24 July 2020

One of the Awkward Moment

Saya sadar dan tahu pasti bahwa ada banyak sekali awkward moment yang pernah saya alami. Tapi ketika diminta menuliskan salah satunya, saya tetap harus berpikir lama untuk mengingat-ingat dan memilih yang mana yang akan diceritakan.


Dan pilihan saya jatuh pada kasus berikut ini.


Ini kejadian ketika saya bekerja di salah satu situs berita online, kira-kira enam tahun lalu. Saat itu kerjaan sehari-hari saya ya di depan komputer. Ada beberapa teman yang satu ruangan dengan saya, dua di antaranya laki-laki, single, alias jomblo. Pertemanan kami biasa saja, suka cerita-cerita dan bercanda rame-rame.


Sampai pada suatu hari, ketika libur lebaran, dan kami WFH--iya, WFH, karena kerjaan kami sebenarnya bisa dikerjakan dari rumah. Nah, salah seorang teman saya yang laki-laki itu mulai menunjukkan gelagat aneh. Wkwk. Maksudnya, jadi hobi nge-WA saya untuk hal-hal sepele, ga penting gitu.


Awalnya saya ladenin, tapi ketika mulai risih ya saya ga bales, dong. Dia tetep WA, saya tetap ga bales. Ketika kami mulai ngantor lagi, saya pun jadi canggung sendiri ketemu dia. Akhirnya saya cuekin lah dia, jawab seperlunya aja. Tapi ga lama kemudian, temennya dia malah bilang ke saya supaya jangan bersikap begitu. Lha, saya malah makin keki dan makin cuek, dan keadaan di kantor makin awkward bagi saya. 


Untunglah tak lama kemudian dia dipindahtugaskan ke lapangan, jadi kami ga ketemu lagi di kantor. Dan dia jarang-jarang aja ke kantornya. Hehehe.


Eh, maapkan ya, saya emang ga pandai mengatasi sikon semacam itu. Wkwk. 


Apakah ini sudah cukup awkward moment?


20 July 2020

Bukan Harapan Pandora

Setiap kali mendengar kata “harapan”, saya selalu teringat dengan kisah kotak Pandora. Sebuah kisah mitologi Yunani yang pernah saya baca beberapa tahun lalu. Dalam mitologi tersebut, “harapan” menjadi hal yang sangat baik sekaligus sangat buruk. Namun, benarkah demikian?

 

Sering kali dalam sebuah film, novel, dan cerita lainnya, harapan menjadi alasan seseorang bertahan dalam hidup dan terus berjuang. Ini sisi baik harapan. Sisi buruknya pun sama, seseorang akan terus berjuang dengan alasan “harapan” tanpa tahu bahwa hal itu hanya menyeretnya dalam kesedihan mendalam tanpa kepastian. Seperti diungkapkan dalam kisah Pandora. Mungkin ini sebabnya muncul istilah “harapan palsu”.


Walaupun demikian, harapan itu juga lah yang mendorong saya akhirnya memberanikan diri menjadi PJ Rumbel Menulis IP Batam. Eh, kok nyambungnya ke sini? Gapapa lah ya? Hahaha. Menjadi PJ, tentu saya punya harapan khusus. Berawal dari keinginan agar rumbel ini tetap ada, dan aktif, saya berharap rumbel ini nantinya menjadi pendorong dan wadah para perempuan hebat untuk berkarya melalui tulisan.


Coba bayangkan, sekelompok perempuan, yang sering disebut-sebut sebagai madrasah pertama, pendidik, berkumpul dan bersama-sama menulis, menyebarkan kebaikan, kebahagiaan. Indah bukan? 


Ya, itu adalah sebuah harapan besar, impian besar. Namun, terlepas dari itu, saya ingin semua member rumbel menulis ini bahagia dalam berkarya, produktif menghasilkan tulisan, di dalam, maupun di luar rumbel. Itu saja.


Semoga Allah mengabulkan harapan ini. Amin. :)






13 July 2020

Belajar Bahasa Arab, yuk!

