Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2020

Akhirnya, Berhasil Bikin Camilan!

Disclaimer : saya bukan orang yang senang memasak atau berkutat di dapur. Berkali-kali gagal membuat camilan dan seringnya mager. Namun, keajaiban terjadi akhir-akhir ini, dan akhirnya… Hahaha.. Perlu disclaimer dulu di awal tulisan, biar ngga dikira mahir masak atau bebikinan. Karena kenyataannya saya memang males banget menghabiskan waktu di dapur. Sering merasa ga puas dengan hasil masakan. Tapi, kira-kira dua minggu belakangan ini suka tiba-tiba pingin bikin ini itu, terutama camilan. Si bocil yang biasanya ga pernah minta camilan juga tiba-tiba jadi hobi bilang, “bikin kue, yuk”. Akhirnya, rasa ingin ngemil juga muncul dalam diri saya. Ditambah adanya wabah yang membuat saya membatasi diri order Go Food, saya pun mencoba membuat sesuatu. Ketika membuat camilan, tujuan saya bukanlah ‘enak’, tapi yang terpenting adalah ‘edible’. Hahaha. Pertama yang saya buat adalah donat. Terinspirasi dari seorang kawan yang bilang, “Ini gampang, lho, bikinnya”. Baiklah, saya coba buktikan. T

Klik Indomaret, Solusi Belanja dari Rumah

Di rumah aja bukan hal berat sebenarnya bagi saya. Namun, jika semua anggota keluarga di rumah aja, konsekuensinya adalah porsi makan jadi lebih banyak. Sehingga, bahan makanan lebih cepat habis. Belum lagi si bocil yang akhir-akhir ini suka minta bikinin kue. Singkat cerita, persediaan bahan pangan di rumah mulai menipis. Si bapak udah menggebu-gebu ngajakin belanja. Tapi saya pribadi mager sekaligus waswas virus, ya, kan. Eh, kebetulan seorang kawan ngasih tahu opsi belanja dari rumah selain GoShop, yaitu dengan Klik Indomaret. Dengan aplikasi Klik Indomaret, kita bisa belanja--di Indomaret tentunya--tanpa keluar rumah. Tinggal pesan via aplikasi, bayar (bisa transfer atau COD), dan barang belanjaan akan diantar ke rumah oleh kurir Indomaret. Termasuk galon juga bisa, lho! Lumayan kan ga perlu ngangkat-ngangkat. Hehe. Ongkirnya Rp7000 saja, tapi kalau belanja lebih dari Rp150000 gratis ongkir. Di percobaan pertama saya menggunakan Klik Indomaret cukup memuaskan. Belanjaan diant

Pengaruh Bapak yang WFH terhadap Kebahagiaan Emak

Apa ini?? Judul blogpost, kok, kayak judul skripsi? Wkwk… Mohon ditelan saja, yak. Entah kenapa tiba-tiba rindu kampus. Kemarin malah nyari-nyari video wisuda di YouTube, siapa tahu ada yang upload gitu. Ternyata ga ada. Adanya wisuda yang baru-baru. Hiks. Baiklah, let’s back to topic . Jadi, sudah beberapa hari ini pak suami bekerja dari rumah alias work from home . Apa pengaruhnya pada saya pribadi? Tentu banyak. Pertama, tambah pusing. Karena entah kenapa kalau ada bapaknya, si bocil malah lebih rewel. Ataukah ini perasaan saya saja? Kedua, makin pusing. Karena situasi dan kondisi yang membuat kita tersandera oleh wabah covid19, jadi saya prefer di rumah aja. Namun, si bapak yang biasa ngantor tak tahan dengan rutinitas rumah tangga alias di rumah aja. Jadi, bolak-balik si bapak ngajak jalan, bolak-balik saya menolak. Padahal dalam hati sih juga pingin banget, tapi kan ini memang saatnya menahan diri ya ‘kan. Akan tetapi, WFH tak selamanya membuat pusing emak. Sisi positifnya adala

Ketika Membuka Folder Lama

Secara tak sengaja, beberapa hari lalu aku membuka sebuah folder di Google Drive. Folder ini kutransfer beberapa tahun lalu dari laptop. Iseng-iseng kubuka folder itu. Agak heran juga karena pernah aku mencari folder itu tapi tidak ketemu. Eh, ternyata ketemu ketika tidak dicari. Yang menarik—dan memalukan—adalah isi folder tersebut. Folder itu berisi tentang pengalamanku ketika mengikuti program first reader di salah satu penerbit. Kala itu aku masuk di tim first reader genre horor, padahal mah nyaris ngga pernah baca novel horor. Wkwk. Nah, tugas sebagai first reader adalah memberi penilaian pada naskah. Tentu saja kami tidak diberi tahu siapa penulis naskah itu, jadi kami leluasa untuk (sok-sokan) mengoreksi. File koreksian itulah yang kutemukan dalam folder lama. Kubaca lagi penilaianku saat itu. Alamaak, nggaya bangetlah aku ngomentarin novel itu. Serasa ahli, padahal belum punya karya yang terbit—saat itu. Tapi memang, di program first reader itu kami dituntut super kritis pad