Skip to main content

Tentang Guru

Hari ini, 3 Mei 2020, masih dalam suasana Hardiknas, tiba-tiba saya ingin bercerita sedikit tentang guru-guru yang berkesan selama saya duduk di bangku sekolah.
Ketika saya SD, ada seorang guru bernama Pak Yudi, nama lengkapnya Yudistira. Pak Yudi adalah gambaran guru yang sering dicap “guru baik". Saya tak ingat Pak Yudi pernah marah atau semacamnya. Pak Yudi pun mengenal saya di antara sekian banyak muridnya. Nah, pada suatu hari, saya iseng mengintip ke kelas sebelah karena kelas saya sendiri belum mulai. Sedangkan kelas sebelah sedang diajar oleh Pak Yudi. Saya mengintip dari jendela dengan khidmat.
Rupanya Pak Yudi menyadari keberadaan saya. Beliau pun keluar kelas dan menghampiri saya, kemudian memberikan uang lima ratus rupiah pada saya. Entah apa alasan beliau, tapi saya yang masih polos saat itu ya langsung menerimanya saja. Hehe. Alhamdulillah. Terima kasih Pak Yudi, semoga Allah memberi balasan yang tak terhingga untuk segala kebaikan Bapak.
Kemudian di bangku SMP, ada dua guru yang berkesan, dan keduanya adalah guru bahasa Indonesia. Guru yang membuat saya menyenangi dan memahami bahasa Indonesia. Pertama adalah Pak Hanan, seorang guru yang selalu berpenampilan rapi, tutur katanya lembut dan terstruktur. Benar-benar elegan. Saat saya kelas VIII, beliau menunjuk saya untuk bertugas sebagai MC di acara perpisahan kelas IX. Saya sebenarnya tidak pede karena saya cadel. Tapi Pak Hanan justru mengatakan bahwa itu tak masalah. Beliau menilai saya tampil dengan baik saat ada tugas pidato di kelas, sehingga beliau memberikan amanah sebagai MC kepada saya. Itu adalah kali pertama saya menjadi MC.
Selanjutnya Pak Tri, guru bahasa Indonesia saya di kelas IX. Beliau ini guru yang “beda” karena tindakannya kadang, yaa, begitulah. Kalau memberi contoh kalimat saat pelajaran, tak jarang kalimat yang dicontohkan itu aneh bin ajaib. Kadang vulgar juga. Wkwk. Tapi karena beliau juga saya jadi paham tentang kalimat majemuk, dan materi-materi lainnya. Beliau juga menunjuk saya sebagai perwakilan sekolah untuk ikut lomba cerdas cermat. Kebetulan saat itu beliau wali kelas saya. Tak lama setelah saya lulus SMP, Pak Tri ternyata diangkat menjadi kepala sekolah di SMP lain. Tak heran sih, beliau emang keren.
Terima kasih Pak Tri dan Pak Hanan. Sekarang saya cinta bahasa Indonesia.
Nah, di SMA saya juga bertemu seorang guru yang berkesan, kali ini guru matematika. Beliau adalah Pak Kus yang mengajar saya matematika di kelas XI dan XII. Pak Kus sangat sabar menghadapi murid-muridnya, jadi kalau beliau marah, ya itu memang karena muridnya sudah keluar batas.
Suatu hari di tengah pelajaran matematika saya pernah bermalas-malasan. Saya melipat tangan di meja, kemudian menyandarkan kepala di atasnya dan memejamkan mata. Tidak, saya tidak tidur, saya cuma sedang tidak mood. Sangat tidak mood saat itu. Kebetulan Pak Kus sedang menyuruh satu per satu muridnya untuk maju dan mengerjakan soal di papan tulis. Saya tahu, tapi saya cuek saja. Jangan dicontoh, yak! Wkwk.
Tapi yang luar biasa adalah Pak Kus tidak marah! Beliau tidak memarahi saya karena pura-pura tidur di kelas. Ketika harusnya giliran saya yang maju, justru beliau bilang, “dia ngga usah maju, ngantuk dia, abis begadang kali” gitu dengan nada santai. Hyahaha. Saat itu saya merasa dipahami, dimengerti, sebagai manusia yang punya mood acakadut. Hehe. Terima kasih Pak Kus!
Setelah lulus SMA, saya kembali dipertemukan dengan seorang dosen yang juga bernama Pak Kus! Wow, saya berjodoh dengan guru bernama Pak Kus. Dosen saya ini karakternya juga sama dengan Pak Kus guru matematika, penyabar, pintar, baik, dan kebapakan. Duh, pokoknya semua mahasiswa langsung terpikat dengan kebaikan hati Pak Kus. Beliau adalah dosen pembimbing saya sejak semester I sampai lulus.
Pak Kus bukan tipe dosen yang sulit ditemui. Setiap kali mengajar dan bertabrakan dengan waktu salat (azan), beliau selalu mengistirahatkan kelas beberapa menit sebelum azan dan memberi waktu untuk salat baru kemudian masuk kelas lagi. Beliau juga nyaris tak pernah telat masuk kelas.
Di kelas yang beliau ampu, dibuat peraturan bahwa mahasiswa yang telat masuk kelas harus membayar denda. Jika beliau sendiri yang telat, maka beliau juga denda. Dan mahasiswa yang datang sebelum beliau masuk kelas terhitung tidak telat. Alhasil, jarang sekali mahasiswa telat saat kelas beliau. Saya rasa bukan karena takut denda, tapi lebih karena kami menghargai dosen yang tepat waktu dengan cara datang tepat waktu juga.
Pak Kus memberikan penutup yang manis ketika acara wisuda. Di depan para wisudawan lainnya, beliau meminta kami, para mahasiswa bimbingannya, untuk maju ke depan dan menerima buket bunga dari beliau. So sweet banget, kaaann? Hiks. Terima kasih banyak Pak Kus! We love you!
Eh, kenapa semua guru yang saya ceritakan di sini bapak-bapak, ya? Bukan berarti ngga ada ibu guru yang berkesan, lho. Hanya saja, saat menuliskan ini, beliau-beliaulah yang saya ingat. Tentu saja, semua guru-guru telah memberikan banyak ilmu dengan berlapis kesabaran.
Semoga Allah melipatgandakan pahala ibu dan bapak guru. Semoga Allah selalu menjaga ibu dan bapak guru di mana pun berada. Aamiin.
Selamat Hari Pendidikan Nasional!
#30DWC #30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid23 #Squad7 #Day9
#Hardiknas

Comments

Popular Post

Resensi Novel "Represi"

  (gambar: Goodreads) Judul: Represi Penulis: Fakhrisina Amalia Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2018 Tebal: 264 halaman Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook .  Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu -nya Tere Liye versi cetak. Back to this novel. And, sedikit spoiler! Represi, bercerita tentang Anna, seorang remaja — atau mungkin dewasa muda — yang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih

Melawan Kantuk Selepas Sahur

Kantuk, sejatinya adalah sebuah anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia supaya bisa menikmati karunia lainnya yaitu tidur. Tak sedikit orang di dunia ini yang minum berbagai obat demi bisa merasakan kantuk dan tidur lelap. Begitu pentingnya kantuk ini dalam hidup kita. Akan tetapi, akhir-akhir ini saya agaknya kewalahan menghadapi si kantuk. Terutama selepas sahur, kemudian salat subuh, biasanya saat itulah kantuk menyerang dengan dahsyat. Sungguh kasur tampak seperti godaan berat, melebihi godaan segelas sirup dingin. Apakah hanya saya yang merasa demikian? Tentu tidak, dong. Ya ‘kan? Hal ini mungkin efek sahur juga, sehingga tubuh merasa sangat mengantuk. Padahal selepas subuh adalah waktu berharga untuk mengerjakan apa saja. Karena suasana masih sepi, tenang, dan—yang paling penting—anak belum bangun. Kegiatan yang saya lakukan selepas subuh biasanya membaca, menulis, beberes rumah, atau sekadar browsing. Walaupun kantuk masih membayangi, saya berusaha tidak tergoda. Yaa pa

Review Novel The Star and I (Ilana Tan)

Lima tahun setelah In A Blue Moon , Ilana Tan kembali meluncurkan karya. Berjudul The Star and I , novel ini kembali membawa ciri khas karya Ilana Tan. Kisah romance yang sederhana, dengan konflik yang mungkin tidak bombastis, tapi penyajiannya sungguh memikat. Judul: The Star and I Penulis: Ilana Tan Penerbit: Gramedia Tahun terbit: 2021 Tebal: 344 halaman Spoiler alert! Manis, adalah kata yang tepat untuk karya-karya Ilana Tan, khususnya The Star and I . Novel ini berkisah tentang Olivia Mitchell, seorang aktor Broadway, yang mencari ibu kandungnya di The Big Apple alias New York. Dia tak sendiri. Dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Rex Rankin, pencarian Olivia jadi lebih menarik. Aku menikmati membaca novel ini. Setiap scene yang digambarkan bisa dengan mudah dibayangkan oleh pembaca. Ilana Tan tidak menggunakan kosakata yang njelimet, sederhana, tapi indah. Karakter dan tingkah tiap tokohnya begitu kuat dan natural. Ollie yang ceria, dramatis, polos. Rex yang pemalu, pendiam, cool