29 June 2024

Menemukan Dua Hal yang Penting


Dalam perjalanan mengembangkan diri, saya menyadari ada dua hal yang penting sekali untuk diatasi. Sebelum dua hal ini ditemukan, disadari, saya rasa akan sulit perjalanan ini untuk menemukan ujungnya.

Pertama, adalah mengetahui apa kelemahan terbesar kita. Kelemahan itu bisa sesuatu yang memang tidak kita sukai, atau bahkan sesuatu yang kita benci, atau sesuatu yang kita takuti dan sangat hindari. Bisa juga sesuatu yang sangat sulit untuk kita lakukan.

Kelemahan ini sebaiknya kita sadari segera agar bisa dicari solusinya, dan supaya usaha kita ke depannya tidak mandeg. Well, saya pribadi menyadari bahwa kelemahan terbesar saya adalah sulit bagi saya untuk bisa konsisten. Istikamah. Dan saya menyadari bahwa ini fatal sekali. 

Pasalnya, dari banyak sumber, ustadz, guru, narasumber, buku-buku, seringkali saya menemukan pernyataan bahwa konsistensi adalah kunci. Jelas, dalam beribadah pun konsisten itu sangat penting. Bahkan dalam sebuah hadist riwayat Muslim, dari Aisyah ra., Rasulullah SAW mengatakan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang konsisten walaupun sedikit. 

Namun, saya bersyukur karena telah menyadari hal ini, dan insyaallah hal ini bisa diatasi. Bukan sesuatu yang mutlak dan tidak akan berubah. Inilah pentingnya kita menyadari kekurangan, supaya kita bisa mengatasinya. Kalaupun gagal, paling tidak kita bisa memperbaiki sedikit demi sedikit.

Salah satu cara mengatasinya, menurut saya, adalah dengan mengikuti kelas atau kegiatan seperti 30 DWC ini. Dengan begitu, ada tuntutan, ada dukungan dari luar agar saya bisa konsisten menulis. Karena itu juga, tujuan utama saya dalam program ini adalah konsistensi, sedangkan kualitas memang tidak terlalu diprioritaskan.

Bagaimana denganmu? Apakah sudah menemukan kelemahan diri sendiri? Tidak apa, pelan-pelan saja. Sambil menjalani, mungkin akan ditemukan dan disadari. 

Lagipula, ada hal lain yang mungkin ini lebih menyenangkan untuk kita temukan, dan memang perlu ditemukan juga, yaitu kelebihan. Kebalikan dari poin pertama, di poin kedua ini kita sebaiknya bisa menemukan apa kelebihan diri.

Kelebihan ini bisa berupa sesuatu yang kita senangi, sesuatu yang kita rasa mudah melakukannya, sesuatu yang kita senang melakukannya walaupun banyak tantangan. Tentunya sesuatu ini yang positif untuk dilakukan, ya, bukan hal negatif.

Bagi saya, kelebihan ini adalah menulis, dan membaca. Saya senang menulis, saya rela begadang demi bisa menulis dengan tenang, saya lebih suka menulis daripada menjahit (misalnya) atau melakukan kerajinan tangan lain.

Demikian juga membaca, jika sudah bertemu buku-buku yang tepat, maka tebal pun tetap bisa dilahap. Saya pribadi lebih banyak membaca novel, novel dalam negeri, dan beberapa novel terjemahan. Beberapa buku self improvement, dan buku motivasi. 

Tadinya saya pikir ini sebuah kebiasaan yang biasa saja, ternyata tidak. Di era serbacepat, serbadigital, tidak semua orang suka dan bisa membaca buku. Jadi, saya rasa senang membaca masih menjadi sebuah kelebihan.

Karena sudah menyadari kelebihan ini, saya fokus pada hal ini. Mengasah kemampuan menulis dan skill lain yang terkait. Sambil tetap mengatasi moody yang membuat inkonsisten.

