Posts

Showing posts from June, 2024

Menemukan Dua Hal yang Penting

Dalam perjalanan mengembangkan diri, saya menyadari ada dua hal yang penting sekali untuk diatasi. Sebelum dua hal ini ditemukan, disadari, saya rasa akan sulit perjalanan ini untuk menemukan ujungnya. Pertama, adalah mengetahui apa kelemahan terbesar kita. Kelemahan itu bisa sesuatu yang memang tidak kita sukai, atau bahkan sesuatu yang kita benci, atau sesuatu yang kita takuti dan sangat hindari. Bisa juga sesuatu yang sangat sulit untuk kita lakukan. Kelemahan ini sebaiknya kita sadari segera agar bisa dicari solusinya, dan supaya usaha kita ke depannya tidak mandeg . Well , saya pribadi menyadari bahwa kelemahan terbesar saya adalah sulit bagi saya untuk bisa konsisten. Istikamah. Dan saya menyadari bahwa ini fatal sekali.  Pasalnya, dari banyak sumber, ustadz, guru, narasumber, buku-buku, seringkali saya menemukan pernyataan bahwa konsistensi adalah kunci. Jelas, dalam beribadah pun konsisten itu sangat penting. Bahkan dalam sebuah hadist riwayat Muslim, dari Aisyah ra., Rasululla

Mencari Ketenangan, Melupakan Sumbernya

  “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d: 28) Dalam perjalanan pencarian rumah, berpindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain, saya dan suami mengobrol dan merenungkan, sebenarnya untuk apa kita berpindah-pindah? Untuk apa membeli rumah? Toh, tidak ada salahnya mengontrak. Ya, sebenarnya doktrin bahwa membeli rumah adalah sebuah kewajiban itu memang diturunkan dari orang tua saya. Bukan hal yang aneh, ketika orang tua berharap anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik. Dan bagi ibu saya, kehidupan lebih baik itu salah satunya adalah dengan memiliki rumah sendiri. Pasalnya, ibu saya sejak dulu hidup di rumah kontrakan. Saya masih ingat, sekitar 22 tahun lalu, pertama kalinya pindah dari rumah yang saya tempati sejak lahir. Kala itu kami pindah karena si pemilik kontrakan ingin membangun ulang area itu, sehingga kami, dan beberapa tetangga, terpaks

Hal-Hal yang (Bukan) Rahasia

“Rahasia!” kata seorang perempuan berusia paruh baya, sambil malu-malu. Ia lebih tampak seperti orang yang ingin membeberkan rahasia, tapi tidak ingin benar-benar kelihatan begitu. Paham, kan, maksudnya? “Ih, kasih tahu, dong. Ke mana, sih, orang itu? Kok, katanya ngga pulang ke rumahnya, ya?” sahut seorang perempuan lawan bicaranya yang jelas terpancing umpan “rahasia” tadi. “Ibunya aja nggak tahu, lho, dia ke mana.” “Ke mana, sih, emangnya?” Pergunjingan dua ibu-ibu itu pun berlanjut, makin seru. Keduanya tampak begitu antusias. Yang satu semangat membocorkan rahasia berupa aib orang, yang satu tak kalah gigih mengulik aib orang. Sialnya, saya justru merasa risih sekali karena tidak sengaja mendengar obrolan tadi di warung saat sedang belanja.  Entah mengapa, rasanya obrolan langsung mendadak seru kalau sudah ada kalimat seperti itu. Ketika dibilang rahasia, semua justru ingin mendengarnya. Sama seperti kalau dibilang “jangan”, malah tergoda untuk melakukannya.  Padahal, kalau sudah

Sekolah Mahal atau Sekolah Gratis?

Akhir-akhir ini (katanya) sedang ramai dibahas tentang biaya SDIT yang mahal. Isu-isu seperti ini memang wajar mencuat di masa akhir/awal tahun ajaran. Banyak orang tua yang berburu sekolah bagi anak-anaknya. Terlepas dari masih semrawutnya pendidikan di Indonesia, sebenarnya opsi sekolah di kota-kota besar cukup banyak. Mau yang gratis? Ada sekolah negeri. Mau yang berbayar? Banyak sekolah swasta. Masalah kualitas memang tidak bisa disamaratakan. Tinggal dipilah yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Tidak ada yang sempurna, tentu saja. Nah, masalahnya, ketika ingin spek mahal dengan harga murah. Lalu, karena kesal, mulai menyebut kalau ilmu seharusnya tidak mahal, pendidikan bukan bisnis, dst. Di sinilah kita harus melihat dari dua sisi. Saya teringat dalam novel Janji karya Tere Liye. Di salah satu bagian disebutkan bahwa “ilmu itu gratis”. Sepertinya senada dengan protes sekolah mahal, kan? Sebenarnya tidak demikian. “Ilmu itu gratis” adalah pemahaman yang bagus jika dipegang

Why Do You Make Me Do This?

