30 March 2020

Akhirnya, Berhasil Bikin Camilan!

Disclaimer: saya bukan orang yang senang memasak atau berkutat di dapur. Berkali-kali gagal membuat camilan dan seringnya mager. Namun, keajaiban terjadi akhir-akhir ini, dan akhirnya…

Hahaha.. Perlu disclaimer dulu di awal tulisan, biar ngga dikira mahir masak atau bebikinan. Karena kenyataannya saya memang males banget menghabiskan waktu di dapur. Sering merasa ga puas dengan hasil masakan. Tapi, kira-kira dua minggu belakangan ini suka tiba-tiba pingin bikin ini itu, terutama camilan. Si bocil yang biasanya ga pernah minta camilan juga tiba-tiba jadi hobi bilang, “bikin kue, yuk”.

Akhirnya, rasa ingin ngemil juga muncul dalam diri saya. Ditambah adanya wabah yang membuat saya membatasi diri order Go Food, saya pun mencoba membuat sesuatu. Ketika membuat camilan, tujuan saya bukanlah ‘enak’, tapi yang terpenting adalah ‘edible’. Hahaha.

Pertama yang saya buat adalah donat. Terinspirasi dari seorang kawan yang bilang, “Ini gampang, lho, bikinnya”. Baiklah, saya coba buktikan. Ternyata ngga segitu gampangnya juga bagi saya! Adonan donat ini ngga kunjung kalis. Bolak-balik saya tambah terigu masih ngga kalis juga. Udah dibanting-banting masih ga kalis juga. Emosi ikut bermain, bung! Wkwk.

Menyerah dengan harapan adonan menjadi kalis, saya langsung bentuk saja semampunya, diamkan, dan goreng. Alhamdulillah, edible! Dan lumayan enak! Apa resepnya? Resep aslinya bisa dilihat di link ini yaa.. Resep donat.

Nah, percobaan pertama saya ngga pakai mixer, jadi manual aja gitu aduk-aduk. Percobaan kedua pakai mixer, dan Alhamdulillah tidak menguras emosi. Ngadon jadi lebih cepat. Dan lebih bisa dibentuk. Fyi, adonan ini memang ngga kalis banget, jadi masih agak lengket gitu. Tapi pas udah digoreng enak, lembut.

Pakai selai coklat biar ala ala Jco.wkwk..

percobaan kedua, donat plain

Porsi yang saya bikin ngga sebanyak seperti di resep, cuma setengahnya aja. Bagi yang ngga punya timbangan, dan hanya mengira-ngira dengan sendok—seperti saya—bisa menggunakan konversi URT ya.. Satuan URT bisa dilihat di link ini.

Selanjutnya, selain donat, saya juga membuat brownies kukus. Percobaan pertama bantet, gaes. Padahal ada yang bilang brownies itu adalah berawal dari kue bantet, tapi ternyata brownies juga bisa bantet as in gagal ngembang. Saat itu saya mencoba resep dari cookpad yang judulnya “anti gagal”. Yah, tentu banyak faktor yang menjadikan hasil kue saya gagal. Tapi saya tidak menyerah. Cieee…wkwk..

Hasil percobaan kedua

Percobaan kedua saya mencari resep lain, dong. Saya temukan resep di IG, judulnya siy brownies oreo, tapi karena ngga ada oreo ya saya jadi brownies biasa. Ada bahan yang saya tambahkan sendiri juga walaupun ga ada di resep, dan saya hanya buat setengah porsi. Ini link brownies kukus oreo.

Sementara yang saya bikin, resepnya sebagai berikut:

Bahan: 2 btr telur
60 gr gula pasir (kurang lebih 5 sdm)
Garam sedikit
40 gram terigu segitiga biru (kurleb 4 sdm)
12 gram maizena (1 sdm)
10 gr coklat bubuk (saya pakai chocolatos 1 sdm)
¼ sdt baking powder
25 gr margarin
1 sdt SP atau emulsifier

Cara membuat:-Cairkan margarin. Sisihkan.
-Ayak tepung terigu, maizena, baking powder, dan coklat bubuk, gabungin aja jadi di satu wadah.
-Di wadah lain, kocok telur, gula, garam, dan SP menggunakan mixer sampai mengembang, warna putih gitu.
-Matikan mixer, campurkan tepung yang sudah di wadah pertama tadi ke dalam adonan telur, pelan-pelan, aduk manual pakai spatula.
-Terakhir masukkan margarin yang sudah cair tadi.
-Aduk sampai rata. Masukkan ke loyang ukuran kecil karena Cuma sedikit ini adonannya, kira-kira 10cm x 20cm x 3 cm mungkin. Karena ngga punya kertas roti, saya olesi Loyang pakai margarin.
-Kukus selama kurang lebih 20 menit. Tentu saja pas masukin adonan itu panic kukusannya sudah panas, yak. Selama mengukus, apinya kecil aja, bukan yang paling bawah, kecil deh pokoknya.
-Setelah 20 menit, insyaallah sudah mengembang.

Saya sampai heboh sendiri waktu lihat brownies ini mengembang. Setengah ngga percaya, saking ngga pernah berhasil. Hahaha.

Akhir kata, resep anti gagal adalah resep yang dicoba berkali-kali, so, selamat mencoba!

25 March 2020

Klik Indomaret, Solusi Belanja dari Rumah

Di rumah aja bukan hal berat sebenarnya bagi saya. Namun, jika semua anggota keluarga di rumah aja, konsekuensinya adalah porsi makan jadi lebih banyak. Sehingga, bahan makanan lebih cepat habis. Belum lagi si bocil yang akhir-akhir ini suka minta bikinin kue.

Singkat cerita, persediaan bahan pangan di rumah mulai menipis. Si bapak udah menggebu-gebu ngajakin belanja. Tapi saya pribadi mager sekaligus waswas virus, ya, kan. Eh, kebetulan seorang kawan ngasih tahu opsi belanja dari rumah selain GoShop, yaitu dengan Klik Indomaret.

Dengan aplikasi Klik Indomaret, kita bisa belanja--di Indomaret tentunya--tanpa keluar rumah. Tinggal pesan via aplikasi, bayar (bisa transfer atau COD), dan barang belanjaan akan diantar ke rumah oleh kurir Indomaret. Termasuk galon juga bisa, lho! Lumayan kan ga perlu ngangkat-ngangkat. Hehe. Ongkirnya Rp7000 saja, tapi kalau belanja lebih dari Rp150000 gratis ongkir.

Di percobaan pertama saya menggunakan Klik Indomaret cukup memuaskan. Belanjaan diantar kurang lebih satu jam setelah dipesan. Saya sendiri tadi memilih bayar COD karena mencoba via transfer tapi kok ngga bisa, tampaknya harus transfer via ATM. Jadi saya pilih COD.

Di aplikasi Klik Indomaret ini juga ada beberapa promo gitu. Ada diskon-diskon juga. Silakan coba sendiri, ya. Jadi bisa tetap di rumah aja, tapi bahan pangan tetap tercukupi. Alhamdulillah..

#dirumahaja
#belanja
#KlikIndomaret

Pengaruh Bapak yang WFH terhadap Kebahagiaan Emak

Apa ini?? Judul blogpost, kok, kayak judul skripsi? Wkwk… Mohon ditelan saja, yak. Entah kenapa tiba-tiba rindu kampus. Kemarin malah nyari-nyari video wisuda di YouTube, siapa tahu ada yang upload gitu. Ternyata ga ada. Adanya wisuda yang baru-baru. Hiks. Baiklah, let’s back to topic.

Jadi, sudah beberapa hari ini pak suami bekerja dari rumah alias work from home. Apa pengaruhnya pada saya pribadi? Tentu banyak. Pertama, tambah pusing. Karena entah kenapa kalau ada bapaknya, si bocil malah lebih rewel. Ataukah ini perasaan saya saja? Kedua, makin pusing. Karena situasi dan kondisi yang membuat kita tersandera oleh wabah covid19, jadi saya prefer di rumah aja. Namun, si bapak yang biasa ngantor tak tahan dengan rutinitas rumah tangga alias di rumah aja. Jadi, bolak-balik si bapak ngajak jalan, bolak-balik saya menolak. Padahal dalam hati sih juga pingin banget, tapi kan ini memang saatnya menahan diri ya ‘kan.

Akan tetapi, WFH tak selamanya membuat pusing emak. Sisi positifnya adalah si bapak punya lebih banyak waktu untuk main dengan anak. Dalam hal ini, saya merasa si bapak bisa melakukan dengan lebih baik (red: lebih sabar). Bahkan hasilnya langsung terlihat. That makes me happy, sincerely.

WFH masih terus berlanjut. We’ll see if any positive thing would come around.

10 March 2020

Ketika Membuka Folder Lama

Secara tak sengaja, beberapa hari lalu aku membuka sebuah folder di Google Drive. Folder ini kutransfer beberapa tahun lalu dari laptop. Iseng-iseng kubuka folder itu. Agak heran juga karena pernah aku mencari folder itu tapi tidak ketemu. Eh, ternyata ketemu ketika tidak dicari. Yang menarik—dan memalukan—adalah isi folder tersebut.

Folder itu berisi tentang pengalamanku ketika mengikuti program first reader di salah satu penerbit. Kala itu aku masuk di tim first reader genre horor, padahal mah nyaris ngga pernah baca novel horor. Wkwk. Nah, tugas sebagai first reader adalah memberi penilaian pada naskah. Tentu saja kami tidak diberi tahu siapa penulis naskah itu, jadi kami leluasa untuk (sok-sokan) mengoreksi. File koreksian itulah yang kutemukan dalam folder lama. Kubaca lagi penilaianku saat itu.

Alamaak, nggaya bangetlah aku ngomentarin novel itu. Serasa ahli, padahal belum punya karya yang terbit—saat itu. Tapi memang, di program first reader itu kami dituntut super kritis pada naskah dari berbagai sisi. Bahkan kami ikut memberi pendapat tentang layout novelnya.

Beberapa waktu berselang, naskah tersebut akhirnya resmi diterbitkan. Aku melihatnya berjejer di toko buku. Rupanya, naskah yang kami kritisi itu adalah karya seorang penulis yang cukup tenar. Wadaww.. Jadi malu sendiri, lho, pas baca ulang penilaianku dulu. Ya ampun, berasa apa gitu, bilang alurnya begini, diksinya begitu, dsb. Haha.

Tapi novel itu sekarang sepertinya banyak disukai penggemar genre horor. Kemudian terlintas dalam benakku, mungkin segala kritik pahit dari editor itu ibarat lapis pertama aral yang harus dihadapi penulis. Sebelum menghadapi khalayak nantinya, masukan dari editor harus lebih dulu dilahap. Supaya kelak tak kaget jika ada yang mengkritisi karyanya. Karena sebuah karya pasti ada yang suka dan ada yang tidak. Jika ada karya yang tak memiliki penggemar atau pembenci, maka itu adalah karya yang tak pernah ditunjukkan. Seperti halnya sebagian besar tulisanku yang masih setia ngumpet di Google Drive. Haha.