Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2019

Makan dengan Bahagia

Nulis random sudah, nulis tentang less waste sudah, sekarang saya akan tulis sedikit tentang kesehatan, khususnya pemberian makan pada anak. Ini pengalaman saya saja, ya. Alhamdulillah sejauh ini si bocil tidak pernah benar-benar susah makan. Ada kalanya makannya sedikit, atau pilih-pilih, tapi cuma satu dua hari aja, ngga sampai bikin khawatir BB-nya turun. Mengenai tips pemberian makan, menurut dokter Arifianto (Apin) ada dua hal penting, yaitu berikan makan ketika anak lapar, dan berikan makanan yang enak, jangan yang plain gitu. Nah, disamping dua hal itu, menurut saya yang juga penting adalah jangan memaksa anak untuk makan. Jadi, usahakan anak makan dengan bahagia, sukarela, bukan terpaksa. Contoh, ketika anak tidak menghabiskan makan, yaa jangan dipaksa harus habis. Bisa jadi ternyata kita yang terlalu banyak mengambilkan porsi makan. Prinsip saya, tidak perlu khawatir anak akan kekurangan kalori atau BB-nya turun hanya karena menyisakan satu atau dua sendok makanan. Kalau di

Cara Mudah Kurangi Sampah di Rumah

Saya tidak bilang kalau saya peduli lingkungan atau cinta bumi. Walaupun sudah beberapa kali melihat berita seputar parahnya penanganan sampah di Indonesia, tapi saya masih belum tersentuh. Entah kenapa. Mungkin karena belum merasakan efeknya langsung? Lalu, kenapa saya mengganti tisu dengan lap? Mengapa saya membuat komposter felita? Jawabannya karena saya cinta kebersihan. Saya senang jika sekeliling saya bersih dari sampah dan bau tak sedap. Sebaliknya, saya tidak suka kalau melihat sampah yang menggunung di tempat sampah dan muncul bau menyengat.  Maka dari itu, saya berusaha mengurangi produksi sampah di rumah. Apalagi petugas kebersihan di komplek ini hanya datang seminggu sekali, bahkan kadang lewat dari jadwal. Cara pertama yang paling mudah untuk mengurangi sampah adalah membawa wadah atau tempat makan saat membeli makanan di luar. Bayangkan saja, tanpa membawa wadah sendiri, biasanya pedagang menggunakan styrofoam . Styrofoam bekas akan sangat menghabiskan banyak ruang di

Kebablasan

Ada satu hal yang saya benci dengan adanya media sosial saat ini. Saya benci ketika orang-orang seenaknya menuangkan perasaan dan menganggap diri yang paling benar. Contohnya ketika seseorang mengunggah foto anaknya, kemudian ada yang berkomentar "hidungnya pesek, ya", maka pemilik foto alias orang tua si anak langsung emosi tingkat tinggi. Kemudian komentar tulus nan jujur itu disebut body-shaming . Selanjutnya muncullah gerakan massal menentang body-shaming . Padahal, jika dipikirkan baik-baik, dengan kepala dingin dan hati damai, apa yang salah dengan komentar "hidungnya pesek, ya" tadi? Orang tersebut hanya bilang bahwa hidung anak di foto itu pesek, that's all . Orang itu tidak bilang pesek itu jelek. Apa yang salah dengan pesek? Saya rasa tidak ada yang salah atau memalukan dengan hidung pesek. Sama sekali tidak ada. Banyak orang cantik atau ganteng yang berhidung pesek. Jadi, komentar tersebut sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Apalagi sampai dilab

Drama di Perantauan

Hal paling menyedihkan dari kunjungan orang tua adalah ketika mengantar mereka ke bandara, kembali ke Jakarta. Sedih karena baru seminggu rumah terasa ramai, tiba-tiba sepi lagi. Sedih karena si bocil sudah happy main dengan kakek-neneknya, eh, sekarang harus kembali main hanya dengan emak bapaknya lagi. Ya, hidup di perantauan memiliki kesedihannya sendiri. Merantau ke Batam sebenarnya sangat menyenangkan. Batam adalah kota yang cukup maju, berbagai fasilitas sudah ada. Teman-teman pun sudah banyak saya kenal. Di sini saya menemukan guru mengaji yang sangat baik. But, as much as I love being here, I would love to go back to Jakarta, too .  Saya jadi ingat saat saya kecil, apabila nenek saya datang dari kampung, saya senang sekali. Dan ketika nenek saya pulang kampung, saya menangis menjerit-jerit karena tidak mau ditinggal. Bagaimana perasaan ibu saya saat itu ya? Pasti sedih. Tanpa drama anak yang nangis-nangis ditinggal neneknya saja aku sudah sedih, apalagi kalau anakku begitu. Ta

Citaku pada Ayah (Cerbung Part 3 Tamat)

Dua puluh tahun berlalu sejak sore kelabu itu. Diyani kini tinggal ratusan kilometer jauhnya dari rumahnya dulu, dari makam ayahnya. Namun jarak dan waktu tak meredupkan ingatan Diyani. Setiap kali ia pejamkan mata dan melemparkan diri ke masa itu, suasana dua puluh tahun yang lalu menyeruak. Ia ingat jelas kejadian malam itu, malam ayahnya pergi perlahan dari dunia fana. *** " Laa ilaha illallah .." ucap ibu Diyani perlahan, mencoba menuntun suaminya mengucap kalimat tauhid. Diyani yang sebenarnya sudah terlelap pun tersadar mendengar ucapan ibunya. Walaupun demikian, Diyani tak berkata apa-apa, tubuhnya bergeming memunggungi ibu dan ayahnya di kasur sebelah. Ia bahkan tetap menutup mata. Hanya telinganya siaga menangkap suara sang ibu yang setengah tersedu. Diyani tahu apa yang terjadi. Gadis kecil itu tahu ayahnya akan segera pergi. Tapi ia terlalu bingung untuk melakukan apapun. Ia bahkan tak berani membuka mata dan berbalik badan melihat ayahnya untuk terakhir kali

Khusyuk dan Kesendirian (Cerbung Part 2)

Satu dua hari setelah ayahnya meninggal, Diyani kembali masuk sekolah. Kini dia punya status baru yaitu sebagai anak yatim. Tapi nyaris tak ada perubahan yang ia rasakan atau tunjukkan. Semua seolah sama saja baginya kecuali satu hal, teman-temannya. Ya, entah kenapa hari ini sikap teman-temannya agak berbeda. Mereka tampak kasihan dan simpati pada Diyani, mereka bertanya ini itu dan berusaha menghiburnya. Puncaknya, mereka sepakat untuk berziarah ramai-ramai ke makam ayah Diyani ketika jam istirahat sekolah. Kebetulan TPU tempat ayah Diyani dimakamkan memang tak jauh dari sekolah. Tanpa keberatan, Diyani langsung menerima ide itu. Ramai-ramai, masih berseragam putih merah, sambil mengobrol dan bercanda, Diyani dan teman-temannya mendatangi makam. Mungkin mereka menganggap ziarah ini seperti piknik yang penuh suka cita. Sesampainya di makam, mereka berdoa sebisanya kemudian kembali lagi ke sekolah. Diyani pun berterima kasih atas kepedulian teman-temannya. Tapi, ia masih tak menge

Gebyar Perayaan Kemerdekaan (Cerbung Part 1)

“Pantas aja, dia itu sering tanya, ‘17-an berapa hari lagi?’. Eh, ternyata begini.” Diyani mendengar ibunya bercerita pada para tetangga. Ibunya bercerita tentang ayah Diyani yang baru saja meninggal semalam.  Walaupun baru berusia delapan tahun, Diyani memahami apa yang terjadi, bahwa ayahnya baru saja pergi untuk selamanya. Namun yang Diyani belum mengerti adalah tentang perasaannya sendiri. Haruskah dia menangis tersedu-sedu? Atau haruskah ia mencoba tegar? Bagaimana harusnya ia merasa? Ia tak mengerti. Hari telah siang, matahari cerah memancarkan sinar. Pemakaman telah selesai. Diyani ikut mengantar jenazah ayahnya ke pemakaman dan melihat prosesinya.  Hari ini Diyani merasa ada dua hal yang hilang, pertama yaitu ayahnya, dan yang kedua adalah gebyar perayaan kemerdekaan. Ya, hari ini adalah Hari Peringatan Kemerdekaan RI. Seperti biasa selalu ada lomba, panggung, dan keramaian. Tapi entah di mana keramaian itu, Diyani tak mendengarnya sama sekali. Padahal ia adalah peci

Ketika Jauh dari Jakarta (Part 2)

Tulisan ini, sebagaimana judulnya, adalah lanjutan dari part satu. Kenapa ada dua part ? Yaa karena saya ingin menuliskannya dalam dua part . Sebenarnya bisa saja dituliskan dalam satu part , tapi tentu akan panjang sekali. Sangat banyak sekali hal yang dirasakan ketika tinggal jauh dari Jakarta. Karena saya lahir dan besar di Jakarta sejak lahir, orang tua, kakak, dan adik saya di Jakarta. Begitu banyak kenangan di Jakarta. Jadi, ketika jauh dari Jakarta, saya merasa… Jakarta adalah kota yang sangat sibuk Di Batam ini, nyaris tidak ada kemacetan, perjalanan yang jauh bisa ditempuh dalam waktu cepat. Apa efeknya? Efeknya, semua hal bisa lebih efisien, dan di pukul 21.00 saya sudah bisa berleyeh-leyeh di kasur. Sambil leyeh-leyeh, saya WA-an dengan kawan di Jakarta yang masih berkutat dengan kemacetan di tengah malam. Ya, Jakarta adalah kota yang membuat orang bekerja mati-matian tak kenal waktu, dan semua itu dianggap biasa. Dulu saya pun merasakan hal yang sama, saya merasa be

Ketika Jauh dari Jakarta (Part 1)

Ketika sudah tinggal jauh dari Jakarta, saya baru menyadari bahwa Jakarta memang sangat dimanjakan. Bahwa kami yang jauh dari ibukota memang harus menerima nasib yang berbeda. Bukan, saya bukan bicara tentang daerah terpencil, saya bicara tentang Batam yang terletak di Kepulauan Riau. Alhamdulillah , walaupun termasuk daerah perbatasan—karena berbatasan dengan Singapura—Batam bisa dibilang sudah maju. Apalagi saat ini jumlah pusat perbelanjaan kian banyak, transportasi pun makin mudah dengan adanya taksi online. Namun tetap ada yang berbeda. Walaupun saya tidak gemar menonton TV, salah satu yang menarik perhatian saya ketika pindah ke Batam adalah jumlah saluran TV. Tanpa menggunakan antena luar rumah, TV di sini hanya mendapat empat channel, itu pun yang gambarnya bagus hanya satu yaitu NET TV. Berbeda dengan Jakarta yang bisa langsung mendapatkan banyak saluran TV. Itu baru dari segi saluran TV, belum lagi konten di dalamnya. Ketika menonton TV, yang saya cari adalah berita, namun y

Kawanku Luar Biasa

Dalam tulisan kali ini, izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman beberapa tahun silam yang sangat berharga. Pengalaman langka bagi saya. Semoga kita bisa sama-sama mengambil pelajaran dari pengalaman sederhana ini. Oh, ya, cerita kali ini adalah kisah nyata yang saya rangkum dalam bentuk faksi alias fakta yang difiksikan. Hehe. *** Pagi menjelang siang, kala itu matahari tersenyum. Sinarnya cerah memancar ke bumi. Walaupun belum tengah hari, tapi panas mulai terasa. Ingin rasanya segera leyeh-leyeh saja. "Sebentar lagi selesai", batinku. Hari ini aku mengumpulkan data untuk skripsi. Beberapa siswa SD yang menjadi subjek penelitian kuukur TB dan timbang BB mereka, kuminta berlari di lapangan, kemudian aku mencatat waktu dan denyut nadi mereka. Kurang lebih begitu. Terdengar sederhana, bukan? Nah, tantangan sebenarnya dari pengumpulan data ini adalah mengajak para siswa melakukan sesuai instruksi. Ini cukup memakan waktu, tenaga, dan kesabaran. Pasalnya, subjek penelit

Berbahagia dengan Bahasa Indonesia (Resensi Buku)

Judul: Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira Penulis: Iqbal Aji Daryono Penerbit: DivaPress Tahun Terbit: 2019 Tebal: 296 halaman Harga: Rp70.000 (di Pulau Jawa) Bahagia, penasaran, ragu, perasaan-perasaan itu muncul nyaris bersamaan ketika saya melihat buku Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira bertengger di toko buku Gramedia. Saya tak langsung membelinya. “Ah, nanti-nanti saja,” pikir saya. Eh, ternyata saya terus terbayang-bayang apa isi buku tersebut. Alhasil, seminggu setelah itu, saya tanpa ragu membelinya. Dan saya bahagia. Sesuai judulnya, buku ini adalah bahan renungan sekaligus candaan. Ada bahasan yang membuat kita cengar-cengir sendiri ada yang membuat miris. Saya menyukai buku ini karena tak hanya mengoreksi kesalahan, tapi disediakan juga kunci jawaban serta membuka ruang diskusi. Beberapa kali penulis menyampaikan bahwa dirinya terbuka untuk diskusi atas materi yang ditulisnya. Motivasi untuk setia menggunakan bahasa Indonesia j

Kesan di Sepuluh Hari Pertama 30 DWC

Ini adalah tulisan kesepuluh di tantangan 30 Days Writing Challenge Jilid 21 yang saya ikuti. Selama sepuluh hari ini sudah beberapa kali saya telat setor tulisan, termasuk tulisan ini. Seharusnya ini adalah tulisan kemarin, tapi saya baru sempat menuliskannya pada jam 00.16 di hari kesebelas. Semoga ini bukan indikasi menurunnya semangat. Karena memang kondisi agak tidak memungkinkan membuka laptop di siang hari, alhasil, yaa, baru sempat di tengah malam seperti ini. Jadi, bagaimana kesan yang saya rasakan di sepuluh hari pertama tantangan 30 DWC ini? Hm… Kesan pertama yang muncul adalah ternyata saya bisa, dan saya senang. Saya tak memungkiri, 30 DWC ini membuat saya kerap begadang untuk menulis, tapi, saya menikmati hal itu. Saya menemukan bahwa walaupun saya awalnya tak ada ide, tapi setelah dijalani, toh, akhirnya ide itu keluar juga. Selalu ada hal yang bisa ditulis, terlepas dari bermanfaat atau tidak. Hehe. Sebelum memulai tantangan ini saya agak ragu, khawatir tereliminasi.

Membaca Nyaring yang Penuh Manfaat

Tulisan hari ini agak berbeda dengan sebelumnya. Karena besok akan ada diskusi literasi di WAG Rumah Belajar IP Batam, jadi tulisan hari ini sekaligus ringkasan materi untuk besok saja. Sekali menulis, dua tiga kerjaan selesai. Hehe. Dalam membaca, ada beberapa metode atau cara. Di antaranya ada membaca senyap ( silent reading ) dan  membaca lantang ( read aloud ). Ada membaca mandiri dan membaca bersama ( shared reading ). Sedangkan dalam kemahiran membaca ada enam jenjang: pembaca dini, awal, lancar, lanjut, mahir, kritis. Kali ini kita akan lebih fokus pada membaca lantang atau read aloud . Membaca nyaring yaitu seperti mendongeng atau membacakan cerita ( story telling ). Membaca nyaring yang dilakukan oleh orang tua pada anak-anak memiliki banyak sekali manfaat. Ada tujuh manfaat membaca nyaring seperti diringkas dari situs Sahabat Keluarga .     Meningkatkan kecerdasan akademik sehingga nantinya mudah memahami teks     Memberikan pengetahuan dasar dan menambah kosakata   

Mengagumi Tulisan Erma Pawitasari

Dalam dua tulisan kemarin, saya membahas tentang penulis gernre fiksi. Nah, sekarang saya akan beralih ke penulis buku non-fiksi. Menemukan buku fiksi yang bisa menguras emosi dan membawa pembaca terhanyut dengan cerita mungkin tak terlalu sulit. Tapi jika ada buku non-fiksi yang bisa menyentuh perasaan dan membuat pembaca benar-benar jatuh cinta, maka itu adalah hal luar biasa. Seperti itulah buku Muslimah Sukses Tanpa Stres bagi saya. Buku ini awalnya saya beli untuk adik saya yang masih duduk di bangku kuliah. Saya langsung pilih buku ini hanya dengan melihat judul dan cover -nya. Namun ternyata setelah dibaca, buku ini lebih cocok untuk saya. Haha. Jadi, apa yang dibahas di buku ini? Berikut adalah bocoran daftar isinya: (Daftar isi buku Muslimah Sukses Tanpa Stres. Sumber: Gema Insani) Materi yang dibahas dalam buku ini adalah materi serius, berat, penting. Buku semacam ini biasanya tak akan bisa saya lahap dalam waktu singkat, mungkin karena memang sulit dicerna,

Belajar Menulis dari Tere Liye

Meet and Greet Tere Liye di Gramedia Batam Setelah belajar dari Hideaki Sorachi, mari kita beralih ke penulis tersohor dalam negeri, Tere Liye. Pasti sudah banyak yang tahu. Bahkan yang bukan penggemar novel populer pun mungkin tahu siapa itu Tere Liye. Sampai saat ini sudah lebih dari 35 judul novel ditulis oleh Tere Liye, dan tak sedikit yang masuk kategori best seller . Sudah berapa novel Tere Liye yang Anda baca? Saya pribadi belum pernah benar-benar membaca novel beliau. Entahlah, hanya belum tertarik saja. Tapi tentu tidak mengurangi kenyataan bahwa beliau adalah penulis sukses yang amat produktif. Jadi, mari kita belajar dari Bang Tere. Lho, kalau saya saja belum pernah baca karyanya, bagaimana saya bisa belajar darinya? Nah, seperti yang pernah saya ceritakan di tulisan sebelumnya , saya pernah mengintip workshop menulis oleh Tere Liye di Sukabumi, dan saat itu juga saya terinspirasi. Kemudian saya juga pernah mengikuti meet and greet dengan Bang Tere di Gramedia Bat

Belajar dari Hideaki Sorachi

Gintama Hari ini masuk hari keenam di 30 Days Writing Challenge . Bagi saya ini adalah tantangan menemukan cinta yang pudar dan nyaris hilang. Tapi, baru juga di hari keenam, saya sudah bingung mau menulis apa. Haha. Eits, tak ada ide bukan alasan untuk tidak menulis, ya. Kalau kata Bang Tere Liye sih, writer’s block itu hanya istilah lain dari malas. Nah, lho. Jadi, mari kita tulis tentang apa saja supaya tidak malas. Selama beberapa hari ke depan, tema tulisan saya adalah "belajar dari ahlinya". Untuk hari ini, kita akan belajar dari Hideaki Sorachi. **** Siapa yang tidak tahu Hideaki Sorachi? Ya, tentu banyak yang tidak tahu, bahkan penyuka anime pun belum tentu tahu. Hideaki Sorachi adalah seorang mangaka alias pengarang komik, tepatnya komik berjudul Gintama. Komik Gintama dirilis pada Desember 2003 dan tamat di Juni 2019 dengan total chapter kurang lebih 708. Komik ini juga telah diadaptasi menjadi anime. Apa yang spesial dari gaya menulis Sorachi? Mari k

Kenangan Terindah Bersamamu

Sejak hari pertama sampai kemarin, saya terus menulis tentang rasa cinta pada dunia menulis. Mengapa? Bukan, bukan untuk memamerkan hubungan kami yang naik turun, tapi karena saya sedang berusaha menemukannya lagi. Menemukan cinta itu lagi, untuk kesekian kali. Makanya saya menuliskan cerita-cerita indah bersamanya. Dan ada satu cerita yang hampir lupa saya tuliskan. Padahal, ini yang terindah. Sekitar awal tahun 2014, GagasMedia membuka lowongan untuk program workshop first reader . Setelah melihat persyaratannya, saya langsung mendaftar. Ada beberapa kategori, yang saya ingat yaitu fiksi, non fiksi, dan horor. Ingin melamar di genre fiksi tapi, ah, pasti sudah banyak yang melamar, kesempatan lolos kecil. Akhirnya saya pilih horor saja walaupun itu bukan favorit saya. Berbekal pengalaman membaca beberapa novel thriller dan Goosebumps di masa kecil, saya pun lolos seleksi. Di pertemuan pertama, seluruh peserta yang lolos seleksi berkumpul di Perpustakaan Kemdikbud di Senayan. Diliha

Naik Turun Cintaku Padamu

Naik-naik ke puncak gunung Tinggi-tinggi sekali… Setelah naik ke puncak gunung, ke mana biasanya pendaki menuju? Tepat sekali, setelah puncak gunung, maka yang tersisa adalah jalan menurun dari puncak menuju kaki gunung. Begitulah yang kurasakan dalam perjalanan cintaku pada hobi menulis. Setelah mencapai puncak semangat, cinta itu seakan terjun bebas bahkan lenyap. Itu terjadi di bangku kuliah. Banyak faktor — kalau boleh beralasan — yang membuat semangat menulis itu pudar. Mungkin karena kebanyakan main dengan teman, atau main gadget , karena seingat saya, saat itu baru benar-benar booming yang namanya smartphone . Faktor lain mungkin kurangnya membaca buku selain buku pelajaran. Bukan berarti rajin membaca buku pelajaran sih. Hehe. Intinya, banyak alasan  faktor yang membuat saya minim tulisan. Keadaan itu terus berlanjut sampai akhirnya saya lulus kuliah dan bekerja di sebuah sekolah di Sukabumi. Suatu ketika, sekolah tempat saya bekerja mengadakan lokakarya menulis

Mencintaimu di Bangku SMA

Jika bernostalgia sekarang, rasanya kecintaanku menulis begitu besar ketika masa remaja. Layaknya cinta anak muda, rasa cinta itu memuncak ketika di bangku SMA. Ya, di bangku SMA, kecintaanku pada kegiatan tulis menulis seolah mendapat pupuk dan siraman air dengan jumlah tepat. Hanya saja, kedua hal itu belum bisa menghasilkan buah cinta. Di SMA kelas X, teman sebangku saya rupanya juga senang membaca dan memiliki banyak buku-buku teenlit . Tentu saya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Satu per satu koleksi bukunya saya pinjam, mulai dari buku-buku karya Agnes Jessica. Rumah Beratap Bugenvil , Tunangan? Hm... , dan Jejak Kupu-kupu adalah beberapa judul yang menjadi favorit saya. Membaca novel-novel teenlit sedikit banyak membawa perubahan pada cerpen-cerpen yang saya tulis, jadi ada romance -nya gitu.    Kemudian saya bertemu dengan seorang teman yang menyukai buku-buku fiksi fantasi. Lagi-lagi saya ikut menikmati buku-buku fantasi, sebut saja Trilogi Bartimaeus, Eldest (lanjut

Aku Menerimamu Apa Adanya

Termenung, melamun, mengantuk, ketiduran, begitulah biasanya yang terjadi ketika mencari-cari inspirasi untuk menulis. Atau malah bisa jadi teralihkan dengan media sosial dan tontonan, kemudian lupa tujuan awal membuka laptop. Kenapa ya, gairah menulis, ide untuk ditulis, semua rasanya mampet sekarang ini. Apa karena usia? Sudah jelas tidak ya. Haha. Kurang piknik? Bisa jadi, tapi rasanya itu bukan sesuatu yang krusial. Rutinitas? Hm…  Ya, rutinitas adalah sesuatu yang nyaris tidak ada di masa kanak-kanak atau masa sekolah saya. Kenapa? Karena walaupun judulnya setiap hari pulang pergi sekolah, tapi selalu ada hal berbeda setiap harinya. Kegiatan di sekolah, teman-teman di sekolah, juga guru-guru di sekolah, semua bisa memberi insight baru setiap hari. Mungkin itu sebabnya ketika duduk di bangku SMP, saya bisa tiba-tiba menulis cerpen hanya karena sebuah kalimat dari guru saya.  Kala itu saya masih kelas 3 SMP. Ketika akan sholat zuhur di mushola, saya berpapasan dengan guru

Cinta Lama Bersemi Kembali

Entah sudah berapa kali saya mengatakan pada diri sendiri maupun pada orang lain bahwa passion saya, minat saya, adalah menulis. Mengapa? Karena saya telah melakukan kegiatan menulis sejak kecil, tanpa ada yang menyuruh. Saya menulis karena saya senang. Menulis bagaikan membuat dunia versi saya sendiri. Sebuah dunia yang saya bisa atur apa yang akan terjadi di dalamnya. Itulah motivasi awal saya menulis: membuat cerita sesuai keinginan saya.  Kenapa motivasi semacam itu yang muncul? Mungkin karena seringnya saya membaca buku cerita namun endingnya tidak sesuai keinginan, terasa aneh, atau simply karena saya ingin alur berbeda.  Apa tulisan pertama saya? Jika tidak menghitung diary sebagai tulisan, maka tulisan pertama saya yang berupa cerita fiksi yaitu sebuah naskah drama misteri yang saya tulis ketika kelas 5 SD. Tidak panjang, jika difilmkan mungkin hanya sekitar 15 menit durasinya. Eh, sebentar, apa? Difilmkan? Hahaha. Dulu saya senang menonton kartun Jepang berjudul Gho

Belajar Bahasa Arab Online? BISA aja!

Sekitar dua tahun lalu adalah pertama kalinya saya mengikuti program belajar bahasa Arab di Yayasan BISA secara online alias daring. Saat itu saya mendaftar di program Belajar Ilmu Sharaf, dan menjalani proses belajar selama kurang lebih 3 bulan. Terseok-seok karena berbagai alasan, akhirnya saya berhasil bertahan sampai akhir. Fyi, tidak semua yang ikut bisa bertahan sampai akhir karena adanya sistem DO. Namun nilai saya pas-pasan, peringkat dua dari bawah. Mengenai sistem belajar daring (online) di  Yayasan BISA , penjelasannya sudah cukup lengkap di laman Facebook BISA. Ada materi, ada kuis, dan pemanasan setiap minggu. Yang saya ingin sampaikan adalah pengalaman saya ketika menjalani dua kelas tersebut, kelas sharaf dan nahwu. Partama sharaf. Di BISA, sharaf adalah kelas pertama yang harus dilalui. Di kelas ini kita belajar tentang perubahan atau tashrif kata sehingga dapat memilih kata yang sesuai. Materi setiap minggunya disajikan dalam bentuk video, audio, dan trans