Why do you make me do this? Itulah pertanyaan si sulung ketika bius sunatnya habis. Sambil teriak kesakitan, dia mengatakan itu.  Aku jawab karena dokter yang menyarankan, tapi dia tidak terima jawaban itu. Tentu saja. Aku tahu anak ini perlu jawaban yang bisa dia terima untuk rasa sakit yang sebesar itu. Namun, menjelaskan bahwa khitan adalah kewajiban agama di tengah kondisi yang tidak tenang seperti itu rasanya tidak bagus. Aku ingin dia bisa menerima dengan baik, bukan ketika marah-marah dan menyimpulkan kalau kewajiban satu ini menyakitkan. Di situ aku kembali terpikirkan, bahwa semua ada saatnya. Tidak harus semuanya diketahui sekarang. Salah satu contohnya, tentang pernikahan dan kehidupan setelah akad nikah.  Adikku pernah bertanya, ”kenapa kita ga dikasih tahu ini semua dulu sebelum menikah? Sejak dulu?”  Itu pertanyaan yang muncul setelah dia membaca-baca di Twitter, entah dari mana, membahas masalah-masalah pernikahan.  Well, aku hanya menjawab bahwa memang tidak semua harus

Yang Baru Kutahu tentang Khitan

Karena tidak punya saudara laki-laki, saya benar-benar buta tentang sunat menyunat alias khitan. Dan ketika anak sulung sunat hari Minggu lalu, barulah saya menyadari beberapa hal tentang khitan ini. Pertama, selain proses sunat itu sendiri, yang juga butuh kesabaran adalah proses penyembuhannya. Tadinya saya pikir, setelah melewati proses sunat, maka sudah selesai. Yaa tinggal penyembuhan layaknya penyembuhan luka pada umumnya begitu. Seperti habis lahiran normal lah, bahkan setelah selesai dijahit sudah tidak sakit lagi. Ternyata tidak! Proses penyembuhan khitan ini bahkan mungkin lebih menantang dibanding khitannya yang hanya 20 menit itu. Mungkin karena ada bagian yang dihilangkan, ya, jadi sakitnya pun luar biasa. Terutama ketika efek bius habis, aku agak kaget juga karena anaknya teriak-teriak kesakitan. Untunglah keluarga suami sudah tidak heran, dan katanya memang wajar. “Dulu bapaknya juga gitu,” kata mereka. Setelah obat painkiller bekerja, alhamdulillah sakitnya hilang, tid

Untuk Apa?

Day 23 (Eksistensi) { ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ } “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” [Surah Al-Mulk: 2] Kadang, atau malah sering, terutama kalau lagi masa-masa sulit, masa-masa sedih, atau lagi lelah, atau pikiran terombang-ambing, kemudian bertanya-tanya, untuk apa siy sebenarnya hidup ini? Lalu teringat perkataan Allah dalam surat Al Mulk ayat 2. Memanglah dunia ini ya ujian. Sejatinya semuanya ujian. Jadi, jangan heran ketika merasa sedih, lelah, capek, sulit, karena ya, memang sedang diuji. Bahkan harta dan kesenangan juga sebenarnya adalah ujian. Iya ya… Kalau sudah begini, hanya bisa berdoa semoga kita lulus ujian. Semoga ujian ini bukanlah penambah dosa, melainkan penambah pahala. Semoga ujian ini mendatangkan sabar dan syukur, bukan marah dan takabur. Alhamdulill. Kalau begitu, memang semu

