21 May 2020

Paling Tidak, Berempatilah!

Sebelum ada pesan “berdamai dengan corona”, yang selalu terngiang adalah “perang melawan corona”. Faktanya memang sampai saat ini kita masih berperang melawan corona. Dan ketika perang, tentu kita perlu senjata. Sayangnya, sejak dulu, Indonesia tak punya senjata canggih.

Saya masih ingat dalam pelajaran sejarah selalu disebutkan bahwa zaman dahulu kala, bangsa kita bisa menang melawan penjajah dengan bermodal tombak kayu. Sedangkan penjajah memiliki senjata mutakhir.

Mungkin kita lupa, bahwa sekarang pun senjata yang kita miliki masih tetap sama: gotong royong dan doa. Kita tidak punya senjata canggih melawan corona. Buktinya, di awal Covid-19 masuk ke Indonesia, laboratorium yang bisa mengecek hanya di Jakarta, di laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan milik Kementerian Kesehatan.

Ya, saat ini telah ada 103 laboratorium yang digunakan, tapi jumlah spesimen yang diperiksa tiap harinya masih minim. Jumlah kasus yang telah diperiksa spesimennya sampai hari ini baru sekitar 160 ribu. Sedangkan menurut panduan WHO, data yang bisa digunakan untuk menilai keadaan wabah ini minimal 1 pemeriksaan per 1000 penduduk per minggu. Artinya, untuk ukuran Indonesia dengan jumlah penduduk 256 juta, maka setidaknya harus ada 256 ribu pemeriksaan per minggu. Atau sekitar 37 ribu pemeriksaan per hari. Masih jauh sekali, bukan?

Kemudian, untuk melawan wabah Covid-19 ini, Menteri Kesehatan Korea Selatan mengatakan perlunya kepercayaan penuh dari masyarakat terhadap pemerintah. Dengan demikian, masyarakat mau mematuhi aturan pemerintah terkait penanganan wabah. Ini adalah salah satu kunci Korea Selatan berhasil mengatasi wabah dalam waktu singkat tanpa lockdown. Apakah kita punya hal ini? Silakan jawab sendiri.

Lalu, senjata apa yang kita punya?

Kita hanya punya doa, dan gotong royong. Sejak dulu, itulah senjata kita. Jika sekarang kita tak bisa membantu secara aktif, paling tidak berempatilah! Tumbuhkan rasa empati kepada para petugas kesehatan yang setiap hari kelabakan menangani lonjakan pasien. Jika kita masih bisa mengeluh tentang lebaran yang sepi dan berbeda, mungkin para petugas kesehatan tak lagi bisa memikirkan lebaran.

Kita hanya bisa mengandalkan persatuan dan gotong royong yang katanya menjadi senjata bangsa Indonesia. Walaupun saat ini, entah ke mana senjata itu pergi, mungkin karena tak ada lagi empati.

Ah, jangan terlalu pesimis, kita masih punya doa. Di penghujung Ramadan ini, semoga semua mau berdoa agar Allah berkenan mengangkat wabah corona dari bumi. Amin.

#30DWCJilid23
#30DaysWritingChallenge
#Squad7
#Day27

The Next Level of #dirumahaja

Ibarat sebuah ujian atau tes, ada level-level yang harus dilalui. Dalam ujian kemahiran bahasa Jepang misalnya, ada ujian N5 untuk level paling dasar, dan N1 untuk level tertinggi. Demikian pula dalam menaati imbauan untuk tetap di rumah aja. Kini, kita memasuki level kedua.

This is the next level of #dirumahaja.

Kenapa saya bilang begitu? Gini, level pertama adalah ketika awal Covid-19 terdeteksi di Indonesia. Dua minggu setelahnya pemerintah mengimbau masyarakat untuk di rumah saja dan meminimalisasi kegiatan di luar apalagi berkumpul-kumpul.

Kantor-kantor diliburkan, sebagian diberlakukan Bekerja dari Rumah (BDR) atau yang jamak disebut work from home (WFH). Kegiatan ibadah juga sebisa mungkin dilakukan di rumah. Tak hanya itu, pasar ditutup, mall ditutup. Orang-orang pun di rumah aja. Ini adalah level pertama.

Kurang lebih dua bulan setelahnya, jumlah kasus positif Covid-19 belum menunjukkan tanda penurunan. Grafik masih belum stabil. Artinya, kita belum melewati puncak pandemi. Di sisi lain, masyarakat mulai bosan di rumah aja. Apalagi sebentar lagi Idulfitri. Ada dorongan untuk belanja keperluan hari raya.

Pemerintah juga memberi gestur akan melonggarkan aturan PSBB. Mall akan segera dibuka, pedagang pasar mulai berjualan. Dan orang-orang mulai tak tahan. Inilah level kedua.

Di level kedua ini kita mulai dilanda bosan yang berlapis-lapis. Rasanya ingiin sekali jalan-jalan ke luar, ke mall yang baru saja dibuka lagi setelah sempat ditutup karena khawatir wabah. Tapi kita tak boleh kalah. Kepada seluruh peserta #dirumahaja yang telah lolos level pertama, kita harus lanjutkan perjuangan ini. Kita harus tetap bertahan di rumah aja semaksimal mungkin di saat orang-orang banyak yang mulai tak peduli. Kita harus lalui level ini dan jangan menyerah pada hawa nafsu untuk nongki-nongki di luar.

Kenapa? Karena pandemi Covid-19, khususnya di Indonesia, masih jauh dari kata usai. Jangan lengah dan terbawa arus. Tetaplah betah untuk di rumah aja. Walaupun kebosanan melanda, walaupun ingin cuci mata. Saat ini, paling tidak saat ini saja, saat wabah masih merajalela, prioritaskanlah kesehatan Anda.

Hari raya tak mensyaratkan baju baru atau masakan berlimpah. Hari raya tetaplah hari raya walaupun Anda di rumah saja. Jadi, please, kita harus menang di level kedua ini. Supaya kelak di hari raya selanjutnya, kita bisa merdeka dari jajahan corona. Aamiin.

#30DWCJilid23
#30DaysWritingChallenge
#Day26
#Squad7

20 May 2020

Bijak Menghadapi ‘Kebaperan’, Resensi Buku Baper Gak Pakai Lama




Judul: Baper Gak Pakai Lama
Penulis: Ernawati Nandhifa, dkk
Penerbit: LovRinz
Tahun Terbit: 2020



Jangan baper!

Seringkah Anda mendengar nasihat itu? Jangan baper atau tidak boleh baper, biasanya ungkapan ini ditujukan pada kaum hawa dalam menyikapi berbagai hal. Saya pun ketika mendengar nasihat ini awalnya merasa, “Ya, benar, jangan baper”. Tapi, apakah mungkin?

Baper adalah sebuah perasaan yang wajar dan harus diterima, bukan dielakkan. Demikian kata-kata seorang kawan yang merupakan lulusan S2 Psikologi Klinis, Universitas Indonesia. Setelah mendengar itu, saya mengiyakan.

Sebagai seorang wanita yang tercipta dengan dominasi perasaan, tentu tidak baper adalah hal berat. Sebagaimana perasaan adalah salah satu modal penting dalam mendidik anak, baper juga tak bisa dielakkan. Tapi baper itu bisa diatasi. Itulah salah satu pesan yang ingin disampaikan dalam buku antologi berjudul Baper Gak Pakai Lama, karya teman-teman di Club Menulis Komunitas Ibu Profesional Kalimantan Barat.

Ada berbagai kisah baper dalam buku sederhana ini. Anda mungkin akan kaget membaca cerita seorang ibu yang sangat sedih dan uring-uringan hanya karena hal super remeh. Namun itu terjadi, perasaan sang ibu itu nyata. Untungnya, ia bisa mengatasinya. Saya pribadi pernah mengalami hal serupa. Ketika ada hal receh tapi sangat mengganggu benak saya.

Membaca buku ini bagi saya seperti melihat sebuah film tentang kehidupan para ibu muda di zaman sekarang. Ada yang baper karena dicuekin di grup WA, ada yang sensitif karena tak kunjung memiliki anak, dan cerita baper lainnya.

Sulit untuk tidak ikutan baper ketika membaca buku ini. Wkwk. Tapi itu menunjukkan bahwa para penulis bisa memberikan ruh dalam cerita sehingga pembaca—yang juga emak-emak—bisa terhubung dengan cerita. Dan bagusnya, ada solusi dari tiap baper yang dirasakan para penulis. Bukan hanya baper-baper berkepanjangan tanpa ujung.

Namun demikian, ada beberapa kekurangan dalam buku ini:

  • Saltik atau penulisan tak sesuai kaidah

Ada beberapa cerita yang cukup banyak mengandung typo, ada juga yang sudah sesuai kaidah. Jadi terlihat kesenjangan antara penulis yang sudah paham kaidah dan belum.

  • Konflik yang kurang dieksploitasi

Pada beberapa cerita, ada yang menurut saya bisa lebih didramatisasi penggambarannya. Atau ada yang klimaksnya terlihat jelas.

  • Plot hole

Ada satu cerita yang menurut saya mengandung plot hole cukup besar. Entah mengapa penulis memilih tidak menceritakan dengan jelas beberapa bagian yang penting, dan hal ini membuat pembaca bingung.

Beberapa kekurangan ini tentu bisa dieliminasi di karya-karya selanjutnya.

Cerita favorit saya dalam buku ini yaitu karya Mba Ernawati, yang berjudul "Curhat ke Bintang". Selain metafora-metafora dengan porsi pas, cerita ini menggunakan alur flashback yang halus, sehingga hasilnya sangat cantik. Saya pun jatuh cinta dan terinspirasi untuk mencoba hal yang sama. Hehe.

Buku ini saya rekomendasikan bagi para ibu-ibu muda, baik ibu bekerja maupun ibu rumah tangga. Karena semua orang bisa baper, dan itu wajar. Tapi, ingat, gak pakai lama, ya!

#30DWCJilid23
#30DaysWritingChallenge
#Day25
#Squad7

Ini Empat Tipe Kelas Daring, Mana Favoritmu?

Sejak Covid-19 mewabah, dan masyarakat diminta #dirumahaja, kelas-kelas daring mulai menjamur.

Nah, dari pengamatan saya, kelas daring ini juga bermacam-macam. Jika dilihat dari durasi kelas, maka kelas daring bisa dikelompokkan menjadi setidaknya empat macam: jangka panjang, jangka pendek, one time event, dan #terserah. Wkwk. (Catatan: tagar ini tak bermaksud menunggang gelombang 'riding the wave', hanya kebetulan saja. Haha.)

  • Kelas jangka panjang: kelas ini berkelanjutan, bisa sampai bertahun-tahun, dan beberapa ada tingkatannya. Contoh kelas daring jangka panjang yang saya ikuti di antaranya Institut Ibu Profesional, kelas bahasa Arab di BISA, dan Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Karena jangka waktu panjang, kelas-kelas ini tentu secara rutin memberikan tugas kepada peserta yang harus diselesaikan. Dalam kelas KLIP, peserta dituntut menyetor tulisan minimal sepuluh setiap bulannya untuk bisa bergabung di grup WA.
  • Jangka pendek: kelas jenis ini hanya berlangsung satu atau dua minggu. Atau paling lama satu bulan. Contohnya kelas menulis nonfiksi dari penerbit Stiletto, creative writing oleh Mba Rijo (ini dari KLIP juga), dan 30DWC. Dalam kelas-kelas ini juga biasanya ada tugas, tapi relatif sederhana.
  • One time event: selain dua itu, ada juga kelas daring yang hanya satu kali atau one time event. Termasuk di dalamnya kulwap, atau kulzoom. Kelas daring dari Narabahasa yang pernah saya ikuti juga termasuk jenis ini. Di kelas jenis ini biasanya tidak ada tugas atau PR.

  • Terserah kita: nah, ada lho kelas daring yang tak berbatas waktu alias terserah kita. Kalau kita rajin maka bisa selesai dengan cepat. Kalau males-malesan atau moody (seperti saya) ya bisa ngga selesai-selesai. Haha. Contohnya kelas di Skill Academy.

Selain kelas-kelas daring yang kini menjamur, sebenarnya berbagai kelas daring sudah ada sejak lama. Beberapa situs penyedia kelas daring yaitu Coursera, dan Future Learn. Melalui situs ini ditawarkan kelas daring yang disediakan oleh kampus-kampus di luar negeri. Jika lulus, peserta bisa mendapat sertifikat, tapi ada biaya yang perlu dibayarkan.

Dengan adanya macam-macam kelas daring ini, kita tinggal pilih mau yang mana. Tentu sesuaikan dengan kebutuhan dan mungkin passion juga. Jadi, mana kelas daring favoritmu?

17 May 2020

Rebahan Itu Melelahkan, Kawan!

Rebahan itu melelahkan. Tak seperti kedengarannya, tak sederhana apa yang dibayangkan. Rebahan dalam waktu panjang bukan hal yang mudah ternyata. Karena itu setelah dua bulan mematuhi imbauan untuk di rumah aja, saya mulai gatel untuk melakukan kegiatan sambal tetap di rumah aja.

Salah satu yang saya ikuti adalah kelas daring. Di masa pandemi seperti ini banyak sekali kelas-kelas daring yang terbuka untuk umum. Mulai dari kelas Zoom, Telegram, WhatsApp, atau sekadar mengikuti pelajaran via Youtube channel. Sejauh ini saya telah mengikuti tiga kelas daring via Zoom: creative writing bersama Mba Rijo Tobing, menulis takarir oleh Ivan Lanin, kemudian kelas penyuntingan dasar oleh Ivan Lanin dan Mba Windy.

Mengikuti kelas daring semacam ini sangat bermanfaat menurut saya. Terlepas dari kapan kita akan mengamalkan ilmu yang didapat (hahaha), paling tidak menambah pengalaman dan memunculkan kesan serta kebahagiaan tersendiri. Info seputar kelas daring ini bertebaran di Instagram. Tinggal cari saja dan pilih mana yang disuka. Untuk kelas seputar kepenulisan sendiri kemarin saya dapat dari akun IG Patjar Merah, daripadabosen, dan Narabahasa.

Kegiatan lainnya adalah mencoba resep masakan. Tidak, saya bukan tipe yang rajin di dapur. Hanya kadang-kadang entah apa yang merasuki, saya tiba-tiba semangat berkarya di dapur. Wkwk. Seperti kemarin, saya mencoba membuat martabak manis dan akhirnya berhasil. Keinginan coba-coba resep ini biasanya ini hanya muncul seminggu atau dua minggu sekali. Duh!

Lalu, opsi lain daripada sekadar rebahan yang melelahkan adalah menulis. Ya, mungkin karena saya mengikuti beberapa kelas daring seputar menulis, semangat menulis pun meningkat. Walaupun entah apa yang ditulis, tetap menulis saja. Setidaknya ada kepuasan menyalurkan ide atau emosi setelahnya.

Nah, kalau sudah tepar dengan kegiatan-kegiatan itu, tentunya termasuk kegiatan rutin seperti mencuci, menyapu, mengepel, dan beberes rumah, barulah yang paling enak adalah rebahan. Di titik ini, rebahan tak lagi melelahkan dan justru menghilangkan lelah. Ahh… Nikmatnya istirahat memang setelah berlelah-lelah.

Intinya, walaupun di rumah, jangan hanya rebahan, ya!

#30DWCJilid23
#30DaysWritingChallenge
#Squad7
#Day23


16 May 2020

Mencari Kedamaian dalam Kedaruratan


Saya akan terang-terangan. Berbeda dengan beberapa tulisan sebelumnya yang saya tulis dengan menggebu-gebu, topik seputar buku dan kepenulisan, kali ini saya akan menuliskan dengan lebih tenang. Karena, seperti tertulis di judul, kita akan mencari kedamaian di tengah kondisi darurat saat ini. Ya, saya juga akan menyinggung sedikit tentang Covid-19.


Tarik napas dalam, keluarkan perlahan.

Saat ini dunia sedang dilanda wabah Covid-19 yang belum ada obat dan vaksinnya. Sementara itu penularan penyakit ini sangat cepat layaknya flu biasa, padahal ini sama sekali bukan flu biasa. Dengan kondisi ini, WHO menyatakan status pandemi, dan negara ini dalam darurat kesehatan.

Siapa yang tak takut mendengar hal demikian? Saya takut, waswas, dan memilih di rumah saja sesuai arahan pemerintah demi mengurangi risiko terpapar virus. Namun, di rumah saja setiap hari bukanlah tanpa dampak. Salah satu dampaknya adalah pada psikologis yang mungkin jadi agak suntuk. Kurang happy.

Rindu jalan-jalan, rindu kawan, rindu makan di luar, dan banyak lagi. Tapi rindu itu belum bisa terobati. Lalu, bagaimana?

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Selalu ada hikmah di balik setiap musibah. Selalu ada nikmat yang bisa disyukuri. Dan nikmat besar yang bisa—bahkan harus—kita syukuri saat ini adalah nikmat Ramadan. Ya, Ramadan kali ini berbeda. Tak ada tarawih di masjid, tak ada buka bersama.

Tapi Ramadan tetaplah Ramadan. Bulan penuh ampunan, rahmat, pahala, dan keberkahan. Bulan yang menghadirkan kedamaian apabila kita bisa menikmatinya. Kedamaian di tengah malamnya yang syahdu. Kedamaian saat santap sahur dan berbuka. Kedamaian saat menjalankan ibadah lainnya. Sungguh nikmat luar biasa besar yang harus disyukuri. Alhamdulillah.

Bulan Ramadan di tengah pandemi, banyak orang jadi lebih senang berbagi. Banyak orang saling menyemangati. Banyak orang menjalin silaturahmi, justru karena tak bisa bertemu langsung. Saya misalnya, jadi lebih sering menelepon ibu saya karena tahu tidak bisa mudik lebaran kali ini. Ibu saya juga jadi lebih banyak libur dari kerjanya, dan banyak waktu di rumah. Kami jadi lebih sering komunikasi. Alhamdulillah.

Semoga pandemi ini tak merenggut kedamaian di hati kita, dan kekhusyukan ibadah kita di bulan mulia ini. Tentu kita tetap terus berdoa semoga Allah segera mengangkat wabah ini dan memberi kesehatan pada seluruh saudara kita di mana pun berada. Aamiin.

Jangan lupa juga untuk tetap berburu lailatul qadr, ya!

#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid23
#Squad7
#Day22


15 May 2020

Akhirnya Kegalauan Saya Dijawab oleh Ivan Lanin dan Windy Ariestanty

Kelas Daring Narabahasa

Maafkan judul yang agak kepanjangan ini. Tapi, demikianlah yang saya rasakan sekarang. Rasa plong, lega, puas, dan senang karena kegalauan saya sudah terjawab. Tentunya bukan kegalauan tentang percintaan, yak, melainkan tentang kepenulisan. Hehe.

Mungkin Anda juga mengalami kegalauan yang sama? Tak ada salahnya Anda membaca tulisan ini agar kegalauan kita sama-sama terhempaskan. Wkwk.

Siang tadi saya mengikuti kelas daring yang diadakan oleh Narabahasa. Kelas dengan tema “Penyuntingan Bahasa Dasar untuk Penulis” itu menghadirkan duet Ivan Lanin dan Windy Ariestanty sebagai pemateri. Anda tentu sudah mengenal keduanya, ‘kan? Belum? Ok, bukan masalah. Saya akan kenalkan sedikit.

Ivan Lanin adalah wikipediawan pencinta bahasa Indonesia yang sudah beberapa tahun ini aktif menjawab berbagai pertanyaan seputar bahasa via Twitter. Beliau juga berafiliasi dengan Komisi Istilah Badan Bahasa, dan penulis buku Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris?.

Kemudian, Windy Ariestanty, nama yang tak asing bagi saya. Pertama kali bertemu dengan Mba Windy sekitar 13 tahun yang lalu saat beliau menjadi pemateri pelatihan penulisan di sekolah saya. Bertemu kedua kali sekitar lima tahun lalu saat first reader workshop GagasMedia. Dan ketiga kalinya tadi siang via Zoom. Mba Windy adalah editor novel Aroma Karsa.

Okeh, jadi, apa nih kegalauan saya yang dijawab oleh kedua narasumber? Saat sesi tanya jawab, saya mengajukan pertanyaan yang benar-benar membuat saya galau: Apakah dalam novel atau tulisan nonfiksi harus benar-benar patuh pada kaidah penggunaan konjungsi?

Seperti yang kita tahu, konjungsi ada yang untuk antarkalimat, antarparagraf, dsb. Nah, kadang—atau malah sering—saya ingin meletakkan konjungsi di awal kalimat, padahal tidak seharusnya. Contoh kata “dan”, seharusnya tidak boleh di awal kalimat. Lalu, bolehkah hal seperti ini?

Menurut Mba Windy, hal seperti itu sah-sah saja, asalkan penulis punya alasan kuat untuk meletakkan kata tersebut di situ padahal itu bukan tempat seharusnya. Mba Windy juga menambahkan, jika kita punya alasan kuat, tak sekadar menambah efek dramatis, maka tak apa bereksperimen. Siapa tahu nantinya hal itu bisa menambah khasanah bahasa Indonesia.

Senada dengan Mba Windy, Uda Ivan pun mengatakan boleh saja melanggar aturan konjungsi dengan syarat si penulis sebenarnya tahu penggunaan yang tepat. Jika si penulis tahu penggunaan yang benar, namun tetap memilih melanggar karena ada alasan kuat, maka boleh. Ini yang disebut licentia poetica. Bukan karena penulis tidak paham kaidah kemudian asal langgar saja.

Mendengar jawaban tersebut, saya merasa legaaa. Hahaha. Jadi, sudah paham ya, gaes? Intinya, sebagai penulis kita harus paham kaidah yang benar. Baru kemudian mencoba melanggar aturan hal-hal baru. Wkwk.

Sebenarnya ada dua pertanyaan lagi yang saya ajukan yang membuat saya benar-benar galau dan benar-benar lega. Tapi lain kali saja dibahasnya, ya. Ditabung dulu ide tulisannya. Haha.

Semoga tulisan kali ini bermanfaat!

#30DWCJilid23
#30DaysWritingChallenge
#Squad7
#Day21

Ada Apa dengan Khong Guan?