31 December 2019

Makan dengan Bahagia

Nulis random sudah, nulis tentang less waste sudah, sekarang saya akan tulis sedikit tentang kesehatan, khususnya pemberian makan pada anak. Ini pengalaman saya saja, ya. Alhamdulillah sejauh ini si bocil tidak pernah benar-benar susah makan. Ada kalanya makannya sedikit, atau pilih-pilih, tapi cuma satu dua hari aja, ngga sampai bikin khawatir BB-nya turun.

Mengenai tips pemberian makan, menurut dokter Arifianti (Apin) ada dua hal penting, yaitu berikan makan ketika anak lapar, dan berikan makanan yang enak, jangan yang plain gitu. Nah, disamping dua hal itu, menurut saya yang juga penting adalah jangan memaksa anak untuk makan. Jadi, usahakan anak makan dengan bahagia, sukarela, bukan terpaksa.

Contoh, ketika anak tidak menghabiskan makan, yaa jangan dipaksa harus habis. Bisa jadi ternyata kita yang terlalu banyak mengambilkan porsi makan. Prinsip saya, tidak perlu khawatir anak akan kekurangan kalori atau BB-nya turun hanya karena menyisakan satu atau dua sendok makanan. Kalau dipaksakan yang ada anak jadi nggak mau makan, dan emak jadi stres. Perlu diingat juga, jangan mencekoki anak untuk makan. Praktik makan semacam ini punya risiko membuat anak tersedak.

Hal lain yang juga penting dalam pemberian makan yaitu pemberian ASI yang cukup. Dii enam bulan pertama, ASI adalah satu-satunya asupan, maksimalkanlah pemberian ASI sehingga BB yang dicapai dalam enam bulan tersebut bisa maksimal. Jika di usia enam bulan anak memliki BB yang cukup atau di atas rata-rata, tentu orang tua tidak perlu terlalu pusing memberi makan anak nantinya. Eh, kalau saya sih gitu.

Di usia enam bulan, anak saya beratnya sudah mencapai 9 kilogram. Setelah usia enam bulan memang pertambahan berat melambat, tapi masih aman. Itu juga salah satu faktor saya tak pernah memaksa anak untuk makan banyak.

Tips selanjutnya adalah sabar. Ya, ini solusi berbagai masalah termasuk masalah memberi makan anak. Kadang anak lambat saat mengunyah, kadang sambil main, intinya yaa sabar aja. Pelan-pelan tapi kan dimakan, syukur-syukur kalau habis. Hehe.

Demikian tips dari saya. Semoga bermanfaat. 

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day21
#ImWritingInLove



30 December 2019

Cara Mudah Kurangi Sampah di Rumah

Saya tidak bilang kalau saya peduli lingkungan atau cinta bumi. Walaupun sudah beberapa kali melihat berita seputar parahnya penanganan sampah di Indonesia, tapi saya masih belum tersentuh. Entah kenapa. Mungkin karena belum merasakan efeknya langsung?

Lalu, kenapa saya mengganti tisu dengan lap? Mengapa saya membuat komposter felita? Jawabannya karena saya cinta kebersihan. Saya senang jika sekeliling saya bersih dari sampah dan bau tak sedap. Sebaliknya, saya tidak suka kalau melihat sampah yang menggunung di tempat sampah dan muncul bau menyengat.  Maka dari itu, saya berusaha mengurangi produksi sampah di rumah. Apalagi petugas kebersihan di komplek ini hanya datang seminggu sekali, bahkan kadang lewat dari jadwal.

Cara pertama yang paling mudah untuk mengurangi sampah adalah membawa wadah atau tempat makan saat membeli makanan di luar. Bayangkan saja, tanpa membawa wadah sendiri, biasanya pedagang menggunakan styrofoam. Styrofoam bekas akan sangat menghabiskan banyak ruang di tempat sampah, artinya, tempat sampah cepat penuh. Jadi, bawa saja tempat makan saat jajan. Ini lebih sehat bagi diri dan bumi.

Cara kedua adalah mengganti tisu dengan kain lap. Padahal sejak dulu saya sangat ketergantungan dengan tisu. Di rumah, di tas, di mana-mana selalu sedia tisu. Tapi, lama-lama bikin kesal karena sampah tisu kerap berceceran. Solusinya ya mudah, ganti saja dengan kain lap. Sebagai pengganti tisu, tentu saya mencari yang ukurannya kecil, bukan lap besar.

Awalnya saya menggunakan kaos bekas kemudian saya gunting-gunting sendiri. Tapi saya kurang puas karena ukurannya kadang terlalu kecil, atau bahannya tidak maksimal menyerap air. Setelah mencari-cari, saya menemukan lap kecil berbahan microfiber yang sangat menyerap air dan debu, mudah dicuci, dan cepat kering. Harganya pun murah, Rp19000 untuk lima buah lap. Saya beli di ACE Hardware, merknya Pro Clean. Sebenarnya lap ini tuh adalah lap isi ulang untuk mesin pel otomatis, tapi kan bisa dipakai buat lap biasa juga. Hehe. Merk lain dengan berbagai ukuran juga banyak, tapi harganya jauh lebih mahal.

Sekian dulu info dari saya. Semoga bermanfaat, ya!

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day20
#ImWritingInLove
#LessWaste

29 December 2019

Kebablasan

Ada satu hal yang saya benci dengan adanya media sosial saat ini. Saya benci ketika orang-orang seenaknya menuangkan perasaan dan menganggap diri yang paling benar. Contohnya ketika seseorang mengunggah foto anaknya, kemudian ada yang berkomentar "hidungnya pesek, ya", maka pemilik foto alias orang tua si anak langsung emosi tingkat tinggi. Kemudian komentar tulus nan jujur itu disebut body-shaming. Selanjutnya muncullah gerakan massal menentang body-shaming.

Padahal, jika dipikirkan baik-baik, dengan kepala dingin dan hati damai, apa yang salah dengan komentar "hidungnya pesek, ya" tadi? Orang tersebut hanya bilang bahwa hidung anak di foto itu pesek, that's all. Orang itu tidak bilang pesek itu jelek. Apa yang salah dengan pesek? Saya rasa tidak ada yang salah atau memalukan dengan hidung pesek. Sama sekali tidak ada. Banyak orang cantik atau ganteng yang berhidung pesek. Jadi, komentar tersebut sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Apalagi sampai dilabeli body-shamming

Ada yang bilang, "tidak ada yang bisa membuat kita sedih kecuali yang kita izinkan", kurang lebih begitu, dan dalam hal ini saya setuju. Ketika seseorang merasa tersinggung dikomentari "pesek", mungkin sebenarnya dalam dirinya sendiri ada rasa tidak percaya diri dengan hidung pesek itu.

Selain body-shaming, ada lagi book-shaming yang sebenarnya juga tidak perlu. Apa itu book-shaming? Singkatnya, book-shaming itu merendahkan bacaaan orang lain. Contoh, “ih, udah gede kok masih baca komik?”. Nah, tapi lagi-lagi, apakah semua komentar demikian disebut merendahkan? Sebetulnya tidak perlu terlalu sensitif (baca: baper) dalam menanggapi komentar orang lain. Jika ada yang bertanya demikian cukup jawab dengan jujur, misal, “iya, baca komik bikin ketawa sih, daripada baca yang berat-berat, pusing gue”. Itu mungkin jawaban saya kalau ditanya demikian.

Karena memang tak dipungkiri, ada bacaan-bacaan yang untuk memahaminya butuh mikir keras. Saya sih mikirnya, “ngapain baca buku berat gitu? Tambah stres bisa-bisa”. Tapi tentu si pembaca buku-buku berat itu tidak perlu merasa tersinggung. Toh, mereka enjoy dengan bacaan tersebut. Intinya, tidak perlu terlalu baper dalam menanggapi komentar orang lain. Selama kita pede, happy dan enjoy dengan yang kita miliki atau yang kita lakukan, yaa santai aja.

Kalau setiap komentar kita labeli dengan shaming, alhasil akan sangat banyak shaming-shaming lainnya yang harus kita urusi, kita perjuangkan. Ujung-ujungnya, orang akan malas komentar apapun, apapun. Karena semua orang terlalu baper dan hanya mau mendengar komentar yang bagus.

Eh, atau ini saya yang terlalu cuek ya?