Ketika Anak Didiagnosis TB

Menerima sesuatu itu umumnya mudah-mudah saja. Toh, tinggal terima saja, bukan memberi. Ada yang beri makanan, tinggal terima. Ada yang memberi bantuan, bisa ditimbang, lalu terima. Alhamdulillah, tinggal terima saja. Namun, adakalanya menerima itu sulit sekali, perlu waktu. Di antaranya adalah menerima takdir yang menurut kita buruk. Astaghfirullaah. Padahal sejatinya kita tahu, tidak ada takdir yang buruk. Apalagi bagi seorang muslim, ketika diberi kesenangan dia harusnya bersyukur, dan ketika diberi ujian dia harusnya bersabar. Dan keduanya adalah hal baik yang mendatangkan keridaan Allah. Itu pemahaman yang sudah sering sekali didengar dari kajian-kajian. Rasanya seperti ringan saja. Lain cerita ketika waktu praktiknya tiba. Seolah semua ilmu itu terlupakan, seolah semua hanya kata-kata hiburan. Karena kita tidak mau berpasrah, menerima keadaan, menerima takdir. Salah satunya bagi saya adalah ketika menerima kenyataan bahwa anak kedua saya BB-nya sangat susah naik. Dan salah satu k

Pengalaman ke CS Mandiri yang Ternyata sudah Banyak Berubah

Disclaimer dulu, ya. Ini tidak berlaku di semua Mandiri sepertinya, hanya beberapa saja.  Jadi, ini masih kelanjutan cerita mengunduh aplikasi penipuan beberapa waktu lalu itu. Nah, waktu itu demi berjaga-jaga kan langsung saya blokir semua mobile banking dan menghapus aplikasinya. Artinya, saya harus ke bank dan aktifkan lagi. Kemarin saya sempatkan ke bank Mandiri cabang bintaro sektor 1 karena ini salah satu yang terdekat, dan tempatnya cukup luas sehingga nyaman untuk anak-anak. Sebelum ke sana, saya membaca review dulu di Google, dan di luar dugaan, review akhir-akhir ini kebanyakan buruk. Beberapa bilang pelayanan lama. Ada yang sudah menunggu satu bahkan dua jam, macam-macam lah. Melihat itu saya jadi ragu. Saya akan ke sana membawa dua bocil yang lagi aktif-aktifnya, kalau antrinya lama tentu jadi masalah besar dong. Wkwk. Saya pun mencari-cari kantor cabang lain, tapi pilihan akhir tetap Mandiri bintaro sektor 1 karena dekat supermarket. Hehe. Nah, ketika saya sampai, langsun

Kelas Online dengan Mba Indah

Day 20 Semalam ada kelas via Zoom, bagian dari kelas 30 DWC. Kelas tentang menulis sudah tidak asing bagiku, tapi yang satu ini cukup spesial karena pematerinya. Narasumber semalam adalah Mba Nurindah atau yang akrab disapa Mba Indah. Mba Indah adalah seorang psikolog, pendiri XBrasi, dan juga penulis buku nonfiksi. Bagiku sendiri, Mba Indah adalah seorang mentor menulis. Pertama kali dimentori oleh Mba Indah ketika program dari Rumah Belajar Menulis IP Jakarta, namanya Solo-book Bootcamp (RBM SBC) kalau tidak salah. Itu di pertengahan tahun 2021. Aku senang sekali bisa mengikuti program RBM itu. Walaupun lumayan deg-degan pas tahu mentor nonfiksinya adalah Mba Indah.  Alhamdulillah, Mba Indah lihai sekali dalam memberi kritik dan saran yang konstruktif. Tidak membuat kita down , apalagi aku yang masih newbie dalam menulis buku solo. Kebetulan juga tema tulisanku bersinggungan dengan psikologi lah gitu, jadi makin yakin kalau dimentori sama Mba Indah yang seorang psikolog. Dua tahun b

Pindah-Pindah Lagi

Pindah rumah bagiku adalah sebuah momen besar, momen spesial, sebuah keputusan yang serius. Semenjak menikah, aku dan suami telah beberapa kali pindah rumah. Ketika baru menikah dan langsung ikut ke Batam, aku sempat tinggal di kosan suami selama dua hari. Kemudian kami pindah ke rusun. Rusun ini seperti kosan yang lebih luas, kamar mandi dalam, ada meja kompor, tapi tidak ada furnitur apapun. Untuk pasangan suami istri yang baru saja menikah, menurutku ini pas-pas saja. Di dalam komplek rusun pun ada masjid, lapangan, tukang sayur, warung, dan dua warteg. Cukup lengkap dan nyaman. Hanya beberapa bulan, kami lalu pindah ke rumah dinas di daerah Tiban. Alhamdulillah, rumahnya cukup luas, di dalam komplek yang sederhana. Di sanalah kami tinggal selama empat tahun. Enaknya di rumah dinas ini karena tidak ada biaya bulanan. Namun, di awal sebelum pindah, kami harus keluar modal dulu untuk merenovasi. Karena rumah itu sudah lama kosong dan sudah ada bagian yang rusak. Setelah empat tahun, k

