03 December 2020

Asik-asik Menikmati Konflik


Tulisan ini dibuat spesial untuk memenuhi tugas di WAG Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) cabang Fiksi. Karena tanpa tugas tersebut, saya ga mungkin pede nulis tentang unsur-unsur cerita fiksi. Dan tema kali ini adalah “Konflik”.

Ibarat makanan, konflik dalam cerita adalah inti, makanan utama, lauk utama. Tanpa adanya konflik, cerita terasa tak bermakna. Eaaa… Dalam sebuah cerita bisa jadi ada satu konflik atau lebih. Konflik bisa muncul di awal, tengah, bahkan akhir cerita.

Dari beberapa sumber yang saya temui, salah satunya di kelas menulis cerpen Gol A Gong, konflik adalah ketika si tokoh dalam cerita bertemu batu sandungan dalam meraih tujuannya. Konflik ini terlihat jelas dalam premis sebuah cerita dengan rumus: tokoh utama+menginginkan sesuatu+hambatan=konflik.

Ada yang membagi konflik menjadi dua, yaitu konflik internal dan eksternal. Konflik internal adalah masalah yang terjadi dalam diri si tokoh sendiri, misal si tokoh melawan keraguan atau ketakutan dalam dirinya sendiri. 

Atau ada pula yang mendefinisikan konflik internal sebagai konflik yang tidak melibatkan fisik, tapi lebih ke psikologis antartokoh. Misal adegan seorang guru menasihati muridnya yang ngeyel. 

Tipe kedua adalah konflik eksternal. Konflik eksternal berarti konflik antara tokoh utama dengan tokoh lainnya, atau dengan sesuatu di luar dirinya. Pengertian lain dari konflik ini yaitu konflik yang melibatkan fisik. Contohnya adegan pengeroyokan maling, dsb.

Konflik bisa muncul dari mana saja dan berupa apa saja. Tidak mesti sesuatu yang wow, cetar membahana. Konflik bisa saja sesuatu yang sebenarnya sederhana, tapi dikemas dengan apik.

Contohnya di salah satu episode Gintama (anime), ada yang ceritanya si tokoh utama (anak perempuan) diam-diam ingin sebuah payung cantik. Ketika ada yang membelikannya payung cantik, ia sangat senang. Tapi tiba-tiba ia melihat dua orang anak kecil miskin yang tidak punya payung di tengah hujan. Setelah terjadi pergolakan batin, dan si tokoh utama akhirnya memberikan payung yang sangat ia sukai itu.

Dialog dalam episode tersebut bahkan sangat minim, konflik sederhana, tapi cerita dibawakan dengan natural dan penonton senang. Hehe.

Tentu saja, ada banyak contoh film, novel, atau cerpen yang mengangkat konflik besar dan disampaikan dengan baik juga. 

Jadi, apa konflik utama dalam hidupmu karyamu?

Sumber bacaan:

https://www.kompasiana.com/elfat67/5c2e7f83ab12ae695f551a02/menciptakan-konflik-dalam-karya-fiksi?page=1

https://www.wattpad.com/264454966-dapur-kepenulisan-alur-plot-konflik


28 October 2020

Pengalaman Covid-19 di Keluarga

 

Gambar: Pixabay


Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush shalihat.. Per tanggal 12 Oktober lalu, suami saya sudah diperbolehkan keluar RS setelah dirawat selama delapan hari. Dan di tanggal 17 Oktober, isolasi mandiri anak saya juga sudah resmi selesai.

Nah, di tulisan kali ini saya akan cerita ngalor-ngidul tentang mampirnya si covid di keluarga saya. Ini lumayan panjang karena mostly curhat. Hahaha.

Semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa teman-teman semua ambil dari pengalaman saya ini. :)

Awalnya itu tanggal 24 September 2020, suami mulai batuk kering dengan frekuensi jarang. Esoknya mulai mengeluh sakit tenggorokan. Dari sini saya sudah curiga covid dan langsung meminta suami memakai masker, saya juga. 

Hari Sabtunya, kecurigaan makin besar karena suami demam, dan hari Minggu memutuskan untuk rapid test. Hasilnya non reaktif, dan diberikan obat oleh dokter. Saya sendiri sangsi dengan hasil rapid test, sudah banyak kasus rapid test ini false negative kan. 

Mertua saya pun yang sudah lebih dulu covid, ya, begitu, rapid test beberapa kali hasilnya negatif padahal gejala sudah muncul.

Hari Minggu malam, anak saya yang berusia tiga tahunan juga demam. Dia demam semalaman dan tidurnya rewel, biasalah anak-anak kalau demam. Alhamdulillah pagi harinya demamnya sudah hilang dan anaknya aktif seperti biasa, tidak ada batuk dan lain-lain. Nafsu makannya pun normal, jadi saya tidak khawatir lagi. Alhamdulillah.

Tapi di hari Senin itu justru saya sendiri yang demam seharian. Badan terasa pegal-pegal, kepala pusing, lidah rasanya pahit, ga nafsu makan, kaki meraung-raung minta dipijitin, pinginnya leyeh-leyeh seharian. Wkwk. 

Alhamdulillah keluhan itu hanya sehari, besoknya demam saya sudah hilang, makan sudah mulai enak, pegal juga tinggal sedikit. Hanya masih terasa agak pusing. Alhamdulillah juga saya batuk tuh hanya sedikit sekali.

Di sisi lain, suami walaupun demamnya juga sudah turun dan tenggorokan tidak sakit, tapi batuknya belum mereda. Malah semakin menjadi-jadi. Masih lemas juga, dan nafsu makan juga hilang karena lidah masih pahit.

Akhirnya dia ke dokter lain lagi, dan dikasih obat lagi. Tapi ngga ngaruh juga. Batuknya semakin menjadi, dan mulai muncul sesak nafas. Di hari Jumat, 2 Oktober, suami tes swab mandiri. Sehari kemudian keluar hasilnya positif covid. Pihak klinik tempat swab pun langsung menghubungi puskesmas sesuai tempat tinggal.

Jadi klinik ini memang koordinasi dengan puskesmas. Jika ada hasil swab positif maka akan langsung lapor ke puskesmas untuk tindak lanjut. 

Kira-kira sejam setelah dikabari hasilnya, suami langsung ditelepon oleh petugas puskesmas setempat dan diberitahu kalau akan dijemput dengan ambulans hari itu juga. Karena suami ada keluhan batuk dan sesak, petugas puskesmas meminta suami dirawat di RSOB.

Di situ saya lega karena kalau di RS kan akan terpantau setiap hari oleh dokter, dan diberi pengobatan yang sesuai. Walaupun covid ini belum ada obatnya, tapi dokter taulah mana medikasi yang pas, karena diagnosisnya sudah jelas.

Tindak lanjutnya adalah saya dan anak harus tes swab juga. Kami dijadwalkan tes hari Senin, tes swab di RS Embung Fatimah. Waktu dan tempat swab ini ditentukan oleh puskesmas, ga bisa milih sendiri yak. Ini beda-beda siy di provinsi lain.

Mertua saya yang sudah lebih dulu covid, di Jakarta, diarahkan untuk swab sekeluarga di puskesmas setempat. Sedangkan di Batam ini swab untuk tracing dilakukan di RS.

Untuk swab, saya ditawari mau dijemput ambulans atau berangkat sendiri. Tentu saya pilih berangkat sendiri, yak. Biar ga heboh. Lagipula si bocil ditanya mau naik ambulans atau ngga jawabnya ga mau..hahaha..

Berbekal kemampuan nyetir dan parkir yang masih ecek-ecek, saya beranikan diri nyetir ke RSUD Embung Fatimah. Sampai sana, bocil nangis ga mau turun gara-gara saya bilang nanti idungnya dikorek. Hahaha.. Akhirnya bujuk rayu dulu lah ya. 

Di gedung Tun Sundari RSUD Embung Fatimah (tempat khusus swab), saya setorkan dulu fotokopi KTP dan KK, lalu menunggu dipanggil. Banyak juga yang tes, dan rata-rata keluarga (suami istri dan anak-anak). Ketika tiba giliran kami, seperti yang sudah diprediksi, si bocil meraung-raung ga mau diswab. Untunglah swab ini cepat, petugasnya juga telaten sekali jadi tetap bisa walaupun anaknya nangis-nangis.

Ada juga anak balita yang ga nangis lho pas di-swab, anteng-anteng aja gitu kayak nothing happen.

Saya sendiri siy ngerasanya ga sakit, tapi bikin geli-geli nyebelin gimana gitu. Swab pun tergantung petugas juga. Ada yang bisa nge-swab dengan lembut dan minim efek, ada yang bikin perih. Suami saya pertama di-swab itu katanya perih, tapi ketika swab kedua ketiga tidak begitu.

Dua hari kemudian hasil swab keluar. Saya dikabari via WA oleh petugas puskesmas. Hasilnya, saya negatif, sedangkan anak saya positif. Sebagai catatan, walaupun suami sudah dibawa ke RS, saya tetap pakai masker di rumah, termasuk saat tidur. Karena ada kemungkinan semacam ini, hasil swab beda. Dan ternyata benar.

Saya sempat mengira justru swab saya yang positif dan anak yang negatif. Tapi ternyata malah sebaliknya.

Awalnya anak diminta isolasi di RS bersama bapaknya. Tapi dengan berbagai pertimbangan, saya meminta isolasi mandiri untuk anak, dan alhamdulillah diizinkan.

Suami dirawat di RSOB selama delapan hari. Alhamdulillah hasil swab sudah negatif, dan sudah boleh pulang dengan dibekali vitamin. Sementara anak selama 14 hari isolasi mandiri tidak ada gejala, jadi dinyatakan sembuh jg. Alhamdulillah.

Saya pribadi mengajukan isolasi mandiri karena anak tidak ada gejala, aktif, nafsu makan pun baik. Kedua karena di rumah hanya ada saya dan anak, tidak ada orang tua/saudara yang berisiko tertular. Ketiga karena anak masih balita dan belum bisa mandiri. 

Keempat karena saya ansos. Wkwk. Tapi serius sih, kalau saya tipe yang sering dikunjungi tetangga mungkin jadi bahaya untuk isolasi mandiri. Dan selama 14 hari isolasi mandiri ini saya laporan ke petugas puskesmas terkait kondisi kesehatan anak dan saya.

Yang perlu digarisbawahi, untuk isolasi mandiri ini ada kriterianya ya, ga bisa sembarangan. Dan tiap provinsi bisa jadi beda kebijakan terkait ini. Untuk kriteria isolasi mandiri bisa dilihat di gambar berikut:

Sumbernya dari KMK 413, lebih jelasnya bisa dibaca di link berikut:

https://kesmas.kemkes.go.id/perpu/konten/kmk/kmk_no._hk.01.07-menkes-413-2020_ttg_pedoman_pencegahan_dan_pengendalian_covid-19

Sedangkan untuk DKI Jakarta punya kriteria lebih ketat terkait isolasi mandiri:


https://www.instagram.com/p/CGCAo_sArvU/?igshid=s3who8ea0wvm

Saran saya, sekali lagi, banyak berdoa, patuhi protokol kesehatan, dan jangan panik. Bagi Anda yang sehat, ingatlah, Covid ini masih penyakit baru dengan tingkat keparahan yang beragam. Ada yang tanpa gejala, ringan, ada juga yang berat bahkan sampai meninggal. Tak hanya lansia, penderita Covid usia produktif pun banyak yang bergejala berat bahkan meninggal. Jadi jangan anggap sepele. Better safe than sorry.

Sedangkan bagi Anda yang saat ini positif Covid, atau jika ada keluarga yang positif Covid, tetap semangat, jangan putus asa. Menurut data, sebagian besar pasien Covid bisa sembuh. Insyaallah, badai pasti berlalu. :))

Sekian sharing yang panjang dan lama dari saya. Semoga bermanfaat bagi kita semua.


20 October 2020

Me Time, Kawan atau Lawan?

(Gambar: Pixabay)


Me time ini bagi saya menjadi kata-kata yang agak mengerikan. Kenapa? Karena kalau mendapatkan me time, jadi senang, happy. Tapi sebaliknya, ketika tidak sempat ber-me time ria, jadi sebel sendiri.

Kebanyakan me time, jadi menghanyutkan. Kurang me time bikin esmosi. Me time bisa menjadi kawan atau lawan. Sebagaimana banyak hal lainnya. Sama seperti kata “produktif”, ketika merasa kurang produktif, jadi merasa kurang berguna, kurang bermakna.

Padahal, baik “me time” maupun “produktif” adalah dua kata yang bisa memiliki definisi berbeda pada tiap orang. Bukan sesuatu yang baku atau mengikat. Jadi, kalau saya sering pusing sendiri dengan dua kata ini, sebenarnya karena definisi yang saya sematkan pada dua kata tersebut. 

Seperti kata Ivan Lanin, kata-kata itu netral, diri kita sendirilah yang memberi makna negatif atau positif pada kata tersebut.

Sebagian orang mengatakan bahwa me time itu tidak perlu, atau tidak ada. Menurut saya, ini kembali lagi pada definisi tadi. Jika me time diartikan sebuah keadaan yang harus sendirian dan melakukan sesuatu, maka bisa jadi tidak semua orang membutuhkan itu. 

Namun, bila me time adalah istirahat atau refreshing, maka saya yakin semua orang membutuhkannya, dengan cara dan dosisnya masing-masing. Ada yang me time dengan kumpul bersama teman, ada yang makan-makan, ada yang olahraga. Ada juga yang membaca, menulis, atau sekadar bermesraan dengan kasur.

Ada pula yang melakukan refreshing dengan beberes rumah. Why not? As long as it makes us feel refreshed. Saya sendiri melakukan cara-cara di atas sebagai me time. Misal dengan menelepon teman yang jauh di sana, atau membaca, menonton.

Tapi saya tidak me time dengan tidur, kecuali memang capek banget, barulah waktu yang ada untuk me time saya gunakan untuk tidur. Sejak kecil saya tidak suka tidur siang. Bahkan waktu kecil, ketika tidur malam pun saya tak jarang terbangun tengah malam saat mendengar suara TV.

Ternyata TV masih menyala karena ibu saya sedang menonton Mahabarata yang diputar tengah malam. Dan saya ikut nonton. Dan sekarang saya merasa bersalah melakukan itu, karena bisa jadi itu me time untuk ibu saya, dan saya dengan santainya mengganggu menemani. Wkwk.

So, what’s your “me time”?


15 October 2020

Ketika Suami Positif Covid, What To Do?

(gambar: Pixabay)


Sekitar dua minggu lalu, suami saya positif Covid-19 dan harus dirawat di RS. Alhamdulillah setelah delapan hari dirawat, hasil swab sudah negatif dan boleh pulang. Mengingat banyaknya kasus Covid-19 di Indonesia, saya yakin banyak istri memiliki pengalaman yang kurang lebih sama, menghadapi keadaan ketika keluarga inti positif Covid-19.

Namun, saya tetap merasa perlu menuliskan pengalaman ini karena beberapa alasan. Pertama, sebagai bagian dari promosi kesehatan. Kedua, untuk belajar dari pengalaman orang lain. Ketiga, karena pandemi ini mungkin masih akan berlangsung lama (2 tahun? 3 tahun? who knows), dan masih sangat diperlukan sosialisasi.

Oke, jadi, ketika suami positif, apa yang perlu dilakukan?

Jangan Panik

Tetap tenang dan jangan panik. Ini modal penting menjaga kewarasan emak-emak ketika head to head dengan Covid. Saya pribadi ketika suami positif Covid sebenarnya tidak kaget lagi. Karena gejalanya sudah muncul sejak seminggu sebelumnya, dan sudah sangat curiga bahwa itu Covid. Jadi saya memang mendorong suami untuk swab. 

Pasalnya, gejala yang dialami suami tak kunjung reda. Daripada dia minum obat ini itu tapi ngga tepat sasaran, lebih baik langsung ketahuan sakitnya dan dirawat sesuai keluhan. Ketika suami akhirnya masuk RS, saya lega karena tahu dia berada dalam penanganan yang tepat. 

Nah, bagaimana agar tidak panik? Penting untuk membekali diri dengan pengetahuan seputar Covid. Dalam hal ini saya berterima kasih sekali pada grup WA alumni FKMUI angkatan saya yang banyak memberi info valid seputar Covid--saya siy silent reader aja hehe. Beberapa teman di grup itu juga menceritakan pengalaman ketika mereka dan keluarganya tertular Covid. Itu membuat saya tidak panik ketika akhirnya Covid ini datang.

Hindari hoaks. Ada yang jadi panik karena hoaks, ada juga yang justru kelewat santai. Intinya carilah info yang valid. Saya rekomen akun IG dokter @adamprabata untuk info-info valid seputar covid. Berhati-hati juga dengan banyaknya info tentang "obat covid", teliti baik-baik info yang didapat sebelum menerapkannya.

Selanjutnya tentu banyak berdoa, ikhlas, dan menikmati keadaan--dan menuliskannya juga kalau saya. Sedih boleh, tapi jangan berlebihan, karena Covid ini panjang urusannya. Harus siapkan mental menghadapi prosedur selanjutnya--yang menguras emosi. 

Ikuti Prosedur

Ketika keluarga ada yang positif, maka prosedurnya adalah keluarga terdekat yang satu rumah juga harus menjalani tes swab. Ini yang membuat saya agak deg-degan siy. Bukan masalah hasil tesnya, karena saat itu saya yakinnya kami positif. Lha wong kami kontak erat. Saya justru lebih deg-degan membayangkan reaksi anak saya (3 tahunan) ketika diambil sampel alias di-swab. 

Alhamdulillah, anak saya memang meraung-raung ketika di-swab, tapi sebentar aja nangisnya. Swab-nya juga cepat, hanya beberapa detik, dan setelah selesai langsung berhenti nangisnya. Tidak sedramatis yang saya bayangkan. Hehe. 

Nah, prosedur ini ikuti saja, walaupun mungkin Anda dan anak merasa tidak ada gejala.

Isolasi mandiri

Ketika hasil swab belum keluar, tetap isolasi mandiri dulu. Tidak keluar rumah, dan jangan kontak erat dengan siapa pun karena bisa jadi Anda atau anak menularkan virus. Saya sih tidak masalah dengan isolasi ini, tanpa Covid pun saya sehari-hari memang hanya di rumah saja. 

Belanja-belanja keperluan bisa dilakukan secara online, via aplikasi, atau minta tolong teman.

Cuek menghadapi stigma

Sejujurnya saya tidak mengalami stigma ini karena saya tergolong ansos. Hyahahah. Hanya satu tetangga yang saya kenal baik, dan satu tetangga ini berpikiran terbuka serta aktif memberi dukungan dan bantuan. Alhamdulillah.

Jadi saya tidak mengalami apa yang teman saya alami--dijauhi tetangga. Mungkinkah ini hikmah menjadi ansos saat pandemi? Wkwk. Jangan ditiru, ya. 

Tapi jika Anda mengalami perlakuan kurang menyenangkan dari sekitar karena Covid, saran saya, cuekin aja. Fokus dengan kebahagiaan dan kewarasan diri. Banyak yang perlu diurus alih-alih memikirkan komen tetangga.

Jangan panik (lagi)

Iya, jangan panik lagi ketika menerima hasil swab Anda dan anak. Dalam kasus saya, hasil swab saya negatif, dan anak positif. Saya cukup tenang karena alhamdulillah saya dan anak saat itu tidak ada gejala. Sebelumnya memang anak sempat demam beberapa jam, tapi itu sudah 10 hari sebelumnya. Saya pun pernah meriang seharian di minggu sebelumnya. 

Tetap tenang, tetap jalankan isolasi mandiri, dan pakai masker. Sejak suami muncul gejala batuk ringan, saya sudah pakai masker walaupun di dalam rumah.

Juga, yang penting, jangan malu. Tidak perlu menutup-nutupi bila keluarga kita terinfeksi Covid. Kalo ditanya jawab jujur, tidak perlu malu. Yang penting kita sudah mengikuti protokol kesehatan. Karena protokol kesehatan ini adalah usaha, sedangkan terinfeksi Covid adalah takdir. Jadi jangan malu kalau terinfeksi Covid, tapi malulah saat tidak menjalankan protokol kesehatan. 

Oke, sekian dulu curhatan kali ini. Semoga bermanfaat. Selebihnya di postingan lain, yak. Wkwk. 

Semoga semua pembaca, dan keluarga saya juga, sehat terus dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin. :)




24 September 2020

Penulis Tidak Percaya Diri?

Anda ingin menjadi penulis? Anda tidak--atau kurang--percaya diri? Anda tidak sendiri! Wkwk… Sebelum kita bahas lebih lanjut, saya luruskan dulu definisi “penulis tidak percaya diri” dalam tulisan ini. Yang saya maksud adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi penulis, dan produktif menulis (fiksi ataupun nonfiksi), tetapi tidak percaya diri memajang tulisan itu di media apa pun. Jadi sebatas konsumsi pribadi. Nah, kalau ada yang mengaku ingin menjadi tapi tidak rajin menulis karena mengaku tidak percaya diri, itu tidak masuk dalam bahasan ini. YA ampun, sampe ada definisinya segala, macem bikin skripsi. Hahaha. Oke, lanjut. Saya yakin ada banyak penulis tidak percaya diri di luaran sana, termasuk saya! Iya, sampai saat ini pun saya masih tidak percaya diri memamerkan tulisan fiksi. Kenapa? Setelah dipikir-pikir, sebab utamanya itu satu, takut dicap jelek! Hahaha.

Jadi benarlah seseorang yang bilang bahwa penulis yang ga pede itu salah satunya karena ingin karyanya langsung bagus--atau dinilai bagus. Padahal semua ada prosesnya. Nah, tapi, seperti yang saya bilang di awal, saya tidak sendiri! Ada buanyaak sekali yang seperti saya, malu-malu meong. Khawatir karyanya dibilang jelek.

Tau dari mana? Ada sebuah bukti tak terbantahkan. Gini, dulu, jaman KasKus masih jaya, saya gemar sekali main Kaskus. Tiap hari buka Kaskus, baca, posting, komen, dll. Sampai ada beberapa teman kenal dari Kaskus.

Salah satu room yang saya ikuti di Kaskus adalah B-Log, ini plesetan dari blog gitu lah. Di sana tempatnya cerita-cerita fiksi, puisi, ada juga memoar, dll. Di forum B-Log itu, setiap pengguna bisa membuat thread, dan menerima komen dari pengguna lain. Biasanya pengguna akan membuat satu thread dan menyebutnya “rumah”. Lalu orang-orang yang komen di thread itu pun seolah “tamu”.

Dari ribuan thread yang ada, ada satu thread yang seriiing sekali dikunjungi orang. Banyaak sekali yang komen di thread itu setiap harinya. Termasuk saya, kadang-kadang. Thread itu berisi puisi-puisi dari si pembuat thread (biasa disebut TS), dan kolom komentarnya pun dibanjiri puisi dari pengguna lain. Tema puisinya macam-macam, campur aduk. Ada yang pendek, ada yang panjang. Ada yang bahasa Indonesia, ada yang bahasa Inggris. Ada yang gahar, ada yang so swiiit. Macem-macem lah pokoknya. Dan menurut saya banyak yang puisinya itu bagus-bagus.

Akan tetapi, terlepas dari bagus tidaknya puisi di thread itu, saya rasa para pembuat puisi itu termasuk penulis yang tidak percaya diri--iya, lagi-lagi termasuk saya! Kenapa? Karena judul threadnya mengatakan demikian. Judulnya: “House of Bad Poets”.

Naaahhh.. Ketika sebuah rumah dilabeli House of Bad Poets, maka siapa saja yang berkunjung dan menuliskan puisi di sana akan merasa aman dari hujatan atau komentar negatif. Kan, namanya juga house of bad poets. Jadi, wajar dong kalo jelek. Ya, kan?

Sampai sekarang saya mengagumi pemilihan judul thread itu sih. Ada permainan psikologis di sana. Si TS pun memang terkenal bijak seantero forum B-Log.

Intinya, saya tidak sendiri. Eh.

20 September 2020

Review Starting Over Karya Titi Sanaria



 Judul: Starting Over

Penulis: Titi Sanaria

Tahun Terbit: 2019

Penerbit: Elex Media

Tebal: 394 halaman


Starting Over adalah novel ketiga Titi Sanaria yang saya baca. Dua novel sebelumnya yaitu Dirt on My Boots dan Midnight Prince telah berhasil membuat saya penasaran dengan karya Titi Sanaria yang lain. Bagaimana dengan Starting Over? Oke, saya akan mulai dengan blurb novel ini.

***

Hubungan mereka hanya berlandaskan physical attraction, awalnya Prita mengira begitu, Hanya ketertarikan fisik semata. Tidak lebih. Dia mengagumi Erlan yang tampan dengan setela kantor yang membuatnya terlihat sempurna. Namun, waktu telah membantu dia menyadari bahwa perasaannya kepada laki-laki itu mulai berkembang.

Hanya ketertarikan fisik, Erlan mendengar pengakuan itu berulang kali dari mulut Prita. Sementara dia sendiri gamang atas perasaannya, Dia nyaman berada di sisi putri tunggal bosnya itu. Akan tetapi, logika terus mengingkari rasa bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Prita.

Ya, tidak ada jatuh cinta dalam kamus Erlan, awalnya begitu. Namun, apa yang kira-kira tidak bisa dilakukan oleh kekuatan cinta?

***

Sekarang saya mulai review. Eh, kok serius banget gini bawaannya? Wkwk. 

Starting Over dibuka dengan bab-bab yang cukup menjanjikan dan membuat saya tertarik mengetahui lebih lanjut kisah Erlan dan Prita. Namun, jauh berbeda dengan DOMB dan Midnight Prince, Starting Over justru membuat saya nyaris berhenti membaca karena bosan.

Di sini saya tidak mendapati banyak deskripsi-deskripsi liar nan mengocok perut layaknya DOMB. Tetapi tidak juga terhanyut perasaan atau mendayu-dayu layaknya Midnight Prince. Semua serbatanggung. Masa lalu Erlan yang begitu kelam, dieksekusi dengan, yaa begitu saja.

Perasaan Prita yang begitu natural, yaa tidak terlalu gimana-gimana. Bahkan cerita tentang Orlin dan Bastian yang disorot di awal, nyatanya tak dilanjutkan. Tentu ini membuat saya gemas!

Ada beberapa bagian yang tampak seperti hanya untuk memperpanjang cerita tanpa ada kemajuan. Tokoh si cowo figuran, saya bahkan sudah lupa namanya, itu ya juga cuma gitu aja, ga ada peran yang lebih menarik dari tokoh itu.

Dan, yang paling bikin gemes, adalah plot hole. Di entah bab berapa, diceritakan si cowo itu main ke kantor Prita, kemudian dia ke kamar mandi, lalu Erlan datang. Abis itu ga diceritain lagi ke mana si cowo itu. Apakah ia hilang lenyap di kamar mandi? Atau ketiduran di sana? Wkwk.

Udah kelihatan jelas kan kekecewaan saya dengan novel ini? Yap, padahal ini lebih tebal dari dua novel lain yang saya baca. Mungkin ekspektasi saya juga yang terlalu gimana. Huff.

Saya sih masih penasaran dengan novel-novel lainnya Titi Sanaria, tapi ngga maraton lagi dulu deh. Rehat sejenak, baru kita starting over. Hehe. 




Quick Review Novel Resign






Judul: Resign
Penulis: Almira Bastari
Jumlah halaman: 288
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2018

Resign karya Almira Bastari bercerita tentang beberapa karyawan swasta yang bertekad resign karena bos yang bikin ga betah. Namun, as you can guess, bos ini masih muda, tampan, kaya raya, dan sebenarnya baik. Dan, as you can also guess, si bos jatuh cinta dengan salah satu karyawannya.

Premis cerita ini mirip sekali dengan Dirt On My Boots-nya Titi Sanaria, dan dua-duanya sama-sama bermula di Wattpad.

Sebenarnya saya tahu novel Resign ini sejak beberapa bulan lalu kalau ngga salah ingat. Tapi baru baca beberapa hari lalu atas rekomendasi seorang kawan. Akhirnya, saya baca lah tuh.

Kesannya?

Bagi saya biasa aja, mungkin karena sudah baca novel DOMB yang serupa dan lebih liar, jadi novel Resign ini terasa yaa biasa. Sisi yang menarik di novel ini ya efek lucu dari percakapan antarkarakter.
Dan, apa ini hanya perasaan atau gimana, beberapa novel yang berawal di Wattpad kok rasanya banyak sekali dialog-dialognya, ya?

Yang saya suka dari novel ini adalah tidak bertele-tele dan alurnya yang cepat, sehingga saya tidak keburu bosan. Walaupun, ya, itu tadi, dari sisi cerita, biasa aja. 


11 September 2020

Resensi Novel Midnight Prince


Penulis: Titi Sanaria

Tebal: 276 halaman 

Penerbit: Elex Media

Tahun terbit: April 2018

Ah, how should I say it? Ok, I hope this three words would be enough: I love it.

Ini adalah novel kedua Titi Sanaria yang saya baca, dan sama sekali tidak mengira akan seperti ini jalan ceritanya. *Spoiler ahead*

Midnight Prince bercerita tentang Dokter Mika, dokter muda yang bekerja di sebuah rumah sakit. Mika kemudian bertemu dengan Rajata dan saling jatuh cinta. Rajata adalah anak pemilik rumah sakit tersebut. 

Walaupun sebenarnya cinta, Mika menolak ketika Rajata terus mendekatinya. Bukan semata karena Rajata anak pemilik RS dan Mika merasa rendah diri, tetapi karena masa lalu yang menjeratnya.

Pasalnya, adik Rajata yang bernama Robby dulunya adalah pacar adiknya Mika yang bernama Dhesa. Nah, sampai suatu hari Dhesa ternyata hamil, namun ibunya Robby--yang berarti juga ibunya Rajata--malah menyuruh Dhesa menjauhi anaknya, dan memberi Dhesa uang. Ia juga meminta dilakukan tes DNA kelak jika bayi itu lahir, dan akan mengambilnya jika benar itu cucunya.

Dhesa tidak terima dan kabur, pergi ke tempat tinggal kakaknya yang saat itu sedang PTT. Sayangnya Dhesa mengalami post partum depresion (atau apa gt) parah, kemudian bunuh diri sambil membawa bayinya. Keduanya tewas di depan mata Mika.

Dengan sejarah tersebut, Mika merasa tidak mungkin mencintai Rajata. 

Tapi Rajata tidak tahu apa-apa tentang itu dan terus mengejar Mika. Dia bingung kenapa Mika terus menolaknya, dan tidak percaya dengan alasan yang diungkapkan gadis itu. 

Huff… Entah karena efek hormon, atau bagaimana, tapi saya merasa konflik ini tuh berat dan menyentuh banget. Bagian paling sedih ya ketika Mika akhirnya bilang ke ibunya Rajata kalo dia adalah kakaknya Dhesa. Robby juga akhirnya tahu, dan ternyata si Robby ini beneran mencintai Dhesa, and still do.

Tentu saja setelah puncaknya itu, Rajata juga jadi tahu. Barulah ia mengerti alasan di balik sikap Mika selama ini. Dan dengan lembutnya dia berusaha memahami Mika.

Saya pribadi kalo di posisi Mika kayaknya ga mungkin lah nerima Rajata walau bagaimana pun. Karena ibu dan adiknya itu pasti mengingatkan dengan trauma yang mendalam. Itulah yang membuat konflik dalam novel ini terasa sangat dalam, karena memang begitu. Belum lagi konflik antara Mika dan ibunya yang juga depresi.

Novel ini jadi begitu berkesan bagi saya, mungkin juga karena sebelum ini saya baca Dirt on My Boots, yang aura ceritanya beda banget. Jadi semacam shock, tapi shock yang menyenangkan. 

Tapi saya sendiri bener-bener suka dengan gaya penulisan Titi Sanaria, karena tidak kebanyakan deskripsi tentang sekitar atau baju, atau apa lah. Fokus pada perasaan tokoh, dan mengeksplorasinya dengan cara yang unik juga lucu. 

Walaupun dark, di Midnight Prince ini juga ada beberapa bagian lucu. Misal ketika Mika membandingkan fisiknya dengan sahabatnya, Kinan, berikut ini:

“Kulitnya (Kinan) putih bersih dan sehalus porselen dari zaman Dinasti Ming. Tubuhnya ideal, hidung mancung, bibir yang penuh, dan tentu saja mata besar yang bersinar jail. Dia makhluk paling supel yang pernah kukenal.

Secara fisik, aku sangat bertolak belakang dengan Kinan. Kulitku jauh lebih gelap. Seperti tembikar zaman Dinasti Ming yang lupa diangkat ketika dibakar dan baru ditemukan beberapa hari kemudian.”

Saya suka banget dengan persahabatan antara Mika dan Kinan, mengingatkan saya dengan sahabat saya sejak TK yang juga supeeerrr baiik. Kinan bene-bener representasi sahabat yang super tapi juga natural.

Selain itu saya suka dengan akhir cerita yang tidak menyisakan tanda tanya bagi pembaca. Semua konflik terjawab dan saya puas. 

Tapi, ada satu hal yang bikin gemes. Si Rajata itu lho kok ya perfect banget! Hahahaha. Abis baca ini, saya langsung protes ke suami dan bilang, “Masa’ cowonya cakep, pinter, kaya, dan baiik banget. Ga mungkin kan ada cowo kayak gitu? GA MUNGKIN KAN???” Huahahaha.

Sekian tentang novel ini dan terima kasih telah membaca. Wkwk. 


02 September 2020

Resensi Novel "Represi"

 

(gambar: Goodreads)

Judul: Represi

Penulis: Fakhrisina Amalia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2018

Tebal: 264 halaman

Mengalir dan menghanyutkan, adalah kesan yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Karena tanpa dua hal itu, saya yakin tak akan bisa menyelesaikan novel ini dalam satu hari dengan membaca via ebook

Ya, saya membaca novel Represi ini di Gramedia Digital. Ini adalah novel pertama yang saya baca secara digital dan bisa habis dalam sehari. #horrreeee

Sebelumnya, untuk versi digital, saya memakan waktu dua atau tiga hari paling cepat untuk novel dengan ketebalan sama. Eh, sebenarnya, sudah lama sekali rasanya tidak menamatkan novel dalam satu hari, baik digital maupun cetak. Terakhir itu perlu waktu tiga hari saat menamatkan Tentang Kamu-nya Tere Liye versi cetak.

Back to this novel. And, sedikit spoiler!

Represi, bercerita tentang Anna, seorang remajaatau mungkin dewasa mudayang mencoba bunuh diri dengan meminum obat nyamuk. Untungnya ia masih bisa diselamatkan. Setelahnya, ibunya membawanya ke psikolog, dan di sanalah kisah kelamnya terkuak.

Anna memiliki geng yang terbentuk sejak SMA, dan berlanjut sampai kuliah karena mereka kuliah di kampus yang sama. Berasal dari keluarga yang cukup berada, hidup Anne sekilas tampak baik-baik saja. Tapiya, selalu ada tapi dong biar seruternyata Anne tak mendapat cukup perhatian dari orang tua, terutama ayahnya. Sedangkan ibunya terlalu mengekangnya.

Ditambah dengan sebuah trauma besar di masa kecil, Anne rupanya terjerumus dalam hubungan yang beracun dengan seorang pemuda. Pemuda itu memberikan perhatian yang memabukkan, dan membuat Anne rela mengorbankan apa saja, termasuk sahabat-sahabatnya.

Seperti dugaan pembacadalam hal ini saya, ternyata pemuda itu kurang asem alias kurang ajar. Anna kecewa, sangat. 

Dengan bantuan sang psikolog, Anna berusaha bangkit dari lubang hitam dalam dirinya yang selalu membuatnya bermimpi buruk. Bocoran: novel ini happy ending.

***

Puas, adalah kata yang paling pas menggambarkan perasaan saya setelah membaca novel karya Fakhrisina Amalia ini. Puas karena masalah si tokoh utama akhirnya terpecahkan satu per satu tanpa ada yang tertinggal. Walaupun konfliknya bertumpuk-tumpuk, tapi penulis berhasil menjabarkannya dengan halus.

Sejujurnya ada salah satu solusi dalam novel ini yang saya kurang setuju, tapi ini subjektif sekali, sih. Dan tidak mengurangi keasikan cerita.

Tidak lebay. Baik dari segi teknis maupun cerita itu sendiri. Diksi dan kalimatnya tidak berlarat-larat, sederhana. Saya kagum bagaimana penulis tidak memberikan adegan-adegan  romantisbaik narasi maupun dialogyang lebay ala-ala anak muda zaman sekarang. Semua digambarkan secara pas, cukup, interaksi antartokoh yang natural. Enak untuk diikuti.

Novel bertema psikologi semacam ini sejak awal telah memiliki kelebihan karena bisa mengangkat isu yang jarang dibicarakan orang. Mungkin karena dianggap tabu, atau aib, atau apalah. Padahal kisah semacam ini saya yakin ada, bahkan banyak sekali terjadi di luar sana. Melalui cerita, isu-isu itu tak lagi tabu, dan bisa dipahami dengan baik.

Kelebihan lainnya Represi ialah ditulis oleh seorang psikolog tetapi tidak menceramahi. Menurut saya ini tantangan besar. Saya sendiri baru kali ini membaca karya Fakhrisina Amalia yang ternyata adalah novel kelimanya. Pantas saja novel ini berhasil membius pembaca.

Di novel ini, pembaca tak akan dihujani teori-teori psikologi. Namun, pembaca langsung disajikan sebuah kasus, dan diperlihatkan bagaimana seorang psikolog menangani kasus tersebut.

Dan yang dihadapi psikolog ini bukanlah murid atau mahasiswa, melainkan pasien. Setting yang digunakan pun di ruang konseling, antara psikolog dan klien, membuat dialog-dialog di dalamnya terasa pas, tidak dipaksakan.

Yang tak kalah penting, saya senang novel ini hanya 200-an halaman. Hahaha. Karena membaca di ebook ngga kuat kalo baca tebel-tebel. 

Overall, Represi saya rekomendasikan untuk teman-teman semua, baik remaja maupun dewasa. Ibarat makanan, Represi adalah cemilan bergizi yang enak dan ngga bikin kekenyangan. Mungkin semacam apel kalo bagi saya. Atau rujak. 



31 August 2020

Mau Cobain Gramedia Digital? Gini Caranya



Sudah lama mau nulis tentang ini, tapi baru sekarang terwujud. Ini pun karena tema Rulis Kompakan minggu ini adalah all about tutorial. Wkwk. Ok, let’s go!

Sudah sebulan saya berlangganan Gramedia Digital, dan menurut saya sih ini oke banget. Gramedia Digital adalah aplikasi untuk baca ebook, official dari Gramedia. Ini salah satu cara untuk kita bisa menikmati ebook secara legal, dan murah.

Caranya mudah, cukup install aplikasi Gramedia Digital, lalu login dengan akun Anda. Nah, pertanyaannya adalah, bagaimana cara berlangganan Gramedia Digital? 

Tidak seperti aplikasi iPusnas yang gratis, pengguna Gramedia Digital wajib berlangganan untuk bisa membaca ebook. Biaya berlangganan bervariasi tergantung paket. Ada paket fiksi, nonfiksi, dan premium. Saya sendiri langganan yang premium karena suka random bacanya antara fiksi dan nonfiksi.

Cara berlangganannya mudah sekali pemirsa, cukup dengan samperin situs resminya www.ebooks.gramedia.com, lalu pilih paket yang diinginkan. Tentunya Anda akan diminta membuat akun dulu. 

Kemudian tinggal isi form yang disediakan, terus bayar dengan cara pembayaran yang Anda pilih. Selanjutnya buka aplikasi Gramedia Digital di ponsel, kemudian log in dengan akun yang tadi dibuat. Kini Anda sudah bisa menikmati ribuan buku! Mudah sekali, kan?

Saya pribadi senang sih berlangganan Gramedia Digital ini, jadi ngga ngiler lagi kalo ke toko Gramedia-nya, karena bisa baca di aplikasi. Hehe. 

Tapi tentu ada plus minusnya. Insyaallah saya akan bahas di tulisan selanjutnya. Wkwk. 


22 August 2020

Setengah Tahun dalam Kapal PJ-PJ Kece

Sering kali, saat kita ingin menyerah, sebenarnya saat itu kita sudah dekat sekali dengan tujuan. Ya, benar. Itulah yang kurasakan. Aku hampir menyerah, tapi aku memilih terus berjalan, dan rupanya aku bertemu dengan kebahagiaan yang kucari. Kebahagiaan itu adalah dipertemukan dengan PJ-PJ Kece dalam keluarga “Divisi Offline”.

And here’s the backstory…

Fyi, sejak semula tujuanku bergabung dengan komunitas ini adalah mencari teman. Ya, karena saat itu aku baru pindah ke Batam dan ingin mencari teman-teman yang satu frekuensi.

Aku pun bergabung dengan komunitas IP Batam di tahun 2017 dan menjadi admin medsos di awal tahun 2018. Setelah menjalani peran sebagai admin medsos selama hampir dua tahun, di akhir 2019, aku sudah sangat yakin untuk berhenti terlibat dalam kepengurusan.

Aku tidak ingin menjadi pengurus lagi. Aku lelah, emosiku lelah. Rasanya aku putus asa menemukan apa yang kucari di sana.

Namun tiba-tiba, seseorang menawariku. Ia memintaku menjadi PJ Rumbel Menulis. Aku menolak karena sadar diri tidak punya bakat kepemimpinan. Aku tetap ingin di rumbel sebagai member saja, menikmati saja.

Akan tetapi, si kawan itu tak berhenti merayu. Tak mau kalah, aku juga balik mendorongnya untuk menjadi pengurus lagi. Padahal sebelumnya dia juga sudah yakin mau mundur.

Kami saling dorong--tidak secara harfiah tentu saja. Perlahan, aku mulai tertarik dengan tawarannya, tapi ragu. Aku melemparkan klausa, “aku mau jadi pengurus lagi, asalkan kamu juga”. Tapi dia malah melempar balik kalimat itu. Kalau diingat-ingat, obrolan kala itu terdengar seperti adegan “you jump, I jump” antara Jack dan Rose di kapal Titanic.

Dan memang begitulah, kami akhirnya sama-sama menaiki kapal “kepengurusan”. Tentu saja, aku tidak berharap kapal ini bernasib seperti Titanic.

Beberapa minggu kemudian, kapal ini berlayar, aku masuk ke sebuah kapal kecil bernama “Divisi Offline” (kini berganti nama jadi Pengurus Kampung Komunitas). Sejak awal, entah bagaimana aku sudah merasakan adanya kehangatan yang menenangkan di kapal ini. Mungkin karena kami semua awalnya orang-orang yang mengalami kejadian “You jump, I jump”, sebelum akhirnya memutuskan naik ke kapal karena masih sayang.

Di kapal kecil nan hangat ini, kami tak segan saling memberi dukungan. Walau tak jarang juga sama-sama bermalas-malasan, nge-down bareng. Ternyata itu tidak seburuk kedengarannya. Kadang saat sedang jatuh, kau tidak butuh kata-kata penyemangat yang menyuruhmu bangkit. Kau hanya butuh teman yang sama-sama merasakan luka, kemudian sama-sama bangun dan tersenyum.

Itulah yang kami lakukan, itulah yang aku rasakan. Kami bukan sekumpulan orang yang selalu optimis. Tapi di atas kapal ini, kami bisa jujur dan terbuka pada perasaan sendiri yang tidak selalu dalam kondisi baik.

Saat menaiki kapal, kami dalam keadaan berbalut luka. Lalu kami saling menyembuhkan dan menguatkan. Kami bukan dokter. Tapi kami saling merawat, saling menjaga semampunya. Dan dengan begitu, kami bahagia.

Dan kebahagiaan itulah yang menahanku tetap di sini, tetap di atas kapal yang mengarungi gelombang. Kapal yang kadang tenang, sering juga terguncang. Dengan awak kapal yang punya macam-macam kelakuan, aneh bin ajaib serta menyenangkan.

Segala yang ada di kapal ini membuatku ingin tetap berada di dalamnya. Sampai suatu hari nanti kapal ini berlabuh, dan kami sama-sama turun ke daratan. Sebagian mungkin kembali berlayar, sebagian mungkin memilih berdiam. Tapi apa pun itu, semoga kami sama-sama bahagia. :)

Disclaimer: tulisan ini mengandung unsur ke-lebay-an yang tulus dari hati terdalam. wkwk...