15 August 2023

Resensi Novel Perkumpulan Anak Luar Nikah

Novel perkumpulan anak luar nikah

Bukan, ini bukan novel tentang anak-anak yang lahir dari hasil married by accident. Sama sekali bukan.


Iya, saya awalnya juga berpikir begitu. Hyahaha. Tapi ternyata malah jauh lebih menarik dari istilah itu sendiri. Ok, let's talk about this book.


Martha, seorang ibu rumah tangga keturunan China-Indonesia (Cindo) yang tinggal di Singapura, terancam dipenjara karena memalsukan dokumen. Dokumen itu adalah akta kelahiran, dan dia gunakan untuk mendaftar beasiswa di sebuah kampus ternama di Singapura. 


Namun, pemalsuan itu baru diketahui khalayak ramai setelah bertahun-tahun Martha lulus kuliah. Siapakah gerangan yang membocorkannya? Well, dalam perjalanan novel ini, pertanyaan itu tidak lagi penting. Pertanyaan "why" lah yang menjadi inti cerita novel ini.


Martha melakukan pemalsuan itu karena ia ingin di aktanya tertulis nama mama dan papanya, alih-alih "anak di luar nikah". Kenapa? Karena memang secara de facto ia bukan anak di luar nikah, tapi secara de jure, yes, she is. 


Perkara birokrasi menjadi momok tersendiri bagi seorang Martha karena ia Cindo, dan bukan orang kaya. Jika sebagai WNI saja kita sering dibuat kesal dengan aturan dan tradisi di birokrasi, maka bagi orang-orang Chindo hal itu berkali lipat lebih menyebalkan. Martha pun mengambil jalan pintas dengan mengubah sendiri akte kelahirannya. Buntutnya, Martha kini harus menghadapi pengadilan di Singapura yang terkenal strict.


Novel ini adalah paket komplit, ada cerita tentang keluarga, ada romance tanpa drama lebay, ada unsur politik, sejarah China di Indonesia, kisah tragedi Mei 98, ada tradisi dan budaya, juga tentang mengejar cita-cita. Selama membaca PALN dari awal sampai akhir, saya terus membatin, "berapa lama riset yang dilakukan penulisnya, ya?". Karena novel ini memang tipe yang perlu riset detil, mengenai kehidupan di Singapura, sistem peradilan di sana, dan kehidupan kampusnya. 


Tidak hanya Singapura, banyak juga latar tempat dan budaya di Indonesia yang membuat novel ini terasa begitu nyata. Karena membahas suku, agama, ras, dan sejarah, tentu tidak bisa asal bicara. Ada mitos-mitos seputar Cindo, ada asumsi-asumsi yang sudah mengakar di masyarakat, terklarifikasi dalam novel ini. 


Setelah membaca PALN saya harus mengingatkan diri saya bahwa ini adalah novel, cerita fiksi, bukan buku sejarah yang seluruhnya fakta. Walaupun tentu saja, ada bagian-bagian yang memang based on true story, alias nyata. Selain itu, dengan cerita dan latar yang kental dengan suku dan ras, tentunya novel ini juga menyinggung tentang nasionalisme. 


Ya, mungkin kita yang bukan Chindo tidak pernah ditanya tentang seberapa besar kecintaan kita terhadap bangsa ini. Seolah dengan lahir dan besar di sini, memiliki ciri fisik yang sama dengan kebanyakan orang, berarti kita cinta negeri ini. Dan sebaliknya. Akan tetapi, apakah benar demikian? Jika posisinya dibalik, akankah kita masih bertahan dengan negara ini? Sebagaimana Martha yang bertahan dengan status WNI bahkan ketika tinggal bertahun-tahun di luar negeri? Ah, cocok sekali dibaca di bulan Agustus, ya, kan?