Gambar: Wikipedia
(Gambar: Wikipedia)

Belajar bahasa Arab adalah hal baru bagi saya. Memang, sejak kecil sudah belajar ngaji, baca iqro’, Al-Qur’an, dan baca terjemahannya juga. Tapi belum pernah benar-benar mempelajari bahasa Arab secara sistematis. Padahal bahasa Inggris sudah, bahasa Jerman pernah, bahkan bahasa Jepang juga saya cicipi (cicip doang).


Saat ini ada banyak penyedia kelas online bahasa Arab, ada yang gratis, ada yang berbayar. Sebenarnya mungkin lebih enak kelas offline ya. Tapi karena belum menemukan kelas offline yang cocok jadwalnya, tidak ada salahnya belajar melalui kelas online dulu. Kelas pertama yang saya ikuti yaitu kelas gratisan di Yayasan BISA.


Sistem belajarnya melalui grup WA. Tiap minggu ada materi, ada latihan, kuis, dan ada PR (tertulis dan hafalan). Tidak mengerjakan PR bisa di-DO, gaes. Jadi, kerjain aja, walaupun masih banyak salah-salah (eh, itu mah prinsip saya XD). 


Asiknya di kelas ini, materi disediakan dalam bentuk tulisan, video, juga rekaman suara. Jadi kita tinggal pilih lebih enak yang mana. Ada ebook-nya juga yang dibagikan gratis. Awalnya saya menyimak materi tertulis dan atau rekaman suara. Belakangan saya baru menyadari kalau via video lebih mudah dipahami.


Nah, untuk PR tertulis, bisa ditulis tangan lalu difoto, atau langsung diketik, dengan bahasa Arab tentunya ya. Saya pilih ketik saja, karena tulisan Arab saya jelek banget. Kasian nanti PJ susah ngoreksinya. Wkwk.


Kalau di Yayasan BISA ini, sistem belajarnya diawali dengan belajar ilmu sharaf dulu di kelas BISA (Belajar Ilmu Sharaf), baru kemudian naik ke kelas BINA (Belajar Ilmu Nahwu). Ilmu Sharaf dan Nahwu ini dua cabang utama dari bahasa Arab. Untuk info pendaftaran, dll bisa diliat di Facebook Page-nya ya. 


Selain Yayasan BISA, ada lagi kelas online yang juga gratis yaitu BAO (Bahasa Arab Online). Ini saya lupa sih gimana daftarnya, saya juga lupa dapat info kelas ini tuh dulu dari siapa. Duh, maap yak. 


Nah, kalau BAO ini buku acuannya itu Durusul Lughoh. Saya sendiri kurang tahu bukunya seperti apa. Tidak punya bukunya juga gapapa, karena akan ada materi tiap minggu, dan PR-nya benar-benar sesuai materi. Belajarnya juga via WAG, ada grup Telegram tapi hanya untuk jawaban-jawaban dari ustadzahnya.


Di BAO, materinya tidak dibagi menjadi Sharaf dan Nahwu seperti di BISA. Di sini keduanya dibahas langsung, kayak dipadukan gitu. Mungkin semacam tematik ya. Misal minggu ini bahas tentang kata benda yang jamak, nanti diterangkan sisi sharafnya dan nahwunya.


Selain dua kelas ini, masih banyak lagi kelas-kelas online bahasa Arab dengan sistem yang mungkin berbeda. Silakan pilih yang paling pas di hati. Eaa..


Sekian dulu tulisan kali ini. Bagi teman-teman yang belum belajar bahasa Arab, semoga tulisan ini bisa memotivasi untuk mulai belajar bahasa Arab, ya!



11 July 2020

Dramatis! Pengalaman Pertama Mengganti Tabung Gas

Hahaha. Saya selalu geli sendiri kalau ingat pengalaman pertama mengganti tabung gas. Tepatnya tabung gas tiga kilogram yang dulu sempat diisukan banyak kejadian tabung meledak.


Jadi, pertama kalinya saya—dan suami—mengganti tabung gas yaitu ketika baru menikah. Sekitar empat tahun lalu. Sebelumnya kami sama-sama nol pengalaman dalam hal ini. Cuma pernah ngeliatin emak di rumah ganti tabung gas santai banget. Wkwk.


