng-cancel unduhan, tapi ternyata sudah selesai diunduh! Kalau kutekan lagi justru akan membuka file dan menginstall aplikasi jahanam itu. Akhi

Opsi Rumah Baru

Day 14 Pencarian rumah kembali menemukan drama. Well, sebenarnya bukan drama juga siy, karena ini bukan sesuatu yang buruk. Malahan mungkin sebenarnya ini hal yang baik. Jadi, di last minute, injury time, ketika kami sudah 80% yakin dengan satu pilihan, tiba-tiba muncul pilihan lain. Pilihan baru ini tampak begitu menggiurkan, dari segi biaya yang lebih murah, rumahnya sendiri dari luar tampak oke. Secara lokasi juga mendukung. Ah, ini membingungkan sekaligus menggiurkan. Berada di antara dua pilihan yang sama-sama bagus. Insyaallah, besok adalah penentuannya. Besok, sama-sama baru akan lihat langsung kedua pilihan itu. Bismillaah. Semoga Allah berikan pilihan terbaik, tempat tinggal yang penuh berkah. Aamiin. Nah, selain itu, hari ini anak sulung terima rapor semester dua. Genap sudah perjalanannya dua tahun di TK. Alhamdulillaah. Sampai rumah, saya langsung melihat karya si anak selama di sekolah. Semua tugas-tugas sekolah selama setahun ini dibawakan pulang oleh gurunya.  Bagian yan

Menyapih Anak Kedua

Waktu menunjukkan pukul 23.41 dan aku baru saja membuka laptop, mulai menulis. Sungguh aku tidak tahu akan menulis apa. Yang kutahu hanyalah, aku tidak ingin jika hari ini tidak setoran 30 DWC, atau telat setor. Jadi, kutulis sajalah apa yang terlintas. Well, actually nothing goes on my mind right now. Ah, paling mudah adalah menuliskan keluhan atau uneg-uneg atau yaa semacam itu. So, saat ini hal yang paling sulit adalah menyapih. Ya, menyapih si bungsu, ini berbeda sekali situasi dan kondisinya dibanding lima tahun lalu saat menyapih si sulung. Karena pengalaman menyapih anak pertama yang terbilang mulus, memang agaknya aku meremehkan hal ini di anak kedua. So, here i am. Anak bungsu sudah berusia 26 bulan tepat di hari ini, dan masih belum disapih. Padahal, sejak beberapa bulan lalu dokter sudah menyarankan untuk disapih agar makannya lebih lahap. Well, the problem is, trik yang kugunakan saat menyapih anak pertama dulu tidak bisa digunakan lagi sekarang. Lagi-lagi, ya itu, perbedaa

ISK, Fimosis, dan Sunatan yang Tertunda

Bagi ibu-ibu yang memiliki anak laki-laki mungkin sudah kenal dengan istilah fimosis. Fimosis adalah keadaan ketika kulit kulup penis itu terlalu rapat, sehingga ketika ditarik akan sulit untuk kepala penisnya keluar. Kondisi ini membuat risiko infeksi saluran kencing (ISK) meningkat. Itulah yang dialami oleh si sulung. Dia sudah pernah terkena ISK ketika usia hampir empat tahun. Waktu itu dokter mendiagnosis fimosis dan menyarankan sunat. Alhamdulillah ISK-nya sembuh. Namun, belum kunjung disunat karena anaknya masih sangat enggan. Kira-kira setahun kemudian, dia ISK lagi dan agak lebih parah. Kali ini benar-benar diperiksa urin, USG, dan diberi obat antibiotik. Alhamdulillah sembuh. Lagi-lagi dokter menyarankan segera sunat. Ketika itu dokter menyarankan sunat di rumah sakit, karena ada kondisi fimosis dan sudah pernah ISK. Nah, setelah bujuk rayu, beberapa bulan setelahnya anaknya mau disunat. Dia sudah tidak takut lagi karena diiming-imingi akan disunat barengan dengan saudara sepu

Ini Tidak Seburuk yang Kamu Pikirkan

Ketika mendapati suatu kesulitan di tengah jalan, aku seringkali langsung berpikir, “ini sulit”, “ini tidak mungkin”, dan semacamnya. Padahal aku belum benar-benar mengalami atau menjalaninya.  Ketika sudah dijalani, ternyata itu tidak seburuk yang kubayangkan. Perasaan pesimis ini menurutku tidak sepenuhnya buruk. Dalam sebuah kelas online tentang pengasuhan, aku pernah membaca, bahwa ketika anak akan disuntik, jangan katakan “ngga sakit kok”. Karena kalau begitu, anak justru tidak siap, dan sakit yang dirasakan ketika jarum disuntikkan justru bisa jadi terasa lebih sakit dari seharusnya karena adanya efek kaget. Tubuh tidak siap dengan rasa sakit yang akan datang.  Sebaliknya, kita justru harus memberi pengertian pada anak, bahwa apa yang akan dilakukan ini sakit lho, tapi ini demi kebaikan. Dengan begitu, tubuh akan bersiap, sehingga rasa sakit itu bisa diantisipasi. Mungkin kurang lebih begitu yang kurasakan ketika akan menghadapi hal yang tidak disuka. Lebih baik membayangkann kem

Pengalaman Mengikuti Editor’s Clinic Gramedia Pustaka Utama

Biasanya di klinik kita akan bertemu dokter, konsul atau berobat tentang kesehatan diri kita. Nah, kalau di klinik yang satu ini, kita bukan bertemu dokter, melainkan editor. Dan bukan badan kita yang diperiksa, tapi naskah kita. Menarik kan? Pertama kali saya mendengar ada acara editor’s clinic ini sekitar pertengahan tahun lalu. Di akun IG-nya, Gramedia mengumumkan seleksi naskah untuk editor’s clinic. Sayangnya, waktu itu naskah saya belum rampung. Terpaksa melewatkan kesempatan berharga itu. Hiks. Nah, alhamdulillah, dua bulan berselang, Gramedia kembali membuka kesempatan untuk ikut editor’s clinic di acara Indonesia International Book Fair (IIBF). Tentu saja saya tidak mau kelewatan kesempatan lagi. Langsung rapikan naskah, dan submit. Naskah yang dikirim hanya outline atau sinopsis keseluruhan dan tiga bab pertama. Lalu tinggal duduk anteng menunggu pengumuman lolos atau tidak. Alhamdulillah, naskah saya menjadi satu dari sepuluh naskah yang terpilih. Ada sepuluh naskah fiksi, d

Mencari Rumah (Lagi)

Bulan Juni tahun ini ternyata menjadi salah satu bulan yang paling sibuk. Salah satunya karena harus mencari rumah kontrakan baru. Sebuah pencarian yang tidak mudah, seperti mencari jodoh. Wkwk. Apalagi pindahan kali ini agak jauh. Maka pencarian pun tidak semudah yang sudah-sudah. Namun, alhamdulillah, Allah mudahkan kami menemukan beberapa opsi. Insyaallah, semoga tempat bernaung kami nantinya penuh dengan keberkahan. Selain pindahan, sebuah momen besar di bulan ini juga adalah sunatan. Si anak sulung akhirnya mau disunat. Sebagai ibu yang tidak punya adik atau kakak laki-laki, ini akan jadi pengalaman baru yang agak bikin deg-degan bagi saya. Akan tetapi, yaa insyaallah, saya yakin dengan segera sunat ini adalah hal yang terbaik. Bahkan dokter sebenarnya sudah menyarankan sunat sejak awal tahun. Waktu itu karena si sulung ISK, dan memang ada fimosis, jadi lebih cepat disunat akan lebih baik. Sebelum disunat akhir bulan nanti, si sulung akan diperiksa dulu. Dokter akan menilai apakah

Mari Mengubah Mindset Ini

Kejadian kurang menyenangkan yang dialami seorang teman turut membuka luka lama yang bercokol di hatiku. Jadi begini, beberapa waktu lalu teman saya menghadiri sebuah acara. Anggap saja sebuah seminar atau pelatihan. Acara itu dihadiri ratusan peserta yang sebagian besar adalah pendidik. Teman saya, dan puluhan peserta lain, adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka mendapat undangan menghadiri acara tersebut.  Kemudian selama acara berlangsung, rupanya ada beberapa peserta yang heran dan tampak keberatan dengan kehadiran para ibu-ibu ini. Karena mereka menilai para ibu ini tidak ada hubungannya dengan sistem pendidikan.  Ah, ini mengingatkan saya ketika beberapa tahun lalu menghadiri acara dan mendapat kesan serupa dari peserta lain. Intinya, masih banyak orang yang beranggapan bahwa ibu rumah tangga yaa sudahlah, ngurusin rumah saja. Tidak usah ikut kegiatan yang begini begitu. Duh, let me tell you something.  Ibu rumah zaman sekarang dan ibu rumah tangga puluhan tahun lalu itu punya k

Dua Tahun Itu, Terlewati Sudah

Hari ini Jumat, 7 Juni 2024, hari terakhir anak sulungku sekolah di TK. Minggu depan dia sudah libur, dan hari Jumat depan terima rapor. Bulan depan, ia akan menggunakan seragam yang berbeda, menjadi anak SD. Insyaallah.  Berada di ujung jalan seperti ini memang membuat kita terkenang masa lalu. Masa ketika semuanya baru dimulai. Rasanya seperti baru kemarin, anak sulung ini mengukur baju seragam TK dengan wajah berseri-seri. Ia membuat kami takjub ketika memasuki hari pertama di TK, karena dia sama sekali tidak mengeluh, tidak takut, tidak minta ditemani. Padahal ia benar-benar anak rumahan, jarang main keluar, tidak punya teman. Hiks. Jadi, wajar saja ketika neneknya sanksi anak ini akan langsung betah di sekolah. Ternyata semua sangkaan itu terbantahkan. Anak ini sejak awal sangat semangat sekolah.  Saking semangatnya, jika menurutnya sudah terlambat berangkat, ia tidak mau. Baginya lebih baik tidak masuk sekalian daripada terlambat. Baginya lebih baik datang terlalu cepat, ketika b

Kelas Daring Tidak Seindah Itu, Kawan

Ketika pandemi Covid-19 merebak, kelas-kelas daring tumbuh subur di mana-mana. Mulai dari kelas-kelas pendidikan formal sampai non-formal, semua mengadakan versi daring. Kelas daring ini sungguh menjadi terobosan yang menyegarkan di tengah kehausan akan komunikasi sosial. Sekaligus mengalihkan pikiran dari kengerian tentang Covid-19 itu sendiri. Saya pun tak ketinggalan mengikuti beberapa kelas daring bertema penulisan. Namun, sungguh, kelas daring alias online tidaklah seindah yang digembar-gemborkan. Dari sisi positifnya, jelas, kelas daring dapat menjangkau banyak massa. Batas-batas geografis bisa ditembusnya, biaya pun tidak jadi masalah dibandingkan kelas luring atau offline . Peserta juga pasti merasa lebih leluasa karena kelas daring bisa diikuti dari mana saja, tidak harus di rumah saja. Bisa juga disambi dengan pekerjaan lain, ibu-ibu misalnya, bisa menyimak kelas sambil menyusui bayi, atau sembari membereskan rumah. Namun, sisi-sisi positif ini juga menjadi kekurangan kelas

Untuk Emak-Emak yang Ingin Menulis Opini

Beberapa waktu lalu saya mengikuti kelas daring dari Tempo Institute yang membahas tentang penulisan opini. Kelas itu diampu oleh Mas Iwan Setiawan yang merupakan Redaktur Pelaksana Tempo. Secara umum, opini adalah tulisan ilmiah populer, tentang suatu isu spesifik, berkaitan dengan pembuat kebijakan, dan sasaran pembaca adalah masyarakat umum. Karena diadakan oleh Tempo, tentu yang dijelaskan adalah kriteria opini yang biasa dimuat di sana. Memuat isu yang memang serius, secara lugas, dengan tema-tema sosial, budaya, dan politik. Di kelas daring ini ada sesi tanya jawab. Muncullah sebuah pertanyaan dari salah satu peserta. “Apakah latar belakang penulis juga berpengaruh agar tulisannya dimuat atau tidak?” Jawaban Mas Iwan adalah “Iya”. Tidak mengherankan, karena jika mengomentari sebuah isu penting, yang memang serius, wajar kalau kita mempertimbangkan siapa yang berbicara. Misalnya, opini tentang sebuah isu politik dari seseorang yang memang mempelajari dan menekuni dunia politik sud

Surat Cinta untuk Ibu Rumah Tangga

  Assalamu’alaikum, Buibuuu! Apa kabarmu? Sehat? Lelah? Kesal? Capek? Sama, dong. Hehe. Alhamdulillah, ya, Buk, apapun kondisinya, kita harus syukuri, supaya nikmat yang ada ditambahkan lagi oleh Allah. Aamiin. Karena yaa memang sih, bagaimana pun kondisi kita, sebenarnya selalu ada nikmat besar di baliknya. Hanya saja kita sering lupa, atau take it for granted alias menyepelekan, meremehkan. Padahal ketika nikmat yang kita anggap remeh itu dicabut, beeuuuhh, bisa nangis bombay kita. Pernah ngga sih, saat kita merasa sedang panik, sedih, lelah, marah, lalu kita berpikir, this can’t be any worse , eh ternyata it can ! Dan saat itulah baru kita sadar, bahwa keadaan kita sebelumnya, yang kita anggap udah menderita banget, itu belum seberapa. Jadi memang harusnya sih kita mensyukuri setiap keadaan, ya.  Buk, lelah itu wajar, manusiawi. Begitu juga dengan rasa kesal, marah, bosan, sedih, dll. Itu semua sudah fitrah kita sebagai manusia. Kadang kita kecewa pada orang lain, kadang sebaliknya

Resensi Novel Vermilion Rain

Image
  Penulis: Kai Elian Jumlah halaman: 296 Tahun terbit: 2023 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Sinopsis Asayana Brahma, mantan prakirawan cuaca, diajak oleh sahabatnya untuk mencari tahu fenomena misterius di Desa Bokudi, yang terletak di lereng Gunung Morui. Desa tersebut diguyur hujan selama berbulan-bulan tanpa henti, menyebabkan ancaman longsor di lereng gunung.  Asa dan beberapa orang lainnya berusaha membujuk warga desa agar mau dievakuasi. Namun, warga desa menolak. Asa dan timnya pun menginap beberapa hari di desa itu. Saat itulah muncul sejumlah keanehan. Satu-persatu rekan Asa ditemukan tewas. Dirinya sendiri pun terancam. Membingungkan Entah saya yang tidak mudeng atau bagaimana, tetapi di beberapa bab awal novel ini terasa membingungkan. Karena cerita disampaikan dari dua latar waktu yang berbeda, dan tidak diberi keterangan di awal bab, sehingga cukup membuat saya berpikir, “Lho, kok gini? Lho, kok gitu?”. Setelah beberapa kali kebingungan, barulah saya ngeh dengan alur cer

Harta yang Paling Berharga adalah Tetangga

Salah satu harta yang paling berharga adalah tetangga, tepatnya tetangga yang baik. Setujukah kalian? Saya pribadi sangat setuju! Betapa tidak, di tengah kehidupan yang makin individualis, saya ditakdirkan untuk merasakan nikmatnya memiliki tetangga yang sangat baik. Akan saya jabarkan kebaikannya, agar bisa menginspirasi kita semua. Beliau lebih dulu menyapa dan mengajak berkenalan Saat itu sekitar bulan Maret-April 2016. Saya masih ingat pertama kali tetangga saya–sebut saja Mama Najmi–menyapa ketika kami sedang belanja di tukang sayur. Rumahnya di depan rumah saya. Beliau punya tiga orang anak, yang dua sudah SD, sedangkan yang bungsu seumuran dengan anak pertama saya. Sebagai orang yang introvert dan sangat pemalu, disapa duluan membuat saya lega. Haha. Dan perkenalan itu pun membuat kami sering tegur sapa ketika bertemu. Beliau sangat ramah dan easygoing. Karena seumuran, anak-anak kami pun sering main bareng. kadang main di rumahnya, kadang di rumah saya. Beliau kerap memberikan

Resensi Novel Yang Telah Lama Pergi

Image
Penulis: Tere Liye Tahun Terbit: 2023 Penerbit: Sabakgrip Desain sampul novel itu terlalu monoton dan tidak menarik, juga memberi kesan cerita dalam buku itu temanya “berat”. Begitulah komentar saya dalam hati ketika pertama kali melihat novel Yang Telah Lama Pergi di toko buku. Hanya satu hal yang membuat saya tertarik mengambil novel itu, yaitu nama penulisnya: Tere Liye. itu pun saya tidak lantas membelinya. Haha.  Setelah beberapa kali ke toko buku, membaca beberapa halamannya, barulah saya memutuskan membeli buku sejarah ini. Fyi , saya beli di toko oren, official store Tere Liye karena harganya jauh lebih murah. 🙂 Lalu apakah benar kalau novel ini berat dan monoton? Hahahaha. Ternyata–seperti biasa–saya salah sangka! Dan seperti novel Tere Liye lainnya yang sudah saya baca, this one is good, it’s great! Sinopsis Novel ini mengajak kita berkelana ke zaman ratusan tahun lalu, jauh sebelum ada ponsel dan medsos. Tepatnya tahun 1270-an. Seorang pemuda dari Baghdad memilih pergi ber