10 May 2020

Semua Orang Perlu Latihan

Semua orang perlu latihan jika ingin menguasai suatu keterampilan. Termasuk menulis. Bahkan seorang Puthut EA pun awalnya menjalani proses latihan penuh disiplin hingga akhirnya bisa menghasilkan puluhan buku baik genre fiksi maupun nonfiksi.

Ya, tulisan kali ini masih terinspirasi dari buku Menjadi Penulis karya Puthtut EA. Dalam salah satu bab berjudul “Rumus Tiga”, Puthut EA mengisahkan bahwa di awal menekuni dunia tulis-menulis, ia secara disiplin berlatih menulis selama tiga jam setiap hari. Minimal tiga jam. Tak kurang dari enam bulan latihan tersebut dijalani dengan taat, dan ia merasakan keterampilannya dalam merangkai kata, kalimat, dan paragraf meningkat.

Apakah lantas ia menjadi terkenal dan menghasilkan buku-buku setelah enam bulan itu? Oh, ternyata tidak. Setelah disiplin berlatih menulis minimal tiga jam, dan menghasilkan sekitar tiga ribu kata per harinya, ia melanjutkan latihan tersebut dan terus mengeksplorasi bahan tulisan. Barulah sekitar tiga tahun setelah itu ia menelurkan buku pertamanya. Wow, perjalanan yang panjang dan kedengarannya tidak mudah.

Hal ini mengingatkan saya dengan teori 10.000 jam. Seseorang dikatakan bisa mahir dalam suatu keterampilan jika sudah berlatih selama 10.000 jam. Jika satu hari berlatih tiga jam, maka 10.000 jam akan didapat setelah kurang lebih 20 tahun. Sedangkan kalau sehari hanya satu jam, seperti yang saya canangkan, maka baru akan tercapai setelah 27 tahun! Itu pun kalau disiplin. Hyaaaa~

Hahaha. Tapi jangan putus asa. Intinya adalah latihan. Dalam buku Menjadi Penulis, Puthut EA juga menambahkan bahwa selain latihan, seorang penulis perlu mencari banyak bahan tulisan, dan menajamkan imajinasi.

Jadi, jangan bosan berlatih menulis, ya, kawan-kawan. Walaupun hanya satu jam, atau hanya beberapa ratus kata, tapi latihan dengan disiplin adalah kunci. Semoga saya juga bisa disiplin berlatih. #harapharapcemas
 
*Ditulis menjelang buka puasa, 17 Ramadan 1441H/2020 di Batam

#30DWCJilid23
#30DaysWritingChallenge
#Day16
#Squad7
Share:

09 May 2020

(Tentang Teman) Si Ciyus yang Nyeleneh

Namanya Ciyus. Ya, itu nama alias, bukan nama asli. Kami, teman-teman dekatnya, memanggilnya “Ciyus”, atau “Ciy”. Bagaimana asal muasal panggilan ini aku sendiri tak ingat. Tapi, dia bukan satu-satunya yang dipanggil “Ciyus”. Aku pun kerap dipanggil “Ciyus”, entah kenapa.

Hari ini aku akan membahas seorang teman, seorang sahabat, yang menurutku sangat berkesan. Berkesan karena aku merasa kami itu seolah ditakdirkan bertemu. Tidak, aku merasa, Tuhan menghadirkan dia di sana untukku.

Di tahun 2012 akhir adalah pertama kalinya aku bekerja setelah lulus kuliah. Saat itu aku bekerja di sebuah boarding school di Sukabumi, tepatnya Cicurug. Aku yang belum pernah merasakan boarding school atau pesantren tentu merasa asing dengan suasananya. Apalagi di pedesaan Cicurug tidak ada apa-apa, hanya ada Indomaret. Sehari-hari dihabiskan hanya di dalam area sekolah yang memang luas.

Saat itu rata-rata teman-temanku lulusan Ponpes Gontor yang kalau ngobrol pake bahasa Arab. Bayangkan betapa merasa terasingnya aku di sana. Wkwk.

Seminggu setelah aku masuk, dia hadir. Si Ciyus, yang juga lulusan Gontor, mulai bekerja di sana, di divisi yang sama denganku. Aku lupa detilnya, tapi tak butuh waktu lama kami pun berteman akrab. Aku merasa klop dengannya. Kami sering menghabiskan waktu bersama untuk diskusi, main, melakukan hal-hal receh bin ga penting.

Mungkin salah satu sebab kami cepat akrab adalah usia yang hanya beda setahun, sedangkan teman-teman lain beberapa tahun lebih tua dariku. Kedua, si Ciyus ini anak gaul gitu, lho gaes, jadi ngobrolin apa aja sama dia tuh asik. Dia juga yang pertama kalinya mengenalkanku dengan drakor. Kala itu dia memaksaku menonton City Hunter, yang Lee Min Hoo itu. Dan dia kalau merekomen sesuatu itu ga setengah-setengah, gaes. Dia sendiri yang beli DVD bajakannya di pasar dan menyetelnya di TV kamarku.

Dia itu sering setuju dengan ide-ide nyelenehku seperti memasang Indovision. Kami patungan untuk pasang Indovision supaya bisa nonton macem-macem. Setelah saya keluar dari sana, itu Indovision ga bertahan lama. Wkwk.

Hal lain yang membuat aku senang berteman dengannya adalah dia itu berani. Berani naik motor dari Cicurug ke Sukabumi Kota. Kami pernah sekali boncengan ke Sukabumi Kota hanya untuk jalan-jalan ke toko buku, dan beli Pisang Cakra yang legendaris. Pernah juga iseng dari Cicurug naik kereta ke daerah Glodok hanya untuk beli sesuatu. Kami juga pernah hampir short escape ke Bandung, tapi kami ketinggalan travel jadinya batal. Wkwk.

Sampai saat ini rasanya dia adalah satu-satunya temanku yang cinta sejarah, khususnya sejarah Islam dan timur tengah. Dia bahkan bilang, “Ayo Ciy, kapan ente siap dengerin cerita tentang sejarah Al Hambra (kalau tidak salah ingat) bilang ane aja, nanti ane ceritain sejarahnya.” Well, aku tak pernah siap. Hahaha.

Kami sering sarapan berdua di luar area sekolah, keliling-keliling kampung sekitar, dan jajan ke Indomaret berdua. Kalau beberapa hari ngga ke Indomaret, dia bakal bilang, “Ciy, kita belom absen nih di Indomaret”. Hyahaha.
Pernah juga kami menginap di rumah sakit karena menemani murid yang rawat inap. Terlalu seringnya kami kemana-mana berdua, sampai-sampai kalau aku terlihat jalan sendirian di area sekolah pasti ditanya, “Kok sendirian? Mana Ciyus satu lagi?”.

Sayangnya, kebersamaan kami hanya bertahan kurang lebih satu setengah tahun. Pertengahan 2014 aku memutuskan keluar dari sana dan kembali ke Jakarta. Perpisahan dengan Ciyus adalah salah satu hal terberat saat itu. Hiks.

Tapi sekarang dia sudah berkeluarga di Jakarta, aku justru berdomisili di Batam. Dia sudah beralih profesi jadi kontraktor. Ya, kontraktor bangunan-bangunan gitu. Emang dia serbabisa, sih. Terakhir kami bertemu saat lebaran tahun lalu. Dia masih tak banyak berubah. Masih suka nyeleneh. Haha.

Karena lebaran tahun ini aku tidak mudik ke Jakarta, kami tidak bisa bersua. Tapi semoga ada waktu yang lebih baik untuk bertemu muka, bertukar cerita. :)

#30DWCJilid23
#30DaysWritingChallenge
#Squad7
#Day15
#TentangTeman
Share:

Siapa Pembaca Tulisan Anda?