Nah, pas ganti tabung gas dulu itu, yang kami lakukan pertama kali adalah mencari step by step yang tepat—di Google tentu saja. Kami membuka jendela, dan pintu, seperti disebut dalam petunjuk.


Kemudian, kami juga memakai APD berupa helm dan jaket—ini tidak ada dalam petunjuk ya. Setelah semua terasa aman, kami tak lupa berdoa. Pokoknya lama banget lah ancang-ancangnya. 


Proses penggantian pun dimulai, dan alhamdulillah lancar. Langkah selanjutnya yang tak kalah dagdigdug adalah mengecek apakah kompor bisa menyala lagi. Suami siap-siap, saya social distance alias jaga jarak. Wkwk. Allhamdulillah berhasil! Menguras emosi sekali saat itu.


Benarlah kata orang, langkah pertama itu biasanya yang paling sulit. Pengalaman kedua, ketiga, dan ketiga puluh sekian sudah tidak lebay lagi, dan tidak lucu. Sudah biasa saja, tapi tetap dengan protokol keamananmembuka pintu atau jendela. Tanpa helm tentunya. Hehe. 


#ruliskompakan

#pengalamanpertama


10 July 2020

Masih Jatuh Cinta dengan Kumpulan Cerpen Kompas






Terima kasih kepada kakakku yang dulu senang mengoleksi buku-buku kumpulan cerpen berkualitas. 


Saat kecil saya senang baca-baca buku milik kakak saya. Kakak saya kebetulan mengoleksi macam-macam buku, mulai dari Goosebumps, komik Doraemon, dan lain-lain. Kumpulan cerpen pilihan Kompas adalah salah satu yang saya baca. 


Beberapa judul kumcer Kompas yang saya ingat itu Cinta Dalam Stoples, Kupu-Kupu Tak Berkepak, Jalan Asmaradana, dan Ripin. Dua yang pertama adalah yang paling berkesan, milik kakak saya. Sedangkan dua lainnya saya beli sendiri, bagus, tapi kurang berkesan. Ada satu lagi yang juga berkesan, kumpulan cerpen berjudul Parmin karya Jujur Prananto.


Dari buku-buku inilah saya membaca cerpen-cerpen karangan Gol A Gong, Gus Tf Sakai, Kuntowijoyo, Rosi L. Simamora, Jujur Prananto, dan banyak lagi. Nama-nama yang belakangan saya ketahui ternyata memang penulis andal. 


Saya akan beberkan satu dua judul cerpen dan sekilas ceritanya yang masih saya ingat hingga sekarang (it’s been about 15 years!). Ada sebuah cerpen berjudul Wabahnah, cocok kan sama keadaan sekarangkarangan Jujur Prananto. Wabah di sini bukanlah penyakit yang menyebar, namun kebodohan yang menyebar sampai memakan korban jiwa satu kampung. Awalnya, ada seseorang yang meninggal di kampung tersebut, kemudian tanggal meninggalnya dijadikan nomor togel oleh seorang warga lain. Mujurnya dia, nomor tersebut menang!  


Kemujuran berlanjut, beriringan dengan kebodohan yang dibutakan uang. Warga pun tak segan membunuh demi mendapat nomor togel “keberuntungan”. 


Ada lagi cerpen menyentuh hati, berjudul Bangku Bus. Berkisah tentang seorang pria yang setiap hari naik bus menuju dan pulang dari kantornya. Tapi, setiap hari ia selaluselalumemberikan bangkunya bagi orang lain ketika bus penuh. Apa sebabnya? Ternyata pria itu punya pengalaman menyedihkan yang membuat dia melakukan itu setiap hari. Hiks. Sedih. 