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day19

Drama di Perantauan

Hal paling menyedihkan dari kunjungan orang tua adalah ketika mengantar mereka ke bandara, kembali ke Jakarta. Sedih karena baru seminggu rumah terasa ramai, tiba-tiba sepi lagi. Sedih karena si bocil sudah happy main dengan kakek-neneknya, eh, sekarang harus kembali main hanya dengan emak bapaknya lagi. Ya, hidup di perantauan memiliki kesedihannya sendiri.

Merantau ke Batam sebenarnya sangat menyenangkan. Batam adalah kota yang cukup maju, berbagai fasilitas sudah ada. Teman-teman pun sudah banyak saya kenal. Di sini saya menemukan guru mengaji yang sangat baik. But, as much as I love being here, I would love to go back to Jakarta, too

Saya jadi ingat saat saya kecil, apabila nenek saya datang dari kampung, saya senang sekali. Dan ketika nenek saya pulang kampung, saya menangis menjerit-jerit karena tidak mau ditinggal. Bagaimana perasaan ibu saya saat itu ya? Pasti sedih. Tanpa drama anak yang nangis-nangis ditinggal neneknya saja aku sudah sedih, apalagi kalau anakku begitu.

Tapi mungkin ini saatnya. Kami harus berjuang dulu di perantauan, jauh dari orang tua, tanpa sanak saudara. Akan ada saatnya kami kembali ke Jakarta, dan berkumpul bersama keluarga. Jika saat itu tiba, pasti kami akan merindukan Batam. Merindukan kehidupan di sini, merindukan jalanan bebas macet, merindukan kebebasan. Jadi, masa-masa ini sebaiknya dinikmati sambil menanti saat pertemuan di Jakarta nanti. :)
 
Ke Jakarta aku, ‘kan kembali
Walaupun apa yang, ‘kan terjadi…
 
#30DWC
#30DWCJilid21
#Day18
#ImWritingInLove

27 December 2019

Citaku pada Ayah (Cerbung Part 3 Tamat)

Dua puluh tahun berlalu sejak sore kelabu itu. Diyani kini tinggal ratusan kilometer jauhnya dari rumahnya dulu, dari makam ayahnya. Namun jarak dan waktu tak meredupkan ingatan Diyani. Setiap kali ia pejamkan mata dan melemparkan diri ke masa itu, suasana dua puluh tahun yang lalu menyeruak. Ia ingat jelas kejadian malam itu, malam ayahnya pergi perlahan dari dunia fana.

***
"Laa ilaha illallah.." ucap ibu Diyani perlahan, mencoba menuntun suaminya mengucap kalimat tauhid.

Diyani yang sebenarnya sudah terlelap pun tersadar mendengar ucapan ibunya. Walaupun demikian, Diyani tak berkata apa-apa, tubuhnya bergeming memunggungi ibu dan ayahnya di kasur sebelah. Ia bahkan tetap menutup mata. Hanya telinganya siaga menangkap suara sang ibu yang setengah tersedu. Diyani tahu apa yang terjadi. Gadis kecil itu tahu ayahnya akan segera pergi. Tapi ia terlalu bingung untuk melakukan apapun. Ia bahkan tak berani membuka mata dan berbalik badan melihat ayahnya untuk terakhir kali.

Ibu Diyani masih setia mengajak suaminya mengucap kalimat laailahaillallah. Sang suami yang sudah lama terbaring lemah karena sakit berusaha mengikuti ucapan istrinya, walau dengan susah payah.

Sementara, perlahan tapi pasti, rasa kantuk kembali melalap Diyani dan menyeretnya ke alam mimpi. Diyani menyerah pada kegamangannya. Toh, ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Ia hanya perlu menerimanya, esok pagi.

***
Diyani membuka mata, pipinya basah. Dadanya sesak dengan kepingan masa lalu. Ia menarik napas perlahan, mencoba meringankan beban di hatinya. Berusaha tersenyum, seolah mengatakan pada ayahnya, pada dirinya sendiri, bahwa ia baik-baik saja.

Ayah, aku baik-baik saja
Aku tidak akan melupakan ayah
Segala citaku, masih sama padamu
Aku menyayangimu, ayah


Diyani memutuskan untuk segera tidur. Ia memandang wajah suami dan anaknya yang sudah nyenyak kemudian tersenyum. Malam itu tidurnya lebih lelap, ia bahagia, seakan baru saja bertemu kekasih yang dirindukannya.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day17
#ImWritingInLove

26 December 2019

Khusyuk dan Kesendirian (Cerbung Part 2)

Satu dua hari setelah ayahnya meninggal, Diyani kembali masuk sekolah. Kini dia punya status baru yaitu sebagai anak yatim. Tapi nyaris tak ada perubahan yang ia rasakan atau tunjukkan. Semua seolah sama saja baginya kecuali satu hal, teman-temannya.

Ya, entah kenapa hari ini sikap teman-temannya agak berbeda. Mereka tampak kasihan dan simpati pada Diyani, mereka bertanya ini itu dan berusaha menghiburnya. Puncaknya, mereka sepakat untuk berziarah ramai-ramai ke makam ayah Diyani ketika jam istirahat sekolah. Kebetulan TPU tempat ayah Diyani dimakamkan memang tak jauh dari sekolah. Tanpa keberatan, Diyani langsung menerima ide itu.

Ramai-ramai, masih berseragam putih merah, sambil mengobrol dan bercanda, Diyani dan teman-temannya mendatangi makam. Mungkin mereka menganggap ziarah ini seperti piknik yang penuh suka cita. Sesampainya di makam, mereka berdoa sebisanya kemudian kembali lagi ke sekolah. Diyani pun berterima kasih atas kepedulian teman-temannya. Tapi, ia masih tak mengerti. Kenapa dia seolah bahagia? Bukankah harusnya ia masih berduka?

Sore itu awan mendung mulai berkumpul. Angin berembus cukup kencang, menandakan akan turun hujan. Diyani seorang diri berjalan kaki ke makam ayahnya, lagi. Ia meniti tiap langkah penuh kebingungan. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Kenapa ia ingin mendatangi makam ayahnya lagi? Bukankah tadi siang ia sudah ke sini bersama teman-temannya? Ia sendiri penasaran dengan jawabannya. Sesaat ia berdiri di sana, terdiam. Ia khusyuk dalam kesedihan, dalam keheningan yang tiba-tiba melesak. Ya, ia sedih.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day16
#Khusyuk
#ImWritingInLove

25 December 2019

Gebyar Perayaan Kemerdekaan (Cerbung Part 1)

“Pantas aja, dia itu sering tanya, ‘17-an berapa hari lagi?’. Eh, ternyata begini.”
Diyani mendengar ibunya bercerita pada para tetangga. Ibunya bercerita tentang ayah Diyani yang baru saja meninggal semalam. 
Walaupun baru berusia delapan tahun, Diyani memahami apa yang terjadi, bahwa ayahnya baru saja pergi untuk selamanya. Namun yang Diyani belum mengerti adalah tentang perasaannya sendiri. Haruskah dia menangis tersedu-sedu? Atau haruskah ia mencoba tegar? Bagaimana harusnya ia merasa? Ia tak mengerti. Hari telah siang, matahari cerah memancarkan sinar. Pemakaman telah selesai. Diyani ikut mengantar jenazah ayahnya ke pemakaman dan melihat prosesinya. 
Hari ini Diyani merasa ada dua hal yang hilang, pertama yaitu ayahnya, dan yang kedua adalah gebyar perayaan kemerdekaan. Ya, hari ini adalah Hari Peringatan Kemerdekaan RI. Seperti biasa selalu ada lomba, panggung, dan keramaian. Tapi entah di mana keramaian itu, Diyani tak mendengarnya sama sekali. Padahal ia adalah pecinta lomba 17-an.

Sudah menjadi tradisi bagi Diyani untuk pergi ke lapangan di pagi hari 17 Agustus untuk ikut upacara. Kemudian dilanjutkan dengan ikut berbagai lomba yang bisa dia ikuti, dan di sore hari adalah waktu paling menyenangkan yaitu pembagian hadiah. Diyani sangat senang dengan rangkaian kegiatan saat 17 Agustus. Tapi kali ini tidak. Diyani merasa hari ini sangat sunyi, sepi. Tak ada gebyar dan gegap gempita itu. Kenapa? Ia bertanya dalam hati. Tapi ia sudah tahu jawabannya. Ia tahu, gebyar peringatan kemerdekaan itu bukannya tidak ada. Lomba-lomba itu pasti tetap ada, ia hanya tak mendengarnya, ia tak mendatanginya. Keramaian itu telah tertutup oleh pertanyaan besar dalam hatinya. Apa yang seharusnya kurasakan sekarang?

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day15
#ImWritingInLove

Ketika Jauh dari Jakarta (Part 2)

Tulisan ini, sebagaimana judulnya, adalah lanjutan dari part satu. Kenapa ada dua part? Yaa karena saya ingin menuliskannya dalam dua part. Sebenarnya bisa saja dituliskan dalam satu part, tapi tentu akan panjang sekali. Sangat banyak sekali hal yang dirasakan ketika tinggal jauh dari Jakarta. Karena saya lahir dan besar di Jakarta sejak lahir, orang tua, kakak, dan adik saya di Jakarta. Begitu banyak kenangan di Jakarta. Jadi, ketika jauh dari Jakarta, saya merasa…

  • Jakarta adalah kota yang sangat sibuk
Di Batam ini, nyaris tidak ada kemacetan, perjalanan yang jauh bisa ditempuh dalam waktu cepat. Apa efeknya? Efeknya, semua hal bisa lebih efisien, dan di pukul 21.00 saya sudah bisa berleyeh-leyeh di kasur. Sambil leyeh-leyeh, saya WA-an dengan kawan di Jakarta yang masih berkutat dengan kemacetan di tengah malam. Ya, Jakarta adalah kota yang membuat orang bekerja mati-matian tak kenal waktu, dan semua itu dianggap biasa. Dulu saya pun merasakan hal yang sama, saya merasa begitulah seharusnya hidup.

  • Jakarta adalah kota yang ramai
Kota yang sibuk dan ramai, berbeda dengan Batam. Paling tidak yang saya rasakan di Batam ini, jam sembilan malam jalanan sudah agak sepi. Toko-toko di mall sudah mulai tutup. Saya pernah datang ke salah satu mall di Batam, ketika itu sekitar pukul 20.30. Saya dengan pede mencari restoran. Eh, ternyata sejumlah restoran sudah siap-siap tutup dan tidak melayani pelanggan lagi. Saya pun terpaksa makan di restoran yang masih mau melayani, dan saya pelanggan terakhir malam itu. Sudah tidak ada pelanggan lain yang makan di sana. Haha. Sungguh terkejut saya. Karena biasanya di Jakarta, kalau ke mall jam sembilan masih ramai.

  • Jakarta bisa ngangenin juga
Terlepas dari kemacetan, polusi, dan hiruk pikuknya, Jakarta ternyata bisa ngangenin juga. Karena di sana lah keluarga, di sana lah rumah, di sana lah teman-teman saya sejak kecil. Di sana lah ribuan kenangan tercipta, terekam jelas walau tanpa kamera. Tidak, saya tidak masalah tinggal jauh dari Jakarta,  saya hanya merindukannya, merindukan kampung halaman.
 

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day14
#ImWritingInLove

24 December 2019

Ketika Jauh dari Jakarta (Part 1)

Ketika sudah tinggal jauh dari Jakarta, saya baru menyadari bahwa Jakarta memang sangat dimanjakan. Bahwa kami yang jauh dari ibukota memang harus menerima nasib yang berbeda. Bukan, saya bukan bicara tentang daerah terpencil, saya bicara tentang Batam yang terletak di Kepulauan Riau. Alhamdulillah, walaupun termasuk daerah perbatasan—karena berbatasan dengan Singapura—Batam bisa dibilang sudah maju. Apalagi saat ini jumlah pusat perbelanjaan kian banyak, transportasi pun makin mudah dengan adanya taksi online. Namun tetap ada yang berbeda.

Walaupun saya tidak gemar menonton TV, salah satu yang menarik perhatian saya ketika pindah ke Batam adalah jumlah saluran TV. Tanpa menggunakan antena luar rumah, TV di sini hanya mendapat empat channel, itu pun yang gambarnya bagus hanya satu yaitu NET TV. Berbeda dengan Jakarta yang bisa langsung mendapatkan banyak saluran TV.

Itu baru dari segi saluran TV, belum lagi konten di dalamnya. Ketika menonton TV, yang saya cari adalah berita, namun yang saya temukan hanya berita-berita dari Jakarta dan Jawa. Walaupun ada berita yang lebih menghebohkan di daerah, tapi tetap saja kalah dengan berita dari Jakarta. Semua hal, sekecil apapun, yang ada di Jakarta masuk dalam pemberitaan baik TV atau media daring. Saat itu saya rasanya ingin berteriak di depan TV, “oiii, Indonesia itu bukan Jakarta doang!”.

Kemudian, masih ingat ketika Jakarta mengalami pemadaman listrik massal seharian? Warganya langsung heboh marah-marah menggerutu dan akhirnya mendapat kompensasi? Sesungguhnya hal itu menjadi nyinyiran warga daerah. Bagaimana tidak, saat itu di Batam sendiri sedang rutin pemadaman listrik bergilir setiap harinya. Ada yang kebagian 2 jam, 3 jam, 4 jam, bahkan lebih, dan itu terjadi setiap hari. Belum lagi bicara soal air. Ada kawasan di sini yang rutin mati air setiap harinya. Tapi, pernahkah hal itu diberitakan?

Sungguh Jakarta begitu dimanjakan dengan segala fasilitas dan perhatian pemerintah.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day13
#ImWritingInLove

22 December 2019

Kawanku Luar Biasa

Dalam tulisan kali ini, izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman beberapa tahun silam yang sangat berharga. Pengalaman langka bagi saya. Semoga kita bisa sama-sama mengambil pelajaran dari pengalaman sederhana ini. Oh, ya, cerita kali ini adalah kisah nyata yang saya rangkum dalam bentuk faksi alias fakta yang difiksikan. Hehe.
***
Pagi menjelang siang, kala itu matahari tersenyum. Sinarnya cerah memancar ke bumi. Walaupun belum tengah hari, tapi panas mulai terasa. Ingin rasanya segera leyeh-leyeh saja. "Sebentar lagi selesai", batinku.

Hari ini aku mengumpulkan data untuk skripsi. Beberapa siswa SD yang menjadi subjek penelitian kuukur TB dan timbang BB mereka, kuminta berlari di lapangan, kemudian aku mencatat waktu dan denyut nadi mereka. Kurang lebih begitu. Terdengar sederhana, bukan? Nah, tantangan sebenarnya dari pengumpulan data ini adalah mengajak para siswa melakukan sesuai instruksi. Ini cukup memakan waktu, tenaga, dan kesabaran. Pasalnya, subjek penelitianku ini bukan anak-anak biasa, mereka luar biasa. Mereka adalah siswa dengan mental retardation tingkat ringan sampai sedang. Jadi, berkomunikasi dengan mereka agak sulit, apalagi bagi orang awam sepertiku.

Tugasku hampir selesai, tinggal dua siswa lagi yang perlu menjalani pengukuran dan tes lari, sebut saja Ardi dan Ridho. Ardi adalah siswa kelas IV dengan berat badan melebihi standar. Di usianya yang baru sekitar 12 tahun, beratnya mencapai 90 kilogram. Dengan kondisi ini tentu Ardi kurang leluasa bergerak. Sementara Ridho, siswa kelas IV yang sudah berusia 16 tahun. Ya, 16 tahun. Di sekolah luar biasa ini memang usia siswa tidak menjadi patokan kelas mereka. Mungkin pengelompokkan kelas lebih pada kemampuan akademik masing-masing anak. Ridho berperawakan tinggi, dengan berat badan ideal, namun ia sangat pendiam. Beda dengan Ardi yang agak lebih aktif bicara.

Aku memberi instruksi pada Ardi dan Ridho untuk membuka sepatu kemudian naik ke atas timbangan. Keduanya bisa memahami dan mengikuti instruksi walaupun perlahan. Saat itu siswa lain sedang bebas bermain karena waktunya istirahat. Ardi dan Ridho bergantian naik ke timbangan. Ardi sambil cengengesan, sementara Ridho dengan wajah yang sangat datar.
Setelah selesai, kuminta mereka memakai sepatu lagi. Ridho langsung melakukannya. Tapi Ardi ternyata kesulitan. Sambil duduk, Ardi coba menggapai ujung kakinya untuk memakai sepatu, tapi tidak bisa karena fisiknya yang terlalu gemuk. Saat itulah, tanpa diminta, Ridho langsung membantu Ardi memakai sepatu. Layaknya seorang ibu yang sabar, Ridho mengangkat kaki Ardi dan memasukkannya ke dalam sepatu, satu per satu.
Saya tertegun. Terdiam. Terharu. Ah, campur aduk rasanya. Kejadian itu begitu singkat, begitu simpel sampai mungkin tak ada yang memperhatikan. Tapi kenapa saya begitu terenyuh? Seorang pemuda dengan tulus memakaikan sepatu kawannya, tanpa ada balasan apapun, bahkan tanpa ucapan terima kasih. Tapi keduanya bahagia. Rasanya, di tempat lain, aku belum pernah melihat adegan seindah ini. Duh, mungkinkah ini hanya ke-lebay-anku saja?
Tidak, aku yakin ini bukan hanya perasaanku saja. Mereka memang luar biasa.

***
Demikian pengalaman saya. Sungguh keindahan hal yang saya lihat waktu itu tak bisa saya gambarkan dengan baik. Tapi semoga bisa menginspirasi kita untuk berbuat baik kapan saja, di mana saja, kepada siapa saja.


#30DWC
#30DWCJilid21
#Day12
#ImWritingInLove




Berbahagia dengan Bahasa Indonesia (Resensi Buku)


Judul: Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira
Penulis: Iqbal Aji Daryono
Penerbit: DivaPress
Tahun Terbit: 2019
Tebal: 296 halaman
Harga: Rp70.000 (di Pulau Jawa)

Bahagia, penasaran, ragu, perasaan-perasaan itu muncul nyaris bersamaan ketika saya melihat buku Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira bertengger di toko buku Gramedia. Saya tak langsung membelinya. “Ah, nanti-nanti saja,” pikir saya. Eh, ternyata saya terus terbayang-bayang apa isi buku tersebut. Alhasil, seminggu setelah itu, saya tanpa ragu membelinya. Dan saya bahagia.
Sesuai judulnya, buku ini adalah bahan renungan sekaligus candaan. Ada bahasan yang membuat kita cengar-cengir sendiri ada yang membuat miris. Saya menyukai buku ini karena tak hanya mengoreksi kesalahan, tapi disediakan juga kunci jawaban serta membuka ruang diskusi. Beberapa kali penulis menyampaikan bahwa dirinya terbuka untuk diskusi atas materi yang ditulisnya. Motivasi untuk setia menggunakan bahasa Indonesia juga diutarakan di buku ini. 

Awalnya saya mengira buku ini akan banyak berlawanan dengan KBBI dan lebih mengutamakan kenyamanan berbicara di masyarakat. Ternyata justru sebaliknya. Buku ini mencoba meluruskan kesalahan yang jamak terjadi, tanpa kehilangan sisi keluwesan berbahasa yang membuat penggunanya bahagia. Contohnya ucapan “waktu dan tempat saya persilakan”. Ucapan ini kurang pas karena “waktu” dan “tempat” bukanlah makhluk hidup yang bisa dipersilakan. Lalu penulis memberikan opsi yang benar, misal, “kepada Bapak Kepala Dusun, waktu dan tempat kami serahkan”. 

Ada juga beberapa kritik atau usulan pada Badan Bahasa yang dilontarkan lewat buku ini. Misalnya ketika penulis menyampaikan bahwa—walaupun melanggar aturan—ada kalanya kata dan lah yang paling cocok di awal kalimat. Penulis tidak saklek atau fanatik dalam menyikapi KBBI. Bahwa tak semua yang tidak ada di KBBI itu berarti salah atau tidak boleh digunakan. Pada kenyataannya, KBBI lah yang akan terus berkembang mengikuti dinamika bahasa yang hidup di masyarakat.

Membaca buku Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira otomatis mengingatkan saya pada Celetuk Bahasa. Bedanya, Celetuk Bahasa lebih singkat, simpel, sekadar celetukan. Sedangkan buku karya Iqbal Aji Daryono ini membahas lebih dalam namun tetap menyenangkan dan fleksibel.
Saya merekomendasikan buku ini bagi para pencinta bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Selamat berbahasa Indonesia dengan penuh cinta dan bahagia!

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day11
#ImWritingInLove

21 December 2019

Kesan di Sepuluh Hari Pertama 30 DWC


Ini adalah tulisan kesepuluh di tantangan 30 Days Writing Challenge Jilid 21 yang saya ikuti. Selama sepuluh hari ini sudah beberapa kali saya telat setor tulisan, termasuk tulisan ini. Seharusnya ini adalah tulisan kemarin, tapi saya baru sempat menuliskannya pada jam 00.16 di hari kesebelas. Semoga ini bukan indikasi menurunnya semangat. Karena memang kondisi agak tidak memungkinkan membuka laptop di siang hari, alhasil, yaa, baru sempat di tengah malam seperti ini.

Jadi, bagaimana kesan yang saya rasakan di sepuluh hari pertama tantangan 30 DWC ini? Hm… Kesan pertama yang muncul adalah ternyata saya bisa, dan saya senang. Saya tak memungkiri, 30 DWC ini membuat saya kerap begadang untuk menulis, tapi, saya menikmati hal itu. Saya menemukan bahwa walaupun saya awalnya tak ada ide, tapi setelah dijalani, toh, akhirnya ide itu keluar juga. Selalu ada hal yang bisa ditulis, terlepas dari bermanfaat atau tidak. Hehe.

Sebelum memulai tantangan ini saya agak ragu, khawatir tereliminasi. Pasalnya, saya pernah mengikuti tantangan serupa namun hanya bertahan sampai hari ke-21 kalau tidak salah ingat. Padahal saat itu tidak dibatasi minimal 200 kata. Semoga saja di 30 DWC ini tidak demikian.

Selain itu, di 30 DWC inilah saya menemukan mentor dan teman seperjuangan yang bersedia membaca serta memberi masukan untuk tulisan saya. Dan itulah yang saya perlukan selama ini. Karena tanpa adanya masukan, saran, pandangan dari orang lain, maka kualitas tulisan tidak akan meningkat.

So, overall saya senang mengikuti tantangan ini. Semoga bisa bertahan sampai akhir dengan hasil yang memuaskan dan semakin cinta menulis, cinta literasi. Aamiin.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day10
#ImWritingInLove

19 December 2019

Membaca Nyaring yang Penuh Manfaat

Tulisan hari ini agak berbeda dengan sebelumnya. Karena besok akan ada diskusi literasi di WAG Rumah Belajar IP Batam, jadi tulisan hari ini sekaligus ringkasan materi untuk besok saja. Sekali menulis, dua tiga kerjaan selesai. Hehe.

Dalam membaca, ada beberapa metode atau cara. Di antaranya ada membaca senyap (silent reading) dan  membaca lantang (read aloud). Ada membaca mandiri dan membaca bersama (shared reading). Sedangkan dalam kemahiran membaca ada enam jenjang: pembaca dini, awal, lancar, lanjut, mahir, kritis. Kali ini kita akan lebih fokus pada membaca lantang atau read aloud.

Membaca nyaring yaitu seperti mendongeng atau membacakan cerita (story telling). Membaca nyaring yang dilakukan oleh orang tua pada anak-anak memiliki banyak sekali manfaat. Ada tujuh manfaat membaca nyaring seperti diringkas dari situs Sahabat Keluarga.
  •     Meningkatkan kecerdasan akademik sehingga nantinya mudah memahami teks
  •     Memberikan pengetahuan dasar dan menambah kosakata
  •     Mengembangkan kemampuan mendengarkan yang merupakan bagian dari kemampuan berbahasa
  •     Memupuk kecintaan membaca sehingga diharapkan nantinya anak-anak memiliki keinginan sendiri untuk membaca tanpa menunggu perintah
  •     Meningkatkan kepercayaan diri dengan menghafal isi cerita. Jangan heran ketika anak tak bosan-bosannya minta dibacakan buku favoritnya, kemudian ia hafal isi buku tersebut dan menunjukkan rasa senang karena hafalannya itu. Ini memupuk rasa percaya dirinya.
  •     Memperkokoh nilai-nilai kehidupan melalui value cerita yang dibacakan dan mendukung kecerdasan emosional
  •     Mempererat hubungan anak dan orang tua karena dalam membaca lantang ada dialog antara anak dan orang tua


Sumber bacaan:
Tujuh Manfaat Membaca Lantang untuk Anak, https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=3750, diakses pada 19 Desember 2019, pukul 23.30


#30DWC
#30DWCJilid21
#Day9
#ImWritingInLove


Mengagumi Tulisan Erma Pawitasari


Dalam dua tulisan kemarin, saya membahas tentang penulis gernre fiksi. Nah, sekarang saya akan beralih ke penulis buku non-fiksi. Menemukan buku fiksi yang bisa menguras emosi dan membawa pembaca terhanyut dengan cerita mungkin tak terlalu sulit. Tapi jika ada buku non-fiksi yang bisa menyentuh perasaan dan membuat pembaca benar-benar jatuh cinta, maka itu adalah hal luar biasa. Seperti itulah buku Muslimah Sukses Tanpa Stres bagi saya.

Buku ini awalnya saya beli untuk adik saya yang masih duduk di bangku kuliah. Saya langsung pilih buku ini hanya dengan melihat judul dan cover-nya. Namun ternyata setelah dibaca, buku ini lebih cocok untuk saya. Haha. Jadi, apa yang dibahas di buku ini? Berikut adalah bocoran daftar isinya:

(Daftar isi buku Muslimah Sukses Tanpa Stres. Sumber: Gema Insani)
Materi yang dibahas dalam buku ini adalah materi serius, berat, penting. Buku semacam ini biasanya tak akan bisa saya lahap dalam waktu singkat, mungkin karena memang sulit dicerna, atau karena keburu bikin ngantuk. Tapi Erma Pawitasari sungguh apik merangkai kata dan menyampaikan cerita. Hasilnya, buku yang mengangkat tema-tema serius ini jadi sangat menyenangkan untuk dibaca.

Setiap bab diawali dengan kisah pengalaman para wanita yang sering terjadi di sekitar kita. Tentang wanita yang merasa berat saat hamil tua namun tetap harus bekerja. Tentang wanita yang menderita karena tak bisa lagi berkarier di luar rumah setelah menikah. Tentang wanita yang dengan senang hati menjadi istri kedua. Kemudian kasus-kasus tersebut dibahas dari sisi agama.

Penulis memaparkan dalil dari Al-Qur’an dan hadits serta tafsiran menurut para ulama. Kemudian dijabarkan bagaimana aplikasinya dalam kehidupan modern saat ini. Contohnya tentang wanita yang berkarier di luar rumah. Dijelaskan bahwa hukum wanita bekerja ada yang wajib, sunnah, mubah, makruh, bahkan haram. Dengan demikian pembaca paham bahwa suatu hal bisa menjadi wajib maupun haram, tergantung kondisi.

Saya juga sangat menyukai buku ini karena membahas tentang wanita yang berkarir di rumah sebagai istri dan ibu rumah tangga. Sebuah profesi yang masih sering dianggap rendah di masyarakat Indonesia. Padahal, Allah telah menciptakan sebuah profesi, sebuah karier, yang spesial bagi wanita, yaitu karier sebagai istri. Demikianlah yang disampaikan Erma Pawitasari.

Erma memberi penjelasan cukup detil supaya pembaca paham keistimewaan karier sebagai istri. Baik dari segi lokasi kerja, jenis pekerjaan, jenjang karier, dan penghasilan, istri dan ibu rumah tangga adalah profesi yang paling cocok bagi wanita.

Pembahasan berat selanjutnya dalam buku ini adalah tentang poligami. Suatu hal yang sangat sensitif bagi kaum hawa, dibahas oleh seorang wanita dengan dalil-dalil. Ajaibnya, pembaca tak merasa keki dengan pembahasan ini. Bahkan, dijelaskan bahwa poligami juga menguntungkan bagi wanita. Kok, bisa? Silakan baca sendiri, ya. Hehe.

Desain halaman buku ini menambah kenyamanan bagi pembaca, membuat kesan santai di tengah pembahasan yang serius. Intinya, saya sangat merekomendasikan buku ini, tak hanya untuk para muslimah, namun juga untuk para lelaki muslim agar memahami hak dan kewajiban wanita dalam islam.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day8
#30DWCJilid21Day8
#ImWritingInLove

17 December 2019

Belajar Menulis dari Tere Liye

Meet and Greet Tere Liye di Gramedia Batam

Setelah belajar dari Hideaki Sorachi, mari kita beralih ke penulis tersohor dalam negeri, Tere Liye. Pasti sudah banyak yang tahu. Bahkan yang bukan penggemar novel populer pun mungkin tahu siapa itu Tere Liye. Sampai saat ini sudah lebih dari 35 judul novel ditulis oleh Tere Liye, dan tak sedikit yang masuk kategori best seller. Sudah berapa novel Tere Liye yang Anda baca? Saya pribadi belum pernah benar-benar membaca novel beliau. Entahlah, hanya belum tertarik saja. Tapi tentu tidak mengurangi kenyataan bahwa beliau adalah penulis sukses yang amat produktif. Jadi, mari kita belajar dari Bang Tere.

Lho, kalau saya saja belum pernah baca karyanya, bagaimana saya bisa belajar darinya? Nah, seperti yang pernah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, saya pernah mengintip workshop menulis oleh Tere Liye di Sukabumi, dan saat itu juga saya terinspirasi. Kemudian saya juga pernah mengikuti meet and greet dengan Bang Tere di Gramedia Batam. Jadi, ada beberapa hal yang bisa saya pelajari dari beliau, walaupun belum pernah membaca karyanya.

  • Melawan malas
Malas tak mengenal tempat, usia, dan profesi. Terlebih seorang penulis, sangat mungkin terserang penyakit malas. Tere Liye mengajarkan agar jangan malas untuk melawan malas. Hehe. Dalam acara meet and greet di Gramedia Batam beberapa waktu lalu, ada yang bertanya pada Bang Tere mengenai cara mengatasi writer’s block. Apa jawaban Bang Tere? “Ternyata setiap zaman punya istilah sendiri untuk menyebut malas.”

Dan apa yang dilakukan Bang Tere ketika mengalami writer’s block? Beliau melawan, semampunya. Beliau mengisahkan sempat tidak mood menulis ketika mengawali novel Rindu. Namun Bang Tere tetap berusaha menulis, walaupun hanya satu huruf. Ya, novel Rindu yang tebal itu berawal dari hanya satu huruf yang ditulis dalam satu hari! Hari berikutnya bertambah, perlahan namun pasti, sampai akhirnya novel Rindu selesai ditulis dalam satu bulan (kalau saya tidak salah ingat). Jadi, jangan malas melawan malas.

  • Latihan
Pelajaran lain yang sangat perlu dicontoh dari seorang Tere Liye adalah gigih dalam berlatih. Jika ingin menjadi penulis, ya harus rajin latihan menulis. Latihan ini adalah salah satu kunci produktivitas Bang Tere. “Kalau Anda rutin latihan menulis setiap hari, sepuluh tahun dari sekarang Anda bisa sama produktifnya dengan saya,” ucap beliau. Itu juga alasan saya ikut 30 Days Writing Challenge, supaya rajin latihan. Hehe.

  • Riset
Lagi-lagi, riset menjadi faktor penting kesuksesan seorang penulis, baik fiksi maupun non-fiksi. Tere Liye dalam menulis novel-novelnya selalu melakukan riset mendalam. Contohnya, Bang Tere berencana menelurkan novel dengan tema detektif remaja, maka jauh sebelum menulis beliau telah melahap buku-buku atau tontonan bertema detektif seperti Sherlock Holmes, Detective Conan, dll.
So, tidak ada alasan bagi penulis pemula seperti saya untuk tidak melakukan riset. Yaa ini sih kalau mau hasil tulisannya bagus. Hehe.

Demikian tulisan saya hari ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Selamat belajar!

#30DWC
#30DWCJilid21
#30DWCJilid21Day7
#Day7
#ImWritingInLove




16 December 2019

Belajar dari Hideaki Sorachi

Gintama

Hari ini masuk hari keenam di 30 Days Writing Challenge. Bagi saya ini adalah tantangan menemukan cinta yang pudar dan nyaris hilang. Tapi, baru juga di hari keenam, saya sudah bingung mau menulis apa. Haha.

Eits, tak ada ide bukan alasan untuk tidak menulis, ya. Kalau kata Bang Tere Liye sih, writer’s block itu hanya istilah lain dari malas. Nah, lho. Jadi, mari kita tulis tentang apa saja supaya tidak malas.

Selama beberapa hari ke depan, tema tulisan saya adalah "belajar dari ahlinya". Untuk hari ini, kita akan belajar dari Hideaki Sorachi.
****
Siapa yang tidak tahu Hideaki Sorachi? Ya, tentu banyak yang tidak tahu, bahkan penyuka anime pun belum tentu tahu. Hideaki Sorachi adalah seorang mangaka alias pengarang komik, tepatnya komik berjudul Gintama. Komik Gintama dirilis pada Desember 2003 dan tamat di Juni 2019 dengan total chapter kurang lebih 708. Komik ini juga telah diadaptasi menjadi anime. Apa yang spesial dari gaya menulis Sorachi? Mari kita bahas.

  •     Sabar dalam membangun chemistry antartokoh
Di musim-musim awal Gintama, Sorachi mengenalkan tokoh-tokohnya dengan cara senatural mungkin dan tidak tergesa-gesa. Humor-humor mengocok perut dihadirkan sambil menunjukkan karakter tiap tokoh. Misal, Gintoki yang pemalas dan terkesan masa bodoh dengan hidupnya, namun ternyata punya sisi lembut dan peduli pada teman. Shinpachi yang digambarkan lemah tapi peduli pada orang lain dan mau belajar. Semua ditunjukkan dengan perlahan. Kemudian melalui sifat-sifat tokoh yang saling melengkapi ini terjalinlah chemistry secara alami sampai-sampai pemirsa terhanyut dengan ikatan tersebut. Semua karena kesabaran Sorachi dalam membangun plot dan chemistry.

  •    Kreatif dan out of the box
Tidak diragukan lagi, Sorachi adalah salah satu penulis yang paling kreatif, menurut saya. Bagaimana tidak, dalam sebuah cerita, pemirsa bisa dibuat tertawa kemudian sedih. Ada sebuah episode Gintama yang sangat out of the box yaitu di episode 156. Hampir di sepanjang episode ini yang ditampilkan hanya satu wajah yaitu seorang penjaga kedai, sedangkan tokoh lain hanya terdengar suaranya. Cerita dibuat sedemikian rupa sehingga penonton mengira bahwa yang berdialog di episode itu adalah para tokoh utama, padahal sebenarnya tidak. Ini sesuatu yang lucu dan unik.

Di episode lain yang berjudul There's Almost A 100% Chance You'll Forget Your Umbrella And Hate Yourself For It, Sorachi membuat cerita pendek dengan dialog yang diulang-ulang tapi tidak membuat penonton bosan. Justru penonton dibuat tersentuh dengan pesan yang ada di cerita tersebut. Dan ya, Sorachi membuat judul yang panjang untuk chapter-chapter Gintama.

  •     Riset dan wawasan luas
Dari Gintama, terlihat jelas Sorachi memiliki wawasan yang luas, ditambah kreativitas yang super. Lihat saja nama tokoh-tokohnya. Contohnya nama Hijikata Toshiro, nama ini diambil dari tokoh sejarah Jepang Hijikata Toshizo. Kemudian tokoh Okita Sogo dalam Gintama merujuk pada Okita Soji. Tidak hanya nama, kisah mereka pun diadaptasi dan dikreasikan sehingga menyenangkan untuk ditonton. Sorachi juga tak jarang menyisipkan narasi-narasi filosofis, contohnya di awal Popularity Poll Arc, ada narasi seperti ini:

“Humans are creatures who love rankings. Whether it’s rankings of who’s the richest in the land, how well something is selling, or character standings in Jump, we love sticking a number on everything. For just a moment, we forget our senses and start clawing our way to the top, we become like a pack of kids in school, fighting for supremacy in gym.” 
Bagi saya, narasi tersebut memiliki pesan yang dalam. Apalagi disampaikan oleh tokoh yang tidak menang polling popularitas padahal tokoh utama. Tapi, it’s Gintama, walaupun awalnya filosofis dan dalem, semuanya berakhir dengan tawa. Haha.

Tiga hal itulah yang saya kagumi dari Sorachi khususnya pada komik dan anime Gintama. Perlu proses dan perjuangan panjang untuk bisa mahir seperti itu, namun yang terpenting, jangan menyerah! :)

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day6
#ImWritingInLove



15 December 2019

Kenangan Terindah Bersamamu

Sejak hari pertama sampai kemarin, saya terus menulis tentang rasa cinta pada dunia menulis. Mengapa? Bukan, bukan untuk memamerkan hubungan kami yang naik turun, tapi karena saya sedang berusaha menemukannya lagi. Menemukan cinta itu lagi, untuk kesekian kali. Makanya saya menuliskan cerita-cerita indah bersamanya. Dan ada satu cerita yang hampir lupa saya tuliskan. Padahal, ini yang terindah.

Sekitar awal tahun 2014, GagasMedia membuka lowongan untuk program workshop first reader. Setelah melihat persyaratannya, saya langsung mendaftar. Ada beberapa kategori, yang saya ingat yaitu fiksi, non fiksi, dan horor. Ingin melamar di genre fiksi tapi, ah, pasti sudah banyak yang melamar, kesempatan lolos kecil. Akhirnya saya pilih horor saja walaupun itu bukan favorit saya. Berbekal pengalaman membaca beberapa novel thriller dan Goosebumps di masa kecil, saya pun lolos seleksi.

Di pertemuan pertama, seluruh peserta yang lolos seleksi berkumpul di Perpustakaan Kemdikbud di Senayan. Dilihat dari jumlah peserta, genre horor yang paling sedikit, hanya belasan orang kalau tidak salah. Setelah itu dijadwalkan pertemuan rutin setiap Kamis malam di tempat yang sama. Kenapa Kamis malam? Supaya lebih "dapet" kesan horornya. Haha.

Eh, jadi kerjaan first reader apa sih? First reader, seperti namanya, bertugas membaca naskah-naskah yang masuk dan memberi kritik serta saran demi terwujudnya novel yang keren. Kurang lebih gitu lah. Nah, di workshop ini kami dibimbing oleh para editor. Kami diberi panduan mengenai apa saja yang harus dinilai dari sebuah naskah, dan semaksimal mungkin dalam menilai, jangan hanya "bagus-bagus" saja padahal banyak yang perlu diperbaiki. Dan karena kami tidak diberitahu siapa pengirim naskah, jadi bisa lebih leluasa memberi penilaian.

Tentu saja, kegiatan workshop first reader ini sangat menyenangkan bagi saya, membuat mata berbinar-binar. Walaupun saya harus menempuh perjalanan bolak-balik Sukabumi-Senayan tiap minggunya, saya tetap senang.

Workshop first reader berjalan selama dua bulan. Memberikan pengalaman indah dan pelajaran berharga. Apalagi, pertemuan terakhir diadakan di kantor GagasMedia, dan kakak editor membolehkan kami masuk ke ruangannya, kemudian kami diberikan dua novel gratis, bebas pilih. Waktu itu saya pilih novel London karya Windry Ramadhani, dan novel Past & Curious karya Agung Satriawan. 

Hhh.. That was one wonderful experience.. Honto ni..

Semoga ada kesempatan lain yang jauh lebih baik untuk bertemu lagi dengan dunia di balik buku-buku. Semoga ada kenangan terindah yang baru bersamamu.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day5
#ImWritingInLove

14 December 2019

Naik Turun Cintaku Padamu

Naik-naik ke puncak gunung
Tinggi-tinggi sekali…

Setelah naik ke puncak gunung, ke mana biasanya pendaki menuju? Tepat sekali, setelah puncak gunung, maka yang tersisa adalah jalan menurun dari puncak menuju kaki gunung.

Begitulah yang kurasakan dalam perjalanan cintaku pada hobi menulis. Setelah mencapai puncak semangat, cinta itu seakan terjun bebas bahkan lenyap. Itu terjadi di bangku kuliah. Banyak faktorkalau boleh beralasanyang membuat semangat menulis itu pudar. Mungkin karena kebanyakan main dengan teman, atau main gadget, karena seingat saya, saat itu baru benar-benar booming yang namanya smartphone. Faktor lain mungkin kurangnya membaca buku selain buku pelajaran. Bukan berarti rajin membaca buku pelajaran sih. Hehe. Intinya, banyak alasan faktor yang membuat saya minim tulisan.

Keadaan itu terus berlanjut sampai akhirnya saya lulus kuliah dan bekerja di sebuah sekolah di Sukabumi. Suatu ketika, sekolah tempat saya bekerja mengadakan lokakarya menulis untuk murid-murid SMP dan pembicaranya adalah Tere Liye. Saya yang bukan penggemar Tere Liye yaa biasa saja, tidak tertarik untuk ikut menyimak.

Tapi lama-lama kok penasaran juga. Akhirnya saya iseng masuk ke ruangan dan ikut duduk bersama murid-murid. Saat itu Bang Tere sedang berdiri di depan dan berkata, "kalau orang sudah pernah menulis, walaupun lama tak menulis, tapi kalau dia mau, dia sebenarnya bisa menulis".

"kalau orang sudah pernah menulis, walaupun lama tak menulis, tapi kalau dia mau, dia sebenarnya bisa menulis"

Saya seolah tersadar, tersentak dengan ucapan tersebut. Tak menunggu acara selesai, saya keluar dari ruangan dan menuju kamar. Saat itulah saya bertekad menghidupkan kembali hobi menulis saya. Langkah awal yang saya lakukan adalah mencari info lomba menulis. Kebetulan akhir tahun banyak lomba menulis. Saya ikut lomba menulis cerpen dan menang, masuk ke dalam 20 tulisan yang dijadikan antologi. Akan tetapi saya kecewa dengan bukunya ketika terbit. Mengapa? Kita bahas lain kali. Hihihi. 

Tak lama setelahnya, ada lagi lomba dari DivaPress bertema belajar dari Al Qur’an, saya ikut juga dan lolos dalam 20 besar finalis. Ketika pengumuman, ternyata saya juara I. Agak kaget juga sih. Alhamdulillah. Dan karena yang mengadakan adalah penerbit mayor, jadi hasil cetak buku antologi yang berjudul La Tahzan: Kunci Bahagia Itu Simpel, Kok! tidak mengecewakan. 

And, that was four years ago… 
Mukashi no hanashi...
So, what now?

Tahun lalu alhamdulillah terbit satu lagi buku keroyokan dengan teman-teman di Rumah Belajar Menulis, Ibu Profesional Batam, dengan judul Jungkir Balik Dunia Emak. Cukup untuk meredakan dahaga akan karya tulis. Namun belum cukup memuaskan. Semoga di tahun 2020, ada karya yang bisa menetas. Bismillah.

Intinya, jalan menurun tak melulu menjadi hal yang buruk. Yang terpenting adalah tidak lupa untuk mendaki lagi, ke puncak yang lebih tinggi.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day4
#ImWritingInLove

Mencintaimu di Bangku SMA

Jika bernostalgia sekarang, rasanya kecintaanku menulis begitu besar ketika masa remaja. Layaknya cinta anak muda, rasa cinta itu memuncak ketika di bangku SMA. Ya, di bangku SMA, kecintaanku pada kegiatan tulis menulis seolah mendapat pupuk dan siraman air dengan jumlah tepat. Hanya saja, kedua hal itu belum bisa menghasilkan buah cinta.

Di SMA kelas X, teman sebangku saya rupanya juga senang membaca dan memiliki banyak buku-buku teenlit. Tentu saya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Satu per satu koleksi bukunya saya pinjam, mulai dari buku-buku karya Agnes Jessica. Rumah Beratap Bugenvil, Tunangan? Hm..., dan Jejak Kupu-kupu adalah beberapa judul yang menjadi favorit saya. Membaca novel-novel teenlit sedikit banyak membawa perubahan pada cerpen-cerpen yang saya tulis, jadi ada romance-nya gitu.   

Kemudian saya bertemu dengan seorang teman yang menyukai buku-buku fiksi fantasi. Lagi-lagi saya ikut menikmati buku-buku fantasi, sebut saja Trilogi Bartimaeus, Eldest (lanjutan buku Eragon), dan Artemis Fowl. Saya menyukai ketiganya, dan buku-buku itu semua saya pinjam dari teman. Teman sebangku saya di kelas XI juga gemar membaca. Kami sering berdiskusi tentang berbagai buku.

Tak hanya dari teman, perpustakaan sekolah juga memiliki koleksi buku-buku fiksi terkini yang menarik untuk dibaca. Saya bahkan mencoba membaca karya lama seperti Balada Cinta Si Roy. Oh, Imaji Terindah karya Sitta Karina juga, rasanya tak afdhol kalau tidak ikut disebut. Lingkungan saya saat itu benar-benar mendukung untuk melahap banyak bacaan.

Dan puncaknya ketika saya kelas XI. Suatu hari, ibu guru petugas perpustakaan tiba-tiba menawari saya mengikut pelatihan menulis yang diadakan oleh Gagas Media. Syaratnya hanya menyetorkan sebuah karya tulisan, boleh cerpen atau potongan novel. Saya agak kaget juga, kok bisa ibu guru ini menawari saya? Padahal saya tidak kenal dengan beliau. Tapi itu tidak penting, yang penting adalah kesempatan di depan mata untuk belajar langsung tentang menjadi penulis dari penerbit mayor. 

Singkat cerita, saya mengikuti pelatihan tersebut. Pelatihan menulis diadakan dua hari di sekolah. Pesertanya seingat saya tak sampai 20 orang, dari kelas X sampai XII. Pembicara yang hadir adalah editor GagasMedia yaitu Windy Ariestanti dan Christian Simamora. Sedangkan di hari kedua didatangkan pasangan penulis Adhitya Mulya dan Ninit Yunita. Di hari kedua itu, karya yang sudah kami setorkan dikomentari oleh para editor. Ah, senangnya mendapat masukan secara langsung dari editor. 

Pengalaman indah tersebut berakhir dengan agak menyedihkan bagi saya. Pasalnya, para editor menawarkan agar peserta memperbaiki karya yang sudah dikomentari kemudian mengirimkannya lagi namun saya terlambat menyetorkan karena kendala teknis. Saat itu saya tidak punya komputer apalagi printer. Ketika hendak menumpang nge-print di rumah teman, ternyata disket saya error, dan cerpen yang sudah saya edit itu pun lenyap bersama rusaknya si floppy disk. Ahh. Saya cuma bisa mengatakan dalam hati, mungkin belum rejeki.

Hal terpenting adalah ilmu dan pengalaman yang didapat, serta semangat dan cinta untuk menulis yang kian besar saat itu. Sedangkan mimpi menjadi penulis tampaknya harus disimpan dulu. Bukan untuk dilupakan, tapi untuk diwujudkan, suatu saat nanti. InsyaAllah.

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day3
#ImWritingInLove

12 December 2019

Aku Menerimamu Apa Adanya

Termenung, melamun, mengantuk, ketiduran, begitulah biasanya yang terjadi ketika mencari-cari inspirasi untuk menulis. Atau malah bisa jadi teralihkan dengan media sosial dan tontonan, kemudian lupa tujuan awal membuka laptop. Kenapa ya, gairah menulis, ide untuk ditulis, semua rasanya mampet sekarang ini. Apa karena usia? Sudah jelas tidak ya. Haha. Kurang piknik? Bisa jadi, tapi rasanya itu bukan sesuatu yang krusial. Rutinitas? Hm… 

Ya, rutinitas adalah sesuatu yang nyaris tidak ada di masa kanak-kanak atau masa sekolah saya. Kenapa? Karena walaupun judulnya setiap hari pulang pergi sekolah, tapi selalu ada hal berbeda setiap harinya. Kegiatan di sekolah, teman-teman di sekolah, juga guru-guru di sekolah, semua bisa memberi insight baru setiap hari. Mungkin itu sebabnya ketika duduk di bangku SMP, saya bisa tiba-tiba menulis cerpen hanya karena sebuah kalimat dari guru saya. 

Kala itu saya masih kelas 3 SMP. Ketika akan sholat zuhur di mushola, saya berpapasan dengan guru bahasa Indonesia, namanya Pak Tri. Terjadi percakapan singkat yang berkesan.
“Mau sholat ya, Vid?”
“Iya, Pak.”
“Salam ya, buat Tuhan.”

Hari itu sepulang sekolah, saya langsung menulis sebuah cerpen berjudul Salam untuk Tuhan. Saya masih ingat alur ceritanya walaupun sekarang entah di mana naskah cerpen itu. Tapi intinya, dulu, mencari ide menulis bukanlah sebuah kerja keras yang menguras emosi. Ide mengalir begitu saja seolah menggedor dinding hati meminta segera diluapkan dalam lembaran-lembaran kertas. Dan aku ingin merasakan itu lagi. Aku ingin bisa menangkap ide melalui semua indera dan mencurahkannya tanpa ragu.

Anyway, ketika SMP jenis tulisan saya mulai berubah, dari naskah horor menjadi cerita pendek dengan tema kehidupan sehari-hari. Kalau jaman sekarang mungkin istilahnya slice of life. Masa-masa SMP itulah saya paling produktif menulis. Satu cerpen bisa diselesaikan dalam sekali duduk. Tapi jangan tanya tentang kualitas karena dulu saya menulis yaa sekadar menulis saja. Toh, untuk bacaan pribadi, saya tidak peduli bagus atau tidaknya. Hmm.. Tunggu sebentar, itu dia! Itulah yang membedakan ide yang dulu mengalir dengan yang sekarang mampet.

Dulu, saya tak peduli bagus atau tidak, tulisan itu yaa untuk menyalurkan keinginan menulis. Sekarang, saya terlalu sibuk menilai sebuah ide bahkan sebelum ide itu berwujud tulisan. Terlalu sering merasa “ah, cerita macam itu sudah banyak di pasaran, untuk apa saya tulis”. Padahal bukan itu intinya.

Ah, maafkan aku ide. Kupikir, kau yang menjauhiku karena aku sok sibuk dengan hal lain. Ternyata akulah yang lebih dulu melupakan esensi dirimu. Maaf, ya. Kembalilah padaku, oh ide, aku akan menerimamu apa adanya!

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day2
#ImWritingInLove

11 December 2019

Cinta Lama Bersemi Kembali

Entah sudah berapa kali saya mengatakan pada diri sendiri maupun pada orang lain bahwa passion saya, minat saya, adalah menulis. Mengapa? Karena saya telah melakukan kegiatan menulis sejak kecil, tanpa ada yang menyuruh. Saya menulis karena saya senang. Menulis bagaikan membuat dunia versi saya sendiri. Sebuah dunia yang saya bisa atur apa yang akan terjadi di dalamnya. Itulah motivasi awal saya menulis: membuat cerita sesuai keinginan saya. 

Kenapa motivasi semacam itu yang muncul? Mungkin karena seringnya saya membaca buku cerita namun endingnya tidak sesuai keinginan, terasa aneh, atau simply karena saya ingin alur berbeda. 

Apa tulisan pertama saya? Jika tidak menghitung diary sebagai tulisan, maka tulisan pertama saya yang berupa cerita fiksi yaitu sebuah naskah drama misteri yang saya tulis ketika kelas 5 SD. Tidak panjang, jika difilmkan mungkin hanya sekitar 15 menit durasinya. Eh, sebentar, apa? Difilmkan? Hahaha. Dulu saya senang menonton kartun Jepang berjudul Ghost at School dan buku Goosebumps, maka tak heran tulisan-tulisan saya bergenre misteri ala-ala anak SD dan pendek-pendek seukuran durasi 15 menit. Beberapa tahun kemudian saya baca lagi naskah itu, duh, malu sendiri. Tapi, eh, bisa ya aku yang kelas 5 SD menulis seperti itu?

And that’s how it started.

Sekarang saya ingin mengulanginya. Bukan, bukan mengulangi menulis naskah drama misteri ala-ala anak SD lagi, tapi mengulangi jatuh cinta lagi dengan menulis. Saat ini menulis bagi saya seperti seorang kekasih yang sudah begitu lama LDR-an. Dia ada, tapi lama tak bersua, apalagi bercengkrama, bertukar kata. Bertanya kabar saja entah kapan terakhir kali dilakukan. Tapi dia ada. Sang kekasih itu ada. I know that. 

Maka sekarang, saya ingin jatuh cinta lagi, mencintai menulis. Alhamdulillah dipertemukan dengan 30 Days Writing Challenge Jilid 21, mungkin inilah saat yang tepat untuk memulai kembali, kebetulan blog ini juga baru saja dirilis. Hehe.

Saya, Vidiya, ingin kembali menemukan diri saya melalui tulisan, melalui kata, melalui rasa dan bahasa. Aku ingin jatuh cinta lagi. I’m writing in love with you.

Vidi, Squad 4, www.retrofleks.com

#30DWC
#30DWCJilid21
#Day1
#Deklarasi
#ImWritingInLove

03 December 2019

Belajar Bahasa Arab Online? BISA aja!




Sekitar dua tahun lalu adalah pertama kalinya saya mengikuti program belajar bahasa Arab di Yayasan BISA secara online alias daring. Saat itu saya mendaftar di program Belajar Ilmu Sharaf, dan menjalani proses belajar selama kurang lebih 3 bulan. Terseok-seok karena berbagai alasan, akhirnya saya berhasil bertahan sampai akhir. Fyi, tidak semua yang ikut bisa bertahan sampai akhir karena adanya sistem DO. Namun nilai saya pas-pasan, peringkat dua dari bawah.

Mengenai sistem belajar daring (online) di Yayasan BISA, penjelasannya sudah cukup lengkap di laman Facebook BISA. Ada materi, ada kuis, dan pemanasan setiap minggu. Yang saya ingin sampaikan adalah pengalaman saya ketika menjalani dua kelas tersebut, kelas sharaf dan nahwu. Partama sharaf. Di BISA, sharaf adalah kelas pertama yang harus dilalui. Di kelas ini kita belajar tentang perubahan atau tashrif kata sehingga dapat memilih kata yang sesuai. Materi setiap minggunya disajikan dalam bentuk video, audio, dan transkrip. Jadi tholib/ah bisa memilih sendiri mana bentuk media belajar yang mereka suka. Selain itu, tentu sudah ada ebook Ilmu Sharaf yang dibagikan.


Perlu diketahui bahwa materi dalam bentuk audio di sini bukanlah versi audio dari video. Versi video adalah rekaman ketika ustadz menerangkan di kelas luring (offline). Artinya, ada dua sisi dalam rekaman video, yaitu ustadz yang menjelaskan, dan murid yang sesekali bertanya. Sedangkan versi audio hanya memperdengarkan ustadz yang sedang menerangkan pelajaran.

Dulu, saya memilih menyimak materi melalui media audio dan membaca transkrip atau ebook. Saat itu saya pikir inilah media yang paling sesuai dengan gaya belajar saya. Sejak materi pertama sampai terakhir metode itulah yang saya pilih. Namun ketika menjalani kelas Ilmu Nahwu, saya mencoba menyimak versi video, dan ternyata hasilnya lebih menyenangkan. Saya bisa lebih memahami materi karena tak jarang pertanyaan yang muncul di benak saya sama dengan yang ditanyakan oleh murid di video. Selain itu, adanya dialog dalam video membuat penyampaian materi jadi lebih hidup.

Jadi saran saya, pilihlah media yang paling sesuai, dan jangan lupa membuat catatan sendiri untuk bisa lebih memahami materi.

Kelas nahwu yang saya jalani telah selesai bulan lalu. Hasilnya, Alhamdulillah lebih baik dibanding nilai saya ketika mengikuti kelas sharaf. Akan tetapi karena saya masih kurang memahami sharaf, maka tak jarang saya terkendala dalam mengerjakan soal di kelas nahwu. Kedua ilmu ini memang saling mendukung, alangkah baiknya jika memahami keduanya.

Setelah lulus kelas nahwu (BINA Reguler), kami dikumpulkan dalam WAG Ruang Tunggu BINAR untuk mengantri program selanjutnya. Alhamdulillah.

Hal yang menyenangkan dari kelas nahwu ini adalah musyrifah yang baik hati dan berkenan menjawab pertanyaan saya. Musyrifah yang memeriksa PR dengan teliti dan memberikan saran untuk kemajuan tholibah-nya. Alhamdulillah. Semoga Allah memberikan balasan terbaik untuk para musyrifah.

Jadi, belajar bahasa Arab secara online? BISA aja!