Image: Pixabay

Siapa pembaca tulisan Anda? Atau, siapa target pembaca Anda? Pertanyaan ini termasuk bahasan di buku Menjadi Penulis karya Puthut EA. Walaupun sudah beberapa kali mendengar topik ini, tapi membacanya di buku ini entah kenapa memberi kesan berbeda.

Puthut EA mengajak kita mendefinisikan siapa sebenarnya yang membaca tulisan kita? Terutama jika kita menulis di web atau blog seperti yang saya lakukan saat ini. Menurut Puthut, banyak penulis web yang tak tahu pasti siapa pembacanya, sehingga ia menyasar semua kalangan pembaca dan menjadi penulis yang “rakus”.

Saya rasa ini berlaku juga bagi narablog alias blogger. Blog saya ini misalnya, sudah setengah tahun berjalan dengan tulisan random tergantung mood pemiliknya. Ketika ditanya siapa—if any—pembaca blog ini, saya agak bingung juga. Haha.

Yang jelas tulisan-tulisan di blog ini tidak ditujukan atau tidak cocok dibaca oleh orang-orang tua usia 50 tahunan ke atas, menurut saya. Mungkin para ibu-ibu muda, dewasa muda, atau remaja akan lebih bisa menerima tulisan di blog ini. Tapi saya pribadi ketika menulis tidak benar-benar memikirkan siapa pembaca yang disasar.

Sepertinya ini harus mulai dipikirkan supaya bisa lebih fokus menentukan arah tulisan dan tahu apa hal-hal yang perlu saya tuliskan. Juga agar tulisan-tulisan di blog tidak terlalu random. Wkwk.

Sedikit tentang buku Menjadi Penulis, buku ini saya beli bersamaan dengan buku Catatan untuk Calon Penulis. Saya membelinya via official store Buku Mojok di Shopee. Selain dua buku ini, ada bonus sebuah buku kecil yang berisi tentang penulis nonfiksi terkenal di dunia. Buku tersebut sebenarnya sangat menarik, sayangnya, bahasa yang digunakan terlalu berat. Mungkin juga karena isinya adalah artikel terjemahan dari luar.

Sekian tulisan singkat kali ini. Jadi, siapa pembaca tulisan Anda?


#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid23
#Squad7
#Day14
Share:

07 May 2020

Ketika Bingung Mau Menulis Apa

Ketika bingung mau menulis apa, biasanya saya membuka situs-situs lain, dengan tujuan mencari inspirasi. Salah satunya Youtube. Tapi saat ini membuka Youtube rasanya bukan pilihan tepat. Buktinya, saya malah jadi semakin bingung menulis apa karena hati dan pikiran terasa gundah.

Betapa dunia telah menjadi tempat bertabur hal-hal menyedihkan, menyesakkan. Satu-satunya tempat di seluruh jagat yang bisa ditinggali oleh manusia, nyatanya dipenuhi hal-hal yang tidak manusiawi. Astaghfirullah. Pikiran jadi tak karuan. Writer’s block melanda jiwa.

Kemudian ingin rasanya saya libur menulis dengan alasan ini. Karena menulis di tengah hati yang gamang bukanlah sesuatu yang biasa saya lakukan. Apalagi jika tulisan tersebut akan diunggah ke media sosial. Ah, tak usah menulislah hari ini. Terlintas pikiran begitu.

Akan tetapi tiba-tiba terbayang sosok Tere Liye dan terngiang lagi ucapannya: writer’s block hanyalah kemalasan! Duh, jangan-jangan saya memang hanya sedang malas menulis. Kebetulan saya mendengar berita buruk di media dan menjadikan perasaan saya sebagai alasan tidak menulis. Mungkin sebenarnya saya hanya malas! Duh!

Lalu teringat lagi lanjutan kata-kata Tere Liye dalam menghadapi writer’s block yaitu dengan terus saja menulis. Keep going, keep writing, write everything. Dengan terus menulislah justru cara terbaik menghadapi writer’s block, menurut Tere Liye. Rasanya hal itu berlaku juga pada saya.

Terlepas dari suasana hati dan pikiran, menulis harus tetap dilakukan. Writing is the answer, not the question. Menulis adalah jawaban, bukan pertanyaan. Well, kecuali kalau ketiduran, itu di luar kekuasaan saya. Wkwk.

Jadi, apa inti tulisan hari ini? Hmm.. Apa ya? Silakan buat simpulan sendiri. Hehe.

Dan hendaknya selalu mendoakan saudara-saudara kita di mana pun berada, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin.

#30DWCJilid23
#30DaysWritingChallenge
#Squad7
#Day13

Share:

Review Buku Catatan untuk Calon Penulis

Ada beberapa buku dalam rak buku saya yang termasuk dalam kategori “buku yang langsung saya beli hanya dengan melihat judulnya”. Salah satunya adalah buku berjudul Buku Catatan untuk Calon Penulis karya Puthut EA ini.


Beberapa waktu lalu saya memesannya via toko resmi penerbit Buku Mojok di Shopee, dan tak lama setelah buku itu sampai, saya langsung membukanya karena penasaran. Bagaimana lagi, saya langsung membeli buku itu tanpa mencari tahu isinya, jadi saya sangat penasaran.

Apa isi buku ini?
Well, sebelumnya perlu dilihat bagian blurb buku ini.


“Ini bukan buku motivasi menulis. Ini juga bukan buku panduan menulis. Ini semacam buku yang akan menemani Anda menulis.”

Jadi, terbayangkah isi buku ini? Tidak. Bagi saya, sih, tidak. Dan ternyata isi buku ini benar-benar sebuah “buku catatan” yang menyediakan banyak halaman kosong, benar-benar halaman kosong, bagi pembaca untuk bisa menulis.

Ya, dalam buku ini sang maestro menuangkan sejumlah tip yang bisa dilakukan agar ide-ide menulis muncul. Kemudian di halaman kosong pengguna buku ini bisa langsung menuliskan hasilnya. “Pengguna” mungkin lebih tepat disematkan karena nyatanya kalau hanya dibaca, buku ini bisa selesai dibaca hanya dalam sepuluh menit.

Sayangnya saya tipe orang yang tidak tega mencorat-coret buku. Hiks. Ini sebuah dilema. Tidak mencoretnya rasanya lebih kurang ajar daripada mencoret buku ini dengan ide-ide. Tapi, tapi ….

Walaupun menghadirkan dilema besar, saya tetap senang membeli buku ini. Kenapa? Karena banyak tip, dan entah kenapa ada kesenangan sendiri membaca buku unik seperti ini. Dan rasa senang adalah modal awal bagi saya yang moody ini untuk bisa terus menulis.

So, tertarik membaca menggunakan buku ini?


#30DWCJilid23
#30DaysWritingChallenge
#Squad7
#Day12
Share:

04 May 2020

Lupa

Ada banyak, mungkin ribuan, perasaan yang dirasakan seseorang dalam satu waktu. Tapi ketika diminta menjelaskan, mungkin tak semua bisa dicurahkan. Ini sama dengan seseorang yang sangat kukuh ingin menulis, namun tak tahu harus menulis apa.

Mau nulis apa ya?
Apa yang menarik ya?
Duh, ngga ada ide! 

Walaupun di saat yang sama, dirinya sendiri menyadari bahwa ada banyak hal yang ia ingin ungkapkan. Sering kali ada perasaan atau ide yang belum tersampaikan dan ingin ia tuliskan. Tapi satu kata membuat semuanya sirna: lupa.

Lupa adalah sebuah keadaan yang mampu mengubah banyak hal. Sepasang kekasih bisa saling membenci karena lupa. Persahabatan bisa hancur karena lupa. Hubungan rumah tangga bisa kandas juga karena lupa. Lupa kalau sudah berumah tangga misalnya. Wkwk.

Intinya, lupa adalah hal yang manusiawi namun juga fatal. Lupa bisa menjadi sebab maupun akibat. Lupa bisa menjadi obat yang mangkus atau racun mematikan. Lupa, ada dalam diri setiap manusia.

Bentuk lupa juga bisa bermacam-macam. Ada lupa yang hanya sementara, dan tak lama kemudian ingat lagi. Contohnya, lupa membawa handphone, biasanya ini sangat sebentar dan langsung ingat lagi. Ada lupa yang saaangat lama, tapi akhirnya ingat juga. Misalnya ketika lupa pelajaran matematika di zaman sekolah dulu. Ada lagi jenis lupa yang nyaris tak pernah berakhir kecuali kalau diingatkan berkali-kali, lupa akan hari akhir misalnya. #Eh. 

Jenis apa pun itu, semoga kita terhindarkan dari lupa-lupa yang berdampak buruk. Semoga kita juga tidak lupa kalau sekarang masih di bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah dan rahmat. Bukan untuk bermalas-malasan, justru ini saatnya berkejaran menggapai ampunan. 

Semoga kita tak pernah lupa untuk selalu bersyukur dan menebar kebaikan.
Semangat Ramadan!

#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid23
#Squad7
#Day10

Share:

03 May 2020

Tentang Guru

Hari ini, 3 Mei 2020, masih dalam suasana Hardiknas, tiba-tiba saya ingin bercerita sedikit tentang guru-guru yang berkesan selama saya duduk di bangku sekolah.
Ketika saya SD, ada seorang guru bernama Pak Yudi, nama lengkapnya Yudistira. Pak Yudi adalah gambaran guru yang sering dicap “guru baik". Saya tak ingat Pak Yudi pernah marah atau semacamnya. Pak Yudi pun mengenal saya di antara sekian banyak muridnya. Nah, pada suatu hari, saya iseng mengintip ke kelas sebelah karena kelas saya sendiri belum mulai. Sedangkan kelas sebelah sedang diajar oleh Pak Yudi. Saya mengintip dari jendela dengan khidmat.
Rupanya Pak Yudi menyadari keberadaan saya. Beliau pun keluar kelas dan menghampiri saya, kemudian memberikan uang lima ratus rupiah pada saya. Entah apa alasan beliau, tapi saya yang masih polos saat itu ya langsung menerimanya saja. Hehe. Alhamdulillah. Terima kasih Pak Yudi, semoga Allah memberi balasan yang tak terhingga untuk segala kebaikan Bapak.
Kemudian di bangku SMP, ada dua guru yang berkesan, dan keduanya adalah guru bahasa Indonesia. Guru yang membuat saya menyenangi dan memahami bahasa Indonesia. Pertama adalah Pak Hanan, seorang guru yang selalu berpenampilan rapi, tutur katanya lembut dan terstruktur. Benar-benar elegan. Saat saya kelas VIII, beliau menunjuk saya untuk bertugas sebagai MC di acara perpisahan kelas IX. Saya sebenarnya tidak pede karena saya cadel. Tapi Pak Hanan justru mengatakan bahwa itu tak masalah. Beliau menilai saya tampil dengan baik saat ada tugas pidato di kelas, sehingga beliau memberikan amanah sebagai MC kepada saya. Itu adalah kali pertama saya menjadi MC.
Selanjutnya Pak Tri, guru bahasa Indonesia saya di kelas IX. Beliau ini guru yang “beda” karena tindakannya kadang, yaa, begitulah. Kalau memberi contoh kalimat saat pelajaran, tak jarang kalimat yang dicontohkan itu aneh bin ajaib. Kadang vulgar juga. Wkwk. Tapi karena beliau juga saya jadi paham tentang kalimat majemuk, dan materi-materi lainnya. Beliau juga menunjuk saya sebagai perwakilan sekolah untuk ikut lomba cerdas cermat. Kebetulan saat itu beliau wali kelas saya. Tak lama setelah saya lulus SMP, Pak Tri ternyata diangkat menjadi kepala sekolah di SMP lain. Tak heran sih, beliau emang keren.
Terima kasih Pak Tri dan Pak Hanan. Sekarang saya cinta bahasa Indonesia.
Nah, di SMA saya juga bertemu seorang guru yang berkesan, kali ini guru matematika. Beliau adalah Pak Kus yang mengajar saya matematika di kelas XI dan XII. Pak Kus sangat sabar menghadapi murid-muridnya, jadi kalau beliau marah, ya itu memang karena muridnya sudah keluar batas.
Suatu hari di tengah pelajaran matematika saya pernah bermalas-malasan. Saya melipat tangan di meja, kemudian menyandarkan kepala di atasnya dan memejamkan mata. Tidak, saya tidak tidur, saya cuma sedang tidak mood. Sangat tidak mood saat itu. Kebetulan Pak Kus sedang menyuruh satu per satu muridnya untuk maju dan mengerjakan soal di papan tulis. Saya tahu, tapi saya cuek saja. Jangan dicontoh, yak! Wkwk.
Tapi yang luar biasa adalah Pak Kus tidak marah! Beliau tidak memarahi saya karena pura-pura tidur di kelas. Ketika harusnya giliran saya yang maju, justru beliau bilang, “dia ngga usah maju, ngantuk dia, abis begadang kali” gitu dengan nada santai. Hyahaha. Saat itu saya merasa dipahami, dimengerti, sebagai manusia yang punya mood acakadut. Hehe. Terima kasih Pak Kus!
Setelah lulus SMA, saya kembali dipertemukan dengan seorang dosen yang juga bernama Pak Kus! Wow, saya berjodoh dengan guru bernama Pak Kus. Dosen saya ini karakternya juga sama dengan Pak Kus guru matematika, penyabar, pintar, baik, dan kebapakan. Duh, pokoknya semua mahasiswa langsung terpikat dengan kebaikan hati Pak Kus. Beliau adalah dosen pembimbing saya sejak semester I sampai lulus.
Pak Kus bukan tipe dosen yang sulit ditemui. Setiap kali mengajar dan bertabrakan dengan waktu salat (azan), beliau selalu mengistirahatkan kelas beberapa menit sebelum azan dan memberi waktu untuk salat baru kemudian masuk kelas lagi. Beliau juga nyaris tak pernah telat masuk kelas.
Di kelas yang beliau ampu, dibuat peraturan bahwa mahasiswa yang telat masuk kelas harus membayar denda. Jika beliau sendiri yang telat, maka beliau juga denda. Dan mahasiswa yang datang sebelum beliau masuk kelas terhitung tidak telat. Alhasil, jarang sekali mahasiswa telat saat kelas beliau. Saya rasa bukan karena takut denda, tapi lebih karena kami menghargai dosen yang tepat waktu dengan cara datang tepat waktu juga.
Pak Kus memberikan penutup yang manis ketika acara wisuda. Di depan para wisudawan lainnya, beliau meminta kami, para mahasiswa bimbingannya, untuk maju ke depan dan menerima buket bunga dari beliau. So sweet banget, kaaann? Hiks. Terima kasih banyak Pak Kus! We love you!
Eh, kenapa semua guru yang saya ceritakan di sini bapak-bapak, ya? Bukan berarti ngga ada ibu guru yang berkesan, lho. Hanya saja, saat menuliskan ini, beliau-beliaulah yang saya ingat. Tentu saja, semua guru-guru telah memberikan banyak ilmu dengan berlapis kesabaran.
Semoga Allah melipatgandakan pahala ibu dan bapak guru. Semoga Allah selalu menjaga ibu dan bapak guru di mana pun berada. Aamiin.
Selamat Hari Pendidikan Nasional!
#30DWC #30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid23 #Squad7 #Day9
#Hardiknas
Share: