Well, sebelum membahas sisi bagusnya acara ini, saya disclaimer dulu. Bagi yang tidak biasa nonton stand up comedy, dan tidak terbiasa mendengar kata-kata kasar, Mens Rea ini penuh dengan kata-kata kasar. Tidak hanya kata-kata, bahkan sikap yang sangat mungkin dinilai tidak sopan. So, jangan kaget. Saya sendiri kaget sih. Haha.
Namun, di balik semua itu, setidaknya ada dua hal yang membekas bagi saya dari acara komedi berdurasi dua jam lebih ini. Pertama, pemilu itu penting, dan kita harus pintar. “Banyak orang merasa dirinya pintar dan melek politik, padahal goblok!” Kurang lebih itu yang diucapkan Pandji setelah tektokan dengan salah satu penonton yang merasa melek politik, tapi tidak ingat siapa caleg yang dipilihnya.
Saya salah satu yang ikut tertampar dengan jokes bagian ini. Pasalnya, saya pun tidak ingat siapa saja nama-nama yang saya coblos--kecuali capres cawapres. Boro-boro meriset bibit bebet bobot mereka. Ah, bodohnya. Padahal orang-orang itu yang akan duduk di DPR, digaji dari pajak, dan punya kekuasaan. Jadi, kalau sekarang kita merasa para anggota dewan itu tidak kompeten, jahat, dll., yaa itu karena kita-kita juga yang asal-asal pilih. Oke, itu pertama.
Kedua, hal yang berkesan bagi saya adalah ketika Pandji bertanya pada penonton, “Apa masalah yang eksklusif bagi masyarakat kelas menengah? Kelas atas tidak punya masalah ini, kelas bawah juga tidak.” Saya langsung bisa menebak dengan tepat. Rumah. Tepatnya beli rumah. Karena ini emang masalah yang saya rasakan.
Saya setuju bahwa kelas bawah tidak punya masalah ini. Mengapa? Karena--berdasarkan pengalaman saya menjadi masyarakat kelas bawah--untuk makan sehari-hari pun kurang, apa lagi mikirin beli rumah. Atau, zaman sekarang justru bisa membeli rumah karena ada subsidi dari pemerintah. Terakhir saya dengar subsidi semacam ini khusus untuk yang gaji per bulannya tujuh juta atau kurang.
Ok, sepertinya segitu saja tulisan tentang Mens Rea. Kalau menurutmu bagaimana? :)