Menemukan dua hal ini tidak mudah karena bisa jadi kita justru denial. Namun, saya rasa dua aspek ini adalah hal yang penting dalam berbagai hal. Bukankah dalam hidup ini kita ingin lebih efektif dan efisien? Dengan menyadari kelebihan dan kekurangan, saya rasa bisa sangat membantu. 

Semoga kita bisa menemukan dua hal penting ini dan mengolahnya sehingga perjalanan hidup yang sebentar ini bisa lebih bermakna. 

#30DWCJilid46
#30DWC
#Day29
Share:

Mencari Ketenangan, Melupakan Sumbernya

 “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d: 28)


Dalam perjalanan pencarian rumah, berpindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain, saya dan suami mengobrol dan merenungkan, sebenarnya untuk apa kita berpindah-pindah? Untuk apa membeli rumah? Toh, tidak ada salahnya mengontrak.

Ya, sebenarnya doktrin bahwa membeli rumah adalah sebuah kewajiban itu memang diturunkan dari orang tua saya. Bukan hal yang aneh, ketika orang tua berharap anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik. Dan bagi ibu saya, kehidupan lebih baik itu salah satunya adalah dengan memiliki rumah sendiri.

Pasalnya, ibu saya sejak dulu hidup di rumah kontrakan. Saya masih ingat, sekitar 22 tahun lalu, pertama kalinya pindah dari rumah yang saya tempati sejak lahir. Kala itu kami pindah karena si pemilik kontrakan ingin membangun ulang area itu, sehingga kami, dan beberapa tetangga, terpaksa pindah. 

Alhamdulillah, kami menemukan kontrakan yang tidak jauh begitu jauh. Walaupun dengan ukuran yang lebih kecil, dan harga sewa lebih mahal, tapi secara kualitas bangunan lebih baik dibanding yang lama. Itu bukan terakhir kalinya, beberapa tahun kemudian, kami pindah lagi, dan beberapa tahun setelahnya lagi. 

Padahal pindahan rumah bukan hal sederhana, sangat repot malah. Namun, mau bagaimana lagi, ketika kondisi memaksa. Mungkin kerepotan itu jugalah yang orang tua saya tidak ingin saya mengalaminya juga. Maka, di mata orang tua, membeli rumah sendiri adalah pilihan terbaik. Titik.

Saya bisa menerima jika orang tua memiliki pandangan seperti itu. Walaupun, seiring berjalannya waktu, hal itu tidak selalu tepat. Kemudian, di sinilah aku sekarang. Kembali merenungi, sebenarnya, kenapa orang tua ingin sekali kami punya rumah sendiri? Well, menurutku, jawabannya adalah karena ingin kami mendapatkan kehidupan yang tenang.

Ketenangan, itulah yang dicari. Tenang karena sudah ada tempat tinggal milik sendiri, tenang karena tidak khawatir akan diusir atau disuruh pindah oleh pemilik kontrakan. Tenang karena rumah nantinya juga bisa diwariskan.

Ya, kami, kita, mencari ketenangan. Hidup yang tentram damai, paling tidak dari sisi kebutuhan primer berupa papan. Sayangnya, dalam pencarian ketenangan ini, seringkali kami, kita, melupakan sumber ketenangan itu sendiri. Sebagaimana saya kutip di awal tulisan, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. 

Allah-lah sumber ketenangan. Dengan mengenal-Nya, mempelajari nama-nama dan sifat-sifatnya, mentadabburi tanda-tanda kebesaran-Nya, membuat kita menjadi tenang. Kita tenang karena tahu dan yakin bahwa nasib, takdir kehidupan kita, termasuk rezeki dan ajal kita, telah ditulis dalam Lauh Mahfuz.

Bukan sembarang, yang menuliskan takdir itu adalah Allah yang Maha Mengatur, Maha Melihat, dan Maha Mendengar. Allah mengetahui doa-doa kita. Allah juga yang Maha Bijaksana, Allah telah menakar rezeki dan musibah bagi setiap orang. Dan bagaimana pun yang telah Allah tentukan bagi kita, kita tetap bisa tenang, tinggal menjalaninya saja dengan penuh tawakal.

Lalu, hubungannya dengan mengontrak rumah? 

Mengontrak atau membeli rumah, keduanya sama-sama baik asalkan dilakukan dengan cara baik-baik. Di satu sisi, membeli rumah terasa lebih menenangkan, di sisi lain, tidak juga. Rumah juga perlu perawatan, biaya rutin, belum lagi jika ada yang rusak. Belum juga mempertimbangkan jarak rumah-kantor.

Kalau sudah begitu, ternyata membeli rumah pun tidak lantas nyaman. Selama kita hanya fokus pada bungkus dan melupakan isi, maka akan sulit menemukan ketenangan. Kita terlalu mengandalkan diri sendiri dan lupa dengan Sang Pencipta. Maka, alih-alih ketenangan yang datang, kita justru semakin haus akan validasi dari orang sekitar.

Karena itu, ketika melakukan pencarian, maka fokuslah. Fokus memperbaiki diri, fokus mengingat Allah, memohon pada Sumber Ketenangan.


#30DWCJilid46
#30DWC
#Day28
Share:

27 June 2024

Hal-Hal yang (Bukan) Rahasia


“Rahasia!” kata seorang perempuan berusia paruh baya, sambil malu-malu. Ia lebih tampak seperti orang yang ingin membeberkan rahasia, tapi tidak ingin benar-benar kelihatan begitu. Paham, kan, maksudnya?

“Ih, kasih tahu, dong. Ke mana, sih, orang itu? Kok, katanya ngga pulang ke rumahnya, ya?” sahut seorang perempuan lawan bicaranya yang jelas terpancing umpan “rahasia” tadi.

“Ibunya aja nggak tahu, lho, dia ke mana.”

“Ke mana, sih, emangnya?”

Pergunjingan dua ibu-ibu itu pun berlanjut, makin seru. Keduanya tampak begitu antusias. Yang satu semangat membocorkan rahasia berupa aib orang, yang satu tak kalah gigih mengulik aib orang.

Sialnya, saya justru merasa risih sekali karena tidak sengaja mendengar obrolan tadi di warung saat sedang belanja. 

Entah mengapa, rasanya obrolan langsung mendadak seru kalau sudah ada kalimat seperti itu. Ketika dibilang rahasia, semua justru ingin mendengarnya. Sama seperti kalau dibilang “jangan”, malah tergoda untuk melakukannya. 

Padahal, kalau sudah dibilang rahasia, apalagi tidak ada hubungannya dengan kita, ya sudahlah, biarkan saja. Tidak perlu diulik-ulik. Apalagi hal seperti ini masuk dalam kategori yang memang seharusnya dirahasiakan.

Apa saja yang seharusnya dirahasiakan?

Pertama, rahasia yang masuk dalam kategori rahasia sesungguhnya, dan memang sebaiknya dirahasiakan. Rahasia orang, aib diri dan orang lain, dan kebaikan diri. Menurutku tiga hal ini memang sebaiknya tetap menjadi rahasia.

Jika ada rahasia orang lain, yang kita tidak tahu, maka sudahlah, tidak perlu dicari tahu. Toh, kita tidak tahu pun tidak masalah. Justru kalau kita tahu malah bisa jadi masalah. Misal, aib orang lain, jika kita tahu, bisa jadi kita akan gatel sekali ingin menyebarkannya–seperti kasus ibu-ibu di atas tadi. Daripada harus menahan diri menjaga rahasia, lebih baik tidak tahu sama sekali, bukan?

Begitu juga aib diri sendiri, sebaiknya tetap menjadi rahasia, jangan malah diumbar, dijadikan konten. Yaa kalau ada manfaat, atau hikmah, pelajaran yang bisa diambil, dan memang lebih besar manfaat dibanding mudarat, mungkin masih ok. Akan tetapi, jika tidak? Hanya rugi saja yang kita dapat.

Ketentuan yang sama berlaku untuk kebaikan yang kita lakukan. Kalau dibeberkan malah akan menghilangkan pahalanya, menumbuhkan ujub pula. 

Apakah ini rahasia?

Nah, ada hal-hal yang sebenarnya bukan rahasia-rahasia amat, tetapi masih dicari-cari. Yaitu pertanyaan, “kenapa aku diciptakan? Untuk apa aku diciptakan?”

Wajar, kalau bertanya seperti itu. Namun, secara umum, itu pertanyaan yang sangat luar biasa jadul. Karena malaikat pun sudah menanyakan hal yang sama bahkan sebelum manusia pertama diciptakan. Dalam surat Al Baqarah, Allah menceritakan bahwa malaikat mempertanyakan, kenapa Allah menciptakan manusia? Padahal manusia itu akan berbuat kerusakan di bumi? Sedangkan sudah ada malaikat yang selalu tunduk patuh.

Allah sudah menjawab di ayat yang sama bahwasannya Allah mengetahui apa yang tidak diketahui malaikat. Malaikat pun mengiyakan hal itu. Kemudian di ayat lain, Allah juga memberi tahu tujuan penciptaan manusia, tidak lain adalah untuk menyembah Allah. 

Hal ini sudah bukan rahasia lagi, iya kan? Cukup dengan mencari ilmu, mengamalkannya sebaik mungkin, maka apa-apa yang kita pikir rahasia itu akan terungkap juga. Toh, tidak semua harus diketahui saat ini juga. Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Kita sebagai hamba lah yang sering tidak memahaminya.

Yaa dalam perjalanannya, kita memang akan tetap mempertanyakan banyak hal. Tentu saja. Sebagai manusia yang diberikan karunia untuk bisa berpikir, kita pasti penasaran dengan banyak hal. Ingin mencari tahu ini dan itu. Bukan sesuatu yang buruk selama masih dalam jalur yang benar.

Kesimpulannya, ada hal yang memang sebaiknya tetap menjadi rahasia, demi kebaikan bersama. Tidak perlu dicari tahu, apalagi kalau tentang aib orang. Ada juga hal yang saat ini mungkin masih menjadi rahasia karena kita belum tahu, dan baru akan terungkap seiring berjalannya waktu. Bersabarlah, berdoalah.

#30DWCJilid46

#30DWC

#Day27


Share:

26 June 2024

Sekolah Mahal atau Sekolah Gratis?


Akhir-akhir ini (katanya) sedang ramai dibahas tentang biaya SDIT yang mahal. Isu-isu seperti ini memang wajar mencuat di masa akhir/awal tahun ajaran. Banyak orang tua yang berburu sekolah bagi anak-anaknya.

Terlepas dari masih semrawutnya pendidikan di Indonesia, sebenarnya opsi sekolah di kota-kota besar cukup banyak. Mau yang gratis? Ada sekolah negeri. Mau yang berbayar? Banyak sekolah swasta. Masalah kualitas memang tidak bisa disamaratakan. Tinggal dipilah yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Tidak ada yang sempurna, tentu saja.

Nah, masalahnya, ketika ingin spek mahal dengan harga murah. Lalu, karena kesal, mulai menyebut kalau ilmu seharusnya tidak mahal, pendidikan bukan bisnis, dst. Di sinilah kita harus melihat dari dua sisi.

Saya teringat dalam novel Janji karya Tere Liye. Di salah satu bagian disebutkan bahwa “ilmu itu gratis”. Sepertinya senada dengan protes sekolah mahal, kan? Sebenarnya tidak demikian.

“Ilmu itu gratis” adalah pemahaman yang bagus jika dipegang oleh orang berilmu, dengan posisi sebagai guru, ulama, pengajar. Akan mulia sekali jika kita berada di posisi orang yang berilmu, lantas berniat berbagi ilmu secara gratis. Itu juga sudut pandang yang dipakai dalam novel Tere Liye tadi.

Namun, jika posisi kita sebagai murid, penuntut ilmu, maka harus dibalik. Ilmu itu bukan barang murah, ilmu adalah barang berharga yang harus diperoleh dengan kerja keras, pengorbanan besar. Sebagaimana para ulama dahulu mencari ilmu, mengorbankan tenaga, waktu, menjual apa saja jika perlu, untuk modal perjalanan menemui guru.

Ilmu itu hal yang mulia. Jika untuk makanan atau perhiasan saja kita mau merogoh kocek dalam, kenapa tidak untuk ilmu?

Banyaknya guru, ustaz, yang berbagi ilmu secara gratis di media sosial hendaknya tidak membuat kita meremehkan ilmu itu. Jika ada yang mematok harga demi sebuah pendidikan, apalagi pendidikan agama, dan kita tidak mampu, artinya kita bukan target atau sasarannya. Bukan artinya kita tidak bisa mencari ilmu sama sekali. 

Masih ada jalan lain untuk mencari ilmu. ada sekolah lain, kelas-kelas lain yang lebih pas. Atau, jika kita kekeh, maka kita harus berkorban lebih agar bisa membayar biayanya. 

Kesimpulannya, alih-alih menghujat sekolah karena mematok biaya mahal, lebih mudah dan solutif jika kita yang menyesuaikan pilihan sekolah dengan kemampuan.

#30DWCJilid46
#30DWC
#DAY26
Share:

Why Do You Make Me Do This?


Why do you make me do this?

Itulah pertanyaan si sulung ketika bius sunatnya habis. Sambil teriak kesakitan, dia mengatakan itu. 

Aku jawab karena dokter yang menyarankan, tapi dia tidak terima jawaban itu. Tentu saja. Aku tahu anak ini perlu jawaban yang bisa dia terima untuk rasa sakit yang sebesar itu.

Namun, menjelaskan bahwa khitan adalah kewajiban agama di tengah kondisi yang tidak tenang seperti itu rasanya tidak bagus. Aku ingin dia bisa menerima dengan baik, bukan ketika marah-marah dan menyimpulkan kalau kewajiban satu ini menyakitkan.

Di situ aku kembali terpikirkan, bahwa semua ada saatnya. Tidak harus semuanya diketahui sekarang. Salah satu contohnya, tentang pernikahan dan kehidupan setelah akad nikah. 

Adikku pernah bertanya, ”kenapa kita ga dikasih tahu ini semua dulu sebelum menikah? Sejak dulu?” 

Itu pertanyaan yang muncul setelah dia membaca-baca di Twitter, entah dari mana, membahas masalah-masalah pernikahan. 

Well, aku hanya menjawab bahwa memang tidak semua harus diketahui sekarang. Ada hal-hal yang sebaiknya diketahui nanti saja. Coba bayangkan jika kita diberitahu segala macam hal tentang kehidupan rumah tangga ketika usia 17 tahun, atau 20 tahun? Pikiran kita akan dipenuhi hal yang belum saatnya. Belum tahu kapan terjadi. Lantas kita malah jadi tidak fokus memikirkan yang lebih penting, tentang pendidikan atau pekerjaan misalnya. Atau menuntut ilmu agama.

Saat kubilang seperti itu, dia tidak sepenuhnya menerima. Wajar, mungkin itu memang unpopular opinion di masa sekarang. Namun, beberapa waktu setelahnya, dia akhirnya bisa menerima, bahwa memang lebih baik fokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang, alih-alih mengkhawatirkan masa depan.

Belajar tentang pernikahan jelas perlu, hal itu mungkin lalai diajarkan oleh orang tua kita. Akan tetapi, yang juga penting adalah belajar dari sumber yang benar, di waktu yang tepat, dengan dosis yang sesuai. Di luar itu, bertawakal saja pada Allah. Bukankah sederhana? Jangan dibikin ribet sendiri. 

#30DWCJilid46

#30DWC

#Day25

Share:

25 June 2024

Yang Baru Kutahu tentang Khitan


Karena tidak punya saudara laki-laki, saya benar-benar buta tentang sunat menyunat alias khitan. Dan ketika anak sulung sunat hari Minggu lalu, barulah saya menyadari beberapa hal tentang khitan ini.

Pertama, selain proses sunat itu sendiri, yang juga butuh kesabaran adalah proses penyembuhannya. Tadinya saya pikir, setelah melewati proses sunat, maka sudah selesai. Yaa tinggal penyembuhan layaknya penyembuhan luka pada umumnya begitu. Seperti habis lahiran normal lah, bahkan setelah selesai dijahit sudah tidak sakit lagi.

Ternyata tidak! Proses penyembuhan khitan ini bahkan mungkin lebih menantang dibanding khitannya yang hanya 20 menit itu. Mungkin karena ada bagian yang dihilangkan, ya, jadi sakitnya pun luar biasa.

Terutama ketika efek bius habis, aku agak kaget juga karena anaknya teriak-teriak kesakitan. Untunglah keluarga suami sudah tidak heran, dan katanya memang wajar. “Dulu bapaknya juga gitu,” kata mereka. Setelah obat painkiller bekerja, alhamdulillah sakitnya hilang, tidak histeris lagi. Jadi, lesson learned nomor satu adalah, ketika anak selesai sunat, langsung minumkan painkiller. Segera. 

Kedua, penyembuhan ini kalau kuibaratkan seperti metamorfosis dari ulat menjadi kupu-kupu. Wkwk. Ok, mungkin ini agak lebay, tapi kurang lebih begitu. Kupikir setelah sunat, bentuk penisnya akan langsung rapi. Rupanya, akan ada proses menunggu lukanya kering, lalu lukanya akan mengeluarkan ekstrudat berwarna kuning (bukan nanah). Kemudian di hari ke sekian perlu rutin berendam, kemudian bekas luka menjadi koreng, lalu lepas dengan sendirinya. Kurang lebih 2-3 minggu, kata dokter. It takes some times. 

Semoga Allah lancarkan proses penyembuhan ini. Aamiin.


#30DWCjilid46
#30DWC
#Day24
Share:

23 June 2024

Untuk Apa?

Day 23 (Eksistensi)

{ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ }

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.”

[Surah Al-Mulk: 2]

Kadang, atau malah sering, terutama kalau lagi masa-masa sulit, masa-masa sedih, atau lagi lelah, atau pikiran terombang-ambing, kemudian bertanya-tanya, untuk apa siy sebenarnya hidup ini?

Lalu teringat perkataan Allah dalam surat Al Mulk ayat 2. Memanglah dunia ini ya ujian. Sejatinya semuanya ujian. Jadi, jangan heran ketika merasa sedih, lelah, capek, sulit, karena ya, memang sedang diuji. Bahkan harta dan kesenangan juga sebenarnya adalah ujian.

Iya ya…

Kalau sudah begini, hanya bisa berdoa semoga kita lulus ujian. Semoga ujian ini bukanlah penambah dosa, melainkan penambah pahala. Semoga ujian ini mendatangkan sabar dan syukur, bukan marah dan takabur.

Alhamdulill. Kalau begitu, memang semua orang diuji. Bukan saya sendiri. Bukan kita aja. Semua dapat ujian. Hanya bisa berdoa, semoga kita tidak diberi ujian yang lebih berat lagi. Semoga Allah selalu memberi kemudahan dalam tiap ujian yang kita hadapi. 

Walaupun yaa masih banyak ngeluhnya juga. Ah, manusia. Lebih seringnya mengeluh dibanding bersyukur. Padahal sudah jelas, mengeluh malah akan menambah berat ujian yang dirasakan.

Intinya, selama kita hidup, pasti akan merasakan suka duka silih berganti. Karena kesenangan atau kesengsaraan sejati hanya ada di akhirat nanti. 

#30DWCJilid46

#30DWC

#day23

Share: