30 April 2020

Mari Ngobrol

Masih tentang hikmah dibalik wabah. Keadaan ini sungguh mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya adalah untuk tetap saling berkomunikasi, saling menyemangati, saling menguatkan. Caranya adalah dengan bicara, ngobrol.

Walaupun social distancing dan #dirumahaja, kita tetap bisa komunikasi via WA, telepon, dan video call. Ada banyak media. Tapi kali ini saya ingin tekankan tentang menelepon, baik via video call maupun voice call.

Ketika Anda mulai merasa jenuh di rumah, mulai kehabisan ide, semangat menurun, dan kurang piknik, teleponlah seseorang. Bisa orang tua, kakak atau adik, teman kuliah, sahabat, siapa saja yang Anda rindukan. Teleponlah dan ajak ngobrol. Most likely, orang yang Anda telepon juga merasakan hal yang tak jauh beda dengan Anda, sehingga bisa saling mendukung, menguatkan, melepas rindu.

Saya misalnya, baru saja menelepon salah seorang sahabat saya yang berdomisili di Tangsel. Sudah agak lama tidak ngobrol panjang lebar, kami pun bisa bercerita macam-macam. Diawali dengan obrolan seputar bosan karena #dirumahaja, PSBB yang berlaku di Jakarta, dan merambat sampai masalah percintaan. #eaaa.

Setelah mengobrol, ada perasaan lega karena tahu bahwa kita tidak sendiri. Teman-teman di daerah lain pun merasakan yang sama. Terkurung di rumah karena keadaan. Tapi ini bukan sesuatu yang patut dicaci. Malah, keadaan ini justru bisa disyukuri, kita jadi bisa leluasa menyambung silaturahmi via telepon. Terlebih, karena #dirumahaja, teman-teman jadi tidak terlalu sibuk dengan kerjaan dan bisa diajak teleponan, deh! Hehe.. Jadi, mari ngobrol! :)

#30dwc
#30dayswritingchallenge
#30dwcjilid23
#day6
#squad7

26 April 2020

Mengkritisi Karya Sendiri

Akhir-akhir ini saya senang membaca ulang tulisan saya sendiri. Bukan tulisan terbaru di blog, yang saya baca adalah tulisan saya enam tahun lalu. Ada dua tulisan, yang satu berjudul Lucy & Danny, dan satu lagi Artemis dan Apollo. Keduanya dalam format novel, fiksi.

Kedua naskah novel itu tak pernah pergi ke mana-mana. Saya tidak mengirimkannya ke mana pun, dan tak ada yang pernah membacanya sampai tuntas kecuali saya sendiri. Haha. Dan karena saya baru selesai membacanya lagi, saya ingin mereview tulisan saya tersebut. Dimulai dari Artemis & Apollo.

Artemis & Apollo bercerita tentang dua orang pria dari dua suku yang selalu bermusuhan sejak zaman dulu kala. Artemis dari suku West, dan Apollo dari East. Anak-anak dari kedua suku tersebut sejak lahir sudah didoktrin untuk saling membenci, dan tak mengenal kata pertemananan atau kerja sama. Namun Artemis dan Apollo tak senang dengan keadaan tersebut. Mereka merantau jauh dari sukunya dan takdir mempertemukan mereka di negeri lain.

Keduanya berteman akrab dan merasa klop. Mereka tahu persahabatan ini terlarang karena seharusnya mereka saling bermusuhan. Tapi keduanya keep going sampai terjadilah sebuah insiden. Apollo membunuh seorang dari suku West. Ia pun menjadi buronan. Mengetahui hal ini, Artemis tidak tinggal diam. Ia berusaha melindungi Apollo sekuat tenaga. And the adventure begins

Kritik pertama saya untuk kisah Artemis & Apollo adalah banyaknya typo. Haha. Ada typo yang disebabkan terlalu semangat saat menulis. Saya ingat bagaimana dulu saya begitu ingin menyelesaikan naskah tersebut sebelum kehilangan mood dan idenya menguap. Ada juga typo yang memang saat itu saya tidak tahu bagaimana penulisan yang benar. Wkwk.

Kedua, ada beberapa plot hole atau kejadian yang janggal yang seharusnya bisa diperbaiki. Namun sebenarnya sungguh wajar bagi penulis pemula. Apalagi ini adalah first draft alias masih mentah banget. Ketiga, sebagaimana saya senang dengan tulisan yang to the point, Artemis & Apollo sangat to the point sehingga minim deskripsi. Terlihat dari jumlah halamannya yang hanya 60-an halaman. Duh

Namun, walapun sudah enam tahun berlalu sejak saya menuliskannya, Artemis & Apollo tetap bisa membuat emosi saya terbawa, dan saya senang dengan dialog-dialog dan diksinya. Salah satu yang saya suka contohnya narasi singkat berikut ini:

Masih sakit, bekas pukulan Artemis di wajahnya. Ia tak menyangka Artemis akan meninjunya begitu keras. Ia tak menyangka orang yang berusaha ia lindungi justru menghajarnya. Apollo  terkekeh sendiri. Dia tidak tahu, batin Apollo.

That’s all for today
. Menyenangkan juga membaca ulang dan mengkritisi karya sendiri. Sayangnya saya tak banyak menulis cerita panjang. Biasanya hanya berupa cerpen atau opini singkat. Apakah ini saatnya menulis lagi?

#30DWCJilid23
#30DaysWritingChallenge
#Squad7
#30DWC


25 April 2020

Ikut 30 Days Writing Challenge Lagi

Ini adalah kali kedua saya mengikuti 30 Days Writing Challenge yang dimentori oleh Kak Rezky Firmansyah. Kali ini saya ikut di jilid 23, sebelumnya di jilid 21. Kenapa saya mengikuti DWC lagi? Pertama karena saya senang sih, di sini tuh ada mentor yang rajin memberi tanggapan tentang tulisan para peserta. Baik nonfiksi maupun fiksi ada mentornya.


Kedua, saya biasanya akan lebih rajin nulis kalau ada programnya gini. Ada barengannya. Jadi tidak semata-mata mengandalkan mood. Cause I can’t trust my mood to always be good. Wkwk. Jadi dengan ikut lagi, saya harap akan lebih rajin, dan tentu saja berharap tidak terdepak.

Ketiga, saya ikut 30 DWC Jilid 23 karena saya punya voucher gratisan. Kan sayang kalau dilewatkan. Hehe. Voucher ini saya dapatkan karena ikut menjadi editor antologi 30DWC Jilid 21. Terima kasih atas kesempatan berharga tersebut. Sungguh pengalaman menyenangkan, banyak ilmu yang didapat. Mau coba jadi editor lagi di jilid ini, tapi kok agak khawatir bisa bertahan sampai akhir atau tidak.

Well, that just means one thing: saya harus lebih giat dan konsisten menulis. Karena itu saya mencari wadah yang bisa mengakomodasi dan mendukung keinginan menulis. Khususnya di 30DWC Jilid 23 ini, saya ingin menulis dengan lebih baik dan lebih rajin dibanding sebelumnya. Bismillah… Semoga di 30 DWC Jilid 23 yang berbarengan dengan bulan Ramadan 1441H ini saya bisa menebar manfaat melalui tulisan.

#30DWCJilid23
#30DWC
#Day1
#Deklarasi

23 April 2020

Mudik, Pulang Kampung, dan Corona

(Sumber: Pixabay)

Harap tenang, pemirsa. Masalah mudik dan pulang kampung saya yakin banyak yang sudah mencarinya di KBBI. Walaupun menurut KBBI mudik dan pulang kampung itu sama, namun presiden kita memandangnya berbeda. Tentunya dihubungkan dengan situasi saat ini yang tengah dilanda pandemi.

Mudik diartikan sebagai tradisi pulang kampung yang dilakukan jelang lebaran. Biasanya ada yang mudik sejak pertengahan Ramadan. Tujuannya adalah untuk berlebaran di kampung halaman, dan akan kembali lagi merantau setelah selesai libur lebaran. Sedangkan pulang kampung adalah kembali ke kampung dengan tujuan memang tinggal di kampung untuk waktu yang lama, entah kembali ke kota lagi atau tidak. Mungkin seperti itu yang dimaksud pemerintah.

Nah, pemerintah melarang mudik dengan tujuan mencegah penyebaran virus corona yang lebih luas. Menurut saya pribadi sebagai orang awam, pelarangan ini bagus, walaupun disayangkan karena banyak yang telah lebih dulu pulang kampung sebagai dampak corona juga. Contohnya beberapa tetangga ibu saya yang sudah mudik dengan alasan pendapatan mereka menurun drastis, sehingga lebih memilih pulang kampung. Di kampung mereka bisa kumpul keluarga dan biaya hidup relatif lebih murah. Dari sisi kesehatan, saya menyayangkan hal seperti ini karena mereka berpotensi menyebarkan virus yang tanpa disadari ada di tubuh mereka. Akan tetapi di sisi lain, negara juga tidak bisa menanggung beban ekonomi orang-orang yang pendapatannya menurun drastis. Dilematis.

Namun demikian, larangan mudik tetap keputusan yang patut dihargai. Pasalnya, jika bicara pencegahan penyebaran virus, maka yang utama adalah meminimalisasi mobiltas masyarakat. Imbauan #dirumahaja dan larangan mudik sejatinya untuk menekan mobilitas masyarakat agar virus tak mudah menyebar. Sayangnya, hal ini tak jarang disalahartikan.

Misalnya saja pada beberapa instansi yang mengimbau pegawai yang telah pulang kampung karena WFH untuk kembali ke kota tempatnya bekerja. Hal ini jadi kontraproduktif dengan tujuan WFH dan larangan mudik itu sendiri. Huff..

Yah, saya sendiri akhirnya hanya bisa memaklumi. Kondisi pandemi baru kali ini dihadapi oleh kebanyakan orang di negeri ini, sehingga masih banyak yang bingung atau tidak memahami apa yang harus dilakukan. Jangankan pedagang asongan yang tak mengenyam pendidikan formal, pejabat instansi pun belum tentu paham makna di balik aturan WFH, #dirumahaja, dan larangan mudik.

Akhirnya, hanya bisa berdoa semoga Allah swt segera mengangkat wabah ini, dan melindungi kita dari segala keburukan wabah ini. Aamiin..


#corona
#wabah
#mudik


22 April 2020

Creative Writing with Rijo Tobing


Malam ini sungguh berbeda dan membahagiakan. Pasalnya malam ini saya mengikuti kelas online melalui Zoom. bisa dibilang ini adalah pertama kalinya saya mengikuti kelas online via Zoom. Topiknya tentang creative writing, dengan narasumber Mba Rijo Tobing. Siapakah Mba Rijo Tobing? Saya pernah menulis tentang sesi Kenal Lebih Dekat di KLIP dengan Mba Rijo, tapi belum diunggah ke blog, dan hari ini langsung ada kelas online dengan beliau. Sungguh bahagia! Alhamdulillah..

Creative writing. Ternyata selama ini saya masih banyak salah kaprah tentang frasa ini. Creative writing saya kira hanya berlaku pada tulisan fiksi. Ternyata tidak, gaeess. Inti creative writing adalah bercerita, merangkum dan menyampaikan data dan fakta melalui cerita.

Nah, supaya cerita yang disampaikan ini terstruktur dan enak dibaca, maka harus disusun secara deduktif atau induktif. Ini pernah dipelajari di bangku sekolah, ya. Tapi entah kenapa, kok, lupa aja gitu. Paragraf deduktif adalah paragraf yang inti bahasannya ada di awal, sedangkan induktif ada di akhir. Yang saya senang, contoh yang diberikan Mba Rijo ini beda dengan yang di sekolah, lho. Jadi lebih paham bahwa deduktif itu bisa begitu, dan induktif begini. Eh, gitu lah ya maksudnya. Wkwk.

Kemudian ada empat elemen utama yang harus ada dalam creative writing, yaitu karakter, setting (latar tempat dan waktu), alur, dan tujuan. Fokus pada empat ini dan creative writing sudah bisa terbentuk. Bahkan sebuah iklan baris pun bisa disebut creative writing.

Selanjutnya Mba Rijo memberi tips seputar menjaga mood menulis, dan pengalaman dalam menerbitkan buku. Senang sekali menyimak paparan Mba Rijo, menyadarkan diri untuk “just do it”. Karena dari eksekusi itu akan terbentuk pengalaman dan pelajaran berharga. Ada satu pesan yang powerful disisipkan oleh Mba Rijo, “ini saatnya kita berubah dari passion menjadi mastering”. Beuh!

Semoga ini menjadi awal untuk mulai semangat menulis lagi. Everything just come in time for me to write, all over again. Terima kasih banyak Mba Rijo! Oiya, kalian bisa baca-baca tulisan Mba Rijo di www.rijotobing.wordpress.com yaa.

Semangaaattt!


#creativewriting
#writingfromhome
#KLIP

16 April 2020

Titik Terang Toilet Training

Toilet training yang berkepanjangan membuat saya hampir putus asa. Namun sekarang tampak titik terang akan berakhirnya proses ini. Hehe.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Ini masih serangkaian hikmah dibalik wabah yang saya rasakan. Yaitu mengenai progres signifikan toilet training si bocil. Sebenarnya proses toilet training ini sudah dimulai sejak lama, sekitar pertengahan tahun lalu. Akan tetapi ada saja yang menghambat sehingga si bocil tak kunjung bisa buang air di kamar mandi.

Walaupun sudah sering dibilangin untuk "jangan pipis di celana", "kalau mau pipis harus bilang", tapi dia seolah santai saja. Bahkan ketika celananya sudah basah, kadang ia tidak mau ganti. Duh! Hal inilah yang membuat saya hampir menyerah.

Salah satu hambatan terbesar maju-mundurnya proses ini adalah karena kami sering pergi-pergi saat weekend. Dan kalau pergi saat weekend, kami pakaikan popok lagi karena ngga mau repot, ya, ‘kan. Pernah suatu kali nekat tidak pakai popok saat ke mal, and it’s a disaster. Wkwk. Jadi bolak-balik proses toilet training hanya berujung pada mengurangi pemakaian popok, namun si bocil tetap sering ngompol di siang maupun malam hari.

Semua mulai berubah ketika negara api menyerang wabah datang dan si bapak bekerja dari rumah. Kami pun tidak lagi bisa pergi-pergi dan tetap #dirumahaja baik itu weekday maupun weekend. Hasilnya, kini proses panjang toilet training mulai menemukan titik terang. Beberapa hari ini bocil mulai bisa bilang “mau pipis” sebelum benar-benar pipis. Dia juga mulai tidak terlalu sering pipis. Tadinya hampir setiap setengah jam pasti celananya sudah basah. Sekarang bisa 1,5-2 jam dia tidak pipis, dan ketika mau pipis pun dia bilang. Jadi tidak ngompol di celana. Yeay! Alhamdulillah!

Untuk malam hari masih dipakaikan popok, sih. Mungkin nanti setelah benar-benar bisa atau terbiasa di siang, barulah akan dicoba lepas popok malam hari. Tapi, sekarang saja sudah merupakan capaian besar bagi kami. Alhamdulillah.

Maka, bagi yang sedang toilet training, jangan menyerah!

#dirumahaja

15 April 2020

Resep Minuman Sederhana ala Emak Pemalas

Seperti disclaimer di post sebelumnya, saya itu sebenarnya males banget di dapur. Akan tetapi di rumah terus-terusan membuat saya bolak-balik dapur karena ingin cemilan atau yang segar-segar, seperti minuman ini. Super simple ala emak yang males lama-lama di dapur. Wkwk.

Milkshake Pisang
2 bh Pisang, bisa pisang fresh atau yang sudah beku
1 kotak Susu UHT coklat atau vanilla 125ml
Es batu secukupnya
1 sdm Madu

Cara membuat:
Pertama, masukkan es batu ke dalam blender, disusul dengan pisang, kemudian susu, dan terakhir madu. Blender semuanya sampai tercampur rata. Sajikan.

Kandungan gizi:
Energi 140 kkal
Karbohidrat 24 gr
Lemak 4 gr
Protein 6 gr

Tambahan info: Pisang mengandung kalium yang baik untuk keseimbangan cairan tubuh. Kalium ini juga diperlukan saat seseorang mengalami diare.

Milo Susu
Bahan

1 sachet milo
1 kotak susu UHT full cream 125ml
Es batu secukupnya
1 sdm susu kental manis
Secukupnya coklat compound dilelehkan

Cara membuat
Masukkan es batu, milo, susu UHT, dan SKM, kemudian coklat leleh ke dalam blender. Blend sampai tercampur rata.

Kandungan gizi:
Energi 237 kkal
Karbohidrat 36 gr
Protein 7,25 gr
Lemak 8,5 gr

Tambahan info: ini emang agar berlemak, sih, ya, untuk ukuran minuman. Kalau ingin mengurangi lemaknya bisa menggunakan susu skim.

10 April 2020

Hikmah Dibalik Wabah (3): Hmm…

Selain mengurangi frekuensi marah dan jajan, adanya social distancing dan work from home ini mau tidak mau membuat pak suami lebih memahami kondisi di rumah sehari-hari. Biasanya, ketika suami pulang kerja, saya menumpahkan uneg-uneg hari itu. Misalnya jika hari itu bocil rewel, atau rumah super berantakan, dan lain lain.

Namun, walaupun saya ceritakan, suami hanya bisa mendengarkan karena ketika dia pulang kerja, rumah sudah rapi, dan bocil sudah tidak rewel. Tapi sekarang berbeda. Karena suami di rumah aja setiap hari dari pagi sampai sore, ia bisa melihat sendiri maksud curhatan saya sehari-hari.

Di hari-hari awal WFH misalnya, saat bocil rewel, ia langsung bisa merasakan sendiri meng-handle anak yang rewel padahal ada pekerjaan yang harus dilakukan. Ia pun berkomentar, “mama biasanya begini toh di rumah”. Dan kalau sudah begitu, saya balas saja, “rasakan..muahahaha”. Hahaha. Kok, jahat amat saya. Wkwk.

Intinya, suami jadi paham bagaimana rasanya jika setiap hari di rumah saja menghadapi anak. Tentu tidak sepenuhnya sama karena di hari-hari normal saya menghadapi si bocil sendirian. Tapi setidaknya ia jadi bisa merasakan sendiri apa yang biasanya hanya ia dengar dari curhatan saya.

#rulisipbatam
#pandemi
#stayathome
#dirumahaja

08 April 2020

Hikmah Dibalik Wabah (2): Mengurangi Jajan

Salah satu perbedaan yang paling terasa setelah adanya kampanye social distancing dan #dirumahaja adalah kami jadi mengurangi jajan. Terutama jajan minuman-minuman dingin seperti kopi-kopi. Padahal sebelumnya, si bapak hobi banget jajan minuman yang dingin dan manis gitu. Mulai dari Janji Jiwa, Roempi, apa aja yang ditemui di mal selalu dicicipi. Saya juga, sih, sesekali ikutan juga beli minuman dingin itu, terutama mocha float KFC, itu murah meriah. Wkwk.

Nah, sekarang, jadi minim sekali kami jajan karena kan ngga ke mal, otomatis tidak ketemu kedai-kedai kopi tersebut. Efek lebih jauhnya tentu mengurangi sampah gelas plastik. Biasanya sampah gelas plastik ini udah penuh di tempat penampungan, tinggal menunggu ibu-ibu pemulung langganan sini. Tapi sekarang sudah tiga minggu dan sampah gelas plastik masih dikit. Hehe.

Jajan-jajan makan di luar pun berkurang, walaupun masih sesekali order via GoFood atau take away dan drive thru. Alhasil, pengeluaran jajan makanan ini berkurang. Tapi, jajan cemilan bertambah. Wkwk. Cemilan macem Kusuka, Chitato, wafer, gitu justru bertambah karena si bapak kerja di rumah dan gemar ngunyah.

Belum jelas, sih, apakah akan ada hubungan antara frekuensi jajan ini dengan berat badan. Mungkin bisa ditelusuri nantinya. Wkwk

#rulisipbatam
#hikmahdibalikwabah


07 April 2020

Hikmah Dibalik Wabah (1)

Setelah beberapa minggu menerapkan social distancing, tidak keluar rumah kecuali memang perlu, bapake bekerja dari rumah alias WFH, ada satu hal yang saya sadari. Ternyata, akhir-akhir ini, saya jarang marah! Yeay! Alhamdulillah.

Biasanya, hampir setiap hari ada saja hal yang membuat saya marah pada si bocil, walaupun hanya sekali atau beberapa menit saja. Tapi saya baru menyadari, sudah beberapa hari ini saya tidak marah-marah seperti biasa. Ini sebuah pencapaian luar biasa bagi saya. Wkwk.

Tentu ada beberapa faktor, tapi yang utamanya karena bapake sekarang selalu di rumah. Artinya, saya tidak sendirian menghadapi bocil. Ketika saya capek, atau sibuk dengan urusan domestik, bocil bisa main dengan bapaknya. Alhamdulillah. Hal ini membuat saya tidak terlalu capek, sehingga tidak terlalu emosi.

Kedua, dengan adanya bapake di rumah, saya tentu jadi ada teman ngobrol. Hehe. Tidak bisa main ke rumah teman, tapi selalu ada bapake yang bisa diajak diskusi sepanjang hari. Kecuali ketika dia sibuk di depan laptop, ya. Karena namanya juga WFH, jadi di rumah pun tetap harus mantengin laptop. Tapi intinya, I’m not alone, and I’m not lonely.

Di awal-awal bapaknya WFH, bocil sempet rewel-rewel dan banyak maunya, tapi sekarang sudah tidak lagi. Sepertinya dia pun sudah beradaptasi dengan suasana baru yang ngga ke mana-mana, dan bapaknya selalu di rumah. Hehe.

Alhamdulillah, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian.


#rulisipbatam
#tantanganmenulis