18 February 2020

Book Review: Let’s Go to Europe

For the second week of Read and Review challenge, I choose a book from iPusnas.
Actually, I’m not sure that it is “a book”, because it’s just one short story from a book 30 Paspor di Kelas Sang Profesor. But, since it’s available at iPusnas, and it’s somewhat called “e-lite”, so, I just go with it. Hehe..

This book is about a student of Prof. Rhenald Kasali in International Marketing class. Prof. Rhenald always require his student to go abroad, see new things, take adventure, within 1.5 months. Of course, the most asked question is, “how could they get the money to go abroad?” Now, that’s the challenge. 

The story I read is about a student who choose to go to Europe. He saved money from his internship and other job, and he also received some money from his parent. Then he went to some countries in Europe.

Well, after reading this story I kind of curious to read another stories. But, on the other hand, I feel this story is just a usual travel story if not less. I thought I would find some exciting parts, or challenging event, or any unusual event. But, there's nothing really interesting. So, that’s why I want to know the other stories.

Here’s the link of the book if you want to read the book: http://webadmin.ipusnas.id/ipusnas/publications/books/122804/

But first you have to install the iPusnas application.

10 February 2020

Resensi Buku Xenoglosofilia: Kenapa harus Nginggris?

 

Judul: Xenogolosofilia Kenapa Harus Nginggris
Penulis: Ivan Lanin
Penerbit: Kompas
Tahun Terbit: 2018
Jumlah halaman: 232
 
Semakin saya membaca buku ini, semakin saya bertanya-tanya, “Kenapa saya membaca buku ini?”

Buku berjudul Xenogolosofilia Kenapa Harus Nginggris ini adalah karya Ivan Lanin. Ya, saya—dan mungkin banyak orang lainnya—mengenal Ivan Lanin sebagai seorang ahli bahasa Indonesia. Saya sering mencari jawaban dari Twitter Ivan Lanin jika ada hal yang tidak saya pahami tentang bahasa Indonesia. Tapi saya tidak pernah mencari siapakah Ivan Lanin.

Dari buku ini saya mengetahui bahwa Ivan Lanin tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang linguistik. Ia menempuh S-1 di Teknik Kimia ITB, dan S-2 Teknologi Informasi UI. Namun kini ia menjadi salah satu tempat mencari jawaban tentang mengenai bahasa Indonesia. 


Ok, lanjut ke buku Xenogolosofilia Kenapa Harus Nginggris. Buku ini membahas tentang problematika dalam bahasa Indonesia. Banyak membahas mengenai berbagai padanan istilah asing dalam bahasa Indonesia, serta asal mula suatu kata. Awalnya saya mengira buku ini akan seperti buku Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira, padat namun santai. Akan tetapi, ternyata berbeda, gaess.

Saya merasa buku ini agak lebih berat karena membahas asal usul suatu kata secara lebih dalam. Termasuk tentang sejarah suatu kata digunakan dalam bahasa Indonesia. Pada beberapa pembahasan itu saya merasa agak pusing dan harus berhenti sejenak. Haha. Lebay banget, ya, saya.

Tapi saya tetap enjoy—ups—dan senang aja. Terlebih, di bagian kedua buku ini ada “Tanja” alias tanya jawab yang banyak menjawab pertanyaan dalam hati saya dengan singkat dan jelas.

Buku ini mendorong kita untuk sebisa mungkin menggunakan bahasa Indonesia. Jika ada istilah asing yang memang sudah ada padanan katanya, maka gunakanlah padanannya. Jika belum ada padanannya, maka berusahalah mencarinya. Intinya, cintailah bahasa Indonesia.

Ini mengingatkan saya dengan seorang rekan kerja saya dulu. Namanya Pak Dhuha, ia lulusan S-1 Sastra Inggris dan S-2 Sastra Indonesia. Pernah suatu kali saya menanyakan padanan kata istilah asing, kemudian ia bilang, “Kalau belum ada, kita bikin aja padanannya!” dengan penuh semangat. Saya ragu, sih, waktu itu. Tapi rupanya, memang sebenarnya begitu, cari atau buat saja padanannya. Siapa tahu kata tersebut nantinya berterima di masyarakat.

Jadi, kenapa saya membaca buku ini? Jawabannya, kenapa saya perlu alasan untuk membaca buku ini? Bukankah dengan saya lahir dan besar di Indonesia, sudah menjadi alasan yang kuat untuk mempelajari bahasa Indonesia?


05 February 2020

Pahlawan yang Menyebalkan

Pahlawan itu identik dengan menolong orang lain, menyelamatkan orang lain, berkorban demi orang lain. Pahlawan selalu ingin menyenangkan hati orang lain. Ya, pahlawan dengan sifat-sifat tersebut sangat mudah dicintai orang lain. Lantas, adakah pahlawan yang menyebalkan?

Satu hal yang perlu digarisbawahi dalam paragraf di atas adalah "orang lain". Let's talk about it.

Sejak membaca Falsafah Keluarga karya Dhuha Hadiansyah, saya selalu agak keki mendengar kata pahlawan. Pasalnya, dalam buku tersebut ada sebuah bab yang menerangkan tentang pahlawan namun bukan dalam konteks yang menyenangkan.

Intinya, ada tipe orang yang berjiwa pahlawan, ingin selalu menolong orang lain, mudah merasa kasihan dengan orang lain. Akan tetapi, jiwa pahlawan ini terkadang membuat dirinya mengorbankan hal-hal yang tak seharusnya. Bahkan tak jarang ia menganggap keluarganya sebagai perpanjangan dirinya yang harus ikut menolong dan berkorban demi orang lain. Alih-alih menjadi pahlawan, orang tipe ini bisa jadi menyebalkan bagi orang terdekatnya.

Dalam buku Falsafah Keluarga ada sebuah contoh yang saya lupa-lupa ingat, Alkisah ada seorang pria menikahi teman kerjanya, seorang janda beranak lima. Ia menikahi wanita tersebut karena kasihan dan ingin menolong. Padahal, si pria ini juga telah menikah dan memiliki lima anak. Akhirnya si pria bercerai dengan istrinya dan menikah dengan teman kerjanya itu.

Ini mungkin hanya salah satu contoh ekstrem. Sementara bentuk yang tidak ekstrem bisa jadi ada di sekitar kita. Ada seorang kerabat saya yang tampaknya memiliki sifat superhero ini. Ia selalu tergerak membantu orang lain. Bahkan apabila hal itu membuatnya stres dan supersibuk, ia tetap menjalaninya.

Kita tentu sepakat bahwa menolong orang lain adalah sesuatu yang sangat baik, mulia, sangat dianjurkan. Tapi segala yang berlebihan berujung tidak baik, termasuk dalam hal menolong. Apalagi jika kegiatan menolong ini justru merenggut hak orang lainnya.

Sekian tulisan iseng malam ini. Semoga bermanfaat.

04 February 2020

Setelah Menonton Kim Ji Young Born 1982 …

Apakah Anda ibu rumah tangga?
Apakah Anda pernah bekerja di luar rumah?
Apakah Anda sudah menonton film Kim Ji Young Born 1982?
Apa pun jawaban Anda, silakan baca tulisan ini sampai selesai. Hehe.

Film Kim Ji Young bercerita tentang seorang wanita yang bekerja di sebuah kantor periklanan (ya?), kemudian menikah, dan setelah memiliki seorang anak, dia berhenti bekerja kemudian menjadi ibu rumah tangga. Sampai sini, apakah ada kemiripan antara Kim Ji Young dengan kehidupan Anda? Ya? Oke, semoga cerita selanjutnya tidak sama, ya.

Hari berganti, waktu bergulir, Kim Ji Young rupanya mengalami gangguan kejiwaan yang membuatnya kadang menjadi seperti orang lain. Oke, sinopsis film sampai sini saja, saya tidak akan bahas tentang filmnya itu sendiri, tapi saya akan menuliskan beberapa hal yang terbesit setelah menonton film ini.

Ih, gue banget!
Mungkin ini ujaran sebagian emak-emak IRT yang menonton ini. “Gue banget nih, tadinya kerja, terus jadi IRT, terus bergulat dengan urusan domestik setiap hari dengan backsound tangisan si bocil.” Kurang lebih demikian, dan ini bukan hanya pikiran saya. Teman saya pun merasakan yang sama. Jadi, you’re not alone.

She’s a good mom
Kim Ji Young adalah ibu yang rajin, kuat, penyayang, sangat sabar—dia ga pernah marahin anaknya lho, mak! Ya, dengan semua yang digambarkan di film, dia adalah ibu yang baik.

I can feel her, somehow 
Dibesarkan dengan semangat bekerja, kemudian harus menjadi seorang ibu rumah tangga, bukanlah hal yang mudah. Bahkan ketika dia melakukan perannya sebagai istri dan ibu dengan sangat baik, dia masih merasa ada yang kurang. I can feel that, I can understand that.

But…
Nah, satu hal yang saya agaknya kurang sreg adalah dengan ending cerita. Digambarkan Kim Ji Young bahagia karena akhirnya bisa kembali bekerja kantoran. Sementara suaminya—secara tersirat—digambarkan resign dan menjadi bapak rumah tangga (iya ngga sih?). Seolah semua masalah selesai. Padahal, di dunia nyata, seorang ibu yang bekerja di luar juga memiliki beban dan dilemanya sendiri. Tidak semua orang bisa berdamai dengan itu.

Salah satu yang terpatri dalam hati saya setelah bergabung dengan komunitas Ibu Profesional adalah get your priorities right. Ada banyak hal yang ingin saya lakukan, bahkan setelah menikah dan memiliki anak, masih ada sederet mimpi yang saya dambakan. Tapi saya selalu memikirkannya lagi, bertanya pada diri sendiri, apakah itu prioritas saya saat ini?

Jadi, setelah menonton film ini, saya semakin menyadari pentingnya menetapkan prioritas dengan tepat. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Mainkan peran dengan bahagia dan tanpa penyesalan di kemudian hari.

Nyambung ngga ya antara film dan kesimpulan yang saya buat? Ngga, ya? Baiklah, tidak apa-apa, ya. Toh, ini hanya pendapat pribadi. Kalau Anda sendiri, bagaimana?