Lain lagi dengan cerpen yang judulnya (kalau tidak salah) Ibu Senang Duduk di Depan Warung. Ceritanya, tentang nenek-nenek tua renta yang senang berlama-lama duduk di depan warung, warung milik anak dan menantunya. Lalu, apa masalahnya? Sejak si nenek rajin duduk di depan warung, pembeli menjadi berkurang, warung menjadi sepi. Mungkin karena orang-orang enggan melihat si nenek, dan memilih belanja ke warung lain. Kemudian, apa yang dilakukan anak dan menantunya? Hmm… saya tidak akan bocorkan di sini. Japri! Hahaha.


Ada beberapa cerita lagi yang samar-samar saya ingat. Tapi lupa judulnya. 


Intinya, kumpulan cerpen pilihan Kompas ini tidak hanya menawarkan cerita, tapi juga menunjukkan bagaimana menyajikan kisah yang sederhanaatau yang kompleks juga adamenjadi sesuatu yang menarik. Ada cerpen yang tanpa dialog, tapi bagus dan memuaskan. Ada yang hanya sebuah adegan, tapi dieksplor dengan begitu indah.


Sebab buku-buku inilah, saya jadi punya preferensi sendiri tentang cerpen yang menurut saya keren, dan cerpen yang biasa saja. Bukan semata karena tema yang berbobot, tema sederhana pun bisa sangat memikat jika penyajiannya tepat. 


Sudah lama tidak berburu kumpulan cerpen Kompas, mungkin gaya cerpen sekarang sudah berbeda. Tapi entahlah, saya masih jatuh cinta dengan kumcer jadul ini. 

09 July 2020

Playlist Favorit Saat Nulis

Akhir-akhir ini ada sebuah file favorit yang saya putar hampir setiap kali saya nge-laptop. Karena saya sadar, saya itu tipe yang senang atau lebih bisa fokus kalau sambil mendengarkan sesuatu. Sejak dulu selalu begitu. Saat belajar, olahraga, dan mengerjakan pekerjaan apa saja, dengan headset di kuping. 


Hanya saja setelah jadi emak-emak kebiasaan ini berkurang karena … you know lah. Life change when you become a parent, especially a mom.


Nah, sekarang saya mulai seneng nulis lagi, jadi saya coba cari-cari backsound yang kira-kira cocok menemani, khususnya di malam-malam begadang yang panjang. Atau dini hari yang sepi. Saya menghindari lagu-lagu, pop, klasik, maupun lagu-lagu lain. Pernah coba sambil mendengarkan sharing kepenulisan yang ada di YouTube, tapi kok malah jadi distraksi. 


And then an idea struck into my head—a little too late though. Saya pun mencari dan menemukan video menarik ini di YouTube. Ya, seperti judulnya, suara tersebut katanya bisa bikin lebih fokus. Saya coba mendengarkan. Hmm.. awalnya aneh sih. Seperti suara di pesawat. And I don’t like being on the plane. Akhirnya malah fokus bacain kolom komen yang lucu-lucu maksimal. Hyahahaha.


Oke, saya beralih ke playlist lain dan menemukan yang lebih cocok untuk menemani saya menulis ke-random-an, ke-mellow-an. Mungkin ini juga cocok untuk Anda. Ini link-nya. Hanya suara hujan yang cukup deras. Dan itu cukup bagi saya. Tentunya kalau di luar memang sedang hujan ya saya ngga pasang playlist ini ya. Ini satu-satunya track di playlist saya kalau lagi nulis. Hahaha. 


Apakah ini aneh? Gapapa. Yang penting saya senang dan bisa lebih fokus mengalirkan perasaan dengan mendengarkan suara rintik hujan. Sejak dulu memang sih, kalau hujan deras, hal yang saya ingin lakukan adalah menulis—sambil ditemani minuman hangat gitu. Ini agak sering saya lakukan sebelum menikah. Tapi setelah menikah dan punya anak, jangan ditanya. Wkwk. 


Selain suara hujan, ada beberapa suara-suara lain di akun itu. Saya sempat coba beberapa, tapi paling sreg dengan yang gentle night rain ini.


Semoga info receh ini bermanfaat. Selamat menulis ditemani (suara) hujan!



04 July 2020

Review Film Exit (2019)


Begitulah keluarga, dibenci, dibenci, tapi ujung-ujungnya tetap dicintai.


Film Exit adalah salah satu dari sedikit film Korea yang saya tonton. Setelah melihat trailernya, saya langsung tertarik menonton film ini. Tentu, saya mencari cara agar bisa menonton secara gratisan tapi tetap legal. Bagaimana caranya? Hanya tiga huruf: V.I.U. Hahaha.


Exit bercerita tentang Yong Nam, seorang pria yang tak muda-muda amat, tapi belum kunjung dapat pekerjaan. Ia ditolak sana-sini dan terpaksa menjadi penganggur. Hobinya memanjat tebing dan badannya yang kuat justru membuatnya jadi olok-olokan orang sekitar, termasuk keluarganya (terutama kakaknya).


Nah, di tengah pesta ulang tahun ibunya yang ke-70, Yong Nam bertemu Ui Joo, mantan gebetannya ketika kuliah. Setelah selesai pesta, tiba-tiba terjadi bencana! Ada asap beracun yang mengepung kota! Semua orang harus berlindung ke tempat yang lebih tinggi. Saat inilah keahlian Yong Nam untuk memanjat sangat diperlukan.


Ini bukan film romantis, bukan juga thriller, dan tak sepenuhnya komedi. Tapi saya bolak-balik tertawa, dan tersentuh, dan terharu saat menontonnya. Beberapa pesan moral diselipkan dengan indah. Pertama, pesan untuk berkorban demi orang lain. Beberapa kali Yong Nam dan Ui Joo kehilangan kesempatan untuk ditolong tim SAR karena mendahulukan orang lain. Bahkan Yong Nam beberapa kali berkorban demi Ui Joo.


Kedua, pesan untuk tetap berusaha semaksimal mungkin dalam kondisi apa pun. Duh, kalau orang awam seperti saya, sih, pasti melihat kondisi Yong Nam seolah tak ada jalan keluar. Sejauh mata memandang sudah dipenuhi asap, kecuali kalau bisa terbang. Tapi karena si Yong Nam dan Ui Joo ini pandai panjat memanjat, bukan manjat grup WA ya, jadilah mereka bisa menemukan jalan keluar.


Ketiga, dibenci-dibenci-tetap dicintai, itulah keluarga. Walaupun di awal cerita digambarkan Yong Nam yang dimarahi kakak-kakaknya, ia juga terlihat tidak senang dengan sikap kakak dan orang tuanya, bahkan keponakannya juga menjauhinya, tapi akhirnya mereka tetap saling menyayangi. Yong Nam bahkan bertaruh nyawa demi menyelamatkan kakaknya. Adegan ketika Yong Nam disambut keluarganya di bagian akhir itu sangat menyentuh. Apalagi dibandingkan dengan Ui Joo yang tak ada penjemput. Hiks.


Keempat, semua orang pandai berenang di kolam yang tepat. Eh, maksudnya apa ya? Ini ungkapan bikinan saya aja. Hahaha. Intinya, setiap orang punya kelebihan dan keahlian masing-masing yang mungkin tak kasat mata atau seolah tak berguna, tapi bukan berarti tak ada. Di sikon yang tepat, tiap-tiap orang bisa menjadi istimewa.


Kelima, cinta akan datang pada waktunya. Wkwk. Iya, diselipkan bumbu-bumbu romance dalam film ini sebagai pemanis, dan memang jadi manis. 


Di luar itu, film ini lagi-lagi membuat saya kagum dengan Korea Selatan. Negara yang terkenal dengan dunia entertainment-nya itu terlihat bak seseorang yang menyadari segala kelebihan dan kekurangan, kemudian meraciknya menjadi hidangan yang lezat. Contohnya, mereka unggul dalam teknologi dan media sosial, maka teknologi dan media sosial itu menjadi pelengkap dalam film. Kemudian ditunjukkan juga bagaimana Korsel punya sistem mitigasi bencana yang apik, dan kerja tim SAR yang cepat.


Secara keseluruhan, film Exit cocok sekali sebagai hiburan keluarga di akhir pekan. :)