Ketika Ide Datang Mendadak

Kemarin adalah hari yang mendebarkan dan melelahkan bagi jari-jemari saya. Bagaimana tidak, tepat di hari deadline lomba menulis, saya tiba-tiba terpikir sebuah ide tulisan feature. Kalau tidak dieksekusi, kok, rasanya sayang sekali. Alhasil, saya mencoba sajalah buat, walaupun waktunya tinggal beberapa jam lagi sampai penutupan. And I wasn’t free yesterday . Jadi harus curi-curi waktu, riset kecil-kecilan, dan menulis. Sebenarnya jika hanya menulis lima ratus kata, it will be just fine . Masalahnya, lomba ini minimal 1500 kata! ( Inhale… Exhale …) Saya yang menulis 700 kata saja sudah ngos-ngosan tentu semakin puyeng memikirkannya. Bukan jumlah yang sedikit, secara hitungan halaman kurang lebih lima atau enam halaman A4.  Akan tetapi, sudahlah, gas pol rem blong. Sampai jam tujuh malam baru dapat lima ratus kata. Kemudian baru bisa benar-benar menulis di jam sepuluh malam, setelah si bocil tidur. Artinya, seribu kata dalam dua jam. Tulisan nonfiksi. Duh, bahkan cerpen pun agaknya sul

Gramedia Digital, I Love You But I Hate You

Ketika di tahun 2020, Gramedia merilis aplikasi Gramedia Digital untuk membaca ebook secara legal, ah, sungguh aku bahagia dan bersyukur. Karena ini artinya aku tidak perlu menambah ruang atau rak untuk buku-buku baru demi memenuhi nafsu membaca. Apalagi ketika ada teman yang mengajak sharing berlangganan GramDig, sempurna sudah harapanku terkabul. Aku bisa berlangganan premium, tahunan, dengan harga tetap terjangkau. Koleksi buku yang ditawarkan pun sangat banyak.  Aku pun mulai meminta rekomendasi buku dari teman-teman, aku bisa membaca berbagai jenis buku tanpa harus membeli versi cetaknya. Dan ini semua legal. Luar biasa. Namun, tiba-tiba, negara api menyerang. Wkwk.  Bukan, bukan negara api, entah apa yang membuat Gramedia mengotak-atik aplikasi yang sudah cukup baik ini. Di awal tahun ini, muncul sebuah update yang cukup besar. Ketika kita meng-update aplikasi GramDig ini, maka semua buku yang sudah diunduh hilang tak berbekas! Duh, teganyaaa! Tapi, baiklah, anggap saja ini sepe

Catatan Tengah Malam

Day 16 Takbir bergema. Iduladha di depan mata. Alhamdulillaah. Alhamdulillaah. Besok, semoga bisa salat iduladha dengan lancar. Semoga amal ibadah kita diterima.  Semoga, ibadah-ibadah kita, bukan sekadar amalan badam. Bukan sekadar memenuhi kewajiban. Bukan sekadar ikut-ikutan. Rindu sekali, ketika ibadah sehari-hari benar-benar merasuk di hati. Sungguh-sungguh dihayati, dipahami. Ketika ibadah menjadi penenang, pengalih perhatian dari kesibukan dunia yang tidak ada habisnya. Ketika salah fokus terus menerus, aku merindukan ibadah yang benar-benar serius. Merindukan niat yang lurus, dan tidak terbawa arus. Ah, memang benar sebuah nasihat yang pernah kudengar. Rezeki yang tidak mendekatkan kepada Allah, rezeki yang justru melalaikan dari ibadah, sejatinya bukanlah rezeki. Sebaliknya, itu adalah musibah yang tak disadari. Astaghfirullaah. Ketika hati ini terlena dengan dunia, semua terasa begitu penting, sekaligus sangat sia-sia. Terasa lelah, tanpa hasil yang indah. Bukannya pelepas da