Posisi Martha sebagai ibu rumah tangga juga menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Ketika banyak novel-novel bercerita tentang wanita muda berkarier di kantor elite, novel ini mengambil posisi ibu rumah tangga. Padahal Martha punya prestasi cemerlang di kampus. Juga pernah bekerja di perusahaan besar. Namun, ia memilih menjadi ibu rumah tangga berdaster yang mengurus anak-anaknya. Kok, saya terharu, ya. :')


Anyway, karya Grace Tioso ini sangat recommended. Membaca novel ini seperti sedang menikmati cemilan kesukaan yang ingin terus kita makan, tapi tidak ingin segera habis. wkwk. Bukan novel ringan, tapi juga tidak berat. Berisi, sarat informasi, bukan sekadar asumsi. Pun demikian, novel ini tetap bisa menghibur. 



Share:

11 August 2023

Resensi Novel Sesuk (Tere Liye)


Another book from Tere Liye. 

Beberapa bulan lalu saya melihat buku ini di Gramedia. Saya iseng mengintip isinya. Cicip beberapa halaman saja, saya pikir. Dan terjadi lagi. Lagi-lagi saya jadi penasaran dengan keseluruhan cerita. Kenapa? Karena adegan pembuka di bab awal yang sangat menarik bagi saya.


Begini kurang lebih:

Sebuah keluarga (ayah, ibu, dan tiga orang anak) memutuskan pindah rumah dari perkotaan ke desa yang jauh. Penyebab pindahan ini adalah si anak bungsu (berusia 2 tahun) yang nyari tewas karena jatuh dari beranda lantai dua. Kok bisa? Bisa, lha, wong ibunya asik main hape, anak yang lagi aktif-aktifnya itu memanjat pagar beranda dan jatuh.


Beruntung si anak tidak tewas, pun tidak terluka apa-apa. Namun, si ibu tetap trauma dengan kejadian itu. Mereka sekeluarga pun pindah rumah, dan juga mengubah gaya hidup mereka cukup drastis. Menjadi sosok keluarga yang hangat, rukun, dengan orang tua yang full attention untuk anak-anak mereka. 


Sayangnya, tak lama mereka pindah, di desa tersebut mulai terjadi hal-hal aneh. Isu-isu berembus. Mulai dari celetukan, menjadi obrolan. Warga pun mulai meyakini bahwa kejadian meresahkan tadi disebabkan kedatangan keluarga itu.


Saya tidak akan menceritakan lebih jauh, bisa spoiler. Hehe.

Dari cover novel ini, kita pasti langsung bisa menilai bahwa ini cerita horor. Hah? Tere Liye bikin cerita horor? Seriusan nih? Dan sebagaimana banyak cerita horor, novel ini pun diawali dengan kisah sebuah keluarga yang pindah ke rumah baru. Seperti cerita film-film horor luar negeri gitu kan. Kenapa, ya? Mungkin karena pindah ke suatu tempat baru yang belum dikenal memang menimbulkan rasa ketakutan tersendiri. 


Membaca adegan pembuka yang cukup mengejutkan, saya pun berharap banyak dari novel ini. Namun, entahlah, saya bosan sekali di beberapa bab setelahnya. Ceritanya sangat slow pace. Bahkan saya hampir menyerah di tengah karena sejumlah adegan yang berulang-ulang. Hanya saja saya masih penasaran, apa yang akan disampaikan Tere Liye lewat buku ini, dan itu pasti disimpan di akhir. Jadi saya lanjut membaca.


Novel diceritakan dari sudut pandang seorang anak perempuan yang duduk di kelas 6 SD, dan dalam format diary. Ini agak membuat saya bertanya-tanya, apakah seorang anak SD dengan background keluarga kaya yang kurang perhatian ortu itu bisa menulis sedetil itu? Berpikir seperti itu? Seberani itu? Entahlah.


Well, ringkas kata, saya kurang terhibur, kurang puas, dengan novel ini. Akan tetapi, memang Tere Liye ini selalu menyisipkan pesan yang dalam. Jadi walaupun penyampaian mungkin kurang smooth, tapi pesannya tetap sampai, dan saya tetap merasa tertampar. Wkwk. 


Informasi buku:

Judul: Sesuk

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Sabakgrip

Tebal: 329 halaman

Tahun Terbit: 2022


Share:

22 July 2023

Review Novel Penaka (Altami N.D.)


Novel drama sehari-hari yang dipadu dengan fantasi.

Di novel ini, kita bisa menjadi apa saja yang tidak kita inginkan. Literally.

Merasa berutang pada diri sendiri karena belum menulis review novel ini. Padahal udah baca sejak beberapa bulan lalu. Jadi, Penaka ini tentang apa? Singkatnya, Penaka adalah novel tentang rumah tangga muda (Sofia dan Laksana) dan seorang anak perempuan berusia satu tahun. 


Konflik bermula ketika Laksana kebanyakan maen HP. Pulang kerja HP-an, mau tidur HP-an, mandi pun HP-an. Kalau bisa mungkin tuh HP udah ditempelin ke mukanya sekalian. Eh, kok jadi esmosi gini saya nulisnya. Wkwk.


Anyway, Sofia kesal, dan kekesalan itu merembet ke mana-mana. Muncul perasaan rendah diri karena “cuma” ibu rumah tangga, lelah mengurus anak yang lagi aktif-aktifnya, dst, dsb. Lalu, Sofia minta cerai, dan berniat untuk melanjutkan sekolah (dan bekerja). 


Akan tetapi, tepat setelah minta cerai, terjadilah sesuatu yang luar biasa: Sofia berubah menjadi botol minum! Tepatnya botol minum yang bisa melihat dan memiliki perasaan. Eh? Kok bisa? Apakah ini kutukan? Atau azab istri durhaka? Wkwk. Setelah menjadi botol minum, Sofia juga berubah menjadi bentuk lain yang tidak ia pikirkan sebelumnya. Lalu, bagaimana cara dia kembali normal sebagai Sofia? Silakan baca sendiri yak!


Penaka ini unik, mulai dari judulnya, covernya (iya, saya suka covernya), dan ceritanya. Konfliknya sangat realistis dan dekat dengan kehidupan rumah tangga sekarang ini. Hanya saja saya pribadi kurang sreg dengan cara tokoh-tokohnya dalam menemukan solusi karena ada unsur fantasinya. Sesuatu yang tidak bisa dialami oleh pembaca. Bukan berarti saya ingin mengalaminya juga siy. Hahahaha.


Nah, lewat sisi fantasi itulah banyak pesan-pesan baik yang disampaikan oleh penulis. Sehingga pembaca yang relate (dan saya yakin banyak yang relate), bisa mengambil pesan bahkan mungkin solusi tanpa harus menjalani serangkaian kejutan yang dialami Sofia.


Overall saya menikmati membaca Penaka. Alurnya tidak bertele-tele, tapi tetap bisa memainkan emosi pembaca. Ada senang, sedih, deg-degan, dan haru. Jumlah halamannya pun tidak tebal, bisa dibaca sambil santai atau jadi teman di perjalanan.


Btw, novel ini mengingatkan saya dengan film Jumanji. :)

Share:

16 June 2023

Cara Mudah Mengajari Anak Minum Pakai Sedotan


Setelah drama sembelit yang on off terus selama berbulan-bulan, saya memutuskan kalau bayi ini harus diajari minum dengan sedotan. Kenapa? Karena kalau sudah bisa minum dengan sedotan, harapannya akan lebih mudah dan banyak minum air putihnya. Efeknya, BAB bisa lebih lunak dan lancar.


Sebagaimana emak-emak milenial pada umumnya, saya pun mencari di dunia maya cara mengajarkan anak minum pakai sedotan. Saya menemukan rekomendasi video di YouTube, mengajari minum dengan sedotan. Caranya, pertama suapi dulu anak minum menggunakan sedotan. Tahan air di dalam sedotan, lalu sodorkan ke mulut anak. Ketika anak tahu bahwa di sedotan itu ada airnya, dia akan coba menyedot. Ini yang dicontohkan di video YouTube tersebut.


Saya coba pada anak saya menggunakan beberapa jenis sedotan. Sedotan plastik biasa, sedotan aqua gelas, sedotan botol minum bayi. Hasilnya, setelah beberapa kali, masih tidak berhasil. Hahaha. Maka saya coba berkreasi. Caranya menggunakan aqua gelas yang masih utuh, dan sedotannya. Pertama, tusukkan sedotan ke aqua gelas, seperti biasa, lalu sodorkan sedotannya pada anak. Kemudian, pelan-pelan saya tekan itu gelas aqua, air pun mengalir ke mulut si anak kan? Dia agak kaget gitu awalnya. Keselek sedikit. Lalu coba lagi, dan hanya sebentar saja langsung berhasil pemirsa! Dia akhirnya mau nyedot itu sedotan. Muahahaha.. Alhamdulillah.


Menurut saya cara ini sangat mudah dan tingkat keberhasilan tinggi. Karena sedotan aqua itu kan kecil ya, jadi airnya lebih mudah untuk naik. Apalagi kalau gelasnya masih penuh. Namun, tetap hati-hati, ya, karena sedotannya berbahan plastik yang agak keras, jangan sampai masuk terlalu dalam, khawatir melukai gusi atau langit-langit mulut anak.


Setelah lancar minum dengan sedotan aqua, tak lantas anak saya lancar minum dengan model sedotan lain. Ketika sedotannya diganti, awalnya tidak mau, tapi lama-lama dia mau dan bisa juga. Alhamdulillah. Dan benar saja, ketika dia senang minum dengan sedotan, minum air putihnya jadi lebih banyak. BAB pun relatif lebih lancar, walaupun tidak melulu. Masih ada drama per-BAB-an kadang-kadang. 


Semoga sharing ini bermanfaat bagi yang sedang mengalami hal serupa ya. Terima kasih sudah membaca. :)


Share:

05 September 2022

Kebahagiaan di Awal Bulan: Bayi Bisa BAB dengan Lancaarr

Bayi

Alhamdulillah. Selain gajian dan segudang nikmat dari Allah di awal bulan ini, ada sebuah kebahagiaan yang saya rasakan hari ini: si bayi hari ini sudah pup. Alhamdulillah..

Ah, perkara pup aja, kok, happy banget? Mungkin sebagian ada yang merasa demikian, dan itu sah-sah saja. Perkara buang air ini memang kelihatannya sepele, kecil, remeh. Namun, ketika Anda atau keluarga ada yang mengalami susah buang air, baik itu besar maupun kecil, niscaya kehidupan mendadak terasa lebih berat.

Nah, qaddarullah, anak kedua saya yang saat ini berusia 18 minggu, memiliki keunikan dalam hal pup alias BAB. Sejak usia tiga mingguan, frekuensi pupnya memang berkurang, tidak setiap hari. Kadang dua hari sekali, kadang tiga hari sekali, empat hari, dan semakin berkurang. Di usia tiga bulan, rekor paling lama pupnya adalah dua minggu. Ya, dia pup dua minggu sekali. 

Ketika saya tanyakan pada dokter anak secara online, jawabannya masih bisa wajar karena si bayi ASI eksklusif dan ASI tersebut diserap sempurna oleh tubuh. Dengan catatan tidak ada muntah berulang, pertambahan berat badan bagus, anak tidak rewel, tidak kembung, dan kentutnya lancar. 

Walaupun demikian, saya masih agak khawatir. Akhirnya saya berikan Liprolac baby untuk membantu pencernaannya. Ini juga dengan resep dokter. Akan tetapi saya tidak rutin meminumkannya, hanya ketika sudah seminggu tidak pup, baru saya kasihkan. Hasilnya, frekuensi pup masih sama. Wkwk.

Kemudian puncaknya adalah minggu lalu. Si bayi sudah 18 hari tidak pup! Saya putuskan konsul langsung ke dokter anak di Hermina Ciputat. Setelah diperiksa langsung, jawaban dokternya kurang lebih sama dengan dokter yang saya konsul online. Namun, menurut dokter, memang sudah ada fesesnya tapi belum keluar. Ini bisa diketahui dari meraba (memijit/menekan) perut bayi. Tentu hanya dokter yang bisa menilai ini, ya.

Dokter pun memberikan Microlax supaya feses yang sudah ada bisa dikeluarkan dengan lancar. Sayangnyaa, bahkan setelah dikasih Microlax pun si bayi masih tidak pup. Duh, duh, makin galau lah mamak. Untungnya si bayi sendiri tidak rewel, jadi saya bisa agak tenang dan tetap berusaha. Saya rutinkan pijat ILU setiap habis mandi, lalu kakinya digerakkan seperti mengayuh sepeda. Kemudian saya sounding juga ke bayi supaya segera pup, tentu diiringi juga dengan doa dan memohon kepada Allah agar dimudahkan semuanya.

Alhamdulillah, hari Jumat lalu, si baby pup. Ffiuuhh, mamak lumayan legaaa, tapi masih agak mengganjal karena kuantitas pupnya tidak sebanyak biasanya. Doa dan usaha pun dilanjutkan. Pijat ILU, gowes, dan minum Liprolac diusahakan rutin setiap hari. Dan hari ini, Senin, dia pup lagi dengan lancaar, banyak, tanpa ngeden yang berarti. Alhamdulillah.

Saya lega sekarang. Untuk kedepannya insyaallah akan rutinkan usaha-usaha yang tadi itu, plus doa, supaya frekuensi pupnya bisa lebih teratur dan ga kelamaan. Hehe. Fyi, Liprolac tuh semacam Yakult untuk bayi. Kandungannya adalah bakteri baik yang membantu pencernaan. Harganya juga lumayan mahal, sebotol kecil saja kisaran Rp190.000-Rp200.000. Dan setelah dibuka hanya bisa bertahan 28 hari. hiks.

Ini bukan pertama kalinya saya berurusan dengan frekuensi pup bayi. Anak pertama saya dulu juga mengalami hal yang kurang lebih sama. Bahkan berlanjut menjadi konstipasi setelah mulai MPASI. Karena itulah, untuk anak kedua saya ingin masalah pup ini diselesaikan sebelum mulai MPASI agar tidak sama dengan anak pertama. 

Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan lahir batin, ya. Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat.

#TaTiTaTu #RBMIPJakarta


Share:

18 August 2022

Pengalaman Kuret Setelah Melahirkan

Sumber: Freepik

Ini sekelumit cerita dari perjalanan kehamilan dan kelahiran anak kedua saya. Selama kehamilan kedua ini, tekanan darah saya memang agak naik. Kadang kala 120-an, pernah 130-an, bahkan 140 (kalau tidak salah ingat).

Di trimester satu, saya ikut tes Placental Growth Factor (PIGF) gratis yang diadakan dokter Adit di RSAB Harkit, dan hasilnya saya risiko tinggi preeklampsia (PE). Preeklampsia adalah keadaan tekanan darah tinggi pada ibu hamil. Kalau dibiarkan, hal ini bisa berisiko terjadi eklampsia atau kejang yang tentu saja sangat berbahaya bagi ibu dan janin.

Sejak akhir trimester satu, saya mulai mengonsumsi obat yang diresepkan dokter Adit. Ini adalah ikhtiar pencegahan PE. Alhamdulillah setelah minum obat itu, pusing yang kerap saya rasakan sejak hamil berkurang bahkan hilang. 

Di minggu 35 saya berhenti mengonsumsi obat yang diresepkan dokter Adit karena memang batasnya di minggu tersebut. Ketika usia 38 minggu dan belum ada tanda persalinan, dokter kandungan saya (dokter Mariza) mengatakan bahwa kondisi plasenta sudah mulai kurang bagus. 

Tepat di minggu 39, dokter Mariza melakukan pengecekan dalam sekaligus membrane sweep. Membran sweep ini bisa memicu persalinan juga, jadi semacam induksi alami. Benar saja, pagi tanggal 12 April membrane sweep, dan siang itu saya ngeflek cukup banyak. Sampai malam hari masih ngeflek lebih banyak, tetapi tidak ada mules.

Malam itu juga saya ke RS, dan setelah dicek kontraksinya baru ada sedikit-sedikit dan sudah mulai teratur, tetapi belum ada pembukaan. Saya pun memilih pulang dulu, toh, jarak rumah-RS tidak jauh. Tepat setelah subuh, tanggal 13 April, rasa mulas itu mulai melanda. Awalnya saya kira hanya sakit perut karena ingin BAB, tetapi lama-lama, kok, semakin menjadi. 

Pukul setengah sembilan pagi saya tiba di RS, ketika dicek sudah pembukaan enam. Kira-kira dua jam kemudian, bukaan sudah lengkap. Beberapa kali mengejan, lahirlah bayi laki-laki kedua kami. Alhamdulillaah. 

Akan tetapi, setelah bayi lahir, si plasenta ternyata tidak langsung menyusul. Ditunggu beberapa menit pun masih tidak keluar, setelah diberi obat agar kontraksi tetap masih belum keluar juga si plasenta. Dokter Mariza pun turun tangan–quiet literally–dengan mengeruk itu plasenta yang masih bercokol di rahim. Rupanya si plasenta agak lengket dengan rahim. 

Kata dokter Mariza, ini kemungkinan karena kondisi plasenta yang sudah tidak bagus. Untungnya, sejak akhir trimester satu saya sudah diresepkan obat untuk mencegah PE, sehingga kejadiannya tidak lebih parah.

Satu minggu berselang, saya kembali ke dokter untuk kontrol pascabersalin, ternyata masih ada sisa plasenta yang tertinggal! Dokter menyarankan kuret segera. Nah, sebenarnya kuret ini bisa dilakukan di ruang praktik langsung, tanpa bius. Prosesnya cepat, hanya sekitar 10 menit. Namuuun, tentu saja saya tidak berani. Wkwk. Jadi, saya memilih kuret dengan dibius total dan itu termasuk tindakan operasi. Artinya, harus cek darah dulu, PCR dulu, dan ke dokter anestesi dulu. Selain itu, saya juga harus stok ASIP.

Hari-hari sebelum kuret itu sejujurnya saya deg-degan, karena belum tahu kuret itu bagaimana, efek setelahnya apa. Saya bahkan sempat konsul dengan dokter obgin di Halodoc untuk bertanya lebih jauh. Dan sepertinya kuret memang pilihan terbaik. Karena jika dibiarkan terlalu lama, khawatir sisa plasenta ini bisa menginfeksi rahim.

Saya dijadwalkan kuret jam setengah delapan pagi, dan harus sudah masuk ke ruang observasi jam tiga pagi. Saya berusaha menenangkan diri dan terlihat santai. Saya sudah browsing juga, katanya kuret ini setelahnya tidak sakit. Oiya, pada kasus saya tidak ada obat yang diberikan pervaginam sebelum kuret, karena mulut rahimnya belum menutup rapat, jadi tidak perlu obat. Saya hanya perlu puasa selama delapan jam.

Kira-kira pukul 8, saya masuk ke ruang operasi. Dokter Mariza, dokter anestesi, dan dua orang perawat sudah stand by. Obat bius dimasukkan via infus, dan hanya hitungan detik, saya tidak sadarkan diri. Setengah jam kemudian saya dibangunkan dan sudah kembali di ruang observasi. Hal yang dirasakan pertama adalah pusing, pusing keleyengan karena efek obat anestesi. Tetapi benar, tidak terasa sakit di area rahim, leher rahim, dan sekitarnya. Hanya saya bekas darah sudah bocor sampai ke baju (baju operasi tentunya).

Saya di ruang observasi selama kurang lebih 4-5 jam. Perawat memberikan hasil USG sebelum dan setelah kuret. Sempat makan siang dulu juga walaupun masih pusing dan mual. Siang itu juga saya langsung boleh pulang. Alhamdulillah. 

Hhh.. Kalau mengingat masa itu, masih terbayang kelelahan yang dirasakan. Lelah karena baru melahirkan, lalu merawat newborn, merasakan badan yang masih nyeri sana sini, kurang tidur, pegal, ditambah lagi kuret. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Sekarang, pengalaman itu menjadi pelajaran untuk lebih menjaga kesehatan. Fisik yang sehat sangat penting dalam menjalani kehamilan dan persalinan dengan lancar, lebih siap, dan bahagia. Bagi para ibu yang sedang hamil semoga Allah berikan selalu kesehatan dan kelancaran sampai melahirkan nanti.

Itulah secuil pengalaman saya. Bagaimana dengan Anda?


Share:

17 August 2022

Resensi Novel Janji (Tere Liye)

Janji Tere Liye


Novel Janji karya Tere Liye ini baru terbit di tahun 2021, tapi di Maret 2022 sudah masuk cetakan kelima. Wow. Tidak mengeherankan sebenarnya kalau melihat nama penulisnya. Hehe. 

Bagi pembaca setia tentu sepakat seratus persen bahwa novel Janji ini desainnya mirip dengan Tentang Kamu. Yaitu tentang pencarian seseorang. Kita diajak menyusuri lorong-lorong gelap kehidupan si tokoh utama untuk kemudian mengambil segudang hikmah.

Jika di Tentang Kamu ada sosok Zaman sang pengacara yang menjadi pemantik cerita, di Janji kita akan dipandu oleh tiga remaja usil: Baso, Kahar, dan Hasan. Mereka bertiga ditugaskan oleh kepala pondok (pesantren) untuk mencari sosok “misterius” bernama Bahar. 

Seperti biasa, novel Tere Liye yang satu ini juga membuat saya penasaran untuk terus membaca. Ingin cepat-cepat mengetahui kelanjutan perjalanan hidup Bahar. Ada sejumlah action atau laga dalam novel ini yang membuatnya kurang pas dibaca oleh anak-anak, tetapi menjadi bumbu menarik bagi orang dewasa.

Tenang saja, walaupun mirip, Janji menawarkan keunikan tersendiri, berbeda dengan kehidupan Sri Ningsih. Banyak pesan moral yang ingin disampaikan penulis dalam novel ini, salah satunya tentang ilmu. 

“Ilmu itu gratis” adalah salah satu ucapan Bahar. Ini juga yang pernah dikatakan suami saya, dan kami berbeda pendapat kala itu. Menurut saya, ilmu itu mahal, tidak gratis, tidak cuma-cuma. Ternyata, kami hanya berbeda sudut pandang. “Ilmu itu gratis” adalah sudut pandang “guru” atau pengajar, supaya senantiasa ikhlas dalam berbagi ilmu.

Sedangkan “ilmu itu mahal” adalah sudut pandang yang harusnya digunakan oleh penuntut ilmu agar rela berkorban demi mencari ilmu yang bermanfaat. 

Hal lain yang berkesan bagi saya dari novel ini adalah sejumlah kemiripan antara Bahar dan tokoh utama anime “Gintama”. Iya, kita agak berbelok ke anime, ya, karena ini mirip banget menurut saya.

Dalam Gintama, tokoh utamanya adalah Gintoki. Kemiripannya dengan Bahar yaitu sama-sama pemabuk tapi bukan perokok, sama-sama suka berjudi, dan terlihat cuek pada sekitarnya. Keduanya juga jago berkelahi, bekerja serabutan, suka menolong orang yang lemah, dan sama-sama punya “murid” atau bawahan. Gintoki adalah karakter yang menarik karena sikapnya tidak tertebak, dan itu juga kesan yang saya dapat pada Bahar. 

Overall, novel ini bagus dibaca siapa saja yang sudah cukup dewasa. Yang membuat saya agak greget tuh, saya justru mau tahu lebih banyak tentang Baso, Kahar, dan Hasan. Wkwk. 

Sekadar informasi tambahan, novel Janji ini bukan diterbitkan oleh Gramedia sebagaimana novel-novel Tere Liye sebelumnya. Akan tetapi, novel ini dicetak oleh percetakan Gramedia. Jadi, nggak heran kalau kualitas fisiknya tetap bagus. Walaupun saya pribadi kurang suka desain sampulnya. 

Informasi Buku:

  • Judul: Janji
  • Penulis: Tere Liye
  • Tahun terbit: 2021
  • Penerbit: Sabakgrip
  • Harga: Rp89000
  • Tebal: 486 halaman
  • Rekomendasi usia: 15 tahun+

 


Share: