Selamat (Sintong) Tinggal: Review Buku Terbaru Tere Liye



Judul: Selamat Tinggal
Penulis: Tere Liye (Co-Author: Saripudin)
Tahun Terbit: Desember 2020
Penerbit: Gramedia


Ini memang baru buku kedua Tere Liye yang saya baca. Tapi saya yakin buku ini adalah salah satu yang paling powerful yang ditulis dengan semangat berapi-api, membawa pesan yang begitu dalam dan kuat.

Ya, bisa dibilang novel ini adalah curahan hati seorang Tere Liye. Pengikut akun medsos Tere Liye pasti paham kalau penulis asal Sumatera itu memang kerap menyoroti fenomena buku bajakan. Dan barang bajakan lainnya secara umum. 

“Selamat Tinggal” mengangkat hal itu. Jelas. Dilihat dari tokoh utama seorang mahasiswa Fakultas Sastra sekaligus penjual buku bajakan, kemudian tokoh lain yang juga keluarga pengusaha barang-barang KW. Ada juga teman si tokoh utama yang punya usaha penyedia situs streaming film ilegal, serta seorang yang rajin meng-cover lagu di YouTube pun tak ketinggalan kena sindir.

Sinopsis:

Sintong, mahasiswa tahun ketujuh Fakultas Sastra yang sedang berusaha lulus (baca: menyelesaikan skripsi). Skripsinya membahas tentang penulis legendaris di tahun ‘60-an yang tiba-tiba menghilang. Dalam perjalanan menulis skripsi, Sintong diselimuti berbagai kegalauan. Mulai dari pekerjaan sampingannya sebagai penjaga toko buku bajakan, perasaannya pada seorang gadis, semangat menulis yang tiba-tiba muncul lagi, dan lain-lain.

Banyak hal yang informatif dalam novel ini. Misalnya dampak bisnis bajakan kepada penulis atau creator asli, dan bagaimana bisnis bajakan itu berjalan. 

Tak bisa dimungkiri, kita tahu ini adalah novel fiksi, tapi kita juga tahu bahwa keberadaan bisnis buku bajakan dan semacamnya itu fakta. Ada juga bisnis obat palsu. Dan bisnis-bisnis haram tersebut tak jarang melibatkan--alias dibeking--pihak yang seharusnya memberantas itu semua. 

Fakta-fakta ini kemudian seolah menjadi sorot utama, dan fiksi di dalamnya sebagai “bingkai”. Jadi, tak heran kalau novel ini membuka mata kita tentang keburukan bisnis barang bajakan.

Ngomong-ngomong, saya yakin setelah buku ini dirilis, pencarian di Google dengan kata kunci “Sutan Pane” meningkat. (Iya, saya juga searching! Wkwk.. XD )

Bukan hanya tentang barang bajakan, ada pesan penting lainnya, yaitu tentang pertobatan. Bahwa seberapa pun parahnya kita berbuat salah, kita selalu bisa kembali, meninggalkan perbuatan itu. Dalam buku ini khususnya, tentu saja, bertobat dari barang bajakan. Apa pun itu bentuknya, termasuk software, film, dll. 

Namun, penulis--Tere Liye dan co-author--juga tak ujug-ujug dengan kasar menghakimi. Ada tokoh yang rasa-rasanya mewakili banyak orang, yaitu tokoh yang tahu bahwa barang-barang bajakan itu salah, tapi belum bisa keluar dari lilitannya dan belum bisa mengubah apa-apa walaupun ingin.

“Jangan berkecil hati, Kawan, jika hari ini kepal jarimu masih lemah. Jangan berkecil hati, Kawan, jika hari ini suaramu jauh dari lantang dan didengarkan. Sungguh jangan berkecil hati, Kawan, jika dirimu belum mampu mengubah situasi.” (hlmn. 321)

Kritik tajam pada bisnis barang bajakan adalah topik utama di novel ini, ditambah bumbu sindiran pada koruptor, pejabat/pihak berwenang, serta pemerintah. (Bahkan Pertamina pun kena sindir!) 

Selain fokus pada masalah tersebut, novel ini juga menyuntikkan semangat luar biasa kepada para penulis untuk senantiasa berani dan gigih dalam berkarya. Hal itu disajikan dengan apik lewat tokoh Sutan Pane dan Sintong.

(Kalau ada yang tanya, "Apakah membeli ebook lalu 'meminjamkannya' dengan mengirim pdf dibolehkan?", maka inilah jawabannya. Eh, ngga keliatan juga ya? hahaha..)

Lewat tokoh inilah, seorang Tere Liye dengan bebas menyampaikan pesan kepada para penulis--dan pemuda--untuk selalu objektif dalam menulis. Menulis dengan adil dan didasari kepedulian, bukan dengan kebencian.

Seperti biasa, gaya penulisan Tere Liye yang begitu membumi dan sederhana tapi elegan, sungguh membuat saya terhanyut. Novel ini tak memaksa kita membuka KBBI, tapi tetap memberi makna yang dalam.

Hal yang juga spesial di buku ini adalah sudut pandang yang digunakan. Sudut pandang orang ketiga yang digunakan dengan sangat luwes dan fleksibel, tidak kaku. Pembaca jadi merasa seperti sedang dibacakan dongeng, dimanjakan, dan dianggap. Istilah kerennya mungkin “breaking the fourth wall”.  

Ah, terlalu banyak hal unik dalam novel ini. Kata “bagus” untuk karya ini rasanya kurang pas. Saya lebih suka melabelinya dengan “cerdas”, “unik”, dan “inspiratif”. Dan tentu saja saya merekomendasikan Anda semua untuk membacanya. Walaupun pastilah karya ini juga tak lepas dari kekurangan, tapi ada banyak pesan, makna terpedam yang bisa dipetik.

Comments