Mendadak Thriller Gara-gara Aplikasi Penipuan

Kemarin sore menjadi hari yang menegangkan. Karena tanpa sengaja, aku memgunduh file berekstensi .apk yang dikirimkam via WA oleh seorang kawan. You know what it means? Yap! Itu adalah aplikasi penipuan. Kabar tentang modus penipuan ini sudah banyak tersebar, aku pun sudah tahu. Aku bahkan pernah mengingatkan ibuku tentang adanya modus seperti ini. Namun, ketika dihadapkan langsung, well, it's a different story. Awalnya aku memang merasa bingung, kok temanku tiba-tiba mengirim WA ke sebuah grup webinar yang sudah lama. Kemudian kubacalah pesan WA itu. Wah, undangan pernikahan. Siapa yang menikah? Batinku. Lalu, seperti refleks saja, jari jempolku dengan entengnya mengklik file yang berjudul "undangan pernikahan. Baru beberapa detik setelahnya aku menyadari bahwa file itu adalah APK. Hampir saja aku mengklik lagi file itu dengan maksud meng-cancel unduhan, tapi ternyata sudah selesai diunduh! Kalau kutekan lagi justru akan membuka file dan menginstall aplikasi jahanam itu. Akhi

Opsi Rumah Baru

Day 14 Pencarian rumah kembali menemukan drama. Well, sebenarnya bukan drama juga siy, karena ini bukan sesuatu yang buruk. Malahan mungkin sebenarnya ini hal yang baik. Jadi, di last minute, injury time, ketika kami sudah 80% yakin dengan satu pilihan, tiba-tiba muncul pilihan lain. Pilihan baru ini tampak begitu menggiurkan, dari segi biaya yang lebih murah, rumahnya sendiri dari luar tampak oke. Secara lokasi juga mendukung. Ah, ini membingungkan sekaligus menggiurkan. Berada di antara dua pilihan yang sama-sama bagus. Insyaallah, besok adalah penentuannya. Besok, sama-sama baru akan lihat langsung kedua pilihan itu. Bismillaah. Semoga Allah berikan pilihan terbaik, tempat tinggal yang penuh berkah. Aamiin. Nah, selain itu, hari ini anak sulung terima rapor semester dua. Genap sudah perjalanannya dua tahun di TK. Alhamdulillaah. Sampai rumah, saya langsung melihat karya si anak selama di sekolah. Semua tugas-tugas sekolah selama setahun ini dibawakan pulang oleh gurunya.  Bagian yan

Menyapih Anak Kedua

Waktu menunjukkan pukul 23.41 dan aku baru saja membuka laptop, mulai menulis. Sungguh aku tidak tahu akan menulis apa. Yang kutahu hanyalah, aku tidak ingin jika hari ini tidak setoran 30 DWC, atau telat setor. Jadi, kutulis sajalah apa yang terlintas. Well, actually nothing goes on my mind right now. Ah, paling mudah adalah menuliskan keluhan atau uneg-uneg atau yaa semacam itu. So, saat ini hal yang paling sulit adalah menyapih. Ya, menyapih si bungsu, ini berbeda sekali situasi dan kondisinya dibanding lima tahun lalu saat menyapih si sulung. Karena pengalaman menyapih anak pertama yang terbilang mulus, memang agaknya aku meremehkan hal ini di anak kedua. So, here i am. Anak bungsu sudah berusia 26 bulan tepat di hari ini, dan masih belum disapih. Padahal, sejak beberapa bulan lalu dokter sudah menyarankan untuk disapih agar makannya lebih lahap. Well, the problem is, trik yang kugunakan saat menyapih anak pertama dulu tidak bisa digunakan lagi sekarang. Lagi-lagi, ya itu, perbedaa

ISK, Fimosis, dan Sunatan yang Tertunda

Bagi ibu-ibu yang memiliki anak laki-laki mungkin sudah kenal dengan istilah fimosis. Fimosis adalah keadaan ketika kulit kulup penis itu terlalu rapat, sehingga ketika ditarik akan sulit untuk kepala penisnya keluar. Kondisi ini membuat risiko infeksi saluran kencing (ISK) meningkat. Itulah yang dialami oleh si sulung. Dia sudah pernah terkena ISK ketika usia hampir empat tahun. Waktu itu dokter mendiagnosis fimosis dan menyarankan sunat. Alhamdulillah ISK-nya sembuh. Namun, belum kunjung disunat karena anaknya masih sangat enggan. Kira-kira setahun kemudian, dia ISK lagi dan agak lebih parah. Kali ini benar-benar diperiksa urin, USG, dan diberi obat antibiotik. Alhamdulillah sembuh. Lagi-lagi dokter menyarankan segera sunat. Ketika itu dokter menyarankan sunat di rumah sakit, karena ada kondisi fimosis dan sudah pernah ISK. Nah, setelah bujuk rayu, beberapa bulan setelahnya anaknya mau disunat. Dia sudah tidak takut lagi karena diiming-imingi akan disunat barengan dengan saudara sepu

