Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2020

One of the Awkward Moment

Saya sadar dan tahu pasti bahwa ada banyak sekali awkward moment yang pernah saya alami. Tapi ketika diminta menuliskan salah satunya, saya tetap harus berpikir lama untuk mengingat-ingat dan memilih yang mana yang akan diceritakan. Dan pilihan saya jatuh pada kasus berikut ini. Ini kejadian ketika saya bekerja di salah satu situs berita online, kira-kira enam tahun lalu. Saat itu kerjaan sehari-hari saya ya di depan komputer. Ada beberapa teman yang satu ruangan dengan saya, dua di antaranya laki-laki, single, alias jomblo. Pertemanan kami biasa saja, suka cerita-cerita dan bercanda rame-rame. Sampai pada suatu hari, ketika libur lebaran, dan kami WFH--iya, WFH, karena kerjaan kami sebenarnya bisa dikerjakan dari rumah. Nah, salah seorang teman saya yang laki-laki itu mulai menunjukkan gelagat aneh. Wkwk. Maksudnya, jadi hobi nge-WA saya untuk hal-hal sepele, ga penting gitu. Awalnya saya ladenin, tapi ketika mulai risih ya saya ga bales, dong. Dia tetep WA, saya tetap ga bales. Ketik

Bukan Harapan Pandora

Setiap kali mendengar kata “harapan”, saya selalu teringat dengan kisah kotak Pandora. Sebuah kisah mitologi Yunani yang pernah saya baca beberapa tahun lalu. Dalam mitologi tersebut, “harapan” menjadi hal yang sangat baik sekaligus sangat buruk. Namun, benarkah demikian?   Sering kali dalam sebuah film, novel, dan cerita lainnya, harapan menjadi alasan seseorang bertahan dalam hidup dan terus berjuang. Ini sisi baik harapan. Sisi buruknya pun sama, seseorang akan terus berjuang dengan alasan “harapan” tanpa tahu bahwa hal itu hanya menyeretnya dalam kesedihan mendalam tanpa kepastian. Seperti diungkapkan dalam kisah Pandora. Mungkin ini sebabnya muncul istilah “harapan palsu”. Walaupun demikian, harapan itu juga lah yang mendorong saya akhirnya memberanikan diri menjadi PJ Rumbel Menulis IP Batam. Eh, kok nyambungnya ke sini? Gapapa lah ya? Hahaha. Menjadi PJ, tentu saya punya harapan khusus. Berawal dari keinginan agar rumbel ini tetap ada, dan aktif, saya berharap rumbel ini nantiny

Belajar Bahasa Arab, yuk!

(Gambar: Wikipedia) Belajar bahasa Arab adalah hal baru bagi saya. Memang, sejak kecil sudah belajar ngaji, baca iqro’, Al-Qur’an, dan baca terjemahannya juga. Tapi belum pernah benar-benar mempelajari bahasa Arab secara sistematis. Padahal bahasa Inggris sudah, bahasa Jerman pernah, bahkan bahasa Jepang juga saya cicipi (cicip doang). Saat ini ada banyak penyedia kelas online bahasa Arab, ada yang gratis, ada yang berbayar. Sebenarnya mungkin lebih enak kelas offline ya. Tapi karena belum menemukan kelas offline yang cocok jadwalnya, tidak ada salahnya belajar melalui kelas online dulu. Kelas pertama yang saya ikuti yaitu kelas gratisan di Yayasan BISA. Sistem belajarnya melalui grup WA. Tiap minggu ada materi, ada latihan, kuis, dan ada PR (tertulis dan hafalan). Tidak mengerjakan PR bisa di-DO, gaes. Jadi, kerjain aja, walaupun masih banyak salah-salah (eh, itu mah prinsip saya XD).  Asiknya di kelas ini, materi disediakan dalam bentuk tulisan, video, juga rekaman suara. Jadi kita

Dramatis! Pengalaman Pertama Mengganti Tabung Gas

Hahaha. Saya selalu geli sendiri kalau ingat pengalaman pertama mengganti tabung gas. Tepatnya tabung gas tiga kilogram yang dulu sempat diisukan banyak kejadian tabung meledak. Jadi, pertama kalinya saya—dan suami—mengganti tabung gas yaitu ketika baru menikah. Sekitar empat tahun lalu. Sebelumnya kami sama-sama nol pengalaman dalam hal ini. Cuma pernah ngeliatin emak di rumah ganti tabung gas santai banget. Wkwk. Nah, pas ganti tabung gas dulu itu, yang kami lakukan pertama kali adalah mencari step by step yang tepat—di Google tentu saja. Kami membuka jendela, dan pintu, seperti disebut dalam petunjuk. Kemudian, kami juga memakai APD berupa helm dan jaket—ini tidak ada dalam petunjuk ya. Setelah semua terasa aman, kami tak lupa berdoa. Pokoknya lama banget lah ancang-ancangnya.  Proses penggantian pun dimulai, dan alhamdulillah lancar. Langkah selanjutnya yang tak kalah dagdigdug adalah mengecek apakah kompor bisa menyala lagi. Suami siap-siap, saya social distance alias jaga jarak.

Masih Jatuh Cinta dengan Kumpulan Cerpen Kompas

Terima kasih kepada kakakku yang dulu senang mengoleksi buku-buku kumpulan cerpen berkualitas.  Saat kecil saya senang baca-baca buku milik kakak saya. Kakak saya kebetulan mengoleksi macam-macam buku, mulai dari Goosebumps , komik Doraemon , dan lain-lain. Kumpulan cerpen pilihan Kompas adalah salah satu yang saya baca.  Beberapa judul kumcer Kompas yang saya ingat itu Cinta Dalam Stoples , Kupu-Kupu Tak Berkepak , Jalan Asmaradana , dan Ripin . Dua yang pertama adalah yang paling berkesan, milik kakak saya. Sedangkan dua lainnya saya beli sendiri, bagus, tapi kurang berkesan. Ada satu lagi yang juga berkesan, kumpulan cerpen berjudul Parmin karya Jujur Prananto. Dari buku-buku inilah saya membaca cerpen-cerpen karangan Gol A Gong, Gus Tf Sakai, Kuntowijoyo, Rosi L. Simamora, Jujur Prananto, dan banyak lagi. Nama-nama yang belakangan saya ketahui ternyata memang penulis andal.  Saya akan beberkan satu dua judul cerpen dan sekilas ceritanya yang masih saya ingat hingga sekarang ( it’s

Playlist Favorit Saat Nulis

Akhir-akhir ini ada sebuah file favorit yang saya putar hampir setiap kali saya nge-laptop. Karena saya sadar, saya itu tipe yang senang atau lebih bisa fokus kalau sambil mendengarkan sesuatu. Sejak dulu selalu begitu. Saat belajar, olahraga, dan mengerjakan pekerjaan apa saja, dengan headset di kuping.  Hanya saja setelah jadi emak-emak kebiasaan ini berkurang karena … you know lah. Life change when you become a parent, especially a mom. Nah, sekarang saya mulai seneng nulis lagi, jadi saya coba cari-cari backsound yang kira-kira cocok menemani, khususnya di malam-malam begadang yang panjang. Atau dini hari yang sepi. Saya menghindari lagu-lagu, pop, klasik, maupun lagu-lagu lain. Pernah coba sambil mendengarkan sharing kepenulisan yang ada di YouTube, tapi kok malah jadi distraksi.  And then an idea struck into my head—a little too late though. Saya pun mencari dan menemukan video menarik ini di YouTube . Ya, seperti judulnya, suara tersebut katanya bisa bikin lebih fokus. Saya co

Review Film Exit (2019)

Begitulah keluarga, dibenci, dibenci, tapi ujung-ujungnya tetap dicintai. Film Exit adalah salah satu dari sedikit film Korea yang saya tonton. Setelah melihat trailernya, saya langsung tertarik menonton film ini. Tentu, saya mencari cara agar bisa menonton secara gratisan tapi tetap legal. Bagaimana caranya? Hanya tiga huruf: V.I.U. Hahaha. Exit bercerita tentang Yong Nam, seorang pria yang tak muda-muda amat, tapi belum kunjung dapat pekerjaan. Ia ditolak sana-sini dan terpaksa menjadi penganggur. Hobinya memanjat tebing dan badannya yang kuat justru membuatnya jadi olok-olokan orang sekitar, termasuk keluarganya (terutama kakaknya). Nah, di tengah pesta ulang tahun ibunya yang ke-70, Yong Nam bertemu Ui Joo, mantan gebetannya ketika kuliah. Setelah selesai pesta, tiba-tiba terjadi bencana! Ada asap beracun yang mengepung kota! Semua orang harus berlindung ke tempat yang lebih tinggi. Saat inilah keahlian Yong Nam untuk memanjat sangat diperlukan. Ini bukan film romantis, bukan jug