Ini Tidak Seburuk yang Kamu Pikirkan

Ketika mendapati suatu kesulitan di tengah jalan, aku seringkali langsung berpikir, “ini sulit”, “ini tidak mungkin”, dan semacamnya. Padahal aku belum benar-benar mengalami atau menjalaninya.  Ketika sudah dijalani, ternyata itu tidak seburuk yang kubayangkan. Perasaan pesimis ini menurutku tidak sepenuhnya buruk. Dalam sebuah kelas online tentang pengasuhan, aku pernah membaca, bahwa ketika anak akan disuntik, jangan katakan “ngga sakit kok”. Karena kalau begitu, anak justru tidak siap, dan sakit yang dirasakan ketika jarum disuntikkan justru bisa jadi terasa lebih sakit dari seharusnya karena adanya efek kaget. Tubuh tidak siap dengan rasa sakit yang akan datang.  Sebaliknya, kita justru harus memberi pengertian pada anak, bahwa apa yang akan dilakukan ini sakit lho, tapi ini demi kebaikan. Dengan begitu, tubuh akan bersiap, sehingga rasa sakit itu bisa diantisipasi. Mungkin kurang lebih begitu yang kurasakan ketika akan menghadapi hal yang tidak disuka. Lebih baik membayangkann kem

Pengalaman Mengikuti Editor’s Clinic Gramedia Pustaka Utama

Biasanya di klinik kita akan bertemu dokter, konsul atau berobat tentang kesehatan diri kita. Nah, kalau di klinik yang satu ini, kita bukan bertemu dokter, melainkan editor. Dan bukan badan kita yang diperiksa, tapi naskah kita. Menarik kan? Pertama kali saya mendengar ada acara editor’s clinic ini sekitar pertengahan tahun lalu. Di akun IG-nya, Gramedia mengumumkan seleksi naskah untuk editor’s clinic. Sayangnya, waktu itu naskah saya belum rampung. Terpaksa melewatkan kesempatan berharga itu. Hiks. Nah, alhamdulillah, dua bulan berselang, Gramedia kembali membuka kesempatan untuk ikut editor’s clinic di acara Indonesia International Book Fair (IIBF). Tentu saja saya tidak mau kelewatan kesempatan lagi. Langsung rapikan naskah, dan submit. Naskah yang dikirim hanya outline atau sinopsis keseluruhan dan tiga bab pertama. Lalu tinggal duduk anteng menunggu pengumuman lolos atau tidak. Alhamdulillah, naskah saya menjadi satu dari sepuluh naskah yang terpilih. Ada sepuluh naskah fiksi, d

Mencari Rumah (Lagi)

Bulan Juni tahun ini ternyata menjadi salah satu bulan yang paling sibuk. Salah satunya karena harus mencari rumah kontrakan baru. Sebuah pencarian yang tidak mudah, seperti mencari jodoh. Wkwk. Apalagi pindahan kali ini agak jauh. Maka pencarian pun tidak semudah yang sudah-sudah. Namun, alhamdulillah, Allah mudahkan kami menemukan beberapa opsi. Insyaallah, semoga tempat bernaung kami nantinya penuh dengan keberkahan. Selain pindahan, sebuah momen besar di bulan ini juga adalah sunatan. Si anak sulung akhirnya mau disunat. Sebagai ibu yang tidak punya adik atau kakak laki-laki, ini akan jadi pengalaman baru yang agak bikin deg-degan bagi saya. Akan tetapi, yaa insyaallah, saya yakin dengan segera sunat ini adalah hal yang terbaik. Bahkan dokter sebenarnya sudah menyarankan sunat sejak awal tahun. Waktu itu karena si sulung ISK, dan memang ada fimosis, jadi lebih cepat disunat akan lebih baik. Sebelum disunat akhir bulan nanti, si sulung akan diperiksa dulu. Dokter akan menilai apakah